Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Edward


__ADS_3

Yen gelem tak jak rabi


Yen ra gelem tak jagongi


sing ra penting pikir keri


Siara riuh ramai para karyawan di deoan oanggung mini semarakkan suasana. Hari ini mereka berpesta. Mereka akan meminta lagu apa saja yang mereka suka. Mereka juga berhak ikut bernyanyi menyumbang lagu apapun yang mereka suka.


Wulan bersama kedua orangtuanya duduk satu meja. Mereka menyaksikan oara karyawan yang sedang bersenang- senang. Sesekali Pak Handi tertawa melihat tingkah polah karyawan.


Dari pintu masuk, ada beberapa orang yang datang disambut dengan pelukan oleh Pak Handi. Tentu itu adalah kolega bisnisnya. Ada dua orang laki -laki dan satu orang ibu - ibu. Yang perempuan berpelukan dengan Bu Handi lalu bercipika cipiki. Kemudian mereka semua duduk satu meja.


"Baiklah para hadirin kami ucapkan selamat datang direktur utama PT Angkasa Pradana, Bapak Handi Sanjaya, jajaran petinggi PT Angkasa Pradana, bapk ibu kolega bisnis, bapak ibu pejabat sipil beserta seluruh karyawan PT Angkasa Pradana" begitu pembawa acara membuka acara.


" Pada malam hari ini kita bersama-sama merayakan ulang tahun PT Angkasa Pradana yang ke 33 tahun. Semoga semakin jaya sukses dan memberikan kontribusi yang positif bagi negara"


Hari ini adalah hari berdirinya perusahaan yang awalnya dipimpin oleh kakek Wulan dan kini kerajaan bisnis itu dipegang oleh Pak Handi, Papa Wulan.


"Ini Wulan anak saya" kata Bu Handi memperkenalkan Wulan pada tanu perempuan yang satu meja dnegannya. Tampaknya satu keluarga ini adalah tamu kehormatan malam ini.


"Wah cantik ya, kuliah, kerja atau masih sekolah?" Kata tamu perempuan.


"Baru saja lulus S2 " jawab Bu Handi dengan bangga.


"Oh ya? Selamat cantik, sama dong dengan anak saya, baru saja lulus S2 dari Jerman" kata tamu perempuan tak kalah bangganya.


Mereka berdua sesama seorang ibu sedang asyik membaggakan anak masing-masing.


"Kami panggil beliau direktur utama PT Angkasa Pradana, Bapak Handu Sanjaya" panggil MC.


Pak Handi memenuhi panggilan pembawa acara untuk naik ke atas panggung guna meniup lilin ulang tahun.


"Kami mohon keoada Ibu Handi Sanjaya beserta putrinya untuk ikut hadir dipanggung ini"


Wulan dan Bu Handi pun ikut naik ke panggung.


" Baiklah para hadirin marilah kita nyanyikan lagu happy birthday untuk perusay kita tercinta sambil beliau bapak direktur meniup lilin"


Tiba-tiba saja Pak Handi merehut mikrofon dari tangan pembawa acara.


" Mohon maaf, sebelum itu semua, saya ingin ditemani oleh sahabat saya, kolega bisnis saya, tamu kehormatan saya, Bapak Damadi Notoharjo"


Rupanya nama itu adalah tamu laki-laki yang satu meja dengan Wulan. Beliaupun turut naik ke atas panggung. Dimulailah acaractiup lilin diringi dengan lagu happy birthday dan tepuk tangan uang meriah.


Selesai prosesi ulang tahun yang terdiri dari tiup lilin , potong kue, serta potong tumpeng. Kini giliran para karyawan kembali bersenang-senang. Musik kembali diputar. Semua kembali bergoyang dengan favorit masing-masing.


" Wulan, ini sahabat Papa, Pak Damadi" Pak Handi mengenalkan Wulan pada tamunya.


"Cantik sekali, mirip Mamanya"


Wulan tersipu malu.


