Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Yen Iyo Mosok Ora O Yen Ora Mosok Iyo O


__ADS_3

Makam Sunan Ampel, terletak di Jl Pertukangan Ampel, agak jauh dari tempat kerja Lukman. Lokasi ini tidak pernah sepi pengunjung. Hingga tengah malam pun masih ada saja pengunjung yang datang untuk mencari berkah.


Sunan Ampel merupakan wali tertua diantara wali songo yang menyebarkan islam di pulau Jawa. Nama aslinya adalah Raden Rahmat tetapi itu bukan satu-satunya nama beliau, dalam catatan Tiongkok disebutkan beliau bernama Bong Swi Hoo, sedang dalam suatu Hikayat beliau disebut Raja Bungsu.


Sunan Ampel merupakan putra dari Syeikh Ibrahim As Samarqandy yang dimakamkan di daerah Tuban di pinggir pantai. Ada pula yang meyebut beliau putra dari Sunan Gresik. Sunan Ampel juga disebut bapak atau guru dari para wali karena dari beliau lahirlah putra-putra yang kemudian menjadi wali yakni Sunan Drajat dan Sunan Bonang.


Hari ini Lukman duduk di sebelah barat pagar yang melindungi makam Sunan Ampel, ia menghadap ke timur. Menurut ustadznya waktu MTs dulu, posisi yang paling baik saat berziarah adalah duduk di sebelah barat makam menghadap timur diluruskan dengan kakinya. Seperti halnya ketika sowan kepada gurunya yang tengah terbaring yang berhadapan lurus dengan kaki beliau, jadi ketika beliau dawuh sang murid bisa mendengar dengan jelas tanpa mengurangi kesopanan dalam posisi duduk. Selama tinggal di Surabaya Lukman berziarah ke sunan Ampel bisa dihitung dengan jari, ia pun memahamai betapa keterlaluannya dia sebagai seorang muslim.


"Ya Allah yang maha membolak balikkan hati manusia, engkau tahu bagaimana hatiku tengah berubah-ubah. Kemarin begitu semangatnya aku memulai hubungan baru yang lebih serius dan aku yakin hubungan kami aman, aku yakin itupun atas petunjukMu, sekarang aku sedang terombang ambing oleh perasaanku sendiri. Saat aku telah mantab dengan memutuskan untuk bertunangan, engkau hadirkan kembali Wulan meski hanya sekilas tetapi telah meremukkan keyakinanku, engkau beri situasi yang membuatku begitu menaruh perhatian kepada Winda yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan untuk dekat dengannya apalagi memilikinya. Ya Allah, apa yang sedang engkau rencanakan? Ya Allah, Tuhanku, engkau adalah sebaik-baiknya tempat mengadu. Hambamu tengah mengadu ya Allah,hamba telah disakiti oleh makhlukmu yang bernama 'takdir'. Fia semena-mena terhadapku. Bukankah engkau mengutusnya untuk memberikan yang terbaik padaku, nyatanya dia bertindak tidak adil padaku. Kembalikan Wulan padaku, aku tahu mungkin dia sudah tidak lagi sendiri, apa yang sulit bagiMu, kebalikan dia padaku, tidakkah aku membuktikan kesungguhan selama ini? Kembalikanlah dia padaku Tuhanku....."


Jam sepuluh malam bukan terlalu malam bagi area makam sunan Ampel yang selalu padat pengunjung. Lukman tertunduk membacakan kalimat-kalimat dzikir yang diharapkan mampu menenangkan hatinya saat ini. Dua jam berada di area makam bukan waktu yang lama bagi peziarah yang sedang mencari, entah mencari wangsit,. Mencari petunjuk, mencari ketenangan, mencari barokah bahkan mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Lukman membacakan yaasin, surat annaba, surat al Mulk, tahlil, doa, segala hal yang ia bisa ia tumpahkan malam ini.


Puas dengan bersimpuh, ia menuju gentong-gentong besar yang konon bertuah. Tetapi Lukman lebih mempercayai kebarokahan sebab berziarah bukan sebab meminum air itu. Terlepas dari kepercayaan itu, air itu begitu segar diminun, sekali teguk segarlah seluruh tenggorokannya.


Di sekitar gentong-gentong besar itu terdapat sebuah makam. Lukman tak melewatkan makam itu. Ia bersimpuh berdoa seperti yang ia lakukan di hadapan makam Sunan Ampel.


