
Sejak Winda menyatakan perasaannya waktu itu, kantor menjadi seperti perang dingin. Winda hampir tidak pernah ke lantai 4, tekpat dimana Lukman berada. Lukman pun demikian, hampir tidak pernah naik ke lantai 7. Kalaupun terpaksa ada kepentingan di lantai 7, Lukman akan langsung tertuju pada keperluannya dan segera keluar. Tidak ada mampir ke ruangan Winda, tidak ada ngobrol dulu, tidak ada guyonan dulu atau sekedar mencicipi cemilan di meja kawan. Semuanya serba serius.
Lima belas hari berlalu tanpa kabar dari Wulan. Berbagai pertanyaan berkerumun di pikiran Lukman. Yang membuat sedikit lega adalah pesan-pesan yang terbaca seluruhnya oleh Wulan, artinya Wulan tidak menghilang. Ia ada hanya saja sedang tidak membalas. Meskipun menjadi tanda tanya besar mengapa tidak satupun yang dibalas, Lukman tidak ingin membebani dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Karena satu-satunya jawaban adalah Wulan. Semua akan terjawab jika bertemu Wulan
Pucuk dicita ulam tiba. Satu balasan pesan dari Wulan. Awalnya Lukman menyangka chat grup biasa. Tetapi begitu dilihat hapenya, nama Wulan tertera disana. Bagai sedang menang undian. Lukman kegirangan sampai sikunya terpentok pintu lemari.
Nanti sore temui q di taman biasa
Segera Lukman membalas :
Siaaaap
Hari ini udara panas, jika tidak di ruangan tentu semakin terasa panasnya. Matahari tidak begity memancar tetapi hawa siang ini begitu panas. Namun tidak dengan Lukman. Hatinya sejuk seperti berada di pegunungan, sesejuk perasaannya yang mendapat tiupan segar dari alam. Hanya beberapa kalimat namun mampu mendinginkan api yang berkobar di relung hatinya. Hari ini rasanya Lukman ogah menyelesaikan tugasnya. Tugas itu masih bisa dirapel besok. Ia ingin sejenak menikmati anugerah hari ini. Seperti remaja yang kasmaran karena cibtanya diterima. Seperti kanak-kanak yang tahu akan mendapatkan kejutan ulang tahun dari orang tuanya. Seperti peserta lomba yang mendapat bocoran kalau dia menang. Wahai sore...segeralah datang.
Hampir jam 4 sore. Selesai sholat ashar Lukman mempercepat langkahnya. Sore ini ada janji yang amat penting. Sepertinya waktunya tak cukup untuk sekedar beli oleh-oleh. Lukman semakin memacu langkahnya. Sampai di basemen ia melihat sosok Winda sedang berjalan menuju mobilnya. Ia hampir saja memanggil Winda untuk menceritakan apa yang ia terima hari ini, namun kemudian ia sadar, mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang tidak saling menyapa satu sama lain. Tak enak memang. Tetapi mau bagaimana lagi. Yang namanya hati tidak bisa diboyong.
Winda sempat menengok kebelakang dan melihat keberadaan Lukman. Tapi kemudian ia tidak bereaksi apa-apa. Ia lalu masuk ke mobilnya dan mobil berjalan dengan cukup kencang. Lukman segera menyalakan mesin mobilnya ketika menyadari jam sudha pukul 4 lebih.
Taman Mundu. Tempat favorit semasa SMA. Dulu namanya taman Mundu, sekarang sudah berubah menjadi taman Sepuluh Nopember karena letaknya di depan gedung Sepuluh Nopember. Letaknya juga yidak terlalu jauh dari kantor. Di sini dulu Lukman menghabiskan wakyu mala minggunya bersama Wulan. Malam hari ada banyak lampu bermain di taman ini. Air mancur yag menari-nari dihiasi lampu warna warni. Jajanan yang murah meriah. Sangat pas. Lengkap dan sempurna.
Sore hari begini para muda mudi sudah mulai berdatangan tapi tak terlalu banyak karena ini bukan malam Minggu. Lampu-lampu di dalam taman sudah dinyalakan. Menambah romantisnya suasana di sini.
Wulan datang dari barat. Ia menhenakan blazzer warna krem semburat orange, tampaknya ia pun baru pulang dari kantor. Lukman menyambut dengan senyuman yang tak dibuat-buat.
"Hay .." Lukman meyapa lebih dulu.