"Oh iya, Ed... Kemana ini anak...Ed..Ed..." Pak Damadi menengok ke kanan, kiri dan belakang mencari seseorang.


Seseorang lalu datang mendekat.


"Iya Dad?" Kata seseorang yang baru datang.


"Kenalin, ini anak saya Edward, baru pulang dari Jerman, nah yang duduk sama kita tadi itu menantu saya" kata Pak Damadi.


"Ed... Ini sahabat Daddy, Pak Handi, dan ini putrinya, Wulan, cantik ya" sambung Pak Damadi.


Pak Handi tersenyum lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat.


"Oh hallo" sapa Edward.


"E... Wulan, ajak Edward untuk berkeliling biar tidak bosan" kata Pak Handi.


Anggap saja inj adalah tugas seorang karyawan dalan menghadapi klien. Wulan menurut dan melaksanakan perintah Papanya yang sekarang adalah atasannya.


Mereka berdua berkeliling kantor melihat - lihat isi kantor. Sesekali Edward berdiri di atas hiasan lukisan atau pahatan kayu dari Jepara.


"Pak Edward mau minum?" Tanya Wulan.


"Oh, boleh kita minum dulu ya" jawab Edward.


Meja minuman ada di area acara, mereka masuk kembalu ke area menuju sebuah meja yang penuh dengan gelas dan berbagai jenis minuman.


"Ini secang Pak. Warnanya merah tapi bukan sirup. Ini berguna untuk menambah stamina Pak" kata Wulan.


"Oh...jadi seusai pesta ada pesta lagi begitu??" Celoteh Edward.


Pertanyaan yang sulit dimengerti. Apa maksudnya pesta seusai pesta.


"Mmm... maksudnya??" Wulan bingung.

__ADS_1


" Di sini disediakan minuman penambah stamina, berarti..... Ada pesta lagi.... pesta...uwik uwik hahahaha"


"Dasar mesum" Wulan hendak beranjak pergi tetapi kemudian Edward menahannya.


" Eeeh...tenang cantik...sabar ... aku cuma bercanda, lagian kenaoa bilang penambah stamina, bilang aja menjaga kesehatan, jangan sewot begitu" bujuk Edward.


Wulan berusaha menguasai diri. Ia tahu porsinya bukan lagi anak direktur tapi porsi pegawai menghadapi klien. Ia menarik nafas panjang kemudin berusaha tersenyum.


"Maaf Pak, saya salah sangka" katanya kemudian.


"Mari kita sambut meriah" suara pembawa acara dari kejauhan. Tampak Bu Handi naik ke pnggung. Lalu piano dimainkan. Bu Handi membawakan lagu masa sekolah dulu. Kisah kasih di sekolah. Lagu yang populer di jamannya.


"*****...suara sengak kayak gitu pakek nyanyi segala" gerutu Edward sambil minum segelas secang.


Mungkin Edward belum tahu bahwa perempuan yang sedang bernyanyi itu adalah Mama Wulan, gadis yang kini disampingnya. Wulan merasa risih sebenarnya tetapi ia mencoba menahan.


Selesai Bu Handi bernyanyi musik berubah romantis.


"Para hadirin, silahkan mencari pasangan masing-masing untuk berdansa, yang jomblo harap bersabar" ucap MC yang kemudian disambut tawa para karyawan jomblo.


"Bisa dansa?" Tanya Edward.


Wulan menggeleng.


" Oh sayang sekali"


Edward menghentikan karyawati yang melintas di hadapannya.


"Malam nona, will you dancing with me?" Tanya Edward kemudian


Siapa yang mampu menolak dansa dengan putra petinggi seperti Edward. Apalagi wajahnya yang cukup tampan.


Mereka berdansa mesra sekali. Wulan semakin risih melihatnya. Sekitar lima menit Edward datang lagi.


