
Singapore,
"Thanks a lot Mr. Franklin i hope you'll tell me if you got that" Kata Wulan.
Wulan dan Lukman menghadap dokter yang akan menjadi perantara dengan dokter spesialis tulang di Singapore. Saat mereka sampai di negara tetangga, dr. Franklin belum berhasil mendapatkan jadwal dokter yang dimaksud.
"Oh sure, be patient and i believe you will be good soon. Im promise"
Begitu senangnya Wulan mendengar jawaban itu. Harapan sungguh luar biasa di negeri ini. Sebenarnya kemampuan dokternya sama saja hanya saja obat dan peralatan yang lebih lengkap membuat kualitas tampak lebih baik.
Sampai di apartemen yang disewa oleh keluarganya, Wulan merapikan pakaian yang dibawanya dari rumah. Lukman hanya membantu karena tidak terlalu lihai dalam menata ruang.
"Sayang, udah gih istirahat dulu. Nanti aku carikan orang buat rapiin semua ini. Terlalu banyak Yank" bujuk Lukman.
"Aku bilang juga apa, ajak Mbak Yuyun juga kan enak nanti bisa bantuin kita" gerutu Wulan.
"Eeeee ya jangan dong. Gimana kita bulan madu kalo ada orang lain" kata Lukman.
Sore itu cukup dingin. Suasana seperti ini seperti dalam mimpi. Seperti tak mungkin terjadi. Rasanya sulit untuk diwujudkannya. Nyatanya mereka berhasil hidup bersama. Sore itu, langit Singapore begitu cerah. Gedung-gedung di luar sana yang terlihat jelas mulai menyalakan lampu yang cantik. Malam nanti pasti lebih seru dari ini.
***
Tengah malam tak sedingin sore tadi. Lukman terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia melihat sampingnya kosong. Wulan kemana?Lukman bangkit dan melihat sekeliling. Ia bisa bernafas lega,. Istrinya ada di balkon seorang diri. Lukman menghampirinya.
"Sayang, kok di sini kenapa?" Tanya Lukman.
__ADS_1
"Man lihat deh di atas sana" ajak Wulan. Lukman melihatnya. Rembulan sedang bersinar bundar sempurna.
"Aku bersyukur karena malam ini tidak bisa tidur. Mungkin aku kangen bantalku di rumah hehehe. Jadi aku bisa menikmati keindahan malam ini" jawab Wulan.
"Sayang, mungkin ini waktu yang tepat buat aku ngomong" kata Lukman tiba-tiba.
Wulan teecengang dengan ucapan Lukman. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan yang mungkin bisa menyakitinya.
"Kenapa Man"
"Aku sekarang sudah sah menjadi pengangguran. Aku mengundurkan diri dari perusahaan"
"Ahhh aku lega. Jujur aja aku sedikit cemburu dengan atasanmu yang namanya Winda itu"
"Ya beberapa kali dia ngajakin ketemu, masak terang-terangan dia bilang dia suka kamu" kata Wulan sedikit jutek.
"Dia udah gak ada di sini kok. Dia ke Jepang sehari sebelum pernikahan kita"
"Baguslah, trus kenapa kamu keluar dari perusahaan itu?"
"Aku ingin membuka usahaku sendiri. Maukah kamu mensupport aku dari bawah. Setelah menjadi pengangguran, tabunganku harus kugunakan untuk modal membangun usaha, apakah kamu mau bersabar untuk berangkat dari nol bersama-sama?"
Wulan tersenyum.
"Aku menikah dengan Lukman, bukan pekerjaannya, atau jabatannya"
__ADS_1
Lukman lega mendengarnya meskipun ia yakin Wulan pasti menjawab demikian.
"Satu lagi ya" kata Lukman.
Wulan mengangguk.
"Sekarang aku adalah suamimu. Aku imammu. Bersediakah kamu untuk kubimbing menjadi lebih baik"
Wulan mengangguk kuat. Lukman yang tadinya berjongkok, bangkit dan ke dalam sebentar lalu kembali lagi.
"Maukah kamu untuk selalu memakai ini" lukman mengalungkan kerudung panjang di kepala Wulan.
"Bersediakah kamu untuk berhijab, pertama lakukanlah demi aku, kedua demi calon anak kita karena kaulah nanti yang akan menjadi teladannya, ketiga lakukanlah demi dirimu sendiri. Jika ketiganya telah kau yakini, barulah kamu mengerti bahwa sejatinya kau lakukan itu atas perintah Tuhanmu"
Wulan menitikkan air matanya. Ia menunduk dan terlihatlah tetesan air mata turun beberapa tetes. Ia mengangguk pelan.
"Aku pernah memakainya sebentar tetapi kulepas atas permintaan Edward"
Jadi benarlah, perempuan berhijab yang mirip Wulan saat itu memang benar Wulan. Lukman tidak salah lihat. Tapi ia tak ingin membahas itu. Ia tak ingin mengingatkan istrinya akan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu.
Malam ini, disaksikan rembulan yang bersinar dini hari, mereka menghempaskan seluruh cinta yang dipendam karena belenggu bernama restu. Rembulan itu mengikutinya meski mereka kini berada di tempat yang jauh. Rembulan itu yang selalu hadir dan turut menyaksikan perjalanan cinta mereka. Rembulan itu yang tersenyum dan menangis bersama mereka. Rembulan itu yang kini menjadi saksi penyatuan keduanya. Rembulan itu, ya Rembulan yang sama yang bersinar dini hari.
Belajar dari mereka, akankah kita mengikat sesuatu yang belum pantas untuk diikat. Sekalipun mereka berhasil memenangkan perjuangan ini. Apakah kisahmu akan sama? Belajar dari mereka, perjuangkan cintamu dengan cara yang benar. Cara yang salah akan membawamu pada kesengsaraan. Dimana letaknya? Di hatimu.
***
__ADS_1