Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Belajar Tatag


__ADS_3

Perempuan itu sedang tergolek lemas. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Matanya tertutup rapat. Hanya tarikan nafas yang menandakan dia masih hidup. Selang oksigen menancap di kedua lubang hidungnya. Kepalanya tertutup turban abu-abu. Apa yang sesungguhnya terjadi padanya.


Lukman memandangnya melas. Pemandangan itu pernah ia lihat saat ibunya terbaring di rumah sakit. Persis seperti perempuan yang ia lihat saat ini. Hanya saja ia lebih beruntung karena fasilitas yang jauh lebih baik dari ibunya dulu.


"Terima kasih Mas Lukman mau datang" kata perempuan yang menemani pasien. Perempuan itu adalah kakak tertuanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi Pak?" Lukman bertanya pada Pak Ferdi. Yah, perempuan itu yang tengah terbaring itu adalah Widya, anak bungsunya.


"Awalnya pingsan, trus panas tinggi, sampek ngigo-ngigo" kata Pak Ferdi.


"Sebenarnya nggak koma, cuma gak begitu sadar aja, bentar melek bentar merem lagi. Fisiknya lemah banget. Dokter belum memastikan diagnosanya" sambung kakak tertua Widya.


"Sudah berapa lama seperti ini?" Tanya Lukman.


"Delapan atau sembilan harian lah" jawab Pak Ferdi.


"Widya... memanggil nama kamu dalam alam bawah sadarnya, mungkin dia punya kesalahan terhadap Mas Lukman, atau masalah pribadi" kata kakak tertua.


"Saya tidak begitu dekat dengan Widya jadi kecil kemungkinan Widya punya salah atau kami punya masalah" kata Lukman.


"Kami tidak tahu Mas, yang jelas kami meminta Mas Lukman untuk membantu kami memulihkan kondisinya"kata kakak tertua


"Itulah sebabnya setiap malam saya datangi rumahmu, saya berharap kamu pulang. Tuhan menjawab harapanku" sambung Pak Ferdi.


"Kami akan sangat berterima kasih atas bantuan Mas Lukman. Kami akan membalas budi. Jangan khawatir Mas" pinta kakak tertua.


"Oh jangan khawatirkan masalah itu, saya bukan orang seperti itu. Saya cukup dekat dengan Pak Ferdi, saya akan bantu semampu saya" kata Lukman.


Pak Ferdi beserta anak sulungnya terlihat lega dengan ucapan Lukman. Kemudian sang kakak membangunkan Widya pelan-pelan.


"Wid......Widya... Ada yang nyambangi, bangun Dek...sebentar saja" bisik sang kakak.


Terlihat kedua mata Widya bergerak dalam tidurnya, perlahan kepalanya bergerak, lalu jari-jarinya. Lukman mendekat dan berusaha membantu.


"Widya....ini aku Lukman. Bangun Wid....sebentar saja Wid" pinta Lukman.


Perlahan mata Widya terbuka, biasanya juga begitu tetapi tertutup lagi seolah tak kuat membuka mata lebih lama. Tetapi kali ini berbeda. Ia melihat wajah Lukman lekat-lekat. Ia masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya. Dahinya mengernyit. Ia memandang sekeliling.


"Dek....disambangi Mas Lukman. Jauh-jauh dari Kediri kesini" kata sang kakak.


Barulah Widya setengah sadar pemandangan di depannya adalah nyata. Mendadak ia mencoba bangun dari baringnya tetapi ditahan oleh kakaknya dan dibantunya meninggikan bantal agar lebih nyaman. Terlihat perbedaan yang jelas di raut wajah Widya. Meski masih terlihat lemas, tetapi lebih baik dari sebelumnya.


"Wid, kakak sama Bapak cari minum dulu, Mas Lukman tolong temani Widya dulu bisa?" Kata sang kakak.


Lukman mengangguk. Hal itu dilakukan agar mereka lebih leluasa ngobrol.


"Gimana sekarang? Apa yang dirasakan?" Tanya Lukman.


"Lemes aja, agak pusing dikit" jawab Widya.


Mereka lalu mengobrol ngalor ngidul menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting tetapi menjadi penting karena ternyata hal sepele itu mampu menghibur si sakit. Sesekali terdengar tawa kecil Widya meski agak lemah. Tak berapa lama perawat berkunjung untuk memeriksa secara berkala kondisi pasien sebelum dikaji oleh dokter.


"Tekanan darahnya yang awalnya rendah sekarang sudah cukup, sudah 100/80" kata perawat.


Widya tersenyum mendengar penjelasan perawat.


