
Untuk kesekian kalinya dapur ngepul prnuh dengan bau bumbu yang digoreng, sedap sekali. Masak-masak besar terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya. Akan ada tamu lagi malam ini.
"Hmmmmm kelihatannya enak Ma" puji Wulan merayu agar diminta mencicipi.
"Ini tadi nyoba resep baru masakan Bali, eh kaju coba gih kurang apa" tepat sasaran.
"Hmmm enak Ma, siapa lagi nih tamunya Ma?"
Mama bukannya menjawab tapi malah menarik lengan Wulan ke kamar. Tentu saja hal itu membuat Wulan bingung.
"Lan, sebentar lagi Pak Damadi dan istrinya kemari. Mereka mau melamar kamu. Nanti kamu tenang dulu ya, jangan kelihatan emosimu, malu. Biar Mama nanti yang akan menjawab"
Melamar? Akhirnya momen ini datang juga. Baru saja kemarin Edward ngajak makan siang bersama merayakan ulang tahunnya. Apakah itu hanya dalih? Apakah memang sudah direncanakan? Berarti Edward berbohong?
Sudah sembila hari tanpa komunikasi dengan Lukman, bukan berarti siap menerima lamaran pria lain. Jujur hatinya masih belum terbuka dengan pengganti Lukman. Jantungnya berdegup kencang seperti narapidaayang hendak disidang. Ketakutannya hanya satu. Papanya menyetujui secara sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu dengan Wulan. Apakah wulan mau, apakah siap apakah sedang sendiri apakah ada syarat dan sebagainya.
Tamu yang dinantikan datang. Pak Handi beserta istri menyambut dengan ramahnya. Hanya Pak Damadi beserta istri yang datang. Edward tak tampak. Sesuai permintaan Pak Handi agar tak menimbulkan curiga, Wulan berdandan lebih rapi dari biasanya.
"Maaf Jeng, Edward lagi sibuk banget jadi gak bisa ikut ini" kata Bu Damadi kepada Bu Handi berbarengan dengan cipika-cipiki.
Setelah cukup lama mengobrol di ruang tamu mulai dari bisnis, keluarga, hobi sampai menyinggung rencana kedua keluarga sejak lama. Apalagi kalau bukan perjodohan.
"Eh. Mari kita sambung di belakang...biar lebih enak ngobrolnya" ajak Bu Handi. Beliau sambil memikirkan Kalimat yang tepat untuk menjawab mereka.
"Ini menu baru ya Bu Handi?" Tanya Pak Damadi.
"Oh iya Pak, ada bebek betutu khas Bali, yang ini oseng jamur bukan khas mana-mana sukur oseng aja hehehe kalau uang ini plecing kangkung khas Lombok. Monggo dicoba. Baru tadi nrmu resepnya. Mudah-mudahan pas ya"
Setelah beberapa menit berbincang soal rasa makanan yang mereka lahap sekarang, Pak Damadi mulai masuk ke intinya.
"Jadi begini Pak Handi, Bu Handi beserta Wulan yang saya banggakan. Kedatangan kami sebenarnya menyambung kembali apa uang sudah kita rencanakan tempo dulu..." Pak Damadi memulai.
"Anak-anak kita sudah dewasa sudah bisa diandalkan jadi sepertinya sudah waktunya untuk mempererat kembali hubungan kita menjadi satu keluarga" sambung Bu Damadi.
"Nah saya rasa juga begitu Bapak dan Ibu Damadi. Tetapi apakah Edward sudah mengerti mengenai ini?" Pak Handi giliran berbicara.
"Oh.... Edward sudah oke malah kemarin katanya jalan sama Wulan" sahut Bu Damadi
"Oh iya, betul sekali, Edward sendiri yang menjemput ke kantor"
Benar. Ternyata memang sudah direncanakan. Semakin tercekat leger Wulan.
" Sekarang tinggal Wulan, apakah Wulan juga Bapak dan Ibu Handi cocok dengan anak saya" pertanyaan inti dari Pak Damadi.
"Oh tentu saja sama seperti Edward, setuju-setuju saja, bukan begitu Wulan?" Jawab Pak Handi dengan semangat.
Terjadi juga keputusan secara sepihak yang dikhawatirkan Wulan.
"Bapak dan Ibu Damadi, alangkah baiknya jika kita beri kesempatan Wulan untuk berfikir dahulu. Semua ini nantinya yang menjalani juga anak-anak kita. Lagipula Wulan belum tahu tentang ini sama sekali" sahut Bu Handi.
__ADS_1
"Oh betul itu...betul sekali. Saya setuju seperti itu" jawab Pak Damadi senang karena merasa jawabnnya sama saja dengan Papanya.
Seperti itulah intinya. Mama telah menyelamatkan Wulan dari perjodohan tadi meskipun belum seperti. Karena suatu saat dalam waktu dekat tentu akan ditagih jawabnnya.