Jika dikunjungi banyak peziarah tentu bukan makam orang biasa. Beliau bernama Mbah Soleh yang konon juga menjadi waliyullah. Ada cerita menarik tentang tokoh tersebut. Beliau konon memiliki sembilan nyawa. Beliau adalah murid dari Sunan Ampel yang bertugas membersihkan masjid. Menurut cerita, Mbah Soleh sangat bersih dalam menyapu masjid sehingga lantai menjadi kinclong seperti habis dipel. Suatu ketika beliau wafat, dan dimakamkan di sekitar masjid. Sepeninggal Mbah Soleh, masjid menjadi tak sekinclong dulu, santri yang lain sudah berusaha menyapu sebersih mungkin bahkan disapu berulang-ulang namuntetap tida menyamai bersihnya sapuan Mbah Soleh. Lalu Sunan Ampel bergumam 'seandainya Mbah Soleh masih hidup' seketika sisik Mbah Soleh hadir menyapu masjid hingga kinclong. Sampai beberapa tahun. Beliau hidup memenuhi panggilan sang guru. Suatu ketika Mbah Soleh wafat untuk kedua kalinya dan dimakamkan di sisi masjid yang lain. Sesuatu terjadi lagi ketika Sunan Ampel bergumam ' seandainya Mbah Soleh masih ada' seperti sebelumnya, Mbah Soleh kembali hadir menyapu dan itu berulang-ulang hingga delapan kali. Sehingga total makam Mbah Soleh ada sembilan di sekitar masjid. Wallahu A'lam.


Kisah Mbah Soleh mencerminkan ketaatan seorang santri kepada sang guru, sekali dipanggil langsung datang meskipun sulit. Berbeda dengan Lukman yang tidak memenuhi panggilan dari Pak Haji Saman untuk menikahi putrinya. Ia menyadari dan menyesali hal itu. Seandainya dulu ia menurut, tentu pertentangan yang ada di dalam dirinya kini tidak akan terjadi.Tetapi sesuatu yang sudah terjadi bukankah sudah digariskan oleh ilahi. Jika dulu ia menurut bukankah itu juga tak adil bagi Wulan yang setia menunggu bertahun-tahun.


Keluar dari makam Mbah Soleh ia menuju makam Mbah Bolong. Beliau pun juga bukan orang biasa yang dimakamkan di sana. Sama seperti Mbah Soleh, beliau adalah santri yang memiliki keistimewaan. Dahulu Mbah Bolong yang memiliki nama asli Mbah Sonhaji adalah seorang nahkoda kapal sehingga lihai dalam menentukan arah mata angin. Beliau dipercaya untuk menentukan arah pengimaman dalam pembangunan Masjid Ampel. Setelah masjid selesai dibangun, banyak warga kurang mempercayai apakah benar pengimaman menuju arah kiblat karena dilihat arahnya sedikit menyerong dari jalan. Demi meyakinkan masyarakat, konon Mbah Bolong membuat lubang tepat di depan pengimaman.


"Lihatlah sendiri di dalam lubang ini" begitu kata Mbah Bolong.


Masyarakat uang menyaksikan apa yang ada dalam lubang itu pun terheran heran karena lubang itu bisa melihat langsung Kakbah yang asli ada di Makkah. Subhanallah. Begitu saktinya ulama jaman dulu karena terbebas dari kemaksiatan. Jika jaman sekarang ada yang mampu seperti itu, belum tentu karena hatinya bersih, bisa juga karena tipu muslihat. Wallahu A'lam.


Selesai dari mbah Bolong sudah hampir jam dua belas malam. Lukman teringat bahwa ia belum sholat isya. Ia menyempatkan diri sholat di Masjid Ampel. Selesai sholat ia hendak memakai sepatunya. Seorang lelaki tua di serambi masjid bergumam dengan nada sedikit kesal.


"Hmmm menungso ra nduwe udel, ora isin karo pengeran, diwenehi penak isih njaluk sing luweh kepenak" begitu katanya dalam bahasa jawa.


(Manusia tidak punya pusar, tidak malu dengan Tuhan. Dikasih enak masih minta yang lebih enak)


"Sinten Mbah? (Siapa Mbah)" Sapa Lukman sambil tersenyum.


"Sampean ngerti bosoku? (Anda mengerti bahasaku)" tanya si Mbah terheran heran.