"Mbaknya sudah bisa bernafas normal? Jika sudah selang oksigen kami lepas ya" kata perawat lagi


Widya mengangguk.


"Sudah bisa ke kamar mandi sendiri? Jika sudah selang kencing bisa saya lepas" kata perawat lagi.


"Sebentar lagi jatah makan siang datang, jika mbaknya bisa makan, lebih baik makan tetapi jangan terlalu bayak karena sudah lama tida makan nasi karena selama ini dibatu dengan infus" jelas perawat.


Tak berapa lama makan siang datang. Lukman membantu Widya makan sesuai anjuran perawat. Pada daat itulah sang kakak masuk ruangan dan menyaksikan bagaimana adiknya berbinar-binar di samping orang lain. Sang kakak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Semua yang menyaksikan hal seperti ini pasti juga tahu, gadis itu menaruh rasa pada Lukman. Tak perlu dijelaskan secara detail. Semua telah terlihat jelas pada perubahan kondisinya setelah Lukman datang. Mungkin kondisinya memburuk saat Lukman memutuskan pindah ke desa dan tidak kembali lagi.

__ADS_1


Lukman pun merasakan hal yang sama. Ia tahu gadis itu memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Ia yak ibgin menolaknya seperti yang dilakukannya pada Winda. Tetapi juga bukan berarti ia akan menerima Widya begitu saja. Nama Wulan masih melekat erat di hatinya. Tidak mudah melepas rekatannya.


Pertama, Lukman ingin memulihkan kondisi Widya. Kedua, ia ingin membalas budi baik Pak Ferdi. Lalu ketiga, ia ingin menyelami terlebih dahulu bagaimana sosok Widya yang sejatinya. Tetapi ia juga harus hati-hati jangan sampai Widya menaruh harapan terlalu tinggi padanya sehingga ia bisa jatuh sewaktu waktu jika harapannya tak tergapai.


***


Mobil Lukman sudah masuk pelataran Rumah Sakit ketika mendapat chat dari Pak Ferdi. Rupanya Widya sudah dibawa pulang. Mobil bertolak menuju rumah pan Ferdi. Tidak terlalu jauh jaraknya. Cukup seperempat jam sudah sampai.


Widya terlihat sedang duduk di sofa di teras dengan kaki selonjoran. Begitu menyafari kehadiran Lukman, Widya menurunkan kakinya tetapi Lukman buru-buru menahan kaki Widya dan emnaikkannya kembali.


"Santai saja Wid, kamu perlu banyak rebahan" kata Lukman.


Widya tersenyum. Jelas terlihat ia sedang salah tingkah dengan kehadiran Lukman yang tiba-tiba.


"Oh ada tamu rupanya" kata Pak ferdi dari dalam rumah.


Pak Ferdi meminta seorang asisten rumah tangga untuk membuatkan minuman. Mereka berbincang sebentar. Kemudian Pak Ferdi alih-alih pamit ke belakang padahal sengaja meninggalkan mereka berdua.


"Ini aku bawakan bubur sumsum. Di desaku, kalau ada yang baru sembuh dari sakit akan dibuatkan bubur sumsum ini supaya cepat pulih, tidak lemas" kata Lukman.


Seorang asisten rumah tangga membawakan mangkuk dan sendok untuk bubur sumsum itu.


"Ini jamu beras kencur, biar lambungnya adem gak gampang mual" kata Lukman menyerahkan sebotol jamu.


"Makasih ya Mas, jadi ngrepotin" Widya malu-malu.


Kemudian disambung dengan obrolan ringan. Seolah mereka telah kenal lama padahal baru dekat setelah Widya masuk rumah sakit.


"Wah, Ada Mas Lukman. Sudah lama Mas?" Kakak tertua Widya datang bersama kedua anaknya dengan membawa beberapa cemilan.


"Saudara yang di Malang nanti mau datang Wid, ijinnya baru dapat kemarin. Dia juga khawatir akan kondisi kamu" kata Mbak Andari, begitu Widya menyebutnya.


"Mas Lukman nanti malam bisa kesini kan? Kita makan bareng, saya tahu lo jomblo gak ada yang masakin" ledek Mbak Andari


Lukman pun tertawa renyah. Dan ia menyetujui.


Malam harinya sesuai permintaan Mbak Andari. Lukman datang ke rumah Widya. Di sana sudah berkumpul anggota keluarga uang lain. Bahkan anak-anak mereka ikut serta. Awalnya Lukman agak canggung karena hanya dialah orang lain yang ada di sana, namun Mbak Andari tidak membiarkan itu berlarut lama. Suasana menjadi lebih hangat apalagi kakak Widya yang dari Malang pun menerima kehadirannya dengan hangat pula.