"Mama gimana sih kok mengulur-ulur waktu begitu" Pak Handi memprotes tindakan Mama begitu tamunya pulang.
"Ya jangan begitu dong Pa, tanya dulu sama Wulan mau nggak sama Edward. Jangan apa-apa diputuskan sendiri" timpal Mama
Wulan mendengar dari balik pintu kamarnya.
"Wulan pasti mau dan harus mau. Edward itu berpendidikan, masa depannya cemerlang, dari keluarga terpandang, keluarga baik-baik, Mama maud bandingkan sama penipu Lukman itu? Orang tua nggak jelas, pendidikan rendah, pegawai kontrak biasa, mau dihidupin pakai apa anak kita nanti"
" Mbok ya segala sesuatu jangan dilihat dari hartanya. Yang penting Wulan bisa bahagia. Harta benda gak menjamin Pa" bantah Mama.
"Mudah saja Ma bicara begitu. Banyak orang sering berantem karena kekurangan, akhirnya beda pendapat, banyak orang menjadi brutal juga karena kekurangan. Pikirkan itu Ma"
Mama selalu kalah dalam berdebat meskipun Mama juga tak sepenuhnya salah. Jalan Wulan semakin sempit. Mama yang baru saja memutuskan untuk memperjuangkan hubungannya dengan Lukman ternyata juga tak cukup kuat untuk merobohkan benteng pertahanan Papa.
Hape di atas meja dekat kasur menyala. Sudah dapat diterka. Lukman mengirim pesan. Dan masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Menanyakan kabar, meminta maaf menyatakan rindu dan ingin bertemu. Setiap hari tak pernah absen mengirim pesan semacam itu. Tetapi Wulan masih ingin menenangkan diri meskipun dari lubuk hatinya yang terdalam, rindu mencambuk ulu hatinya tanpa henti.
Kreek....pintu terbuka. Mama masuk dengan segelas susu hangat.
"Sudah tidur sayang?" Tanya Mama pelan agar tidak mengganggu kalau-kalau Wulan sudah tidur.
"Belum Ma" jawab Wulan sambil mematikan hapenya.
"Susu hangat" Mama menyodorkan segelas susu hangat Wulan meminumnya pelan-pelan.
"Mas, aku pengen dengar pendapat Mama. Tapi jangan lihat dari sisi aku. Jangan libatkab perasaan aku atau hubjnganku denga Lukman. Mama harus jadi pihak yang independen yang tidak membela salah satu pihak baik Lukman maupun Edward"
Mama mengangguk-angguk.
"Menurut Mama Edward itu gimana?"
Mama bingung bagaimana harus menjawab.
"Mama jawab dengan jujur sesuai penilaian Mama" Wulan menegaskan.
"Edward....gimana ya...awal ketemu kayak kurang sopan gitu anaknya. Maklum lah terlalu lama tinggal di luar negeri jadi lupa dengan sopan santun ala ketimuran...tapi makin kesini....anaknya baik"
"Tapi dia pernah samenleven lo Ma sama orang Semarang"
"Apa sayang? Samen...samen apa sih"
Ups Mama tidak boleh tahu istilah gila itu. Bukan jamannya.
"Enggak...enggak...Kalau Lukman?"
"Selama ini kan Mama ketemu Lukman cuma sebentar gak sering. Anaknya sopan, baik, agamanya kuat, dan yang Mama lihat dia cintanya tulus ke kamu"
__ADS_1
"Mama pernah denger gak cerita masa kecil Edward kalau dulu Edward...."
"Mau digugurkan? Iya bener. Udah habis hampir ratusan juta loh itu. Untungnya anaknya lahir normal sehat sampek sekarang. Ya cuma Mamanya harus menjalani operasi pengangkatan rahim, udah gitu koma lagi"
Berarti benar, Edward tidak berbohong. Ulang tahun itu...berarti bukan akal-akalan Edward saja.
"Kalau Mama suruh milih. Lebih seneng punya mantu Edward atau Lukman?"
Mama terdiam dan melongo menatap wajah anak semata wayangnya.
"Aduh gimana ya Lan... Dua-duanya baik... Mama sih pokoknya kamu bahagia gitu aja. Pilihan kamu sudah pasti yang kamu cintai"
Komentar Mama tidak terlalu membantu. Tetapi paling tidak Wulan tahu Edward tidak seburuk penilaiannya waktu pertama berjumpa. Tetapi juga tidak lebih baik dari Lukman juga.
Lukman, Edward. Dua laki-laki dengan latar belakang yang jauh berbeda. Satu sederhana satunya kaya raya. Satu bersahaja satunya bergaya. Satu sopan satunya gaul. Jalan menuju Edward terbuka lebar sedang jalan menuju Lukman tertutup rapat. Pintu hati Wulan terbuka lebar untuk Lukman namun masih tertutup untuk Edward. Bimbang. Seandainya Lukman anaknya Pak Damadi tentu semuanya ajan menyentuh. surga akan berpindah ke dunia. Seandainya saja.