"Inggih kulo tiyang Kediri Mbah (iya,. Saya orang Kediri)" jawab Lukman sambil mengenakan sepatu.


"Walah, saya orang Tulungagung. Tetangga kota hehehhe"


"Jadi gimana Mbah, ngomongin siapa barusan?" Tanya Lukman masih penasaran. Orang tua seperti itu biasanya punya banyak wejangan yang berdasarkan pengalaman pribadi.


"Itu, peziarah yang bukan niat mencari barokah"


"Lantas mencari apa Mbah?"


"Golek dunyo (mencari dunia)"


"Bagaimana Mbah?"


"Peziarah yang kesini banyak juga yang tidak niat mencari barokah, tapi mencari kekayaan, biasanya mereka membawa menyan, kembang tujuh rupa lalu pasti bertempat di bawah pohon uang besar, bukannya dekat makam malah dekat pohon besar"

__ADS_1


Suasana hening sejenak. Lelaki tua itu menghisap rokok lintingan (rokok yang dibuat dari tembakau yang dibungkus kertas khusus).


"Lihat mereka itu?" Kata si Mbah.


Lukman menoleh ke arah jari telunjuk si Mbah.


"Lihat pakaiannya, ke makam kok pakek celana pendek, rambut panjang, cincinnya batu akik, itu pasti dukunnya, lalu sampingnya itu, bajunya resmi, bawa koper, itu pasti yang mencari pesugihan"


Lukman heran bagaimana makam wali digunakan untuk mencari pesugihan. Nyatanya hal seperti itu sering terjadi. Kini dihadapannya ia melihat sendiri orang-orang semacam itu.


"Biasanya dia itu mencari semacam pusaka yang nantinya untuk melancarkan usaha atau menjadikannya pejabat penting" jelas si Mbah.


"Pusaka?"


"Biasanya berbentuk batu mulia, atau kol buntet atau bisa berbentuk keris kecil. Bisa juga orang minta disukseskan dalam pemilu"


Lukman mendengar dengan serius.


"Orang kalau nggak bersyukur ya seperti itu, mintaaa terus dikasih ini minta lagi ini. Ya ndak papa tapi mintanya itu lo trus melenceng bukan sama Gusti tapi sama yang bukan Gusti"


"Maksudnya?"


"Ya pohon ya jin ya batu batuan ckckck"


Lukman masih berpikir.


"Afdholu du'a alhamdulilah"


Bisa juga si Mbah itu berdalil.


"Utama utamanya doa adalah Alhamdulillah. Dengan Alhamdulillah berarti kita bersyukur dengan apa yang diberi oleh Allah, kalau kita mau bersyukur nanti akan ditambah nikmatnya...lainsyakartum laazidannakum"


Dia benar, Lukman baru ingat pernah mendengar itu dari gurunya dulu.


"Kemarin ada cewek nangis depan makam Kanjeng Sunan, sampek jam satu malam, tak tanya kenapa nangis katanya bingung, tak tanya lagi bingung kenapa, katanya pengen batalin pernikahan yang kurang dikit lagi, tak tanya lagi kenapa pengen dibatalkan, katanya karena gak cinta"


Permasalahan yang hampir sama, Lukman ingin mendengar apa jawaban si Mbah terhadap orang itu.


"Jangan minta jalan untuk dibatalkan Mbak, mintalah sama Gusti diberikan jalan terbaik, jika jalan yang paling baik adalah dia ya itulah yang paling Allah ridhoi, jika bukan dia, ya bagaimanapun caranya pasti akan putus, yen iyo mosok ora o yen ora mosok iyo o" lanjut si Mbah.


"Saya pernah mendengar itu Mbah tapi..."


"O iya, jika memang kehendakNya pasti terjadi jika bukan kehendaknya pasti tak akan terjadi, maka jangan meminta apa yang menjadi keinginanmu, mintalah Allah menunjukkan apa yang allah ridhoi, titik. Paling enak itu nderek, manut sama apa yang digariskan Gusti itu yang paling membuat hati kita bahagia, ngoten lo Mas "


Cukup panjang dialog mereka mala ini hingga tak terasa hampai wetengah dua malam. Lukman keluar area makam melewati gang-gang yang dipenuhi pedagang oleh-oleh. Butuh waktu cukup lama untuk menembus kerumunan peziarah yang sedang menuju atau keluar makam. Meski sudah dini hari area makam Sunan Ampel tetap ramai. Setelah lebih dari satu jam ia berjalan akhir ya ia sampai diujung gang di jalan masuk area makam.


