Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Wayang


__ADS_3

"Astaghfirullah......ini beneran tulisan Mbak Wardah Mas?" Nurul terkejut membaca isi surat Wardah.


"Rul....enek opo (ada apa) ?!!" Tanya Bulik setengah berteriak dari ruang tengah.


"Eh...mboten (tidak) Buk, ada kecoa" jawab Nurul berbohong jangan sampai ibunya tahu tentang surat itu.


"Iya jadi maunya dia, aku hubungi ke nomor yang dia kasih di surat yang dulu, untuk memperjelas bagaimana perasaanku ke dia saat ini. Gak taunya yang angkat Bu Haji. Kemarin pas kamu lihat aku lagi ngobrol sama Bu Haji di rumah Pakdhe Murtaji, itu juga ngomongin ini" jelas Lukman.


"Jadi masalah ini sudah sampai Bu Haji? Pak Haji tahu gak ya?"


"Waduh gawat kalau sampai Pak Haji tahu"


Mereka berdua diam sejenak. Mereka tampak berfikir jalan keluar dari masalah ini.


"Kasihan juga sebenarnya Wardah" kata Lukman lirih.


"Yang perlu dikasihani itu sebenarnya sampean Mas, sama Mbak Wulan putus, sama Mbak Wardah ditinggal nikah hmmm" ledek Nurul.


"Rul...."


"Hehe sorry... Trus apa yang akan Mas lakukan? Mas mau nurutin Mbak Wardah?" Tanya Nurul.


"Gila kamu, ya gak mungkin lah"


"Lah trus, hati-hati lo Mas, Mbak Wardah bisa saja berbuat nekat. Pastikan Mas Lukman mengambil langkah yang tepat"


Betul. Perempuan dalam keadaan kalut bisa saja berbuat nekat. Bisa jadi kabur atau justru percobaan bunuh diri. Nauzubillah. Lukman teringat bagaimana Wulan kabur dari rumahnya demi mempertahankan hubungan mereka. Saat itu terlihat jelas kekalutan di jiwa Wulan. Hal ini bisa juga terjadi pada Wardah.


Tetapi jika menuruti kata Wardah, akan jauh lebih beresiko. Hubungan keluarga Wardah dengan Pakliknya juga pasti tidak akan sama dengan hari ini. Jika mereka menikah degan cara seperti itu, masyarakat akan sulit menerima. Lalu bagaimana pula dengan calon suami Wardah. Bukankah dia juga manusia. Dia juga pasti merasakan sakit seperti sakitnya Lukman melihat Wulan dengan lelaki lain.


Di sisi lain. Bu Haji Saman memohon pada Lukman agar ia meninggalkan Kediri sementara waktu sampai Wardah menikah dan boyong ke Kudus. Tetapi menurut Lukman beliau sebagai orangtua juga tidak sepenuhnya benar. Jika benar apa yang ditulis oleh Wardah, seharusnya Bu Haji tidak melangkah secara sepihak. Bagaimanapun kehidupan pernikahan dijalani oleh putrinya sekalipun beliau adalah seorang ibu dengan filling yang kuat.


Apa yang akan terjadi seandainya Lukman mengabaikan surat Wardah? Mungkinkah ia berbuat nekat seperti yabg dikhawatirkan Nurul? Jika demikian orang yang pertama disalahkan pastilah Lukman. Mereka akan mengira bahwa Lukman mempermainkan Wardah. Tetapi jika Lukman menemui Wardah tetapi tidak jadi kabur, Wardah tentu akan sangat kecewa bahkan salah paham dengannya. Tetapi kabur pun juga bukan keputusan yang tepat.


Lukman harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Salah sedikit akan menjadi fatal. Seandainya ia bisa menemui Wardah secara langsung ia bisa mengutarakan pemikirannya tentang pernikahan Wardah yang terkesan dipaksakan. Gadis itu sepertinya sangat tertekan.


Lukman teringat mimpi tempo hari. Saat ibunya menyampaikan sesuatu. Mungkinkah ada hubungannya dengan ini. Apakah beliau sedang memperingatkan anaknya agar lebih berhati-hati.


Duh Gusti, hadirkanlah kembali ibuku dalam mimpiku.


***


"Rul ayo Rul.... Nanti Fitri muring-muring (marah-marah)" teriak Lukman dari teras.

__ADS_1


"Sebentar Mas" jawab Nurul dari belakang.


