Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Widya


__ADS_3

13


"Mas ..Mas....bangun Mas..." Gembul menggoyangkan goyangkan tubuh Lukman yang terbenam di atas meja.


Lukman pun tersadar dari tidurnya.


"Kok tidur yo Mas... Untung ndak ada Manager yang lihat"kata Gembul kemudian. Lukman mengucek matanya mengumpulkan kesadarannya.


Segera Lukman mengambil air wudhu untuk menyegarkan mukanya.


"Semalam begadang yo Mas?" Tanya Gembul.


"Iya Mbul...lagi gak bisa tidur" Jawab Lukman masih sedikit ngantuk.


Beberapa saat kemudian office boy datang membawakan secangkir kopi susu atas permintaan Gembul.


"Wah..asyik nih ngobrolin apaan?" Winda tiba-tiba sudah ada di depan pintu. Lalu ia masuk dan duduk di samping Gembul.


"Mas Lukman ketiduran Mbak Bos tadi, trus saya bangunkan" jelas Gembul kemudian keluar ruangan. Jadilah di ruangan itu hanya Lukman dan Winda.


" Kamu masih ngerjakan tugas dari UNTAG? Buat apa? Kan sebentar lagi kamu lepas" tanya Winda penasaran.


"Bukan...bukan karena tugas, ya gak bisa tidur aja"


"Ada masalah?" Kejar Winda


Lukman diam sesaat. Apakah perlu menceritakan perihal lamaran yang ditolak itu pada Winda? Apa gunanya? Cowok pantang curhat lebay, apakah ada manfaatnya? Solusi? Atau justru ditertawakan?


"Man... Man...halooo" winda melambaikan tangannya di depan kuka Lukman. Sontak Lukman tersadar dari lamunannya.


"Eh..iya ada dikit, gak begitu penting" jawab Lukman


"Soal Wulan? Gak penting juga?"


Eit, darimana Winda tahu permasalahan yang dihadapi Lukman? Padahal Lukman tidaj pernah cerita pada siapapun, apalagi soal lamaran semalam.


"Yaa..... Entahlah Win, hubunganku rumit sama dia"


"Oh ya?" Winda sedikit terkejut dengan berita ini. Tetapi ia pun bersorak dalam hati. Winda menebak bahwa Wulan pastilah sangat over protective, manja yah setidaknya itulah yang ada di benak Winda saat pertama bertemu Wulan di kafenya.


"Kami terganjal restu orang tua"


"Delapan tahun Man?"


Lukman mengangguk. " Hampir sembilan malah" sambungnya.


Untuk sesaat Lukman seperti terhipnotis oleh Winda sehingga ia menceritakan perihal karirnya yang jatuh bangun karena ulah Pak Handi, papa Wulan.


"Hahaha kok aku jadi curhat sih" kata Lukman sambil membereskan tumpukan laporan yang sedikit berantakan. Lukman sadar telah jauh mengungkapkan dirinya yang sepatutnya menjadi rahasia.


"Kamu pernah jatuh cinta Win?" Entah kenapa tiba-tiba Lukman menanyakan itu. Awalnya iseng saja untuk mengisi obrolan siang itu. Lukman bukanlah tipe orang yang suka mendengar sisi lain dari orang lain.


"Pernah, aku jatuh cinta dengan pacar orang"


Sontak Lukman tersedak saat menyeruput kopi disambung dengan tawa gelinya.


"Pacar orang yang suatu hari nanti jatuh cinta sama gua" jawab Winda santai.


"Itu pelakor namanya"kata Lukman sembari membersihkan percikan kopi di mejanya.


"Pelakor itu kalo godain cowok orang. Lah kalo si cowoknya jatuh cinta sendiri ya nggak pelakor lah namanya"


"Terserah kamu lah Win, suka suka"


Obrolan siang itu diakhiri dengan canda yang ceplas ceplos. Sebenarnya Winda tidak main-main dengan yang diucapkannya tapi tetap saja terdengar kocak.


Obrolan itu bersambung saat arlojinya menunjukkan pukul 5 sore. Saat itu Lukman hendak pulang. Pak Aji muncul dari balik pintu kaca.


"Man..." Sapa beliau


Lukman yang hendak membuka mobilnya memilih berhenti menghormati Pak Aji yang bukan hanya karena atasannya tetapi juga karena usianya yg lebih tua.


"Ngopi yuk Man" ajak Pak Aji yang memang kerap ngopi bareng Lukman.


"Ehm... sebenarnya saya hari ini..." Belum selesai Lukman bicara, Winda muncul dari arah yang sama dengan Pak Aji.

