Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Yamato


__ADS_3

Lukman menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki sebuah gerbang. Ia tahu di dalam sana ada harimau jantan yang siap menerkam kapan saja. Ia pun tahu mungkin saja ia keluar dalam keadaan tak selamat. Ia sudah siap dengan itu.


Memasuki gerbang rumah ini seperti seorang tawanan yang akan diadili. Dinding pagar, bunga-bunga, pohon-pohon bahkan batu-batu hiasan itu seolah memperhatikannya dengan tatapan tajam. Lukman melangkah pelan sambil memikirkan kalimat apa yang akan digunakannya untuk memulai maksudnya. Jantungnya berdegup kencang saat mengucap salam di depan pintu. Lebih kencang lagi saat pintu dibuka.


" Lukman..." Bu Handi yang membuka pintu, syukurlah.


"Kenapa kamu kesini... Papanya Wulan ada di rumah lo" Bu Handi tampak panik ayas kedatangan Lukman. Tentu saja karena kedatangannya akan menimbulkan keributan di rumah ini.


"Saya ingin bertemu dengan Papanya Wulan Bu" jawab Lukman tenang meskipun dipenuhi ketakutan.


Akhirnya Bu Handi mempersilahkan masuk. Pak Handi pun akhirnya menerima kedatangan Lukman. Beliau ingin tahu apa selanjutnya yang akan dilakukan Lukman.


Kini mereka bertiga berhadapan. Wulan mengintip dari balik ruang tengah. Ia bersembunyi di balik gorden besar penyekat dua ruangan ini.


"Kedatangan saya kesini, pertama saya ingin bersilaturahmi, saya sadar selama ini silaturahmi kita tidak berjalan dengan baik" Lukman mengawali.


Pak Handi manggut-manggut. Tetapi dengan tatapan kebencian dan sedikit sombong.


"Kedua, saya ingin memperjelas, klarifikasi atas hubungan saya dengan..... Wulan"


"Klarifikasi opo meneh...bukankah semua sudah jelas. Saya sebagai orang tua Wulan tidak merestui hubungan kalian. Dan sudah saya minta berkali-kali sama Wulan untuk menjauhi kamu...."


Lukman mengangguk.


"Saya mengerti Pak, saya tidak akan memaksakan lagi. Saya hanya ingin memperbaiki hubungan saya dengan Bapak yang selama ini kurang baik. Meskipun Wulan sudah tidak mungkin saya dapatkan, paling tidak hubungan kita tidak menjadi musuh"


Bu Handi memelas mendengar penuturan Lukman.


"Bolehkah saya bertemu Wulan? Saya ingin mendengar langsung dari Wulan" pinta Lukman.


"Oke. Tapi kamu janji. Setelah ini jangan coba-coba mendekati anak saya lagi" kata Pak Handi. Lukman menyetujui.


Keluarlah Wulan dari balik gorden tempat ia bersembunyi. Wajahnya sendu tak seperti dulu yang Lukman kenal. Wulan duduk diantara Mama dan Papanya. Ia masih menunduk. Bulu matanya uang lentik terlihat jelas saat ia posisi menunduk. Lukman menatap mantan kekasihnya itu sekilas. Ia tahu Wulan masih sangat mencintainya. Entah pakdaan apa yang membuatnya memutuskan untuk menyerah. Meskipun semua alasannya kemarin masuk akal.


"Wulan... Lukman ingin meminta kejelasan tentang kalian. Katakan yang sesungguhnya Nak, kali ini Papa perbolehkan agar semua segera selesai" kata Pak Handi.


Mama membelai punggung Wulan. Tampak sekai kesedihan di raut wajahnya.


"Saya telah menerima lamaran Edward, anak dari kolega bisnis Papa" ucap Wulan lirih.