" Begitu caranya dansa, nah, yuk" ajak Edward, Wulan tetap menggeleng namun ia tak kuasa menahan tarikan tangan Edward yang memaksanya.


" Mudah sekali kan?" Kata Edward memandang tajam wajah Wulan.


Wulan berusaha menghindari tatapan Edward


" Maaf, mungkin gayaku terlalu urakan, sorry karena sudah lama tinggal di luar negeri jadi kebawa sampai sini"


Kali ini Wulan bisa menerima.


" Di Jerman berdansa itu hal yang biasa. Justru mengajak orang berdansa berarti menghormatinya"


Mereka kemudian duduk di suatu meja.


"Ceritakan tentang Jerman. Kayaknya seru" pinta Wulan.


Edward menggeleng sambil meneguk sebotol minuman bersoda.


"Nggak seseru di Indonesia, Apalagi ketemu cewek suka sewot" Edward melirik Wulan.


Wulan mencibir, kali ini ia tidak tersinggung. Ia tahu itu hanyalah cara untuk mengakrabkan diri.


"Hahahah.... Jerman, 5 tahun aku di sana...sebuah kota besar yang padat penghuni"


Edward minum sebentar.


" Mereka suka pesta, suka dansa, seperti yang kubilang tadi, dansa adalah cara orang menghormati orang lain. Dalam acara kayak gini nih, laki - laki mida akan megajak berdansa ibu-ibu tua sebagai penghormatan. Dan para ibu-ibu akan sangat senang sekali"


"Ya udah kamu ajak dansa aja Mamaku"


Edward menggeleng.


"No no no no nanti sewot sama kayak anaknya"


Wulan tersenyum geli. Lucu nih orang, pikirnya.


"Di jerman itu, kehidupannya bener bener individualis. Tetangga gak saling kenal, gak saling sapa kalo gak penting banget. Tapi positifnya gak saling urus. Lo mau ngapain aja itu bukan urusan gue, jafi gaj ada yang namanya gosio, ngejudge apalagi menganggap orang lain sesat"


Edward minum sekaleng Coca-Cola,. Wulan mendengarkan dengan seksama.


"Alkohol sudah menjadi kebutuhan wajib di sana apalagi musim dingin, tiap ada acara apa saja pasti ada alkohol, kalau diainibkan itu barang tabu. gue gak munafik sih, gue juga konsumsi alkohol, tapi ya lihat- lihat lah, kalu di sini gak bakalan gue sentuh. Gile bayangin aja kalo musim dingin brrrr gak bakalah kuat kalo gak dihangatkan dengan alkohol"


Wulang manggut-manggut.


" Ada satu lagi kebiasaan yang mungkin di sini tidak diperkenankan, yaitu samenleven"


"Samen...samen apa?"


"Samenleven. Itu adalah istilah ubtuk orang yang bersama kekasihnya itu, kalau di sini namanya...mmm....kerbau...kerbau berkumpul ya..."


"Hmm ...kumpul kebo"

__ADS_1


"Nah ..nah..itu"


"Hmmm kamu juga gak munafik kalau...."


"Hahahahha....mmmm pernah sih, cuma bentar"


Wulan terkejut.


"Oh ya?? Sama orang Jerman tulen?"


" Hahaha bukan, orang Semarang hahahah"


"Gila bener"


"Dia yang minta hahahha"


"Trus gitu dong"


"Enggak lah, nggak sampek, cuma dua hari juga"


Awalnya Wulan tida menyukai cara pandang Edward bahkan terkesan risih dengan perilakunya. Tetapi memang benar tak kenal maka tak sayang, setelah ngobrol agak lama Wulan memahami bahwa Edward tidak seperti yang dipikirkannya. Laki laki itu hanya ingin mendekat, mengakrabkan diri, beradaptasi meskipun agak kaku.


***


Sabtu sore


Wulan bangun tidur pukul 16.30 wib. Sehabis mandi ia mencium aroma masakan yang sedap. Ia pun meuju dapur, Bu Handi ditemani tiga pembantunya sedang masak besar.


