
32
"Pakai yang ini Le, warnanya cocok untuk kamu" kata bulek menyodorkan sarung yang dibawanya dari Kediri.
Lukman memandangnya beberapa saat lalu tersenyum.
"Kenapa? Kamu lupa caranya pakek sarung?" Ledek Bulik
"Hehehe ya ndak Bulik, tapi kayaknya kurang pas saja kalau malam ini nanti pakai sarung, saya pakai celana saja ya" pinta Lukman
Bulik menarik kembali sarung yang ia sodorkan lalu meletakkannya di lemari.
"Tapi jangan kamu paksa Paklikmu pakai celana, gak bakalan mau dia" lanjut Bulik.
Lukman terkekeh. Dilihatnya ketiga adiknya sedang berbaring melepas penatnya perjalanan tiga jam yang dilalui sambil nonton tivi.
"Sebaiknya kalian sholat duhur dulu lalu tidur. Biar nanti fresh pas acara" kata Lukman dan ketiganya menurut.
Hari ini Lukman memboyong keluarganya ke Surabaya untuk acara lamaran. Ya, dia memutuskan menerima pinangan Pak Ferdi dua minggu lalu. Keluarganya pun menyetujui dengan gembira. Awalnya hanya Paklik dan Bulik saja yang akan mendampingi Lukman, tetapi ketiga adiknya ngotot ingin ikut. Mereka belum pernah ke rumah Lukman di Surabaya. Paklik dan Bulik pernah berkunjung ke Surabaya saat kelulusan SMA Lukman, tetapi ketiga adiknya belum pernah sama sekali. Mereka ingin melihat seperti apa wajah calon istri kakaknya. Terutama Nurul, ia begitu antusias ingin membandingkan cantik mana Widya dengan Wardah. Konyol memang.
Bulik masih sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa nanti malam. Mukena yang dihias rapi, sepasang busana muslimah lengkap dengan jilbab dan asesorsnya, cincin yang dibungkus wadah kecil yang indah, sembako yang dibungkus ala parcel sebagai tanda nafkah dari suami,Tak lupa kue yang khas dengan acara pertunangan, kue jadah.
Jadah adalah kue tradisional berbahan dasar beras ketan dan kelapa parut yang dibuat dengan cara ditetel (ditumbuk) hingga menyatu dan lengket. Bagi masyarakat jawa, jadah sebagai simbol doa agar calon pengantin selalu lengket dan menyatu layaknya kue jadah hingga hari pernikahan mereka. Proses pembuatan jadah yang perlu kerja keras mengisyaratkan doa agar calon pengantin nantinya bekerja keras membangun rumah tangga dengan sabar dan pantang menyerah persis seperti usaha dalam menumbuk beras ketan. Warnanya putih bersih, diharapkan sang pengantin nanti hatinya bersih, rumah tangganya bersih putih, bersih dari godaan kotor, bersih dari pekerjaan kotor, maupun gunjingan kotor. Sementara dalam acara pernikahan masyarakat jawa membuat kue jenang yang terbuat dari ketan dan gula aren. Proses pembuatan yang membutuhkan waktu relatif lama mengisyaratkan agar pasangan pengantin nantinya mengarungi kehidupan rumah tangga dengan sabar dan telaten. Teksturnya yang lembut dan lengket adalah gambaran hubungan yang harmonis dan tak terpisahkan. Rasanya yang manis menggambarkan manisnya keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Tekstur jenang lebih lengket daripada jadah. Karena masih bertunangan tidak baik jika terlalu lengket sebab tunangan saja belum bisa dikatakan memiliki satu sama lain sementara ketika menikah pasangan itu perlu lengket hingga sulit dipisah-pisah.
"Bulik istirahat dulu lah, kan baru perjalanan jauh" bujuk Lukman
"Bulik ndak capek, ini lo, tahu kuningnya apa ndak dibungkus yang rapi gitu ya masak cuma di besek begini" kata Bulik.
"Bulik, mau dibungkus model gimana, sudahlah Bulik, istirahat dulu" bujuk Lukman lagi.
" Sek to"
"Bulik...." Lukman memegang tangan Bulik. "Bulik itu cuma gugup, mikir nanti malam" tebak Lukman dengan lembutnya.
