
10
Aaaaakh....
Lukman menggeliat memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sepertinya hari ini sungguh melelahkan. Pulang dari kantor sudah mejelang maghrib. Langit senja sudah memerah. Masjid dan mushola mulai mengumandangkan adzan maghrib.
Selepas sholat Lukman membuka laptopnya. Selama empat tahun ke depan ia harus berjuang dengan waktu. Benar - benar harus memforsir diri sendiri. Tugas kantor maupun tugas kuliah harus diselesaikan tepat waktu. Ditambah lagi harus lebih teliti.
Setiap hari bekerja pulang senja malam mengerjakan tugas sampai larut. Malam dini hari bangun untuk mempersiapkan pekerjaan kantor. Subuh bangun hingga kembali bekerja lagi.
Terkadang ia jenuh harus bekerja ekstra seperti ini. Tapi kemudian ia menyadari. Ini tak akan lama. Setelah lulus nanti semua akan kembali normal. Lukman akan kembali membagi waktunya dengan baik.
Tok...tok...tok...
Pintu diketuk. Lukman membuka pintu. Wulan berdiri di depan pintu.
"Hay..."sapa Lukman.
"Hay...udah makan?" Tanya Wulan.
"Belum, baru pulang, baru sholat" jawab Lukman yang masih mengenakan kaos oblong dan sarung.
"Makan di luar yuk!" Ajak Wulan.
"Oh oke aku ganti baju dulu"
Lukman bergegas masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Wulan menunggu di teras rumah. Malam ini Lukman mengenakan sweater warna cokelat tua kombinasi cokelat muda. Bagian lengan disingsingkan hingga siku. Arloji warna hitam tak lupa dipakai.
Setelah siap, Lukman hendak menemui Wulan di depan. Sebelum sampai di depan, Lukman mendengar Wulan sedang berbicara dengan seseorang. Segera Lukman menghampiri.
"Oh Win..." Sapa Lukman pada Winda yang entah kapan datangnya.
"Hay..." Jawab Winda.
Wulan menatap Lukman dengan tatapan yang kurang baik. Lukman paham Wulan sedang tidak nyaman dengan kondisi sekarang. Buru-buru Lukman berusaha mengendalikan keadaan.
" Ada apa Win?" Tanya Lukman.
"Nih buku-buku yang kamu butuhin, bukannya kamu lagi ada tugas" jawab Winda sambil menyodorkan setumpuk buku.
" Oh ya? Emang aku bilang mau pinjam?" Lukman mengingat-ingat kapan ia meminjam buku pada Winda. Seingatnya sudah dipinjami tempo hari dan belum pinjam lagi.
"Kemarin...pas aku anterin pulang" jawab Winda sambil melirik Wulan.
Wulan mulai risih. Mungkin ia cemburu. Bagaimana tidak. Gadis dihadapannya ini benar-benar menarik. Cantik, seksi, mobilnya bagus, dari logat bicaranya sepertinya pintar. Patut menjadi saingan berat.
"Ehm...ehm..." Wulan berdehem berpura-pura batuk keselek.
"Oh Win. Mau duduk dulu atau langsung...." Lukman hati-hati berbicara.
"Nggak ah, aku tahu diri kok, kamu kan lagi banyak tugas. Ntar waktumu habis buat ngobrol sama gua" sekali lagi Winda melirik Wulan.
Winda hendak pulang namun ia berhenti begitu sampai apgar. Ia kemudian berbalik badan.
"O ya Man, besok aku jemput agak pahi ya, kayak biasanya" kata Winda kemudian nyelonong pergi.
Lukman hendak menjawab tetapi terlambat. Winda telah melaju bersama mobilnya. Dilihatnya Wulan dengan ekspresi kesalnya. Seberapapun tenangnya Wulan tetap terlihat aslinya di mata Lukman.
"Nih kuncinya...kamu yang nyetir" kata Wulan sembari berjalan menuju mobil.
Diperjalanan Wulan membisu. Pandangan matanya mengarah ke luar. Berkali-kali Lukman mencari celah untuk membuka pembicaraan namun belum berhasil.
" Lan....aku..." Lukman kembali mencoba.
Buru-buru Wulan mengeraskan suara musik di mobilnya. Lukman paham jika demikian Wulan belum bisa diajak ngobrol.
Sampai di kafe yang dituju.
Wulan duduk bersandar di kursi dengan tetap membisu dan pandangan ke arah luar. Semua makanan malam itu dipesan oleh Lukman karena Wulan hanya menjawab 'terserah' tiap kali ditanya.
" Lan...ngomong dong... Jangan bikin aku bingung Lan" Lukman menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
"Kamu dong yang ngomong" tukas Wulan masih dengan nada yang datar.
