
Sudah beberapa hari Wulan tidak masuk ke kantor. Badannya sedang tidak baik-baik saja. Kemarin suhu badannya mencapai 38,7 derajat celsius. Bukan suhu yang normal. Hari ini, meskipun sudah normal, ia harus benar-benar istirahat dan menjaga pola makannya.
Mamanya begitu khawatir dengan anak semata wayangnya itu. Ia tahu ini bukan sakit medis biasa. Ia tahu penyakit yang bersarang di badan anaknya tidak dapat terdeteksi oleh alat medis. Bukan dokter yang akan menyembuhkan sakitnya. Anak itu membutuhkan kebahagiaan di hatinya. Sang ibu tahu dimana sumber obatnya tetapi ia pun tak dapat berbuat banyak. Suaminya tentu akan melarang keras mengundang Lukman ke rumah.
"Sayang, kamu pengen jalan-jalan? Yuk Mama temenin" Ajak Mama.
"Jalan-jalan kemana Ma?" Wulan ogah-ogahan menjawab sambil masih berbaring di sofa.
"Bagaimana kalau kita ke kantornya Lukman, ajak dia makan siang bareng"
Wulan terperanjat, mendengar nama Lukman dadanya bergetar bak di setrum listrik. Kenapa nama itu muncul dari mulut Mama. Kenapa begitu manis ia ucapkan nama itu.
"Mumpung Papa kamu gak ada Lan"
Lanjut Mama. Wulan masih melongo dengan ide Mama yang dinilai gila.
"Mulai sekarang Mama harus berani sama Papa, selama ini semuanya diurusin sendiri. Mama kayak gak punya andil sama sekali. Kali ini Mama harus berani. Mau debat sekalian boleh lah, Mama ini seorang ibu, Mama tahu gimana perasaan anak Mama"
Oh Tuhan, kenapa baru sekarang Mama mengungkapkan demikian. Kenapa disaat Wulan mulai lelah memperjuangkan Lukman, Mama muncul dengan angin segar yang sedikit terlambat. Mama tak tahu kalau Wulan sudah lima hari tak ada kontak dengan Lukman. Wulan sakit hati dengan yang dilihatnya sore itu.
"Wulan... Lagi berantem sama Lukman Ma" jawab Wulan lirih.
"Ha?!" Mama terkejut dengan penuturan Wulan. Ia duduk di sebelah Wulan berispa untuk mendengarkan
"Ya... Sebetulnya Wulan yakin Lukman nggak kayak gitu, tapi Wulan sudah bener-bener capek Ma, sembilan tahun Ma, belum ada hasil apa-apa" Wulan tampak murung.
"Loh kok gitu sih sayang. Yang semangat. Sebentar, sebenarnya ini ada apa Lan...coba cerita sama Mama"
Wulan menceritakan kejadian sore itu dimana ia melihat Lukman memeluk perempuan lain yang dengan terang terangan menyatakan ingin mendapatkan Lukman bahkan menantang Wulan untuk bersaing secara sportif. Ini kali pertama Wulan dapat menceritakan perasaan pribadinya pada orang tua. Selama ini hubungan mereka sangat formal. Menceritakan masalahnya pada seorang ibu, membuat beban di pundaknya menjadi ringan. Paling tidak mulai saat ini ia tak lagi sendiri menghadapi masalah hidupnya.
"Oke lah kalau waktunya masih belum pas, Mama ngikut aja. Pokoknya yang paling penting anak Mama bahagia. Udah itu aja"
Satu kartu sudah ditangan. Mama sudah merestui bahkan mungkin suatu saat Mama akan ikut memperjuangkan hubungan mereka. Tapi kini kendala justru datang dari pribadi Wulan. Ia merasa benar-benar lelah dengan hubungan yang tak jelas arahnya. Akankah terus berjuang seperti ini. Sampai kapan. Sampai mereka tua? Sampai rambut beruban? Atau sampai salah satunya selingkuh? Ya, indikasi itu sekarang muncul. Terlebih setelah peristiwa sore itu. Winda hadir di tengah-tengah mereka. Tanpa dinyana secepat itu Winda mampu memperoleh pelukan seorang Lukman.