"Kamu sudah gede Le" Bulik menitikkan air mata. " Tak terasa, sudah hampir selesai tugas Bulik jaga kamu sesuai pesan mendiang Mbakyu, Ibumu, sekarang kamu sudah mau kawin, Bulik seneng sekaligus susah, nelongso Le, seandainya Mbakyu masih ada pasti seneng banget"
"Matur suwun atas segalanya Bulik, matur suwun" Lukman mencium takdzim tangan Bulik.
Dua puluh sembilan tahun usia Lukman. Bukan usia yang terlalu matang untuk menikah tetapi juga tidak terlalu muda. Pertama kalinya Bulik akan menikahkan seorang anak, meski bukan putra kandung tetap saja rasanya terharu. Dalam sitilah jawa keronto-ronto. Perasaan antara bahagia, sedih, dan haru. Satu sisi ia bahagia perjakanya akan segera menjadi 'orang'. Sebuah istilah bagi orang yang sudah menikah karena sejatinya kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan dalam pernikahan, sedangkan orang-orang yang masih belum menikah disebuat anak karena sedang masa persiapan. Disamping rasa bahagia, juga ada rasa sedih karena diakui atau tidak, perjaka itu akan lepas dari genggamannya, akan menjalani hidupnya sendiri, akan menjauh perlahan dari orang tua. Karena itulah tak jarang para ibu akan berlinangan air mata saat anaknya melaksanakan ijab kabul.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Wardah Bulik?" Tiba-tiba saja Lukman bertanya demikian.
"Nyapo? Getun? (Kenapa?nyesel?) Gak jadi kabur sama dia?"
Lukman tersenyum tipis.
" Wardah baik saja dia, pas nikahannya kemarin juga senang-senang saja, habis nikahan juga main ke rumah juga sudah atut kayaknya"
Atut adalah istilah untuk pengantin yang menikah karena perjodohan dan sudah saling menerima satu sama lain. Dikatakan atut bila mereka bisa bersama-bersama menjalani kehidupan, runtang runtung, kemana-mana selalu bersama di awal pernikahan. Apakah ada pasangan pengantin yang tidak atut? Ada, banyak justru. Biasanya pemicunya adalah si istri yang tidak mencintai suaminya. Nanti akan terlihat setelah beberapa bulan, si istri tidak mau berhubungan badan, sering pulang ke rumah orang tua, dan dalam beberapa bulan mengajukan cerai. Banyak terjadi di masyarakat. Berbeda dengan para suami yang masih bisa menahan diri dengan tidak menampakkan penolakan. Sehingga jika suami yang tida mencintai istrinya masuh bisa mempertahankan rumah tangga hingga tahunan. Ini bukanlah rumus pasti, namun banyak yang terjadi demikian. Oleh karena itu menyatukan pemikiran sebelum pernikahan agaknya hal yang cukup penting dilakukan.
"Semua itu hanyalah godaan pranikah" lanjut Bulik.
"Godaan pranikah Bulik?"
"Betul. Pasangan yang akan menikah sering kali diberi ujian, ada yang diuji dengan kesetiaan, ada yang diuji dengan penyakit, mau nikah malah sakit, ada pula yang diuji dengan rasa ragu-ragu. Semua itu dari setan, ia akan terus menggoda manusia yang akan melakukan kebaikan. Makanya, nanti malam buat kesepakatan yang jelas, jangan sampai ditengah persiapan menikah, ada godaan yang tidak bisa dihadapi"
Malam begitu cepat datang. Rumah Pak Ferdi sudah dipenuhi sanak saudaranya. Paman, bibi dan kakak-kakak Widya berkumpul di sana. Lukman dan keluarganya disambut dengan sangat baik dan ramah. Widya malam ini begitu mempesona dengan balutan gamis syar'i warna lemon. Riasan yang tipis semakin memperlihatkan kecerdasan dan keberpendidikannya. Bulik tampak begitu senang dengan Widya. Ketiga adiknyapun demikian. Fatma dan Fitri bisik-bisik mengagumi kecantikan Widya.
