
Ini adalah langit yang sama ketika dulu Lukman masih SD. Jam segini biasanya ia selesai mengaji di masjid dengan berkalung sarung tetapi tidak langsung pulang. Ia dan segenap temannya bermain petak umpet. Tak hanya laki-laki, perempuan pun turut serta dalam permainan ini. Itulah sebabnya Lukman suka memakai pakaian hitam ketika mengaji karena ia bisa bersembunyi di tempat gelap dengan mudah saat bermain petak umpet. Indahnya masa itu. Sepulang mengaji Ibunya telah siap dengan gorengan, rempeyek, atau keleman (ubi-ubian)
"Krupuk sambel Mas..." Nurul muncul dengan sekantong krupuk dan semangkuk sambal pecel.
"Wah enak nih, mana yang lain?" Tanya Lukman
"Fatma sama Fitri lagi nggetu (serius) belajar Mas, besok sudah mulai ujian semester" jawab Nurul sambil mencocol sambal pecel.
"Mas.....Mas Lukman beneran gak balik lagi ke Surabaya?" Tanya Nurul setengah serius setengah iseng.
"Insyaallah begitu"
"Trus mau tinggal dimana Mas?"
Lukman terdiam. Bagaimana harus menjawab. Nurul tak perlu tahu tentang asal muasal rumah itu, ia bisa malu dan nggak enak.
"Insyaallah mau cari kontrakan sekitar sini. Ada ide?"
"Ada sih, rumahnya Pakde Murtaji almarhum, anak-anaknya kan merantau semua, ke Kalimantan, Ke Jakarta, ke Batam. Jadi rumahnya gak ada yang nempati sudah setahun lebih lo gak ada yang ngontrak"
"Kenapa?"
"Ngeri Mas, rumahnya angker"
"Kalau mau ngontrak di sana hubungi siapa?"
"Pak RT"
Suasana hening sejenak.
"Mas, kenapa pindah Mas?"
Pertanyaan itu lagi. Sudah berapa orang yang menanyakan hal itu. Lukman capek menjawabnya.
"Ya, sudah saatnya balik ke kampung halaman Rul" jawab Lukman seadanya.
"Jangan bohong, pasti ada masalah, kalo nggak ya nggak mungkin mendadak begini"
Lukman lupa bahwa sepupunya itu sudah kuliah sekarang. Ia bukan anak kecil lagi.
"Semoga bukan karena cewek ini" Nurul menunjukkan foto seorang gadis
"Eh...dapat darimana kamu Rul.... Kembalikan sini" Lukman berupaya merebut foto itu dari tangan Nurul tetapi Nurul sigap menghindar.
"Sampean naruhnya sembarangan, masak foto cewek cantik di taruh di samping vas bunga" kilah Nurul
Lukman berupaya merebut lagi, dan gagal lagi.
"Nih..." Nurul menyerahkan sukarela.
Lukman tidak langsung menyimpannya. Ia melihat foto itu beberapa saat..
__ADS_1
"Pacar Mas ya? Atau Mas Lukman ditolak sama dia?" Nurul penasaran.
"Dua duanya Rul" jawab Lukman lirih
"Dahulu Kanjeng Nabi Saw hijrah dari Makkah ke Madinah bukan karena pengecut, tetapi terlalu bahaya jika tetap tinggal di Makkah dengan berbagai ancaman di sana. Saya rasa pindah tempat bisa menjadi solusi dari masalah tertentu" kata Nurul tiba-tiba seakan tahu apa yang menjadi tema pulangnya kakak sepupunya itu.
"Menurutmu apakah Mas salah jika melepas peluang di kantor demi menentramkan hati Mas dulu?" Lukman mulai terbuka.
"Jadi benar karena masalah? Cewek dalam foto itukah?" Nurul mulai menebak-nebak.
Bertukar pikiran dengan Nurul mungkin ada baiknya. Dari dulu Nurul selalu mampu berpikir dewasa. Ia mampu menjadi kakak tertua yang baik bagi adik-adiknya. Sampai memilih bangku kuliahpun ia berpikir matang, tak mementingkan egonya, dia memilih kiliah di wilayah terdekat saja karena lebih hemat meskipun sebenarnya sangat ingin mengikuti jejak Lukman, kuliah di Surabaya biar keren.
Lukman menceritakan sedikit hubungannya dengan Wulan, bagaimana orangtuanya menentang hubungan mereka dan akhirnya putus dengan keputusan Wulan menilih ikut orang tuanya mengabaikan perjuangan sembilan tahun.
"Mbak Wulan bener Mas, kalau aku jadi dia aku juga akan lakukan hal yang sama"
Lukman memandang tajam pada Nurul. Dia benar tapi entah mengapa Lukman merasa sepupunya tidak mendukung.