Dari hati kecilnya yang terdalam, Wulan yakin peristiwa itu hanyalah salah paham. Tapi di sisi lain ada Winda yang tak bisa diremehkan. Winda sangat mungkin suatu saat disukai oleh Lukman. Winda memenuhi sebagian besar kriteria yang didambakan Lukman.
Suara deru mobil memasuki pintu gerbang rumah Winda. Suara itu tak kerasbkarea berasal dari mobil mewah, tetapi mampu membuyarkan lamunan Wulan. Wulan mengintip dari jendela lantai atas. Sebuah mobil putih terparkir di depan rumah. Seorang perempuan ibu-ibu turun dari mobil. Wulan sangat paham siapa perempuan itu. Dia sudah beberapa kali ke rumah ini.
Tak berapa lama Mama tampak keluar dari rumah dan berangkulan dengan perempuan itu. Lalu keduanya masuk ke rumah. Perempuan itu adalah Bu Damadi. Maminya Edward. Wulan tak kaget dengan kedatangan beliau. Sudah beberapa kali main ke rumah dan membicarakan bisnis. Tak berapa lama Mbak Yuyun memberitahukan Wulan bahwa Bu Damadi datang untuk menjenguknya. Merasa tak enak, Wulan pun turun menemuinya.
"Siang Tante!" Sapa Wulan.
"Oh sayang, gimana sekarang sudah enakan?" Tanya Bu Damadi sambil cipika-cipiki dengan Wulan. Laku mereka bertiga duduk bersama.
"Maaf Tante jadi ngrepotin" Wulan basa-basi.
"Oh nggak papa... Edward bilang Wulan sakit, makanya Tante langsung kesini. Tadinya ya Lan... Tante mau ajak kamu sama Jeng Handi jalan-jalan ke Sidoarjo kan sekarang Alhamdulillah sudah dibuka cabang yang baru"
Bu Damadi menyeruput teh hangat buatan Mbak Yuyun lalu melanjutkan
"Tapi karena Wulan masih belum fit, ya sudah kapan-kapan saja kalu sudah bener-bener sembuh ya sayang"
Obrolan berlanjut sekitar dua jam. Ada saja yang dibicarakan. Mulai dari bisnis sampai urusan dapur. Namanya ibu-ibu selalu punya topik uang cocok untuk dijadikan obrolan. Tak jarang mereka menggosip tentang menanti si A yang begini laku anaknya si b yang begitu. Ya itulah ibu-ibu yang berprofesi sebagai pendamping sang suami. Artinya ibu rumah tangga.
Selang dua jam Bu Damadi pamit pulang. Mama menghampiri Wulan yang sedang nonton televisi.
"Lan, kalau kamu nggak mau diajakin sama Maminya Edward, bilang ke Mama nanti biar Mama yang cari alasan.oke"
Wulan mengangguk senang. Kini ia serasa punya guardian angel.
Dua hari kemudian. Wulan benar-benar sudah sehat. Ia pun menjalani aktivitas seperti biasa. Dan hari ini tepat seminggu tanpa Lukman. Wulan mulai terbiasa tanpa sapaan sayang dari Lukman. Terbiasa tanpa ketawa ngakak di telepon dengan Lukman. Meskipun sebenarnya ia menguatka dirinya untuk itu. Hatinya masih diiris oleh kerinduan. Ia rindu suara Lukman. Rindu caranya menenangkan. Rindu tertawanya. Rindu dia bilang i love you dengan nada seraknya. Rindu semuanya.
Seaeorang mengetuk pintu ruangannya ketika ia sedang mengerjakan beberapa tugas.
"Mbak Wulan ada tamu di bawah sedang nungguin" begitu katanya.
"Laki-laki apa perempuan?" Tanya Wulan penasaran.
"Cowok Mbak"
__ADS_1
Cowok? Lukman. Apakah ia harus menemuinya atau dibiarkan saja. Jika ditemui maka sia-sialah seminggu menahan diri. Tetapi membiatkanya di bawah juga bukan keputusan yang bijak. Di sisi lain, kerinduan begitu membuncah ketika tahu ada seorang laki-laki yang ingin menemuinya. Siapa lagi kalau bukan Lukman.