" Wuih.... Masak besar nih" Wulan menggoda Mama nya.


"Sudah bangun sayang? Bantuin mama gih" kata Mama


"Okey"


Wulan menata masakan di piring dan mangkuk besar. Sementara tiga pembantunya sibuk membuat garnis dan menata di meja makan. Dilihat dari tatanan yang tidak biasa sepertinya aka ada tamu datang. Tapi itu tak membuat Wulan kaget sebab seringkali keluarga mereka menghadirkan tamu kolega ke rumah untuk sekedar makan malam. Kali ini pun pasti sama.


Pukul 19.00 wib. Tamu yang dinantikan pun datang. Dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, salah satunya sudah sukup akrab dengan Wulan.


"Hay....." Sapa salah satunya.


"Hay...." Jawab Wulan.


Pak Handi tampak senang Wulan bisa dekat dengan tamu itu.


" Mari silahkan duduk Pak Damadi....Ed ... Apa kabar?"


Edward dan Pak Handi berpelukan"


"Baik Om"


Setelah cukup lama bercengkrama di ruang tamu, Bu Handi mempersilahkan para tamunya untuk menuju ruang makan.


"Silahkan dinikmati seadanya" kata bu Handi.


" Wah, ada masakan padang, ada khas Jawa ckckck Bu Handi ini memang benar-benar kreatif" puji Bu Damadi.


"Ayam kecapnya ini bikinan Wulan lo, monggo dicoba" kata Bu Handi.


Wulan kesal, Bu Handi bohong, padahal Wulan cuma menata makanan di meja saja. Dari sinilah Wulan merasa ada sesuatu yang bukan sekedar makan malam.


" Edward sekarang kegiatannya apa?" Tanya Bu Handi.


" Bantu - bantu Daddy Tante, sekaligus jadi sopir pribadinya Daddy" canda Edward.


"Kebetulan, Daddy nya Edward buka cabang baru di Sidoarjo, yang nantinya akan dipegang sama Edward" tukas Bu Damadi.


Bu Handi dan Pak Handi semakin terkagum kagum.


"Kalau Wulan, kegiatannya apa?" Giliran Bu Damadi yang bertanya.


"Sama seperti Edward, bantu-bantu di kantornya Papanya" jawab Bu Handi


" Wah Dad, kayaknya cocok ini ya Dad" Bu Damadi berbisi pada suaminya tetapi sengaja diperdengarkan.


"Hehehe mana mau Mom, gadis secantik Wulan mana mau sama anak kita yang pas pasan, pasti sudah punya pacar itu" canda Pak Damadi.


Wulan mulai tidak nyaman. Ia mulai mencurigai ada sesuatu yang memang direncanakan. Mimik wajahnya sudah tak secerah sebelumnya.


"Oh belum ..belum... Wulan belum punya calon...ya ini masih cari-cari hahahah" sahut Pak Handi.


Malam itu, yang awalnya cair menjadi beku tatkala mereka menyinggung tentang perjodohan. Padahal oragtua Wulan paham betul ada Lukman di sisi Wulan yang masih menjalin kasih meskipun belum direstui.


Edward. Dari gelagatnya mulai tertarik dengan Wulan yang oriental. Wajah manisnya tidak ditemukan di Jerman. Hidunghya tak semancung wanita Jerman, bibirnya tak setebal dan seseksi gadis Jerman. Tetapi khas asianya membawa daya tarik tersendiri.


Sambil berbincang sambil menikmati hidangan, Edward mencuri pandang gadis cantik yang tepat di depannya. Sesekali tatapan mereka bertemu namun buru - buru Wulan menunduk dan Edward mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Wulan memikirkan Lukman. Terus memikirkannya. Tidak boleh ada celah untuk pria lain. Ia terus memikirkannya. Membuat pikirannya sibuk agar tak ada rongga sedikit pun.


***


__ADS_2