"Sembilan tahun dengan satu perempuan. Aku salut lo Mas, jika aku jadi orang tua Mbak Wulan, aku tidak akan ragu lagi. Orang seperti itu pastilah setia" lanjut Nurul.
"Seseorang pernah bilang, tidak seharusnya wanita menjadi penyebab hancurnya seseorang" giliran Lukman berbicara.
"Aku setuju dengan pernyataan itu, tapi tak sepenuhnya setuju dengan ungkapan harta tahta wanita. Wanita bukanlah penyebab kehancuran, tetapi bagaimana orang itu memandang wanita" sahut Nurul.
Tak disangka Nurul yang duku sering ia gendong ketika masih kanak-kanak, sekarang tumbuh cerdas dan pemikirannya menakjubkan.
"Jadi menurutmu apa Mas bertindak konyol dengan melepas kesempatan ke Jepang?"
"Hmmm sedikit. Coba seandainya Mas berangkat beneran, di Jepang tidak ada Mbak Wulan kan?"
"Hah? Wulan? Siapa lagi itu?"
Lukman lupa, tidak ada nama Winda dalam curhatannya tadi.
"Ya ada lah, cewek suka sama aku"
"Heisy keren... Kakakku disenengi banyak cewek rupanya" Nurul meledek.
Mereka berhenti bicara karena seorag kakek yang lewat depan rumah menyapa Lukman sebentar.
"Aku punya cerita Mas, seorang guru ngaji dengan muridnya, mereka saling menyukai tapi tak terikat dengan hubungan yang jelas. Suatu ketika ada seseorang yang melamar sang guru untuk putrinya. Ia tidak langsung menerima tapi juga tidak langsung menolak. Orangtuanya melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk. Kemudian menerima lamaran itu berdasarkan petunjuk istikharah. Mereka bisa saling cinta dan hidup bahagy meskipun tidak pernah berjumpa sebelumnya. Mereka hanya bertemu dua jam sebelum tanggal pernikahan"
"Wow" komentar Lukman.
"Ada lagi nih Mas, temenku sendiri, pacaran hampir tiga tahun, orang tuanya belum merestui. Tetapi mereka berjuang dan terus berjuang sampai akhirnya orang tuanya menyerah karena si cewek mikir sampek sakit"
Lukman manggut-manggut.
"Ustadzku juga punya cerita menarik, dulu saat usianya sudah cukup matang untuk menikah, ia carilah jodoh dengan berbagai cara, melalui Mbah Yai, melalui teman melalaui saudara. Tapi belum juga ketemu. Akhirnya dia menyerah. Selama beberapa bulan ia fakum dari pencarian jodoh. Tahu-tahu ada yang ngelamar, orangtua dari teman dekat, rekan kerja yang selama ini bekerjasama di pondok. Unik kan?"
Nurul meikmati krupuk sambel sebentar.
__ADS_1
"Intinya jodoh itu unik, mau bagaimana pun tingkah polah manusia, pada akhirnya takdir yang menentukan, ada satu pegangan dari Mbah Yaiku Mas, mau apa saja minta sama yang punya. Mau nikahin anak orang, minta sama yang punya, bapaknya, mau jabatan, minta yang punya, atasan, mau jodoh minta yang punya, Allah"
Nurul benar. Dia belum meminta perihal Wulan selama ini dalam doanya. Yang ia sebutkan adalah karirnya.ia meminta karirnya naik naik dan naik karena dengan karir itu ia bisa mendapat Wulan. Aaakh ....sudah terlambat. Biarlah. Ia sepakat dengan dirinya sendiri untuk tidak lagi membahas Wulan. Tujuannya kembali ke desa adalah untuk memulai hidup yang baru. Seiring dengan pergantian tahun yang baru.
***
Langit sedang merona, mega merah tersenyum dengan cantiknya di ufuk barat. Lukman berjalan dengan terengah-engah dengan peluh yang memandikan seluruh tubuhnya, dengan kostum sepakbola lengkap dengan sepatunya, Lukman baru saja melaksanakan kegiatan wajib ketika ada di kediri. Sepak bola dengan kawan lamanya.
Sampai di depan rumah, dilihatnya seorang perempuan memakai gamis hijau tosca sedang berbicara dengan Nurul. Ketika perempuan itu menoleh, berdesir hati Lukman. Perempuan yang sama saat terakhir kali di Kediri. Wardah. Kedua kalinya Lukman bertemu Wardah secara tiba-tiba dalam kondisi yang kotor sehabis olahraga seperti ini.