Wulan melangkah dengan pelan. Jantungnya deg degan seperti remaja mau ketemuan dengan pacar sosmednya. Ia mulai menduga-duga kira-kira apa yang akan dikatakan Lukman. Lalu bagaimana ia harus menjawab. Jantungnya semakin berdegup kencang saat memasuki lobi bawah. Di ruangan itu terlihat seorang pria tengah berdiri menghadap dinding kaca seolah sedang mengamati sesuatu di luar. Dari belakang pria itu tampak ramping dan badannya tinggi. Apakah Lukman sekarang kurusan? Dari postur tubuhnya sepertinya itu bukan lukman. Pria ini lebih tinggi dari Lukman dan lebih kurus. Rambutnya agak keriting.
"Ehm..ehm..."Wulan menunjukkan keberadaannya.
Pria itu menoleh
"Hay..." Sapanya
"Edward...."Wulan terkejut karena ternyata pria itu adalah Edward. Tak biasanya ia datang ke kantor. Jika ingin menemuinya dia bisa ke rumah sesuka hatinya seperti Daddy dan Maminya.
"Hehehe sorry ganggu ya?" Edward salah tingkah.
"Ehm....enggak sih lagi gak sibuk baget. Kenapa tumben kesini?"
Mereka kemudian duduk berdampingan.
"Ada waktu nggak, aku mau ngajakin keluar. Aku perlu bantuan kamu sih sebenarnya." Kata Edward.
"Tapi kan aku lagi kerja. Mana bisa keluar seenaknya begitu" sebenarnya Wulan ingin menolak dengan mencari alasan yang pas.
"Edward!!" Pak Handi tiba-tiba muncul dari arah belakang. Entah apakah sebenarnya mereka sudah sekongkol atau memang ini sebuah kebetulan.
"Wah...tumben main ke sini...gimana sehat? Daddy, Mami, sehat?" Tanya Pak Handi basa-basi.
"Iya Om sehat. Ini Om saya butuh bantuan dari Wulan. Apa saya boleh mengajak dia keluar Om?" Tanya Edward langsung pada intinya.
"Oh boleh.. boleh.... Wulan kamu bisa belajar banyak dari Edward" jawab Pak Handi.
Begitu mudahnya Edward mendapat ijin Pak Handi. Coba kalau yang meminta ijin adalah Lukman, apakah akan semudah itu? Toh juga sama-sama cowok yang ngajak. Sejatinya Wulan ingin menghindar. Ia tahu betapa kedua orangtua Edward sangat ingin menjodohkan mereka. Wulan tak mau sampai memberikan celah yang membuat mereka beranggapan bahwa Wulan setuju saja dijodohkan.Tetapi dengan kondisi seperti ini, bagaimana akan menolak.
Wulan akhirnya menurut daripada jadi rame. Ia lihat ekspresi wajah Papanya yang sumringah melihat anak gadisnya dibawa pria kaya. Walaupun waktunya kurang pas bagi Wulan yang sedang tidak baik-baik saja.
Mobil melaju ke arah utara melewati taman kota. Sekitar lima belas menit mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Tempat itu termasuk restoran termahal di Surabaya. Dengan view suasana out door yang bisa langsung melihat indahnya kota Surabaya. Sayangnya siang ini cukup terik sehingga tidak bisa memesan tempat di out door. Jika senja tempat ini menjadi lebih indah.
Berbagai pertanyaan masih bergerumbul di kepala Wulan. Pertolongan apa yang bisa ia berikan di tempat seperti ini. Ini bisnis atau kencan. Edward pemuda modern, tentu tidak mudah menerima perjodohan. Lalu jika seperti ini, apakah Edward mulai jatuh hati?
Mereka duduk berhadapan dihalangi oleh meja kotak yang dihiasi lilin. Tepat di atas mereka juga diatas kuris-kursi yang lain tergantung lampu cantik dari kristal. Langit-langit indah bak istana. Di setiap dinding kaca terdapat gorden memanjang yang bisa ditutup jika dialih fungsikan jadi aula.