***
Minggu pagi waktu yang tepat keliling komplek. Tidak terbatas waktu seperti hari biasa. Biasanya setiap pagi akan berburu dengan waktu. Jam tujuh pagi harus sudah siap berangkat ke kantor. Kadang juga belum sarapan sampai Mbak Yuyun menyusulkan bekal ke kantor. Tetapi untuk hari minggu semua terasa longgar.
Wulan memanfaatkan hari minggu untuk bersepeda. Di kota Surabaya, setiap dua minggu sekali ada car free day. Di berbagai jalan dilaksanakan kegiatan tersebut. Hari inj Wulan akan menuju car free day. Dengan bersepeda.
Di perjalanan Wulan berhenti pada sebuah bangunan. Ia memarkir sepedanya begitu saja. SMA TRISAKTI. Begitu bunyi papan nama yang kini lebih cantik dari tujuh tahun lalu. Disinilah Wulan bertemu dengan Lukman. Saat mereka tergabung dalam anggora OSIS. Saat Lukman menawarkan Wulan untuk masuk Pramuka. Saat mereka berkemah di bumi perkemahan Pacet. Saat mereka merayakan api unggun. Semua masih tampak jelas di ingatan. Air matanya menetes membaur dengan peluh di wajahnya.
Kenangan itu begitu indah untuk dilupakan. Begitu tebal untuk dihapus. Lukman, kamu sedang apa? Apakah kaku jiga sama menderita seperti ini? Apakah hatimu juga ditusuk yusuk oleh rindu. Apakah ada perempuan lain yabg ditawarkan padamu selerti juga yang terjadi padaku? Wulan berbicara dalan hati.
"Kring...kring...kring ..Lan..ayo ufah mau mulai nih" seirang tetangga meyapanya membuyarkan lamunan indahnya.
Wulan mengayuh sepedanya dengan semangat bermasa tetangganya. Benar saja. Senam sudah dimulai. Wulan dan beberapa tetangganya mengambil tempat sekenanya yabg penting bisa berzumba bersama.
Kegiatan akhir yang paling disuka setelah zumba adalah berburu kuliner yang unik dan murah. Tak cuma itu, ada juga produk-produk berkualitas yang dijual murah. Rata-rata adahal barang cuci gudang dari pabrik. Barang asli namun ada cacat sedikit yang tak begitu nampak.
Selesai zumba, Wulan berpisah dengan para tetangganya karena masing-masing memiliki selera masing-masing. Wulan ke arah selatan, tetangganya ke arah utara.
Saat sendiri seperti ini bayangan masa lalu selalu saja mengikuti. Tempat ini juga pernah didatanginya dengan Lukman. Terangat saat itu Lukman membelikan cilok Pak Man yang terkenal enak dan pembeli yang berjubel mengantri. Sudah ngantri lama, cuma dapat sebungkus begitu dimakan pedesnya gak nahan. Untuk menghilangkan rasa terbakar dimulut haris dengan es oyennya Pak Sur. Murah, santannya terasa, kacang hijaunya khas. Sekarang kedua penjual itu sudah tidak berjualan. Menurut kabar Pak Sur sudah meninggal dan Pak Man sudah tua hingga tak sanggup berjualan lagi.
Wulan berhenti pada penjual pentol telur. Ia belum pernah membelinya sebelumnya. Ia penasaran dengan rasanya. Pembelinya juga banyak sama seperti pembeli ciloknya Pak Man.
"Hay...suka pentol telur juga?" Seseorang menghampiri dari belakang. Suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
Wulan menoleh. Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depannya kini. Gadis cantik dengan celana pendek, sepatu olahraga warna putih, kaos olahraga pendek, rambut pendek dan bertopi. Winda. Dia ada di sini.
"Eh...kamu...Ehm..." Wulan terbata-bata.
"Aku suka kesini kalo hari Minggu apalagi ada car free day kayak gini" kata Winda.
"Oh" Wulan tak tahu harus mengucapkan kalimat apa. Di sayu sisi gadis itu adalah musuhnya yanv membuatnya tak berhubungan selama hampir dua minggu dengan Lukman. Tapi di sisi lain, sebagai warga negara Indonesia tak pantas rasanya tidak tersenyum pada orang lain saat bertemu.
Lebih terkejut lagi, Winda tiba-tiba meminta waktu pada Wulan untuk berbicara hal yang penting. Sudah dapat diterka. Tentulah tentang Lukman. Ada tiga kemungkinan, mungkin ia akan minta maaf soal peristiwa sore itu, atau meminta hak atas Lukman atau justru memberitahukan bahwa mereka sudah jadian? Jantung Wulan kenbali berdegup cukup kencang. Ngeri rasanya membayangkan Winda memamerkan hubungannya dengan Lukman yang kian dekat. Wulan takut. Tetapi juga penasaran. Bagaimana jika....jika....jika
__ADS_1
***