"Dari tadi kan aku sudah ngomong, kamunya yang diem"
__ADS_1
"Okey ...sekarang aku nanya sudah berapa lama jalan sama siapa tadi....Windi" Wulan memajukan tubuhnya ke arah meja.
"Winda" Lukman membenarkan.
"Winda Windi Windu..gak penting" Wulan kembali bersandar pada kursi.
"Ya emang gak penting jadi ya gak perlu dibahas lah" gerutu Lukman.
"Oh ya pak supervisor mas mahasiswa?? Gak penting?"
"Gak penting Lan, beneran. Cuma sekampus aja. Ga perlu cemburu berlebihan kayak gitu" bujuk Lukman.
"Aku?cemburu? Amit amit"
Lukman berpindah tempat. Ia memindah kursinya dari berhadapan menjadi berdampingan dengan kursi Wulan.
"Kalau gak cemburu kenapa sewot non?" Lukman memegang tangan wulan untuk memenangkan namun buru-buru dilepaskan karena pelayan datang dengan makanan yang dipesan.
"Makasih ya mas" ucap Lukman pada pelayan.
"Oke...oke...sudah , sudah cukup. Aku pikir-pikir habis waktu kita kalo cuma ngomongin perkara itu" kata Wulan mengakhiri perdebatan.
"Nah tul. .. pinter ... Yuk makan" sambut Lukman.
Beberapa saat mereka menikmati makan malam kemudian Wulan memulai pembicaraan yang serius.
"Man, soal yang aku bilang waktu itu, kamu beneran sudah siap kan Man?" Tanya Wulan.
" Siap. Kan tugasmu untuk ngatur kapan aku bisa kesana" jawab Lukman sambil mengunyah.
" Dalam minggu ini siap?"
"Insyaallah....tunggu dulu Lan, kenapa buru-buru? Kenapa emangnya?"
Wulan menarik nafas panjang.
"Aku takut Man" kata Wulan lirih.
Suasana menjadi hening seketika.
"Sabar... Kan gak sekali dua kali kamu dijodohin. Jadi kamu pasti bisa hadapi ini" Lukman berusaha menenangkan.
"Yang ini beda Man, yang ini kayak niat banget. Papa sering ngundang dia dinner di rumah sering ngajakin aku ketemu dia. Beda banget Man"
Lukman memutar otaknya.
"Dulu sama si itu... Yang punya restoran di Malang itu, juga gitu kan?"
"Enggak Man..." Sambil menyedot jus melon. " Dulu cuma sekali aja ketemu, orangnya juga gak ngerespon"
"Yang ini?"
"Tiap hariiiiii ngobrol sama Papa"
"Ke rumah?"
"Di telepon"
Semakin gawat juga kalau dibiarkan, pikir Lukman
"Aku akan datang secepatnya. Kamu usahakan momentnya pas ya" kata Lukman kemudian
"Aku punya rencana, aku pengen nemuin kamu sama Mama, Nanti biar Mama yang membujuk Papa supaya mau ketemu kamu. Biar Papa tahu kamu sudah sukses kayak gini"
Lukman tampak berfikir.
" Boleh juga. Aku rasa itu lebih bijak" katanya memutuskan.
Mama Wulan tidak sekeras Papanya. Dengan bertemu beliau diharapkan mampu menunjukkan bahwa Lukman bukan seperti yang dipikirkan oleh Papa. Bahwa Lukman mungkin bisa dan layak dipertimbangkan.
***
Masih tentang Winda. Entah kenapa tiba-tiba perempuan berambut pendek berwajah innocent dengan hidung mancung ala Cindy Fatika Sari itu menelpon Wulan. Dia ingin bertemu di suatu kafe.
Sejuta pertanyaan berjubel dibenak Wulan. Ada apa? Mau apa? Tujuannya apa? Dan masih banyak lagi yang menumpuk dipikirkannya. Tetapi Wulan pun penasaran. Ia ingin tahu apa yang dikehendaki perempuan itu.
__ADS_1
Wulan memarkir mobilnya di depan kafe. Ia keluqr dengan menenteng tas slempang samping warna cokelat. Ia memeriksa hapenya henda menghubungi perempuan yang membuatnya kemari. Sambil terus berjalan ia memeriksa hapenya. Sesekali ia menengok kanan dan kiri mencari keberadaan perempuan itu.
"Selamat malam, kursi untuk berapa orang Kak?" Tanya seorang pelayan
"Eh, saya lagi nyari temen saya dulu ya" jawab Wulan sambil matanya menyapu seluruh ruangan.
"Oh, apa ini Kak Wulan?" Tanya pelayan itu.