Lukman tak kalah menawan. Dengan busana turki dan celana senada membuatnya berbeda dari biasanya. Sebenarnya ia bisa saja memakai sarung seperti Pakliknya, tetapi ia harus bisa menyesuaikan kondisi di kota saat ini. Sarung sering kali dianggap sebagai atribut orang tua meskipun tidak bisa dipukul rata.
"Bapak Ferdi sekeluarga, tujuan kami sowan ke rumah ini pertama adalah untuk bersilaturahmi" Paklik mengawali.
"Apakah Nak Widya punya persyaratan?" Tanya Bulik.
Pertanyaan itu penting dan harus, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Pertanyaan seperti ini penting dilakukan dalam proses pranikah agar keduanya dapat menjalani peran masing-masing dengan baik. Keduanya dapat mengetahui visi misi kedepan masing-masing dan dapat berjalan beriringan. Banyak sekali pasangan yang tidak mempertimbangkan hal ini sebelumnya, kemudian terjadilah sesuatu tak terduga dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya dalam hal karir, si perempuan telah memiliki pekerjaan yang cukup mapan, tiba-tiba setelah menikah sang suami melarangnya bekerja, tentu hal ini menjadi dilema bagi perempuan. Satu sisi ia ingin mengekspose potensinya, sisi lain ia harus menurut pada imamnya. Jika hal ini dibicarakan sebelumnya tentu lain ceritanya. Dalam hal tempat tinggal, momongan, sampai mahar pun hendaknya ada kesepakatan.
"Mmm...saya, ingin tetap mengajar setelah menikah nanti, dimanapun tempatnya, yang penting tetap diperbolehkan mengajar" jawa Widya.
Bulik manggut-manggut dengan tetap tersenyum sumringah.
"Insyaallah, mengajar adalah sesuatu yang mulia" komentar Lukman
Para hadirin lega mendengarnya.
"Mas Lukman sendiri, adakah persyaratan ?" Tanya salah satu kakak Widya.
"Saya.....ingin mengajak Widya setahun sekali ke Kediri ke makam orang tua saya. Karena hanya saat Idul Fitri saya bisa ke sana"
"Insyaallah dengan senang hati" jawab Widya malu-malu.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang masalah tempat tinggal Bapak, setelah menikah nanti mereka akan tinggal dimana, Lukman di Kediri sudah punya rumah, Nak Widya tidak perlu khawatir, tapi yaa rumah ala desa tidak sekonclong di sini, tetapi alangkah baiknya disepay dari sekarang, mau tinggal di mana" tanya Paklik.
Para hadirin tampak berfikir. Beberapa sedang berbisik-bisik mempertimbagkan pertanyaan itu.
"Ee.... saya sebagai orang tua Widya, menyerahkan masalah ini kepada anak saya, mau tinggal bareng di sini Alhamdulillah saya ada yang nemani, kalaupun menghendaki tinggal di Kediri, atau punya rumah sendiri di Surabaya silahkan saja, saya tidak punya permintaan khusus soal itu, biarkan ananda berdua yang merundingkannya" terang Pak Ferdi.
Semua yang hadir tampak puas dengan jawaban itu. Bulik kemudian menyerahkan bingkisan mukena dan kain sutera sebagai simbol ikatan pertunangan.
Sesi selanjutnya adalah ramah tamah alias makan-makan. Tidak sesi tukar cincin atau menyematkan cincin pertunangan di jari calon istri, bagi keluarga Paklik hal seperti itu masih dianggap tabu sekalipun itu merupakan hak biasa di kota. Masyarakat desa yang masih kental dengan adat istiadat dan religinya tidak menyetujui hal semacam itu karena mereka belum menikah kurang santun jika berpegangan tangan. Bahkan jika saja calon istri Lukman bukanlah orang kota, mereka tidak akan menyiapkan cincin pertunangan. Masyarakat desa lebih menyukai bahan kain ketimbang cincin. Sebab bahan kain adalah simbol pakaian. Istri adalah pakaian suaminya, jika pakaian itu rapi seseorag akan terlihat tampan, begitupun sebaliknya, diharapkan istri mampu menjunjung tinggi martabat sang suami dengan perilakunya. Di samping itu, pakaian berfungsi menutup aurot seseorang. Diharapkan seorang istri mampu menutupi keburukan suaminya.