"Nanti mampir ke rumah mas Luky yah" sahut yang lain.


Jelas ini suatu pertanda. Mereka sedang menyinggung ke arah hububgan Lukman dengan Widya. Lukman tak ingin buru-buru. Ia ingin menyelami lebih dalam lagi tentang keluarga ini.


Makan malam tidak seperti orang kota pada umumnya. Makan malam keluarga ini tida dihabiskan di meja makan, melakukan di depan televisi dan sebagian di teras. Jadi setiap orang mengambil makanan yang diminati lalu berpindah makan di tempat yang disukai pula. Ada di ruang keluarga, ada di ruang tamu ada pula di teras atau dapur. Tetapi yang palihg banyak adalah di ruang keluarga. Di sana ada Lukman, Mbak Andari, Kakak Widya dari malang beserta suaminya. Widya ada di teras bersama para keponakannya.


Selesai makan sambil ngobrol Lukman berpindah ke teras. Menyadari kehadiran Lukman, Widya tampak salah tingkah. Ia membenahi duduknya agar terlihat anggun. Lukman duduk di sampingnya.


"Keluargamu.....hangat" komentar Lukman.


"Alhamdulillah..." Jawab Widya


"Senang rasanya punya saudara" kata Lukman.


"Mas Lukman tidak punya saudara? Anak tunggal?" Widya penasaran.


Lukman mengangguk. Sedikit ia ceritakan kisah hidupnya yang tanpa orang tua. Harus diakui Widya adalah gadis yang beruntung, keluarganya hangat, tidak kaku, Bapaknya begitu sayang padanya, saudara-saudaranya pun begitu. Harus diakui pula, keluarga ini berbeda jauh dengan keluarga Wulan yang serba formil. Keluarga ini saling mendukung satu sama lain. Bahkan ketika gagal menikah itu terjadi. Keluarga Wulan? Bagaimana mereka sekarang.


Widya tentu saja tak semempesona Wulan, tetapi diantara perempuan yang mengelilinginya, ia yang paling mudah digapai. Seorang dosen berhijab, tentu dinilai lebih tinggi dari wanita karir berbaju ketat. Meskipun sebenarnya tidak bisa jadi patokan. Tetapi masyarakat terlanjur menganggap begitu.


Lukman tak memandang Widya sebagai rasa cinta, melainkan masa depan. Melihat Widya membukakan matanya untuk kembali melangkah ke masa depan. Setalah kehilangan Wulan dan Wardah, Widya hadir secara tiba-tiba. Ada setitik keyakinan di hati Lukman. Namun sekali lagi, Lukman tidak ingin buru-buru juga tidak perlu terlalu percaya diri. Semua bisa saja fatamorgana. Bisa saja perlakuan sesaat dari keluarga Widya. Setelah Widya sembuh, bisa saja semua berubah. Semuanya menjadi serba mungkin sekarang


***


Widya terlihat dari kejauhan sedang berbincang dengan temannya. Oh tidak, itu bukan temannya, itu lebih terlihat sebagai mahasiswinya. Terlihat dari sikapnya yang menghormati Widya. Selesai berbincang, Widya menuruni tangga sebuah gedung. Lukman melihatnya dari jauh. Cara jalannya sungguh berbeda. Lebih berwibawa agaknya.


Lukman melambaikan tangan saat Widya memandang ke depan. Beruntung Widya langsung mengenali Lukman. Widya pun mendekat.


"Mas Lukman ngapain disini?" Tanya Widya sedikit terkejut tetapi terlihat jelas binar di wajahnya.

__ADS_1


"Jemput kamu, tadi aku ke rumah, Bapak kamu bilang kamu sudah masuk ngampus, ya udah aku susulin aja" jawab Lukman sabip membuka pintu mobil.


Lukman memberikan kode agar Widya masuk ke mobil. Ini pertama kalinya mereka dalam satu mobil. Pertama kali pula untuk Widya berada di mobil cowok. Bahkan ia belum pernah semobil dengan tunangannya yang kemudian gagal menikahinya.


Dalam perjalanan, Widya lebih banyak diam sedang Lukman lebih bahak ceriwisnya. Widya cenderung hanya menjawab pertanyaan dari Lukman dengan cukup singkat. Mungkin karena gugup berdampingan dengan orang yang disukai atau karena karakternya yang kalem. Beda jauh dengan Winda yang ceplas ceplos. Awalnya Lukman sedikit canggung tetapi ia bisa dengan cepat beradaptasi.


"Kok sudah masuk sih Wid? Beneran sudah sehat?" Tanya Lukman


"Sudah kok Mas, kelamaan di rumah bosen Mas" jawab Widya.