"Hay Man..." Jawab Wulan. Tak seperti biasa, Wulan berbicara dengan nada yang kurang bersemangat.
Mereka duduk di kursi semen di depan kolam. Ini juga tempat favorit mereka meskipun kadang baju jadi basah terkena percikan air dari kolam.
"Apa kabar Lan, aku kangen"
Jantung Wulan berdesir mendengar pertanyaan itu. Ingin rasanya ia berteriak ' tolong jangan bilang kangen...karena aku juga kangen'.
"Aku mau nhokong serius Man" kata Wulan
"Iya oke"
Wulan menarik nafas panjang.
"Man...aku minta maaf selama ini sering membebani hidup kamu"
__ADS_1
"Husss....sudah lah jangan dibahas lagi" kata Lukman sambil meraih tangan Wulan Jantung wulan semakin kencang berdegup. Bagaimana ia harus mengatakan yang sesungguhnya. Ingin rasanya ia kembali berteriak 'lepaskan tanganku meski sebenarnya aku ingin terus seperti ini'.
Wulan mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak warna hitam. Ia serahkan kotak itu pada Lukman.
"Apa ini Lan?" Lukman membuka kotak hitam itu. "kalung hati yang aku kasih ke kamu? Kenapa dibalikin? Ini sebenarnya ada apa Lan?" Lukman mulai bingung.
"Man...aku minta putus" kata wulan tiba-tiba.
Lukman terperanjat. Wulan membiarkan pipinya penuh dengan air yang terjun bebas dari kedua matanya.
"Lan, kamu lagi bercanda? Kamu ngeprank aku?"
"Kamu tahu aku gak pernah main-main dengan kata 'putus' bukan"
"Lan....soal Winda...aku...."
"Ini gak ada hubungannya dengan Winda Man...soal waktu itu aku percaya, aku tahu kamu gak senakal itu, aku percaya kamu gak gampang tergoda. Tapi, lihatlah Man, hampir sembilan tahun Man, tapi belum juga dapat restu. Apa kamu gak capek?" Air mata Wulan semakin deras mengalir.
"Tidak. Aku tidak pernah capek Lan"
" Aku yang capek Man, mau sampek kapan? Sampek rambit kita beruban?"
"Tenang dulu, coba ceritain ini sebenarnya ada apa?"
"Selama ini kita salah. Kita berjalan tanpa restu orang tua. Kita masa bodoh dengan itu. Coba pikirkan Man, jalan kita selalu menemui kendala. Bukankah itu artinya kita tidak berjodoh?"
"Kita sudah pernah bahas ini kan Lan, ini hanyalah soal waktu. Aku yakin..."
"Dari dulu kita juga yakin, kita punya rencana yang sangat indah tapi apakah Tuhan sejalan dengan rencana kita?"
Lukman menelan ludah. Benar kata Wulan, apakah Tuhan sejalan dengan rencana mereka? Satu pertanyaan yang harus dipertimbangkan.
"Kita sudah dewasa Man, makin kesini aku berpikir, aku membayangkan seandainya aku menjadi orang tua dan anakku menjalin hubungan dengan orang yang tidak kusukai. Bagaimana perasaan kita? Selama sembilan tahun aku telah menyakiti hati Papa sekalipun kai jarang berantem. Tapi diam-diam aku menusuk mereka dari belakang"
Lukman tidak punya orang tua jadi dia belum tahu bagaimana rasanya menjadi Wulan. Satu sisi harus membahagiakan orang tua, di sisi lain hatinya dipertaruhkan.
"Aku adalah anak tunggal, wajar jika Papaku terlalu khawatir akan masa depanku. mungkin akupun akan melakukan hal yang sama terhadap anakku suatu hari nanti'
Lukman masih menunduk dalam kesedihannya.
"Selama lima belas hari aku merenung, aku berpikir keras hingga sakit, aku mempertimbangkan ini dan itu. Jadi keputisanku bukanlah hasil emosi. Tapi hasil pikiran yang matang"
__ADS_1
Mendengar itu Lukman menjadi lemas. Kakinya mendadak tak punya kekuatan. Ini seperti mimpi. Benarkah yang ia alami ini. Benarkah yang ia dengar kini.