__ADS_1


"Man... Mau pulang? Aku nebeng ya" pinta Winda.


Lukman sedikit bingung, siapa yang harus dituruti, mengantar Winda pulanh, ngopi bareng Pak Aji atau meneruskan rencananya takziah ke rumah Pak Ferdi.


"Oh Mbak Winda, sekalian aja kita ngopi bertiga" sahut Pak Aji.


Winda menoleh ke Pak Aji, lalu ke Lukman, kemudian ke Pak Aji lagi.


"Kalian mau ngopi?"


Lukman bingung menjawab sedang Pak Aji menunggu jawaban.


"Oh ya udah aku naik grab aja, sorry aku belum terbiasa ngopi sih" kata Winda kemungkinan berlalu dengan mengutak atik hapenya. Bukan itu alasan winda sebenarnya. Winda kurang suka ngobrol dengan orang tua. Baginya tidak akan nyambung. Awalnya ia berharap bisa makan malam dengan Lukman.


"Man....kamu lagi ada acara?" Tanya Pak Aji


."sebenar iya Pak, saya mau takziah ke rumah Pak Ferdi" jawab Lukman


"Siapa yang meninggal Man?"


"Istrinya Pak Ferdi pak, sudah tujuh harian semalam Pak" jawab Lukman.


"Saya tidak dengar beritanya sama sekali Man, kalo gitu ayo barengan, kita mampir makan dulu ya, nanti kesana sama-sama"


Lukman mengangguk. Ide yang cocok. Mereka mampir di sebuah warung penyetan selepas sholat Magrib.


"Man... Bapak mau tanya, kamu jawab yang jujur ya, anggaplah aku ini Bapakmu sendiri," kata Pak aji di sela-sela makan.


Lukman mengangguk.


"Kamu suka sama Winda anaknya Pak Direktur?"


Uhuk...uhuk.... Lukman terbatuk batuk tersedak oleh makanan yang ia kunyah.


"Bapak ini pertanyaannya kok aneh" jawab Lukman


"Loh ini serius, jawab Man"


"Tidak Pak, kami hanya teman"


Lukman mengangguk sambil tersipu.


"Kalau begitu, dengarkan Bapak baik-baik. Jauhi Winda, jangan terlalu dekat dengan anak itu. Meskipun dia baiknya gak ketulungan sama kamu. Jauhi,. Hindari"


"Tapi kenapa Pak...?"


"Man, manusia polos seperti kamu akan sulit untuk menilai sikap orang lain. Bocah wedok kui, suka sama kamu"


"Ah masak Pak.... Saya sama Winda kan..."


"Eit....ojo ngeyel kamu, coba oikir, buat apa dia terus minta kamu anter, kenapa gak bareng Papa nya, atau bawa mobil sendiri, mobilnya kan bayak, rusak satu ya pakek yang lain .."


Benar juga. Tapi apakah mubgiin menghindari Winda? Gadis itu seperti punya pintu kemana saja milik doraemon uang bisa menemukan dimaa saja Lukman berada dan bisa tiba-tiba muncul. Enakkah menghindar Winda? Bagaimana jika gadis itu tersinggung? Lagipula jika memang benar gadis itu menaruh rasa pada Lukman, kenapa harus dijauhi? Bukankah kunci ada pada Lukman, asalkan Lukman tidak menyambut bukankah aman saja.


"Man...aku gak jadi ikut ke Pak Ferdi ya Man, ini anakku pulang dari Singapore, aku sudah kangen sama cucuku Man, besok aku kesana sendiri sama istri" kata Pak Aji tiba-tiba dengan terburu-buru.


Baiklah. Lukman harus berangkat sendiri.


Sampai di rumah Pak Ferdi. Pagar terkunci rapat. Tetapi pintu rumah masih terbuka. Itu artinya di rumah ada orang. Lukman mengetuk pintu pagar beberapa kali. Muncullah perempuan berjilbab ungu dari balik pintu yang terbuka. Perempuan itu yag datang semalam ke rumah Lukman.


"Assalamualaikum Mbak Widya" kata Lukman


"Wa'alikum Salam...oh Mas Lukman" Widya segera membukakn pintu pagar dan menyuruh Lukman masuk.


Kini mereka duduk di teras berdampingan hanya disekat oleh meja kecil.


"Bapak sedang ke dokter Mas" kata Widya


" Siapa yang sakit?"


"Bapak, tekanan darahnya tinggi, mungkin karena masih berduka"


Suasana mendadak sepi. Menambah mencekamnya malam ini. Suasana duka semakin kentara dengan raut wajah Widya. Tampak sekali ia terpukul dengan kehilangan ibunya. Siapa yang tak berduka ditinggal orang terkasih untuk selamanya. Lukman pernah merasakan itu saat usia belasan tahun.


