
Malam yang penuh suara terompet, tak sedikitpun sampai ke telinga Wardah. Jiwanya benar-benar tak menyatu dengan raganya hingga suara bising tak begitu menarik perhatiannya. Pandangannya jauh menerawang ke depan. Bahkan cenderung kosong. Wardah berjalan pelan menenteng tas ranselnya. Ia menitup wajahnya dengan jilbab yang dililitkan agar tidak ada yang tahu bagaimana wajah sembabnya mewakili perasaanny.
Marah, kesal, kecewa putus asa bergelut dalam hatinya. Ia menyesal menggantungkan hidupnya pada lelaki seperti Lukman yang dianggapnya tidak berperasaan. Menurutnya lelaki yang tidak mengenyam pendidikan pesantren sejak SMA dan sudah pasti ilmunya cetek tidak berhak menceramahinya. Tahu apa dia soal agama. Dia bahkan bukan lulusan Mesir seperti dirinya.
Air matanya menitik sedikit demi sedikit. Kakinya tak punya lelah untuk berjalan. Kini ia berada di bawah jembatan alun-alun. Ia berdiri tegak menghadap kali Brantas. Gelapnya tempat itu dan riuhnya suasana kota membuatnya tidak diperhitungkan orang lain.
Seluruh jalannya telah tertutup. Menurutnya hidupnya telah berakhir sampai di sini. Masa depan sudah bukan miliknya lagi. Ia tahu bagaimana harus berbuat malam ini. Kali Brantas akan menjawab semua keegoisan orang-orang disekitarnya.
***
Lukman dan Nurul sampai di rumah pukul sebelas malam. Sekali lagi jalan yang ramai membuat perjalanan mereka melambat. Saat itu Paklik dan Bulik masih terjaga. Mereka menunggu di teras. Lampu rumah juga masih menyala terang. Awalnya Nurul dan Lukman senyum-senyum begitu turun dari mobil, tetapi melihat raut muka Paklik dan Bulik sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
"Fatma sama Fitri tidak ikut pulang?" Tanya Bulik dengan sedikit rasa khawatir.
"Sesuai keinginan Paklik, mereka saya kembalikan ke pondok jam sembilan" jawab Lukman.
"Nurul, segera tidur, Lukman kamu tetap di sini" kata Paklik dengan nada yang kurang enak.
Nurul menurut tetapi ia tak langsung masuk kamarnya. Ia menguping dari kamar paling depan di area ruang tamu.
"Bu Haji Saman tadi nyariin kamu" kata Paklik
"Tapi bukan masalah kontrak rumah" sahut Bulik.
"Lalu?" Lukman ingin tahu.
"Wardah menghilang sejak sore sampai sekarang belum pulang" kata Paklik.
Lukman terperanjat. Belum pulang? Lalu kemana dia padahal Lukman menjemput Nurul di GOR jam setengah sepuluh tadi. Dan saat di jemput, Wardah sudah terpisah dengan Nurul sejak sejam sebelumnya.
Nurul yang menguping pun terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia telah melakukan tugasnya dengan baik tadi dan sepertinya Wardah bisa menerimanya. Lalu kemana dia?
"Ada apa sebenarnya, kenapa Wardah hilang Lukman yang dicari?" Bulik mulai emosi.
"Mungkin ini cuma salah paham Buli, saya....."
"Mbak Wardah ngajakin Mas Lukman kawin lari Buk" sahut Nurul dari depan pintu kamar paling depan.
Sontak ketiga orang yang ada di situ terperangah. Untuk beberapa saat hanya diam tak ada suara maupun pergerakan. Saking kagetnya. Lukman pun tak kalah terkejutnya karena adiknya itu berani bicara dalam suasana seperti itu. Apalagi sebuah rahasia yang memalukan yang sedang ia katakan. Biarpun sudah kuliah ia masih masuk kategori anak kecil di keluarga ini.
"Tapi ini bukan kesalahan Mas Lukman Buk, semua ini salah Nurul, Nurul yang sering bombongi (mempengaruhi) Mbak Wardah pas jamaah di masjid kalau Mas Lukman masih suka sama dia" suara Nurul melemah
__ADS_1
"Tapi sumpah demi Allah Nurul nggak tahu kalau Mbak Wardah mau nikah. Pernikahannya kan juga terkesan buru-buru" lanjut Nurul.
Paklik duduk di kursi dengan lemas. Pria tua itu tak menyangka akan menghadapi hal semacam ini. Keponakannya terlibat dalam hilangnya seorang gadis. Bukankah itu hal yang memalukan.