Malam ini malam pergantian tahun. Seperti yang sudah direncanakan, Lukman dan Nurul akan menjemput kedua adik mereka, Fatma dan Fitri untuk sekedar menikmati suasana kota yang indah. Malam ini juga, Wardah menunggunya di depan Gedung GOR Jayabaya. Malam ini Lukman akan menyelesaikan semuanya. Ia telah berpikir matang-matang, dikuatkan dengan tahajudnya setiap malam. Insyaallah ini adalah jalan terbaik.


Mobil melaju ke utara melewati beberapa desa, jalanan yang biasanya sepi kini mulai Rama bdengan oengendara motor. Anak-anak muda memenuhi jalanan malam ini. Tujuan mereka beragam, GOR Jayabaya, Alun-alun, Taman Sekartaji dan Simpang Lima Gumul. Diantara tempat itu GOR Jayabaya yang paling dekat dengan rumah Lukman.


Sekitar setengah jam lebih mereka sampai di area GOR Jayabaya. Perjalanan yang cukup padat karena seharusnya lima belas menit daja suda sampai. Karena jalanan yang padat butuh waktu lebih lama untuk sampai. Sebagian besar pengunjung tempat ini adalah para orang tua yang momong anaknya. Sementara anak-anak muda yang kekinian lebih suka ke Simpang Lima Gumul karena banyak tontonan di sana.


Mobil masuk ke area GOR Jayabaya. Dari jalan raya menuju gedung lumayan jauh. Ada sekitar dua kilometer karena jalur berputar-putar. Mobil berhenti di luar pagar gedung. Nurul turun dari mobil.


"Rul, hati-hati, hapenya jangan sampai off" pesan Lukman.


"Dungane (doanya) Mas" jawab Nurul.


Mobil melaju lagi dengan jalur yang berbeda. Butuh waktu hampir lima belas menit untuk bia kembali ke jalan raya. Mobil melaju ke utara. Pondok Fitri dan Fatma berada satu kilo meter dari GOR.


Mobil berhenti di parkiran Pesantren tempat Fatma dan Fitri menimba ilmu. Keduanya telah berdiri di depan kamar tamu saat Lukman turn dari mobil. Fitri tampak kegirangan dengan kehadiran Lukman dan mobilnya karena tujuan utamanya adalah naik mobil.


"Saya ijin dulu ya" kata Lukman.


"Ndak usah Mas, sudah ada suratnya tinggal tanda tangan saja" kata Fatma.


Lukman memeriksa surat ijin kedua adik sepupunya. Di sana tertera waktu ijinnya sampai dua hari.


"Fit....kata Bapakmu nanti habis jalan-jalan suruh langsung balik pondok" kata Lukman.


"Biar diniyyahnya gak kacau"jawab Lukman.


"Ya udah Mas ndak papa yang penting bisa jalan-jalan" sahut Fatma.


"Mbak Nurul nggak ikut Mas?" Tanya Fitri.


"Oh, lagi ada urusan"


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Fitri meminta duduk di depan agar bisa melihat kota Kediri lebih jelas katanya. Mobil melaju menuju utara melewati bundaran Taman Sekartaji. Banyak polisi berjaga-jaga di dana. Tempat ini tidak sebegitu ramainya seperti tahun lalu sebab ada penertiban taman. Para penjual sudah tidak di tempat ini sehingga agak sepi.


Mobil berjalan melewati jembatan Brawijaya. Fitri terlihat puas melihat panorama Taman Brantas yang semakin mempesona dengan lampu-lampunya. Sampai kawasan Simpang Lima Gumul banyak polisi berjaga-jaga. Jalan-jalan sudah banyak yang ditutup. Area parkir motor sudah penuh dan tidak menerima parkir lagi tetapi parkir mobil masih tersedia namun tempatnya lumayan jauh dari lokasi Monumen Simpang Lima Gumul.


"Jangan terpisah satu sama lain dan jangan terpisah dari Mas" pesan Lukman saat keluar dari mobil.


"Nggih Mas" jawab kedua adiknya hampir bersamaan.


Ada beberapa panggung yang terlihat dari kejauhan. Berdasarkan spanduk dan banner, artis ibukota Via Vallen dan Nella Kharisma mengisi panggung itu, kemudian kesenian Jaranan juga turut mewarnai panggung yang lain. Suadana benar-benar padat sampai Lukman melrang adik-adiknya untuk mendekati panggung. Syukurlah mereka menurut.

__ADS_1


Fitri dan Fatma asyik berburu aksesoris dan jilbab yang dijual murah meriah karena memang cuci gudang. Arang bermerek dengan separuh harga, cewek mana yang tak tertarik. Jajanan kuliner juga mereka cicipi satu-satu. Tampak sekali mereka menikmati malam itu. Tak peduli dengan artis yang sedang membakar semangat penonton dipanggung. Mereka tidak terlalu tertarik dengan itu. Mereka hanya butuh jalan-jalan dan belanja.