Bagaikan petir menyambar, jadi inilah alasa sebenar benarnya. Alasan uang tidak dikatakan Wulan kemarin. Wulan telah menerima laki-laki lain. Tindakan yang belum pernah terjadi selama ini. Selama ini Wulan selalu dapat mempertahankan hubungan mereka. Selalu ada saja alasan yang membuat perjodohan dari orangtuanya akhirnya batal. Tapi kai ini benar-benar serius. Wulan menerima lamaran laki-laki lain. Begitu teganya ia menerima oragain janya dalam waktu kurang dari sebulan sejak hubungannya renggang. Bagaimana bisa hayinya berubah. Bagaimana bisa beralih begitu cepatnya.


"Saya memutuskan ini dengan matang, tanpa ada paksaan, semua sudah saya pertimbangkan matang-matang" lanjut Wulan.


"Saya mengerti Wulan. Saya ingin meminta sedikit saja penjelasan. Mengapa Bapak dan Ibu tidak merestui hubungan kami" pertanyaan biji pernah dilontarkan pada lamaran sebelumnya, tetapi sekali lagi, ini adalah usaha terakhirnya.


"Oh...baik ... pertama, lihatlah posisi kalian. Wulan berasal dari keluarga pengusaha. Sejak jaman kakek buyutnya, kami semua adalah pengusaha. Sedang kamu, hanya pegawai rendahan. Mohin maaf inu harus saya sampaikan secara gamblang" kata Pak Handi dengan semangatnya.


Wulan masih dengan tatapan hampanya.


"Kedua, nasib dan nasabnya jauh berbeda, apa kata orag kalau anak saya menikah, tapi saya tidak punya besan, lagipula menurut hitubgan jawa, anak pertama haruslah menikah dengan orang yang lengkap kedua orangtuanya"


Kalau ini Lukman bisa menerima meskipun itu bertentangan dengan ajarannya selama ini. Orang jawa selalu memperhitungkan nasab, hitungan weton, bahkan titi mangsa yang semua memiliki arti.


"Lalu latar belakang yang jauh berbeda. Wulan anak saya satu-satunya, saya ingin ia mendapatkan jodoh yang sepadan, nak Lukman....kamu memang anak baik, tapi mungkin bukan yang terbaik untuk anak saya" lanjut Pak Handi


Untuk pertama kalinya Pak Handi menggunakan bahasa yang enak didengar juga dengan nada yang halus tak seperti sebelum-sebelumnya. Lukman sudah tahu semua itu tetapi sekali lagi ini adalah ikhtiar terakhirnya. Dia akan puas setelah ikhtiarnya maksimal. Atau ia akan menyesal seumur hidupnya karena belum cukup dalam usahanya.


Lukman meninggalkan rumah megah itu dengan perasaan campur aduk. Antara lega dan menyayangkan. Antara senang dan sedih. Antara malu dan puas. Ini adalah jawaban dari tanda tanya besar selama sembilan tahun. Inilah akhirnya. Wulan bukan tercipta untuknya.


Setelah benar-benar berada di luar gerbang, kembali lagi Bu Handi menghentikan langkah Lukman. Raut mukanya menampakkan kesedihan yang luar biasa. Antara sedih dan rasa bersalah yang dalam.

__ADS_1


" Maafkan Ibu Nak Lukman, Ibu tidak bisa membantu" mulailah Bu Handi menitikkan air mata meski yak banyak.


Lukman menunduk. Lalu ia berlutut untuk kedua kalinya kepada perempuan paruh baya itu.ia menumpahkan tangisnya disana. Sudah lama ia tak merasakan buaian seorang ibu. Sekalipun memiliki bibi, beliau tidak akan menerima tangisnya yang diciptakan karena perempuan.


"Semoga....kamu dapat penggantinya Nak, semoga hidupmu bahagia, maaf" lanjut Bu Handi sambil sesenggukan.


Lukman mengangguk. Tubuhnya bergetar. Pengganti? Tak semudah itu, tak semudah putrimu. Lukman bukan tipe orang yang gampang menaruh hati. Setelah ini entah ia mampu membuka hatinya untuk wanita lain atau tidak. Entah hidupnya akan berjalan normal kembali atau tidak.