Sepanjang perjalanan pulang Lukman sama sekali tidak mengantuk. Ia memikirkan apa yang dikatakan si Mbah yang menurutnya adalah juru kunci makam. Tutur katanya santai tidak terlalu serius namun memberikan kesan sejuk di hati Lukman.


***


"Assalamualaikum" suara perempuan dari balik pintu. Suara yang sangat dikenal oleh Lukman.

__ADS_1


Lukman membuka pintu. Benar, Widya datang pagi ini saat keduanya sama-sama sedang libur.


"Sudah sarapan Mas?" Tanya Widya dengan membawa dua bungkus nasi.


Sebenarnya itu bukan sebuah pertanyaan yang meminta jawaban, tetapi sebuah permintaan untuk menerima apa yang akan ia tawarkan.


"Aku ambil piring dulu" Lukman sudah paham apa yang dimaksud gadis itu.


Selang beberapa sendok mengunyah, Widya mengeluarkan beberapa brosur dari tasnya. Mungkin brosur wedding organizer lagi.


"Ini Mas, brosur perguruan tinggi. Mungkin Mas Lukman ada yang minat?" Kata Widya berhati-hati.


"Ini maksudnya gimana nih?"


"Kata Bapak, Mas Lukman pernah kuliah di UNTAG?"


"Iya"


"Kenapa tidak diteruskan Mas?"


"Ya itu waktu aku berniat boyong ke Kediri, gak taunya balik lagi ke Surabaya"


"Nah gimana kalau diterusin? Atau mulai dari awal lagi. Mas pilih deh yang cocok, biar aku nanti yang urus registrasinya"


Lukman tercengang beberapa saat.


"Gak tau lah Wid, ntar aja gampang kalo keuangan kita sudah cukup, kan kita lagi rencana ke nikahan, ya itu aja dulu yang di urus" usul Lukman.


"Justru itu Mas, saya harap pas hari pernikahan kita, Mas sudah berstatus sebagai mahasiswa"


"Kenapa begitu Wid?"


"Tolong Mas jangan salah paham, saya hanya ingin menjaga harga diri Mas Lukman, Mas kan tahu, teman-teman Widya rata-rata S2, saya tidak ingin ada anggapan miring, masak lulusan S2 dapatnya lulusan SMA"


Perih rasanya mendengar kalimat itu sekalipun itu benar adanya. Tak terpikirkan sebelumnya oleh Lukman akan munculnya hal-hal semacam ini. Kenapa tak dibicarakan sebelumnya.


"Apa tidak cukup dengan jabatanku sebagai asisten manager?"


Widya tampak berpikir.


"Iya Mas, saya bisa nerima, tapi teman-teman Widya....."


"Kenapa harus tergantung dengan orang lain, kalaupun aku akan kuliah,. Itu karena kemauanku sendiri bukan karena takut cemoohan orang" suara Lukman agak tinggi hingga membuat Widya terperangah.


Lukman langsung menyadari akan sikapnya uang kurang baik pagi ini. Ia duduk perlahan lalu berusaha tersenyum. Sedang Widya mungkin masih terkejut dengan sikap Lukman yang belum pernah seperti itu sebelumnya.


"Hmmm sorry, akan aku pertimbangkan" kata Lukman kemudian.


"Hmm iya Mas, saya ngerti kok" kata Widya ragu-ragu.


Semakin berkecamuk hati Lukman saat ini, keinginannya membatalkan pernikahannya semakin kuat. Apakah ini jawaban atas doanya di makam Sunan Ampel? Atau inikah yang sebenarnya yang membuatnya ragu untuk melanjutkannya rencana pernikahannya. Mungkinkah Allah sedang menunjukkan kelemahan Widya pagi ini, ataukah setan yang sedang mencoba menggodanya? Seperti kata pria tua yang ditemuinya di masjid Ampel, ia hanya perlu ikut dengan takdir Allah.

__ADS_1


Lukman menghela nafas panjang berusaha ikhlas atas semua yang terjadi. Berusaha mengikuti arus qodho dan qodar. Berusaha menenangka dirinya sendiri atas kepanikan yang dibuatnya sendiri.


***


__ADS_2