Dalam sesi makan-makan mereka mengenal satu persatu masing-masing anggota keluarga. Karena sejatinya menikah bukan hanya menyatukan dua manusia tetapi juga dua keluarga.
***
Pukul sembilan pagi. Lukman duduk berhadapan dengan seorang pria yang tengah memeriksa sebuah dokumen. Lukman memberanikan diri ke tempat ini. Tempat tersembunyinya berbagai masa lalunya. Awalnya ia tak ingin mengambil kesempatan ini, sama halnya dengan menjilat ludah sendiri. Yah mungkin itu hanya pikirannya semata, tak seperti itu di mata orang lain. Tetap saja pikirannya telah mendominasi sekarang.
Lukman telah bertunangan sekarang, dalam waktu tiga bulan mendatang ia akan menjadi kepala rumah tangga. Ia harus berpenghasilan. Membuka usaha bukanlah solusi yang tepat dengan kondisinya kini. Tabungan yang sudah hampir habis tidak memungkinkannya menjadi wirausahawan. Namun kembali ke perusahaan yang lama butuh keberanian yang luar biasa. Bagaimana jika di tengah jalan nanti ia mengundurkan diri lagi, karena ingin membuka usaha misalnya, atau ingin pindah ke Kediri untuk kedua kalinya setelah menikah. Tapi bagaimanapun, ia butuh penghasilan saat ini. Hanya perusahaan ini yang asti menerimanya. Tentu saja bukan karena kemampuannya, tetapi dukungan Winda yang menjamin.
Greek... pintu ruangan di buka oleh seseorang dari luar.
"Hmmm butuh waktu cukup lama juga ya buat mikir, dua minggu lebih lo" Winda berdiri di tengah pintu sembari berkacak pinggang.
"Hehehe....masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan, sorry" jawab Lukman. Jujur saja ia sebenarnya malu menampakkan muka di depan Winda yang sudah banyak membantunya. Ia tak bisa memberi imbal balik yang sepadan, bahkan ketika Winda hanya membutuhkan tempat dihatinya pun belum bisa dituruti.
"Dimaafin sih, kalau mau traktir makan siang" ucap Winda dengan candaannya yang cuek namun lucu.
"Haish...."
"Mau ditempatin dimana dia Pak Arif?" Winda mengarahkan pandangan pada Pak Arif yang sedari tadi memeriksa dokumen.
"Ini....masih tersedia bagian pemasaran" kata Pak Arif ragu-ragu.
"Lukman sudah dipesan sama Pak Aji, dia akan nempatin posisi beliau, setahu saya beliau sedang ngurus pensiun"
Pak Arif tampak manggut-manggut. Lagi-lagi, suatu kebetulan ia menempati posisi yang bagus dengan menggeser orang lain meskipun bukan tujuannya dan bukan rencananya.
"Selamat bergabung kembali.... Lukman" Winda menyodorkan tangannya untuk dijabat. Akan terlalu tidak pantas jika Lukman tidak meraihnya.
Harus bagaimana memberitahu Winda bahwa Lukman sudah bertunangan. Gadis itu pasti kecewa berat. Akankah ia masih melindunginya jika tahu Lukman telah menjalin ikatan yang lebih serius. Posisi ini benar-benar menyulitkan. Jika saja ia tidak sedang kepepet atau ada alternatif pekerjaan lainnya, ia tidak akan datang kesini. Namun bukan berarti ini sebagai pelarian semata. Ia berharap pada dirinya sendiri akan mengabdikan dirinya di sini hingga pensiun nanti. Lalu bagaimana dengan Winda? Akankah ia bisa menerima Lukman yang sudah beristri nanti? Dulu ia tidka begitu peduli dengan semua cewek yang menyukainya, apakah mereka terluka, cemburu, patah hati atau tidak. Tetapi kali ini berbeda. Beitu banyakbyang dilakukan Winda untuknya. Seandainya Lukman bisa jatuh cinta pada Winda atau minimal mencoba membuka hatinya seperti yang ia lakukan pada Widya. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya tentang Winda. Entah apa.
__ADS_1
***