Mereka tidak sadar, ada seseorang yang mengintip dari kejauhan. Wulan. Ia mengintip dari jendela kamarnya di lantai atas. Ia ingin melihat untuk terakhir kalinya, lelaki yang ia cintai selama sembilan tahun, hingga kini masih menjadi ranking satu. Ia saksikan Lukman membawa mobilnya melaju ke arah selatan. Ia juga menyaksikan Mama kembali memasuki gerbang rumahnya. Buru-buru ia mengunci pintunya. Ia yakin Mamanya akan menemuinya untuk membahas tentang tadi. Wulan belum siap membicarakan itu. Terlebih jika Mamanya belum cukup cocok memberi solusi.


Benar saja, sang Mama mengetuk pintunya berkali-kali dan Wulan tak menjawab. Ia berharap Mamanya menganggap dirinya sudah tidur. Lama tak bersuara, Mama pun menyerah. Suasana hening. Jam dinding masih ribut berputar. Betapa damainya kau jam dinding.


***


Hotel Majapahit. Hotel bintang lima yang sarat akan sejarah. Disinilah dahulu para pahlawan memperjuangkan keutuhan bangsa. Dengan modal senjata tak seberapa mereka mampu melumpuhkan penjajah berkat kegigihan dan semangat yang membuncah.


Berbicara tentang arsitektur bangunannya, sangat kental dengan desain kolonialnya, juga ada campuran china dan jawa. Di bagian tengah hotel megah itu ada ruangan outdoor yang cantik. Halaman dipenuhi dengan rumput hijau, lampu-lampu putih bak alun-alun dan di sebelah kanan kolam renang yang tak terlalu luas.


Malam ini hotel Majapahit dikinjungi banyak orang dengan berpenampilan glamor. Hidangan dan hiburan yang disajikn bernuansa modern. Tak tanggung-tanggung, artis kondang dihadirkan pula pada malam itu, Via Vallen.


Wulan didampingi kedua orangtuanya memasuki area pesta saat si cantik Via Vallen melantunkan lagu kondangnya yang berjudul sayang. Dan para hadirin riuh mengikuti lagu sampai lupa dengan kehadiran Wulan sebagai personal penting malam itu. Edward segera mendekat begitu tahu Wulan dan keluarganya tiba.


"Selamat malam, mohon perhatian, kepada seluruh hadirin juga bintang tamu kita, mbak Via Vallen, tamu yang kita tunggu-tunggu sudah hadir pada malam ini, Mbak Wulandari beserta keluarga. Oleh karena itu marilah kita mulai prosesi pertunangan Mas Edward Notoharjo dari keluarga besar Damadi Notoharjo dengan Mbak Radmila Wulandari dari keluarga besar Sanjaya" begitu pembawa acara mengumumkan.


Riuh tepuk tangan hadirin menambah semaraknya malam ini. Wulan tersenyum tipis. Itu bukan senyuman tulus. Ia sedang belajar untuk menerima kenyataan bahwa nasibnya ada ditangan sang ayah. Sementata Edward begitu terlihat jelas dimukanya beyapq malam ini ia sangat bahagia. Siapa yang tak mau dengan gadis cantik, kaya, berpendidikan seperti Wulan. Mereka serasi. Ganteng dan cantik, sama-sama dari keluarga terpandang, sama-sama lulusan S2. Hanya satu yang berbeda, gaya hidup. Jika Edward sudah terbiasa hidup bebas, maka sebaliknya, Wulan terbiasa dalam tekanan peraturan.


"Kami persilahkan Mas Edward Notoharjo untuk memasangkan cincin pertunangan dijari sang kekasih Mbak Wulandari Sanjaya" lanjut pembawa acara.


Dengan cincin yang melingkar di jari manis sebelah kirinya itu, Wulan bukan lagi perempuan bebas. Mulai detik ini ia harus beradaptasi dengan kehidupan Edward. Ia harus membiasakan diri dengan kebiasaan Edward yang mungkin jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Ia harus belajar mengenal apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh calon suaminya. Ia juga harus belajar memahami karakter Edward yang belum sepenuhnya ia pahami karena hanya beberapa kali ngobrol lama.