"Aku tahu resikonya, pasti beberapa kinggu atau bahkan beberapa bulan ke depan aku bakalan gak bisa tidur, gak bisa makan, mungkin juga aku sakit lagi. Aku mohon, ikhlaskanlah aku, agar mudah jalanku melangkah ke depan Man"
Lukman menunduk. Bagaimana bisa mengikhlaskan orang yang sembilan tahun dia perjuangkan. Bagaimana bisa membunuh perasaan yangs udha terpatri. Bagaimana bisa menghapus kenangan yang sudah terukir.
"Aku tahu itu sulit tapi kita harus belajar ikhlas"
Wulan menggenggam tangan Lukman, lalu diciumnya tangan kekar itu. Tetesan tabgisnya turut membasahi tangan Lukman. Sedang Lukman masih shok dengan apa yang ia terima hari ini. Lukman hanya bisa terdiam tanpa komentar tanpa sepatah katapun.
Wulan meninggalkan Lukman sendirian di pinggir kolam tepat saat adzan Maghrib berkumandang. Di kanan kiri para muda mudi tengah bercengkrama dengan asiknya, ditemani air mancur yang berhias warna warni lampu. Mereka seolah berbisik membicarakan Lukman. Mereka seolah berkata 'kasihan ya diputusin'.
Lukman berjalan gontai menuju mushola di sekitar gedung Sepuluh Nopember. Ia hampir saja melupakan kewajibannya pada Tuhan, kalau saja ia tak ingat. Untunglah kesadaran masih menempel penuh di jiwanya hingga ia tahu dialah yang butuh sembahyang, bukan Tuhan.
Setali tiga uang dengan Wulan. Setelah berpisah dengan Lukman dari taman, ia menumpahkan tangsinya di salam mobil. Ia benamkan wajahnya pada pada muka mobil. Hati ini ia memang sudah merencanakan membawa sopir karena ia tahu aka sangat berbahaya menyetir sendiri dalam keadaan kalut.
Hari ini ia membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ia tak main-main dengan keputusannya. Untuk membuat keputusan sebesar itu, ia butuh waktu yang lama. Lima belas hari lananya ia berpikir.
Mama bilang, Edward dan Lukman keduanya baik, tinggal maan yang Wulan cintai.
Papa bilang, pilih lelaki yang mapan, orang tuanya jelas, keluarganya harmonis, berpendidikan, dan yang paling cocok adalah Edward.
Dita bilang, pilihlah yang jalannya terbuka lebar. Karena jalan yang mudah adalah tanda jodoh
Mbak Yuyun bilang, yang penting direstui orang tua. Hidup akan bahagia jika dengan restunya.
Om Ari, salah satu karyawan bilang, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Jika tidak mana mungkin para raja dan ratu bisa hidup bahagia padahal merek semua adalah hasil perjodohan.
Tante Hani bilang, Tuhan menjanjikan cinta dalam pernikahan.
Semua nasehat yang ia terima mengarah pada Edward. Sekalipun Wulan hingga kini tak ada perasaan apa-apa, ia mulai bisa menerima perjodohan dengan Edward. Ia tahu akan sangat sulit melupakan kekasih sembilan tahunnya. Tapi semua harus dijalani.
Malam harinya, keduanya membenamkan diri di bawah bantal menumpahkan sakitnya disana. Wulan menghapus satu per satu foto Lukman di hapenya. Agar ia lebih mudah menerima Edward. Sedang Lukman memandangi foto gadis yang kini sudah berstatus mantan. Ia tak menyangka seperti ini akhir kisahnya. Sembilan tahun ambyar.
Lukman memandang langit di atas sana. Rembulan menampakkan diri tetapi hanya separuh. Seperti hatinya yang tinggal separuh. Yang separuhnya lagi telah terbang menjauh.
Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menjadi gila seperti Qays Al Majnun, tidak akan bertindak bodoh seperti Romeo juga tidak akan menusuk lawannya seperti Samsul Bahri. Ia adalah Lukman. Lukman Hakim El Ghazali.
Ia harus menguasai dirinya sekalipun hancur seperti ini. Ia adalah putra Rachman El Ghazali, cucu Saifullah El Ghazali. Tidak akan mudah patah oleh apapun. Apalagi hanya seorang perempuan. Hanya? Berapa banyak raja yang hancur karena perempuan. Berapa banyak dukun yang tak manjur lagi juga karena perempuan. Berapa banyak pengusaha yang bangkrut karena perempuan. Dan kini? Apakah Lukman akan mengikuti jejak mereka?
***
__ADS_1