"Jangan lupa makan" kata Lukman


Widya tidak menjawab. Kata-kata itu sangat sederhana namun tinggi nilainya bagi Widya. Sehingga ia terlena beberapa waktu.


"Wid...." Panggil Lukman karena Widya tidak berkomentar apapun.


"Hm?"


"Jangan lupa makan....jangan sakit" ulang Lukman


"Hmmm iya Mas"


Sepanjang perjalanan dada Widya seperti alunan drumband. Berderu berirama dengan syahdunya. Ia tak ingin makan tak ingin minum juga tak ingin tidur. Ia hanya ingin duduk manis di situ. Sesekali ia melirik Lukman. Dan sesekali pula kepergok oleh Lukman. Malu pasti. Tapi ia bahagia meski hanya sekelumit waktu bertatap pandang secara tak sengaja.


"Mampir dulu gak papa ya, belum makan kan?" Tanya Lukman ketika mobil berbelok ke arah yang berbeda.


"Oh...iya Mas" rupanya Widya baru sadar bahwa mobil menuju arah yang berbeda setelah melihat sekeliling. Terlalu hanyut mungkin.


Mobil berhenti di sebuah food court outdoor. Saat itu sekitar pukul lima sore. Banyak anak SMA yang masih berseragam di sekitar taman dekat food court. Tempat ini ramai dikunjungi tiap sore dan malam. Apalagi jika malam Minggu ada live musik yang digandrungi para remaja.


"Udah pernah kesini?" Tanya Lukman iseng.


"Udah, tapi itu dulu banget sekarang banyak berubah"


Aku wanita


Yang punya cinta dihati


Ada dirimu dan dirinya


Di dalam hidupku...


Widya tampak menikmati lagu yang diputar pengelola food court.


"Suka lagunya atau ada cerita dibaliknya?" Ledek Lukman.


"Lagunya Mas enak banget, aku suka sama lagu-lagunya Rossa, semuanya enak semuanya menyentuh semuanya sarat akan makna" jelas Widya yang mulai terbuka.


Berapa banyak wanita yang menyukai lagu Rossa. Apakah kebanyakan wanita seperti itu? Menyukai lagu yang romantis yang ngepop abis yang sedikit mellow. Wulan dan Widya sama-sama menyukai lagu itu. Jika begini bagaimana Lukman bisa move on. Hatinya yang sudah hampir bangkit harus berjuang lagi. Hanya dengan satu alunan musik ditambah pengakuan Widya mendadak semua kenangan itu muncul kembali entah darimana datangnya.


"Assalamualaikum Mas Lukman.....!!!" Seseorang tiba-tiba datang dan menyapa Lukman dengan riangnya.


"Wa'alaikum salam.....Gembul apa kabar"


Keduanya berpelukan melepas rindu. Sebulan lebih mereka tidak bertemu. Tentu saja Lukman merindukan kawannya yang duak mencairkan suasana itu. Begitupun sebaliknya.


"Mas Lukman kapan balik? Kok gak kasih kabar Mas?" Tanya Gembul


"Nomerku ganti Mbul.....makanya gak bisa hubungi. Sini aku minta nomermu" kata Lukman.


Selesai mencatat nomer di hape, dilihatnya Gembul penasaran melihat perempuan di depannya.


"Oh kenalin, ini putrinya Pak Ferdi. Ingat kan Pak Ferdi?" Lukman memperkenalkan Widya sebelum terjadi penggojlokan lebih lanjut dari Gembul


"Oh iya iya, wah siiip. Pinter milih Mas Lukman" ledek Gembul


Sudah diduga pasti pembullian itu akan terlontar dari mulut Gembul. Dengan cepat Lukman memberi kode pada Gembul agar segera berlalu. Bukan apa-apa, masalahnya belum tentu Widya akan dimilikinya seperti Wulan. Lagipula mereka baru dekat semingguan ini karena peristiwa yang tak disangka itu.

__ADS_1


Semua ini hanyalah sekedar usaha. Usaha menyembuhkan Widya. Usaha membangkitkan hati Lukman yang sempat remuk. Surabaya sudah ia tinggalkan sebulan. Tetapi sesuatu membuatnya kembali lagi. Tampaknya ia harus belajar beradaptasi dengan patah hatinya. Ia harus belajar ikhlas ketika suatu saat bertemu Wulan dengan suaminya secara tak sengaja. Itu jika dia nantinya di Surabaya lebih lama. Tetapi jika harus kembali ke Kediri, ia pun harus belajar tatag (tegar) bila bertemu Wardah bersama keluarganya. Semua serba mungkin. Kemungkinan itu alangkah baiknya dipersiapkan dari awal.


***


__ADS_2