"Baik selanjutnya, Mbak Wulandari supaya menyematkan cincin pertunangan di jari Mas Edward juga" kata pembawa acara lagi.


Wulan sempat ragu, apakah ia juga harus memasangkan cincin di jari calon suami, apakah laki-laki juga memakai cincin emas? Bukankah itu sebuah karangan seperti yang pernah diberitahukan Lukman bahwa dalam ajarannya laki-laki tidak diperbolehkan memakai perhiasan emas bahkan pada cincin kawin sekalipun.


"Gitu ya"


"Ada penelitiannua, entah ini ada hubungannya dengan aturan agama atau tidak, tetapi yang jelas seorang laki-laki jika menggunakan pwrhiasan emas akan sangat membahayakan kesehatannya. Jika dipakai dalam waktu lama, darah dan urine laki-laki akan mengandung atom emas yang melebihi batas dan ini sangat bahaya" begitu Lukman menjelaskan.


Wulan teringat penjelasan itu teti ia ragu apakah benar seperti itu yang ia debgar, ataukah Wulan yang kurang paham. Atau mungkin ia salah mengerti.


"Sayang. Ini" Pak Handi menyodorkan cincin untuk dipakaikan di jari Edward. Sebelumnya wulan tak tahu kalau keluarganya sudah menyiapkan cincin itu.


Wulan menurut. Mungkin ini adalah tradisi keluaraga Edward. Wulan tidak bisa menentang apalagi ajaran itu masih belum sepenuh Wulan pahami. Jika Lukman disini, ia ajan menjelaskan banyak hal tentang aturan hidup. Di tengah acara pertunangannya, Wulan merindukan Lukman, mantan kekasihnya.


Acara tukar cincin selesai. Si cantik Via Vallen bernyanyi dengan merdunya. Edward mengajak Wulan berkeliling hotel, katanya ada banyak benda bersejarah di hotel ini. Wulan pun tertarik.


"Kamu tahu nggak Lan, ini adalah hotel yang bersejarah di kota kita ini" Edward mengawali.


"Yah, ini dulu hotel Yamato kan? Trus arek-arek Suroboyo berperang melawan penajah di atas gedung ini. Mereka merobek bendera belanda yang berwarna merah putih dan biru, dirobek jadi merah putih saja, bendera negara kita" Tebak Wulan. Ini sudah bukan pengetahuan langka. Anak SD saja tahu akan hal itu.


"Betul, tapi sebelum jadi hotel Yamato, tahu nggak namanya apa?" Tanya Edward seperti guru SD sedang memancing pengetahuan anak didiknya.


"Apa...ya Yamato lah" Wulan heran kenapa hal seperti itu saja ditanyakan.


"Nah, makanya baca sejarah jangan sukanya baca novel doang..."


Wulan nyengir. Tetapi dalam hatinya ia penasaran dengan apa yang akan diberitahukan Edward kemudian.


"Jadi abad ke 19 seseoranh dari Armenia membangun hotel ini, namanya Lucas Martin Sarkies. Dulu dibangun dengan nama Oranje Hotel. Lalu saat negara kita dijajah oleh jepang, hotel itu diambil alih oleh jepang kemudian diganti nama menjadi Yamato" jelas Edward


"Dan kemudian terjadilah insiden perobekan bendera kan?" Sahut Wulan.

__ADS_1


"Hahhahah dengerin dulu jangan dipotong. Kemudian pas Indonesia sidah merdeka, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka. Nah peristiwa perobekan bendera itu justru terjadi setelah Indonesia merdeka"


"Ngawur kamu, sebelumnya lah, kan masih masa perjuangan"


"Ini ni yang suka ngeyel tapi gak pernah baca sejarah. Sejarah kotanya sendiri gak tahu hadeeeh"


Sikap yang seperti ini yang kemudian membuat keduanya bisa akrab.