Beberapa saat pandangan mereka bertemu, sama seperti dulu. Wajahnya masih tetap imut dan teduh. Bulu matanya masih tetap lentik seperti dulu. Bedanya, kali ini lebih bersolek dari dulu walaupun tak terlalu tebal. Wardah tersenyum lalu berlalu membawa motornya.
"Apa itu Rul?" Tanya Lukman melihat bingkisan di tangan Nurul.
"Oh ini berkat Mas, rumah Mbak Wardah nanti malam selametan, kirim leluhur katanya bapak diminta hadir" jawab Nurul sambil masuk ke dalam rumah.
Lukman duduk di lantai sambil selonjoran. Nurul menyusul duduk di atas kursi.
"Mas, Mbak Wardah makin ayu yo? Gimana menurutmu Mas?" Tanya Nurul seperti jebakan. Lukman paham ke arah mana akan dibahas.
"Hmmm" jawab Lukman sekenanya.
"Kata Ibuk, dulu Mas Lukman mau dijodohin sama Mbak Wardah, trus Mas Lukman ndak mau, kenapa lo Mas?"
Pertanyaan itu haruskah dijawab? Hariskah menjawab sejujurnya kalau saat itu ia masih sangat mencintai Wulan dan sekarang setelah putus dengan Wulan ia berharap dijodohkan kembali dengan Wardah begitu?
"Menurutmu, Mas ini pantes ndak kalo sama Wardah?"
"Ya pantes lah, nasabnya sepadan, kualitasnya juga sepadan, dulu ada cerita nih mas dari mbah mbah yang biasa jamaah di masjidnya Mbak Wardah"
"Cerita apa?"
"Denger-denger nih Mas, dulu bapaknya sampean punya keahlian beladiri Pagar Nusa, nah, waktu itu sedang santer isu ninja di seluruh Jawa. Para tokoh Islam, para kyai, para ulama juga para pejabat menjadi sasaran pembunuhan para ninja. Pusatnya ada di Banyuwangi sama Jember. Tak disangka Mbah Yai Hamid, kakeknya Mbak Wardah disantroni ninja pas malam-malam di atas jam 12 malam. Saat itu seperti sudah direncanakan, tiba-tiba listrik mati. Semua orang berhamburan keluar karena pemerintah menghimbau kalau mati lampu jangan di dalam rumah. Lah Mbah Yai pas tidur jadi tak tahu kalau lampu mati. Pakdhe (bapak Lukman) melihat ada sekelebat orang masuk rumah Mbah Yai lewat jendela. Pakdhe langsung menyergap masuk dan terlibat perkelahian dengan ninja itu sampai akhirnya ninja itu kabur. Wuih masyarakat riuh gempar waktu itu katajya Mas. Dari situlah Mbah Yai merasa punya hutang nyawa dengan bapaknya sampean"
Oh jadi itu, karena hutang budi. Bukan ada alasan lain. Pantas jika begitu karena jika dilihat dari basicnya, Lukman sangatlah kurang untuk menjadi ima seorang Wardah. Tapi tampaknya memang Wardah senang dengan perjodohan itu. Jika Lukman menerima tentu akan memenuhi keinginan Mbah Yai yang merupakan guru dari bapaknya.
"Kalo misalkan nih ya, dijodohkan lagi sama Mbak Wardah, mau?" Tanya Nurul
Lukman berfikir sejenak.
"Apa mungkin?"
"Mungkin banget"
"Menurutmu?"
"Mau saja lah Mas, apa yabg kurang dari Mbak Wardah? Saya yakin Mas Lukman bisa lebih cepet move on, asal yakin, soal masjid itu, ndak usah terlalu dalam mikirnya, belajar belajar dan terus belajar suatu saat nati akan terbiasa dengan sendirinya. diniati ibadah Mas "
Ada setitik harapan dalam dada Lukman. Mungkin inilah jalan Tuhan, menghilangkan Wulan untuk diganti dengan Wardah. Meskipun hingga kini bayangan Wulan masih tajam di pikirannya, tetapi ia yakin seiring berjalannya waktu semua akan berubah. Semua berkat gadis remaja yang dulu ia gendongi semasa masih kanak-kanak. Nurul. Siapa sangka gadis yang dulu cengeng kini bermetamorfosis menjadi remaja bijak dengan segudang prestasi yang mampu diandalkan.
Nurul, mahasiswa Tarbiyah IAIN Kediri merangkap guru madrasah di desa, tetapi masih sempat menjalankan bisnis online yang kini digemari banyak orang.
__ADS_1
Undzur maa qola wa la tandzur man qola. Tampaknya benar, lihatlah apa yang diucapkan jangan melihat siapa yang mengucapkan. Nurul yang lebih muda delapan tahun darinya, mampu memberikan opini yang lebih tinggi darinya.
***