"Iya benar" jawab Wulan dengan ekspresi bingungnya. Darimana pelayan itu tahu namanya. Ya mungkin Winda yang kasih tahu tapi untuk apa. Wulan mencium rencana yang kurang baik.
Pelayan itu mengantarkan Wulan pada duayu meja yang letaknya lebih dalam dengan view pemandangan yang lebih manis. Meja yang dituju Wulan berada di tepi kaca dengan view hujan buatan. Manis. Romantis.
Winda sudah duduk di tempat itu. Ia sedang memainkan hape tetapi kemudian ia hentikan saat melihat kehadiran Wulan.
"Oh silahkan duduk" Winda berdiri untuk menyambut Wulan.
Wulan duduk dengan ekspresi datar. Winda memahami ketidaknyamanan Wulan atas ini. Winda tersenyum tipis.
"Sorry ya nyita waktu kamu" kata Winda basa basi.
"Sebaiknya langsung aja Win, aku nggak punya banyak waktu"
Mendengar itu, Winda tersenyum lucu.
"Mbak.... Sini" Winda memanggil pelayan.
Setelah pelayan datang Winda memesan makanan tanpa bertanya dahulu pada Wulan apa yang ia inginkan.
"Sorry sorry mungkin kamu bingung darimana aku dapat nomor kamu sampai aku bisa hubungi kamu" Winda mengawali.
Itu juga yang ada di benak Wulan.
" Dari Lukman lah, siapa lagi? Oh sorry lagi, bukan Lukman kasih tapi aku yang lihat dari hapenya. Aku pikir nomer kamu bakal dikasih nama honey, bebby, sayang, istriku, my love atau apa lah, ternyata cuma Wulan aja hahaha" terang Winda dengan senyum gelinya
Tak berapa lama pelayan datang dengan senampan makanan yang dipesan.
"Oh ya.. dimakan Lan, ini menu favorit loh di kafe ini, sekedar tahu aja, ini kafe usaha pertamaku, ya usaha kecil-kecilan lah" kata Winda lagi
Wulan mendesah lirih. Betapa sombongnya perempuan di depannya ini. Wulan tak bergeming. Ia sudah tampak jenuh menghadapi Winda namun ia tahan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya perempuan itu mau.
"Hahaha....bukannya pamer sih, padahal cuma cari gratisan ajah makanya aku ajak kamu kesini"
Wulan sudah muak. Dadanya sudah panas. Sepertinya tak ada gunanya berlama-lama di sini hanya untuk mendengar apa saja yang dipunya.
" Kalau gak ada yang penting aku cabut ya Win" Wulan berdiri hendak beranjak namun Winda mencegahnya.
"Eh...tunggu dulu, aku belum masuk ke intinya."
Wulan menurut. Ia kembali duduk lalu menyedot jus di depannya.
" Soal Lukman Lan, yaa aku akui Lukman memang mempesona. Tenang gak urakan gak lebay. Kriteria aku banget sih..." Winda mengaduk kopi susunya.
" Tapi aku tegasin di sini aku gak ada hubungan apa-apa dengan Lukman. Kami pure teman"
Wulan tidak mudah percaya begitu saja. Wulan percaya Lukman, tapi tidak dengan Winda.
" Gak tahu kalau suatu saat tiba-tiba.....hahahhahha, namanya hati Lan, bisa berubah kapan saja kan hahahhah"
Wulan memperhatikan Winda dengan napas yang sedikit sesak
"Tapi tenang, aku gak akan merendahkan harga diriku hanya untuk rebutan cowok"
" Jadi kamu mau bersaing?" Sahut Wulan.
" hahaha, bener kata Lukman. Kamu cerdas. Kita akan bersaing secara sportif" tantang Winda
"Oke. Sportif. Tanpa ada cara-cara kotor" sambut Wulan
"Okey...tapi kamu pun juga harus sportif. Jika jalanmu sudah tertutup, kamu harus rela melepas Lukman"
Wulan memandang tajam pada Winda berikut tawanya yang menakutkan. Dibalik tawanya ada sesuatu yang tak disukai Wulan.
Baiklah, Wulan percaya jika Lukman orang yang setia. Tapi bagaimana dengan Winda? Apakah bisa dipercaya jika Winda tidak akan melakukan cara-cara licik? Apakah Lukman harus tahu soal ini? Alah tidaj lebay? Ah.
Wulan, Winda, dua gadis kaya raya jatuh cinta pada pria yang sama. Yang satu orang lama yang satu pendatang baru. Satunya kalem satunya energik. Yang satu pandai bersolek satunya natural. Yang satu rajin satunya cerdas. Dua gadis yang istimewa.
__ADS_1
***