"Indonesia merdeka pada bulan Agustus. Pada bulan September Belanda kembali ingin merebut Indonesia, Belanda datang ke Surabaya dengan tentara AFNEI yng isinya tentara belanda bersama palang merah internasional. Baru sehari di kota Surabaya nereka bikin ulah dengan mengibarkan bendera Belanda. Para pemuda marah lah, kemudian besoknya Residen Surabaya bisa dibilang pangkatnya semacam walikota atau gubernur lah, beliau mengajak berunding pimpinan Belanda namanya Mr Ploegman. Pak Sudirman minta agar bendera Belanda diturunkan tapi dia tidak mau malah mengancam Pak Sudirman dengan pistol. Terjadilah perlawan dan insiden yang sangat hebat yaitu...."


"Perobekan bendera Belanda" jawab Wulan dengan pedenya


"Betul pinter. ."


Mereka kemudian melewati sebuah ruangan.


"Mbak permisi saya ingin melihat ruangan ini " Edward meminta ijin kepada pelayan yang melintas. Petugas hotel itu memperbolehkan dengan membuka pintu yang terkunci.


Di ruangan itu terdapat kursi dengan gaya klasik kolonial. Lampu sederhana namun unik karena modelnya juga klasik, meja bundar khas jaman dulu, meja rias kuno yang dicat ulang. Wulan takjub melihatnya.


"Ini dia tempat Bapak Sudirman berunding dengan Mr Ploegman"


Wulan melihat sekeliling.


"Tidak sembarang orang bisa masuk kamu bangga dong jadi tunanganku..."


Wulan mencibir. Edward tersenyum puas. Mereka kemudian menuju taman di belakang hotel. Edwards menunjuk ke arah atas.


"Di sana peristiwa itu terjadi..."


Keduanya memandang tepat di lokasi bersejarah itu terjadi. Di sanalah paea pahlawan beraksi. Ingin rasanya Wulan menjadi bendera itu agar kekasihnya meraihnya dan merobek kesedihan dari hidupnya.


"Kamu tahu peristiwa otu teejado tanggal berapa?"


"Tanggal sepuluh Nopember laj, sehingga diperingati sebagai gari pahlawan... jangan sanakan kayak anak SD dong ah"


Edward kembali tersenyum puas dengan kemenangannya sekali lagi.


"Kenapa ketawa...bener kan?" Wulan merasa kembali mendapat jebakan.


"Salah.... Tanggal 19 September tahun 1945 sayang" jawab Edward.


Please jangan panggil begitu, itu khusus untuk Lukmanku, batin Wulan.


"Lalu setahun kemudian keturunan Lucas Marten kembali mengambil alih hotel ini dan mengganti nama menjadi Hotel LMS. Singkatan dari Lucas Marten Sarkies. untuk mengenang leluhurnya yang merupakan pendiri pertama hotel ini. Barulah tahun 1969 menjadi Hotel Majapahit. Sampai sekarang"


"Kamu ngikutin banget ya" kata Wulan.


"Aku suka sejarah, dari sejarah ada banyak hal yang bisa dipelajari. Termasuk dalam bidang bisnis. Dari kisah sejarah ini aku belajar bahwa nilai sejarah menjadi salah satu pemicu suksesnya sebuah bisnis. Eh kami tahu Charlie Chaplin?"


Wulan mengangguk. Yang ia tahu beliau adalah tokoh yang memainkan pantomim kemudian diadopsi oleh Mr. bean.


"Dia pernah berkunjung kesini"


"Oh ya ngaco ah"


"loh beneran ini,ada juga princess Astrid dari belgia, pangeran Leopold ke III juga"


Wulan memgangguk. Edward, dibalik sikap masa bodohnya, karakter urakannya, kemodernan gaya hidupnya, ada hal yabg patut dibanggakan. Seorang generasi muda yang peduli sejarah. Bukankah bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah?


Begitulah malam itu berlalu. Diiringi dengan lagu-lagu Via Vallen yang sederhana namun sarat makna.

__ADS_1


***


__ADS_2