Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Surat Biru


__ADS_3

Malam itu hampir jam dua malam. Lukman masih terjaga. Ia sedang berfikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sudah hampir seminggu di rumah ini meski rumah sendiri tetapi terasa numpang. Rumah kontrakan yang direkomendasikan Nurul juga belum mendapatkan jawaban dari pemiliknya yang merantau. Tabungannya semakin menipis. Mobil itu, siapa yang mau beli. Orang desa mungkin lebih memilih beli motor daripada beli mobil. Jika dijual di dealer bisa saja tapi lebih murah pastinya.


Lalu bagaimana dengan Wardah? Bagaimana caranya menyambung kembali hibungan dengannya. Apakah Pak Haji Saman akan melamarnya lagi? Rasanya tidak sekali tertolak pasti sudah jera untuk melakukan itu. Lukman berfikir betapa kurang ajarnya ia dulu. Permintaan dari Kyainya, anak dari guru bapaknya, tidak bisa ia penuhi. Ia memilih menuruti hatinya yang masih terpaut dengan Wulan. Tetapi apa yang terjadi, hubungannya dengan pujaan hatinya justru kandas. Apakah ini karma? Apakah dulu Wardah sakit hati karena Lukman menolak? Jika demikian ia seharusnya tidak sakit hati lagi karena Lukman berniat memperbaiki semuanya.


Tok...tok...tok...pintu diketuk.diapakah uang mengetuk pintu malam-malam begini. Lukman sudah kepalang ngantuk untuk membuka pintu. Kreek ...pintu dibuka. Bagaimana bisa pintu dibuka padahal seingat Lukman pintu itu sudah dikunci. Seorang perempuan bergamis putih, berkerudung putih berdiri di tengah pintu. Lukman mengucek matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ibunya bediri denga cantiknya di sana.


Perempuan itu mendekatinya, duduk di samping Lukman dan membelai rambutnya. Itu dulu yang sering beliau lakukan saat memeriksa apakah anaknya sudah tidur, jika belum tidur akan diminta untuk segera tidur, tapi jika sudah tidur akan dibelai rambutnya seperti ini.


"Sing sabar yo le.... berpikir ojo kanti emosi, gawe hati gawe pikiran sing mateng, pikiren pantes lan orane Anakku wes gede mesti iso nggolek dalan"


(Yang sabar ya nak, berpikir jangan menggunakan emosi, gunakan hati gunakan pikiran yang matang, pikirkan pantas dan tidaknya, anakku sudah besar pasti bisa mendapatkan jalan)


Brakk .. klonteng.... Kaleng di bawah meja jatuh. Mungkin tikus yang menyenggolnya. Lukman mencari ke segala sudut kamar, mana perempuan yang membelai rambutnya tadi, pintu kamarnya juga sudah tertutup. Kemana perginya ibunya.


Allahu Akbar.... Allahu Akbar....sudah subuh. Mimpi itu begitu menyenangkan. Lama sekali beliau tak hadir meski dalam mimpi. Mingkin beloau mengingatkan agar Lukman sering-sering berziarah dan membersihkan sekitar makam. Wejangan beliau begitu menyentuh. Seolah mengisyaratkan sesuatu. Sabar, pikiran matang, jangan emosi, begitu yang ia ingat. Seperti menginginkan Lukman akan sesuatu yang akan terjadi kemudian.


***


Suara gedebug bocah-bocah berlarian karena permainan petak umpet. Permainan yang duku sering ia lakukan hingga kini selalu ada penerusnya. Betapa riangnya mereka malam ini. Malam minggu malam yang panjang bagi para pelajar. Malam merdeka bagi masa kanak-kanak. Mereka akan menghabiskan malamnya di luar rumah untuk bermain dengan kawan-kawan hingga malam setelah enam hari lamanya menghabiskan malam di depan meja belajar. seperti itu pula Lukman dulu


Lukman hendak keluar rumah karena suatu keperluan. Ia melihat dari celah jendela, Nurul sedang berbicara dengan seseorang di sana. Sama-sama perempuan. Lukman awalnya tak terlalu mempedulikan itu, tetapi kemudian ia yahu siapa uang sedang ngobrol di luar. Lukman menampakkan diri diantara keduanya. Tamu perempuan itu tersenyum lalu berlalu dengan motornya. Sama seperti sebelumnya.


Lukman memandang Nurul untuk mencari jawaban.