"Sudah pernah kesini?" Tanya Edward
Wulan menggeleng.
"Belum lah, aku pernah dengar restoran ini pernah browsing juga tapi begitu tahu aslinya sumpah indah banget"
Tak dipungkiri hari ini Wulan beruntung ada yang ngajakin ke tempat mahal ini.
"Ada satu lagi, dekat jembatan Suramadu, disana begitu buka girden viewnya sudah laut"
"Oh ya?"
"Mau?"
Harus menjawab bagaimana? Mau banget tapi jika dijawab 'mau' gak perlu nunggu lama untuk terealisasi. Dan semakin terbujalah celah untuk Edward, tapi apa pantas dengan menjawab 'tidak, terima kasih'. Akhirnya Wulan memutuskan untuk menjawab dengan senyuman.
Pelayan yang tadi menyambut kedatangan mereka datang lagi. Ia ditemani rekanya membawa banyak piring berisi makanan. Masing-masing piring hanya terdiri dari sekita 4 sendok makanan saja. Apa memang seperti itu makanan gaya Eropa.
"Ini menunya ala ala Eropa gitu. Ada sebagian yang disini juga ada, tapi ada juga yang belum pernah kamu rasain. Cobain deh" Edward mempersilahkan.
Ada beberapa sendok, garpu dan pisau yang berbeda jenis dan fungsi. Kalau ini Wulan tahu. Restoran modern ala eropa di Surabaya banyak tapi yang semegah ini hanya beberapa.
Baru beberapa sendok Wulan menikmati hidangan, pelayan datang lagi dengan kue tart ukuran mini. Edward menyambutnya dengan senang hati. Wulan mulai bingung. Siapa yang ulang tahun. Apakah Edward memberi kejutan untuknya, padahal Wulan tidak sedang ulang tahun. Mustahil jika orang sekaya Edward tidak merayakan ulang tahun di hotel berbintang.
"Nah..ini nih Lan yang aku bilang tadi...jadi gini.. Aduh gimana ua ngomongnya jadi belepotan gini..."
Edward memasang beberapa lilin kecil di atas kue tart cokelat mini. Lalu melanjutkan penjelasannya.
"Jadi.... hari ini aku ulang tahun, tapi....Mami sama Daddy aku gak inget, mereka malah ke Sidoarjo ngurusin cabang di sana sakpai nginep di rumah sodara disana. Dan lagi aku ga punya temen disini, ya kamu tahu lah aku bertahun-tahun tinggal di Jerman, satu-satunya yang aki harapkan ya kamu, satu-satunya orang yang gak bakalan ketawain aku kalau aku ngrayain ulang tahun kayak anak kecil"
__ADS_1
Wulan tertawa di balik kedua tangannya. Ia tak bisa menahan tawa bertolak belakang dengan harapan Edward.
"Yah kamu malah ketawa"
"Sorry Ed....gak nahan. Okey...trus apa yang bisa aku bantu?"
"Ya seperti ulang tahun kebanyakan lah. Kamu nyanyiin lagu ulang tahun sembari aku berdoa trus aku tiup lolinnya. Bisa?"
Wulan kembali menutup mulutnya karena tak bisa menahan tawa.
"Yah ketawa lagi"
"Sorry sorry ... Oke oke aku nyanyiin ya.... Happy birthday to you....." Sembari Wulan bernyanyi Edward berdoa dengan khusyuknya. Matanya terpejam. Melihat muka Edward dengan mata terpejam begitu membuat Wulan terpana. Mana ekspresi urakan yang dulu pertama diperlihatkan. Mana jiwa kebaratan yang selama ini muncul.
Selesai tiup lilin, Edward memotong kue. Kue oertama ia bungkus dengan tisu. Lalu ia memotong kue lagi.
"Itu kue pertama bukan buat aku?" Tanya Wulan.
"Hehehe...sorry sorry....kue pertama khusus buat Mami...nih aku potongin buat kamu"
Buat Mami? Kenapa gak ajakin Maminya saja, batin Wulan.