"Ibuku juga sudah meninggal Mbak, saat aku masih MTs" kata Lukman.

__ADS_1


"Oh ya Mas? Sakit apa?"


"Demam berdarah. Saat itu ada wabah demam berdarah. Banyak orang meninggal termasuk ibu saya"


"Betapa beratnya kehilangan orang yang kita sayangi ya Mas"


"Kita menyayangi ibu kita, Tapi Allah lebih sayang padanya"


Widya memandang Lukman. Matanya berkaca-kaca. Tak ingin larut dalam kesedihan, Widya pamit ke dapur.


Lukman berkesempatan melihat album foti di rak samping sofa. Ada foto-foto Bu Ferdi. Mubgkin memang senhaja di pasang di ruang tamu untuk mengenang beliau. Ada foto gadis kecil yang imut yang diyakini adalah Widya, ada foto pernikahan kakak-kakak Widya dimana ia masih usia SD.


Dari balik album foto itu jatuhlah selembar kertas warna biru. Sebuah undangan pernikahan. Tertulis di dalamnya, Widya Saraswati,M.Pd dengan Agus Suherman, M.E. Widya akan menikah.


Widya kembali dengan beberapa toples cemilan.


"Silahkan Mas..."


"Terimakasih Mbak...."


"Tolong jangan panggil saya Mbak, panggil Widya saja ya..."


"Eh..iya..."


Lukman mencicipi cemilan yang dihidangkan.


"Ibu kamu pasti sangat bahagia di sana, apalagi sebentar lagi kamu....akan melangsungkan pernikahan"


Widya menunduk cukup lama, dari balik kerudung ungunya tampak tetesan air mata.


"Wid... Wid...sorry Wid"


Widya mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya dengan tisu.


"Apa boleh aku menceritakan sesuatu sama Mas Lukman?" Tanya widya lirih.


Lukman cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Widya. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi.


"Dua bulan lagi aku menikah, tapi...calon suamiku membatalkan pernikahan kami, padahal gedung, catering, undangan sudah deal semua"


Lukman semakin terkejut demgan penuturan Widya.


" Ibu jadi drop sampai meninggal, itu yang membuat aku merasa bersalah"


"Kalau boleh tahu kenapa dibatalkan?"


"Salah satu keluarganya tidak menyetujui, dengan alasan yang berbelit-belit"


Lagi - lagi tentu karena kasta. Pasti


calon suaminya itu tajir melintir.


"Yang membuat ibu lebih drop lagi, aku dengar kabar dua minggu lagi dia menikah dengan gadis pilihan keluarganya"


Wajahnya mulai mendung. Betapa berat beban hidupnya. Bukan hanya pernikahannya yang batal, rasa malu lebih mendominasi. Keluarga besarnya tentu sudah menyiapkan banyak hal untuk merayakan datangnya anggota baru. Undangan itu mungkin sebagian sudah disebar. Bagaimana Widya menjawab satu persatu pertanyaan dari undangan yang terlanjur datang. Atau teman-temannya yang menanyakan kepastian pernikahannya mereka. Sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah kehilangan calon suami, ia kehilangan ibunda.


Widya, sekalipun berat hidupnay tampak sekali ia berusaha untuk menahan diri, menahan tangisnya agar tak terdengar sedikitpun.


Deru mobil terdengar dari luar. Dari mobil keluarlah Pak Ferdi bersama salah seorang anak perempuannya. Lukman beserta Widya menyambut kedatangan beliau.


"Lukman.... Alhamdulillah" Pak Ferdi senang melihat tamu yang satu ini datang.


Mereka berpelukan.


"Apa kabar Pak?"


"Yaaa namanya sudah tua ya bertahan hidup" pak Ferdi mengajak Lukman duduk di dalam ruang tamu.


Tampak sekali kerinduan di mata Pak Ferdi. Sudah hampir dua bulan ternyata mereka tidak bertemu. Berbagai topik mereka perbincangkan. Hingga waktu menunjukkan jam 10 malam sampai Lukman mengantuk, namun Pak Ferdi masih terus mengajak ngobrol.sampai Widya datang dan mengingatkan Bapaknya.


"Wah sudah setengah sebelas rupanya, nggak terasa" kata Pak Ferdi sampai terkekeh.


Lukman berpamitan. Hanya sedikit yang dilakukan Lukman, hanya mendengar dan ikut menyambung. Tetapi cukup untuk membawa angin segar bagi beliau.


***

__ADS_1


__ADS_2