"Nganter buku Mas, kemarin dia pinjam bukuku, ini dikembalikan, piye (bagaimana), mau tak mintakan nomernya?" Nurul bertanya setengah serius setengah meledek.


Lukman hanya cengengesan.


"Rul, aku keluar ke rumah Farhan -teman semasa MTs- dulu paling agak malam pulangnya" kata Lukman.


"Nggih Mas"


Untunglah Farhan ada di rumah malam minggu begini seba mereka tidak janjian. Lukman datang untuk sekedar sharing tentang kerjaan. Farhan adalah salah satu teman yang belum menikah sehingga malam ini bisa bebas ngobrol sampai larut.


"Untuk saat ini yang paling rame itu warung wifi" pendapat Farhan


"Dikota hampir tiap kafe, hotel, tempat2 umum sudah ada wifinya" sahut Lukman.

__ADS_1


"Kalau di desa begini masih jarang. Tetapi sayangnya masyarakat menilai negatif sama warung wifi"


"Kok bisa"


"Karena banyak pelajar yang bolos sekolah mampirnya ke wifi, anak-anak pecandu game online nongkrongnya di warung wifi. Jadi imagenya warung wifi itu adalah tempat nongkrong orang-orang yang pengangguran nakal tanpa kreatifitas" jelas Farhan.


Lukman menyeruput kopi susu yang dihidangkan.


"Nah kalau kamu mau buka warung wifi, pastikan warungmu beda dengan warung kebanyakan. Pastikan image negatif tifak nempel di warungmu"


Lukman manggut-manggut. Ide yang bagus.


"Kalo sajiannya, kira-kira yang pas apa?" Lukman minta pendapat.


"Kopi, gorengan ya gitu-gitu lah" jawab Farhan.


"Ah itu sudah biasa, yang beda?"


Farhan tampak berpikir.


"Sebenarnya aku maunya menggunakan bahan alam di sekitar sini saja, misalnya jagung, mentimun, kacang panjang, nah aku mau menampung hasi panen warga kemudian aku produksi menjadi barang baru" ide Lukman.


Apakah satu mobil cukup untuk membangun usaha itu?


"Kecuali jika franchise" kata Farhan.


"Franchise? Produk apa?"


"Jagung manis, di sini banyak yang punya lahan jagung manis. Kamu bisa lobi mereka, tapi jangan jasuke atau es jagung manis, itu sudah biasa. Coba cari ide yang lain"


"Harus mulai dari satu gerobak dong"


"Ya iya dong, aku yakin dengan pengalaman bisnismu di Surabaya, kamu akan mudah menemukan ide-ide baru"


Lukman manggut-manggut. Benar juga tetapi kota dan desa memang jauh berbeda. Masyarakat kota yang konsumtif semakin menguntungkan para pedagang. Sehingga banyak orang merantau ke sana. Tetapi masyarakat desa lebih mengandalkan hasil buminya sendiri. Untuk membuat bisnis berupa kuliner belum tentu berhasil.


"Ganti topik Han, rumahnya Pakdhe Murtaji tahu kan? Aku kemarin ke pak RT meminta disambungkan dengan ahli warisnya, rencananya saya mau ngontrak di sana. menurutmu?" Kata Lukman

__ADS_1


"Serius mau ngontrak disana? Banyak yang kapok lo" komentar Farhan.


"Aku juga denger gitu sih. Memang beneran angker?" Lukman penasaran.


"Aku rasa angkernya bukan karena lama nggak ditempati, tapi karena santer terdengar bahwa rumah itu dulunya dipakai pesugihan sama leluhurnya Pakdhe Murtaji" jelas Farhan.


Serem juga mendengar banyak cerita dari Farhan tentang rumah itu. Untung saja belum ada kesepakatan kontrak di rumah itu. Lalu akan tinggal dimana? Haruskah kembali ke Surabaya? Lalu kenapa susah payah boyongan ke Kediri jika akhirnya kembali lagi ke Surabaya. Mau kerja apa disana kan sudah keluar dari kantor.


Pukul sepuluh malam Lukman sampai di kamarnya. Ia sudah sangat mengantuk malam ini. Ia hampir saja tertidur, tetapi bangun kembali karena melihat benda asing di dampar (meja kecil). sebuah buku bersampuil cokelat. Tetapi bukan buku itu yang mengejutkannya, melainkan selembar amplop biru di atasnya. Siapa yang menaruhnya disini. Didekatinya benda itu. Buku cokelat itu pernah ia lihat sebelumnya. Lukman tampak berusaha mengingat. Buku iyu pernah ia lihat ditangan Nurul, tadi sebelum berangkat ke rumah Farhan. Buku iyu pernah dipinjam Wardah.