Akhirnya kue kedua diserahkan Wulan. Wulan menikmati kue lembut yang lebih enak dari kue tart biasa.
"Ed... kenapa kue pertamanya dibungkus begitu. Apa gak basi atau hancur ntar pas kamu kasih ke Mami kamu?"
"Aku simpen di kulkas dulu lah..."
Wulan manggut-manggut.
"Kamu tau gak Lan momen ulang tahun itu amat sangat penting banget buat aku.... sampai-sampai aku ngajakin kamu karena udah gak ada orang lagi yang bisa aku ajakin ngrayain ulang tahun ini"
Wulan mengernyitkan dahi.
"Dengan mome ulang tahun,. Aku bisa mengingat betapa Tuhan beri aku kehidupan kedua ... Cerita dikit gak papa ya?"
Wulan menunjukkan ekspresi penasaran. Piring-piring dengan makanan lezat nan mahal sudah tak menarik lagi dibanding cerita yang akan dilontarkan Edward sebentar lagi.
"Jadi dulu waktu aku masih usia tiga bulan di kandungan Mami, dokter memvonis kandungan Mami kurang sehat sehingga janin harus digugurkan"
Wulan menutup mulutnya dengan ujung-ujung jarinya tanda terkejut.
" Mami sama Daddy sudah tanda tangan persetujuan akan menggugurkan janin itu, yaitu aku...nah pas mau masuk ruang tindakan, Mami nangis gak karuan. Mami mohon-mohon sama Daddy untuk batalkan gugurin kandungan. Apapun yang terjadi meskipun taruhannya nyawa sekalipun, Mami siap membesarkan janinnya"
Edward minum sebentar lalu melanjutkan ceritanya.
" Ya sudah, aku berhasil dibesarkan hingga usia tujuh bulan walaupun Mami sering mengalami pendarahan. Pada usia tujuh bulan, Mami semakin drop sehingga aku harus dilahirkan aecara paksa melalui operasi sesar, nah ternyata kandungan Mami sudah rusak akibat ngotot mempertahankan aku. Alhasil kandungan Mami diangkat"
"Syukurlah...." Komentar Wulan
"Belum selesai sampai situ. Habis operasi pengangkatan rahim, Mami koma sema hampir dua minggu... Tapi..karena Daddy punya duit, Daddy bisa mengupayakan pengobatan secara maksimal sampai ke Singapore. Dan Mami bisa diselamatkan. Makanya aku gak punya adek."
Semua orang punya cerita hidup masing-masing tak terkecuali orang kaya macam Edward. Tak disangka lelaki ini lahir dengan penuh perjuangan.
"Itulah kenapa aku sayang banget sama orang tuaku. Bertaruh nyawa buat pertahankan aku. Kalo saja mereka nyerah. Maka aku tidak akan ada di depan kamu"
Ya memang seharusnya, pikir Wulan.
"Nah itulah kenapa aku selalu melakukan apapun yang membuat mereka seneng. Aku suruh ambil sekolah swasta yang bagus, oke aku ikut, aku suruh kuliah di Jerman jurusan manajemen bisnis okelah aku ngijyut padahal aku nggak suka bisnis, aku lebih suka otomotif tapi ya sudahlah, prinsipku, orangtuaku harus bahagia"
Jujur dalam hati Wulan malu. Lelaki yang ia kenal urakan itu begitu ingin membahagiakan orangtuanya. Sedabg Wulan? Beberapa kali berbeda pendapat terutama soal jodoh. Sembilan tahun menjalin hubungan dengan seorang pemuda tanpa restu orangtua bahkan terang terangan ditentang, bukankah itu termasuk pembangkangan.
"Ayo dimakan" ajak Edward.
Wulan tersenyum. Edward hari ini sangat berbeda.begitu sederhana, begitu dewasa, begitu bersahabat.
Entahlah, Edward hari ini menjadi guru uang menyelipkan banyak pengajaran dalam benak Wulan. Semua orang punya cerita. Begitupun Edward dengan segala kelamnya.
***
__ADS_1