Lukman tampak gelisah. Ia tak tertarik dengan barang apapun yang ditawarkan. Tugasnya hanya menjaga kedua adiknya. Jiwanya sedang ada di tempat lain. Sesekali ia melirik arlojinya.


Di tempat yang berbeda. Seorang perempuan berbaju hitam dengan rok biru tua tengah duduk sendiri di pinggir pagar besi. Kerudung hitamnya dililitkan menutupi sebagian wajahnya menyerupai cadar. Di sampingnya satu buah tas ransel bersandar di pagar besi.


Dari luar pagar Nurul berjalan pelan-pelan sambil kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan seseorang. Banyak orang yang berkunjung sehingga membuatnya semakin sulit menemukan orang yang dicarinya. Dari kejauhan tampaklah postur tubuh yang ia kenal. Nurul mendekatinya pelan-pelan. Setelah sampai tepat di depannya, orag itu berdiri menyambut kedatangan Nurul.


"Mbak Wardah" sapa Nurul


Wardah membuka cadarnya. Ia memandang Nurul dengan heran lalu menengok kesana kemari mencari seseorang.


"Mbak..." Nurul menyodorkan sebuah surat.


Wardah menerimanya dengan ragu-ragu.


"Mbak Wardah perlu saya temani?" Tanya Nurul.


Wardah mengangguk pelan.


Assalamualaikum


Maafkan aku jika surat ini tidak berkenan.


Saya tahu betapa terpuruknya hatimu saat ini, tidak mudah untuk menjalani sesuatu dengan keterpaksaan. Abah Umimu mungkin berusaha keras memilihkan yang terbaik untukmu namun keliru jika tanpa bertanya padamu.


Tetapi, mereka juga tidak sepenuhnya salah. Aku dengar perjodohanmu dimulai lima bulan lalu, kenapa tidak ada penolakannya? Diam bagi seorang gadis akan dianggap setuju bagi banyak orang meskipun hatimu meronta. Aku rasa kamu pun setuju dengan hal itu. Cobalah diingat bukankah Umimu sudah memberikan sinyal sejak kamu kembali dari Kudus? Beliau bercerita banyak suatu hari padaku.


Wardah, kamu memang salah satu alasanku kembali ke Kediri. Aku akan menerima jika Abahmu kembali memintaku seperti dulu. Tetapi, bukan berarti aku harus memperjuangkanmi dengan statusmu sudah bertunangan.


Wardah, kamu adalah gadis yang baik, terlalu ceroboh jika aku menuruti keinginanmu. Kau terlalu suci untuk itu. Jangan rendahkan dirimu dengan sesuatu yang tidak perlu. Bagiku kamu adalah berlian. Jangan sampai berubah menjadi batu cadas.


Pikirkanlah baik-baik, jika kau lakukan rencanamu apakah ada yang menerima kita kelak? Bagaimana dengan calon suamimu? Bagaimana dengan hubungan ibumu dan temannya? Bagaimana kesehatan Abahmu? Bagaimana hubungan keluargamu dengan Paklik dan Bulikku? Apakah sudah kau pikirkan semuanya?


Aku bisa saja membawamu kabur seperti film India atau drama Korea. Tapi bagaimana dengan kehormatan keluargamu?


Dulu saat kita dijodohkan kamu merasa sakit bukan? Bukankah kamu pikir itu adalah polemik bagi gadis yang sudah waktunya menikah? Pikirkan bahwa inipun sama, kamu hanya sedang goyah dengan pendirianmu setelah melihatku. Ini adalah godaan dari setiap pasangan uang akan menikah. Setidaknya begitulah yang pernah diwejangkan kakekmu pada mendiang orangtuaku. Aku yakin calon suamimu pun juga mengalami hal yang sama sepertimu.


Wardah, kita adalah orang yang beriman. Tidak seharusnya kita menodai iman dengan hal seperti ini. Cinta bukan satu-satunya alasan seseorang menikah. Cinta juga bukanlah sesuatu yang perlu dikultuskan. Allah lebih tahu mana yang terbaik bagimu. Jodoh tidak akan mampu kita gapai dengan akal fikiran kita. Karena Dia yang lebih tahu.


Kita adalah wayang yang diatur dengan skenario sang dalang. Percayalah.


Wassalam,

__ADS_1


Lukman


***


__ADS_2