Diambilnya amplop biru itu. Tertulis di sana 'tolong sampaikan ke Mas Lukman'. Bukan sekedar amplop. Itu adalah surat. Di dalam amplop itu ada surat yang kertasnya serba biru. Dibukanya pelan-pelan surat itu. Dibacanya dengan teliti dan hati-hati.


*Assalamualaikum wr wb


Maafkan aku atas surat ini yang mengganggu aktifitas Mas Lukman. Mohon untuk tidak menilai buruk terhadap apa yang aku tulis ini.


Pertama aku ingin bertanya, kenapa Mas Lukman pulang ke Kediri, aku dengar sudah tidak kembali ke Surabaya. Ya memamg seharusnya bukan menjadi urusanku. Maaf.


Sekali lagi aku mohon maaf atas apa yang akan kutulis setelah ini. Terlalu memalukan sebenarnya menulis ini tetapi sebagai perempuan dewasa aku harus melakukannya. Maaf.


Mas Lukman pasti ingat dan aku yakin Mas Lukman belum melupakannya. Peristiwa setahun lalu, hampir setahun lalu. Saat Abah memintamu mendampingi hidupku. Jauh sebelum saat itu batinku meronta. Bayangkan saja perempuan yang baru pulang dari perantauan bertahun-tahun tiba-tiba akan menikah dengan calon yang sudah disediakan. Tanpa ada pilihan. Tetapi kemudian aku menyadari hal itu adalah polemik bagi perempuan yang sudah waktunya berkeluarga. Semua perempuan akan mengalami hal yang sama jika sudah waktunya. Marah bingung takut bercampur jadi satu. Perlahan aku menerima hingga mantab dalam jiwaku, jantungku, hatiku, serta tulang-tulangku. Semua anggota tubuhku menerimanya.


Bertemu denganmu pertama kali setelah berpisah sekian tahun, membuat seluruh tubuhku mendidih. Begitulah rasanya ridho orang tua. Bukankah ayah adalah makhluk yang memiliki ana perempuannya? Dia bisa melakukan apa saja terhadap anak perempuannya. Dia bisa memberikannya pada siapapun yang ia mau. Bukankah demikian? Dan aku bersyukur dia akan memberikanku pada orang yang pernah kukenal. Setidaknya aku tahu bagaimana profilnya meski sedikit.


Tapi taukah kamu Mas, saat tiba-tiba Abah tidak jadi dengan rencananya? Batinku meronta lebih keras. Susah payah kuyakinkan diriku akan pilihan orang tuaku tetapi tiba-tiba saja tida jadi. Aku menyalahkan Abah dalam diam. Beberapa bulan kemudian aku mengetahui satu hal, bukan Abah yang membatalkan. Sampean yang menolak. Bolehkah aku bertanya kenapa? Ah tidak usah dijawab. Bukanlah hal yang urgent.


Kamu kembali lagi Mas, tapi aku tahu itu bukan karena aku. Aku telah berbincang dengan Nurul, darinya aku tahu meski sedikit, bahwa sampean menginginkan dijodohkan kembali denganku. Betul kan? Salah kah? Ah pasti salah.


Mohon jangan menilaiku buruk karena tulisanku. Dengan ini aku telah menyelesaikan tugasku. Segala rasa yang tersimpan dalam hatiku telah kuungkapkan. Akulah yang salah telah menarikmu terlalu dalam di jurang hati hingga tak tahu bagaimana menariknya keluar. Semoga Mas Lukman dapat menangkap maksudku.


Maaf.


Salam,


Wardah*


Lalu di bagian paling bawah ada nomor hape. Sudah pasti itu nomor Wardah. Berlian itu mengirimi surat. Apa yang sejatinya dia inginkan. Wardah ingin Lukman menguhubunginya lewat nomer itu?

__ADS_1


'Aku telah menarikmu terlalu dalam'. Apakah benar filingnya dulu, Wardah sebenarnya girang dijodohkan dengannya. Berlian itu menaruh hati. Begitu mudahnya jalan Tuhan setelah memberikan kesusahan Dia menyediakan jalan yang terbuka lebar. Akhirnya.


***


__ADS_2