Empat orang penghuni rumah ini duduk diam di ruang tamu. Semuanya tampak berpikir langkah apa yang akan ditempuh. Nurul merasa sangat bersalah. Ia merasa punya andil atas menghilangnya Wardah. Lukman pun demikian. Wardah hilang pasti karena kecewa padanya. Ia bahkan tidak memprediksikan akibat ini sebelumnya. Perhitungannya telah gagal.
Hampir jam satu malam. Keempatnya masih duduk terdiam
"Baiklah. Saya akan ke rumah Pak Haji melihat apakah Wardah sudah pulang" kata Paklik bangkit dari duduknya.
"Malam-malam begini Pak?" Cegah Bulik.
Paklik mengiyakan.
"Saya temani Paklik" kata Lukman.
"Jangan, Pak Haji pasti tidak menyukai kedatanganmu" kata Paklik.
Tilulit.... tilulit....hape Nurul berdering. Sebuah nomor baru tertera di sana.
"Nomer baru Pak, siapa tahu Mbak Wardah" kata Nurul.
Paklik kembali duduk.
"Wa'alaikum salam Mbak Rul ini Fatma"
"Oh Fatma kok bisa nelpon? Hapene sopo iki? ( Hapenya siapa ini)" tanya Nurul.
"Ssst.... Mbak Rul, kasih tahu Ibuk, Mbak Wardah di sini. Ada temannya yang jadi pengurus di sini, kelihatannya Mbak Wardah habis nangis. Kayaknya mau minggat lawong bawa tas ransel isinya baju-baju sama peralatan mandi. Temennya itu curiga ada yang nggak beres sama Mbak Wardah makanya minta aku ngabarin keluarganya" jelas Fatma.
"Alhamdulillah" sontak semuanya mengucap syukur saat mendengar berita itu dari hape yang di loud speaker.
"Kalo bisa jangan dijemput dulu. Biar Mbak Wardah tenang dulu, nanti tak kabari lagi perkembangannya.suwun assalamualaikum" kata Fatma mengakhiri.
Mereka bisa bernafas lega setelah tahu keberadaan Wardah ada di tempat yang aman. Mereka berharap masalah ini tidak berlarut-larut dan Wardah segera pulang. Kecuali jika dia kabur lagi masalahnya akan semakin runcing.
Paklik kemudian ke rumah Pak Haji Saman untuk memberitahukan perihal keberadaan Wardah agar mereka tidak khawatir. Rupanya hingga jam satu dini hari rumah Pak Haji Saman masih ramai oleh sanak saudara yang berupaya mencari informasi keberadaan Wardah.
Kedatangan Paklik sedikit tidak dikehendaki oleh Bu Haji. Tetapi pak Haji Saman justru menyambut hangat beliau. Paklik menjelaskan dengan hati-hati bahwa Wardah menginap di pondok tempat Fatma nyantri karena di sana ada temannya Wardah.
Ketegangan masih terasa diantara dua keluarga itu sehari setelahnya. Tetapi kemudian mereda setelah Pak Haji Saman berbincang dengan Paklik lebih lama.
__ADS_1
***
Pohon-pohon seakan berjalan berlawanan arah ketika Lukman mengendarai mobilnya melewati jalan menuju Kertosono. Inilah yang disebut fenomena Fatamorgana. Kita yang sesungguhnya berjalan tetapi seolah pohonlah yang berjalan. Seperti kondisi Lukman saat ini. Seolah masalah yang membuntutinya tetapi sebenarnya dialah yang menjemlut masalah. Dari kasus Wardah ia belajar satu hal. Ketika kita berpindah karena menghindari satu masalah, sesungguhnya kita telah menjemput masalah di tempat lain. Kita harus siap akan hal itu. Karena itulah cara Tuhan mendewasakan hambanya.
Lukman memutuskan untuk kembali ke Surabaya untuk sementara waktu. Bukan karena menuruti Bu Haji Saman tetapi menurutnya saat ini itulah cara yang terbijak. Setidaknya sampai Wardah dibawa ke Kudus. Ia sadar besar kemungkinan ia akan menemukan masalah baru di Surabaya, entah dengan Wulan, Winda atau yang lainnya. Ia harus siap dengan itu.
Di samping itu masih ada beberpaa barangnya yang tertinggal di rumah kontrakan. Lagipula ini telah habis masa kontrak. Ia harus segera menyelesaikan dengan pemilik kontrakan. Barang-barang yang masih tersisa harus segera dibereskan. Pemilik kontrakan tentu juga ingin mendapatkan penghasilan dengan menyewakannya pada orang lain.
Memasuki kota Surabaya terlihat sampah di kanan kiri sisa perayaan tahun baru yang masih ada. Tampaknya sudah ada pembersihan namun tidak merata atau dikotori lagi, perayaan part 2 misalnya.
Lukman sampai di kontrakan sebelum dhuhur. Pertama yang ia lakukan adalah mengambil kunci di rumah pemilik kontrakan. Sang pemilik terkejut sekaligus senang dengan kedatangan Lukman.
"Tak pikir gak balik lagi lo Mas, saya juga bingung barang-barangnya masih banyak yang di sini" kata pemilik kontrakan sambil menyerahkan kunci.
"Lagi ada urusan di desa Bu, makanya agak lambat. Maaf Bu" jawab Lukman.
"Kalau mau, saya punya teman penadah meubel. Meja kursi lemari mau semua dia, wong yang rusak saja mau" kata pemilik kontrakan.
Lukman mengangguk dan berterima kasih. Ia segera membuka rumahnya dan segera merebahkan diri di kasur. Masalah kemarin benar-benar menguras pikirannya. Ia akan tinggal di sini selama beberapa waktu. Bisa jadi sebulan atau dua bulan sampai Wardah menikah dan dibawa oleh suaminya. Berlian itu benar-benar telah lepas darinya. Lalu apa rencananya sekarang? Entahlah. Bahkan kini ia pengangguran.
Esok hari sesuai rencana, ia mendatangi rumah pemilik kontrakan dengan maksud menyewa rumah itu selama dua bulan. Ia berharap pemilik kontrakan menyetujui. Sulit sekali memperoleh sewa hanya dua bulan. Namanya rumah kontrakan tentu saja dikontrak secara tahunan.
"Iya Mas ndak papa lagian belum ada yang nanyain. Daripada kosong. Sukur-sukur kalau ternyata sampai setahun" begitu jawab pemilik awalnya. Lukman patut bersyukur atas itu.
Agar tidak menimbulkan rasa tidak enak, Lukman membayar tunai sewa selama dua bulan yang ia kehendaki. Hal inilah yang membuat pemilik kontrakan melunak dengannya. Disamping sikap Lukman yang selama ini menyenangkan, ia tidak pernah macet dalam pembayaran kontrakan.
"Mas Lukman maaf lo ya, bukan maksud saya menakut-nakuti, tapi Mas Lukman perlu waspada, akhir-akhir ini ada orang yang sedang mengintai Mas Lukman" kata pemilik kontrakan tiba-tiba.
Mengintai? Siapa yang diintai dan siapa yang mengintai? Preman suruhan Pak Handi lagi kah? Untuk apa toh Lukman sudah tidak berhubungan sama sekali dengan Wulan. Suruhan Pak Haji Saman kah? Mana mungkin seorang Pak Haji melakukan hal sekotor itu. Lalu siapa? Pencuri kah?
"Kira-kira siapa ya Bu? Model orangnya bagaimana?" Tanya Lukman penasaran.
"Agak tua sih, dandanannya biasa saja, gak serem, tapi tetep hati-hati lo Mas, dandanan bisa menipu, tiao malam ke sini lihat-lihat rumah Mas Lukman, saya gak berani nanyain" jelas pemilik kontrakan.
Benar kata Ibu pemilik kontrakan. Dandanan sangat menipu. Berapa banyak penculik yang menyamar menjadi orang gila. Berapa banyak perampok menyamar jadi gelandangan. Ia berterima kasih pada pemilik kontrakan atas informasi sepenting itu. Ia harus hati-hati mulai sekarang.
Malak harinya sesuai rencana ia akan membuktikan perkataan pemilik kontrakan. Ia ingin tahu siapa orangnya dan dengan tujuan apa ia lakukan itu. Sengaja ia matikan lampu agar lebih jelas melihat ke luar. Dan benar saja dari balik jendela Lukman melihat seorang laki-laki agak tua mengenakan jaket hitam dan celana hitam. Helmnya tertutup rapat. Ia membawa motor matic warna putih. Ia berhenti di pojok rumah. Ia turun dari motornya dan memperhatikan rumah ini beberapa saat. Ia memeriksa samping kanan, lalu samping kiri. Kepalanya dipanjangkan untuk bisa melihat apa yang ada di dalam rumah.
Dengan sigap Lukman keluar dari rumahnya. Tentu saja lelaki pengintai itu kaget dengan suara pintu yang terbuka dengan cepat. Tetapi lelaki itu todak kabur. Ia berdiri mematung di depan pagar. Dengan cepat Lukman membuka pagar. Kini ia berhadapan dengan lelaki itu. Dibukanya helmnya. Betapa terkejutnya Lukman melihat siapa yang ternyata diaebut pemilik kontrakan mengintai rumahnya akhir-akhir ini.
"Pak Ferdi" Lukman kaget.
__ADS_1
Pak Ferdi tersenyum. Mereka pun duduk bersama di teras.