
Sinar mentari memancar menerobos celah celah jendela kantor membentuk siluet yang cantik di dinding. Secangkir kopi susu telah teesedia di meja. Tumpukan kertas yang siap direkap. Komputer yang menyapa dengan dering yang khas.
Pagi ini cerah, secerah wajah Lukman yang sumringah. Semakin cerah tatkala ia membaca pesan singkat di hapenya. Sebuah kabar baik. Keesokan harinya setelah peristiwa kaburnya Wulan, orangtuanya membawa Wulan ke klinik untuk divisum. Dan hari ini hasilnya keluar. Dari hasil visum dinyatakan wulan sehat tanoa ada cacat, dan bagian yang paling intim pun masih baik. Tentu saja, mereka memang tidak melakukan apa-apa.
"Aduuuuuh pagi-pagi udah senyam senyum aja" entah kapan datangnya Winda, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan meja dengan setumpuk dokumen di tangannya.
"Hahahah kamu ngejutin aja" timpal Lukman.
"Udahan pacarannya, kerja.. .kerja"
Lukman tertawa senang telah membuat kawannya iri.
"Oh ya Man, nanti jam 10 ada meeting di riang atas, kamu diminta ikut sma dewan direksi. Yaa dengerin aja lah" kata Winda lalu keluar ruangan.
Ini bukan pertama kalinya supervisor dilibatkan dalam meeting. Jadi wajar jika hari ini Lukman pun diminta hadir.
Jam 10.15 wib.
Ada belasan orang di ruang meeting. Tetapi satu-satunya supervisor adalah Lukman. Hari ini dialah pegawai paling rendah yang hadir dalam rapat.
Tak berapa lama datanglah tiga orag yang katanya dari perusahaan periklanan. Salah seorang diantaranya membuat Lukman cemas. Pasalnya, beberapa kali ia berhadapan dengan orang itu dan kehilangan pekerjaan.
Tak disangka setelah bekerja selama dua tahun di sini, yang awalnya baik-baik saja, harus berurusan kembali dengan orang itu. Pak Handi. Lukman menunduk agar tidak dikenali oleh pak Handi.
Terlihat Pak Gustaman, direktur utama perusahaan yang kini ditempati Lukman beranhkulan dengan Pak Handi. Kemudian beliau memperkenalkan Winda pada pak Handi. Selesai basa-basi, rapat dimulai.
Perusahaan Pak Handi, Pak Gustaman dan satu lagi dari perusahaan periklanan akan mengadakan kerjasama. Selain itu mereka juga bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk meluncurkan produk yang ramah lingkungan.
Dua jam berlalu. Rapat masih berjalan dengan banyak sekali pembahasan.
"Gimana menurut kamu Winda?" Pak Gustaman bertanya pada putrinya.
"Ide bagus, tetapi ada beberapa kontrak yang sepertinya harus direvisi" Winda berpendapat.
Para hadirin membaca kembali salinan kontrak yang dibagikan.
"Oh begitu, coba mungkin Nak Winda ada saran" pak Handi bertanya.
"Oh, saya belum menemukan ide untuk itu, tapi mungkin teman saya punya usul, Lukman ..gimana menurut kamu?"
Lukman mengangkat kepalanya. Sebenarnya ia tak ingin mengusulkan apa-apa. Winda telah menggagalkan usahanya agar tidak dikenali pak Handi.
Sementara Pak Handi yang kurnag memperhatikan, cukup surprise dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Musuh bebuyutannya hadir di depannya. Pemuda yang tempo hari kabur bersama putrinya itu kini ada dihadapannya. Pemuda yang sudah beberapa klai ia hancurkan kini tumbuh lagi. Persis seperti rumput liar yang sulit dimusnahkan.
"Mmm saya punya usul bagaimana kalau...." Kata Lukman ragu-ragu.
"Tunggu dulu bapak ibu hadirin. Saya ingin mengatakan sesuatu" Pak Handi mengada berdiri.
"Pemuda ini... Bagaimana bisa pemuda yang dengan latar belakang tidak jelas ini bisa hadir di rapat intern seperti ini. Mohon Pak Gustaman ruangan ini hanya diisi oleh para karyawan yang mumpuni' sambungnya.
"Eh....Pak Handi mohon bersabar dulu, kami sudah memilih staf terbaik kami untuk ikut rapat pak" bujuk Pak Gustaman.
"Pak Gustaman belum mengerti laki-laki seperti apa yang telah berbicara di depan saya ini" kata Pak Handi.
Semua yang hadir bengong. Baru kali inu mereka menghadapi situasi yang kacau seperti ini
"Pemuda ini sudah dipecat berkali-kali oleh perusahaan lain. Saya heran bagaimana bisa perusahaan ini menerima laki-laki macam ini....jadi saya sarankan perusahaan ini untuk memberhentikan dia sebelum sesuatu
Yang tidak diinginkan terjadi"
Pak Aji, Pak Arif dan semua yang hadir hanya bisa melongo. Di saat seperti itu, Winda berdiri untuk angkat bicara.
" Maaf Pak Handi yang saya hormati, mohon beri kami kejelasan mengapa kami harus memecat salah satu staf kami?"
"Nak Winda, pemuda itu adalah penipu. Gayanya seperti orang kaya, berpendidikan tinggi, tetapi ternyata hanyalah lulusan SMA, hal itu untuk menarik gadis-gadis anak orang kaya. Nak Winda harus hati-hati"
Winda tampak geram.
"Bapak ibu yang terhormat,. Kita yang berpendidikan, beretika, Apakah mau sebangku dalam rapat penting seperti ini, dengan seorang pegawai rendahan lulusan SMA?"
Para hadirin hanya tolah toleh.
"Para bapak ibu, biarkan kami memberikan klarifikasi, Lukman adalah salah satu karyawan terbaik kami. Memang pertama masuk menggunakan ijazah SMA tetapi yang bersangkutan berupaya untuk meningkatkan pendidikan dengan mengambil kuliah S1 UNTAG. Universitas tempat saya kuliah. Jadi tidak salah jika Lukman masuk dalam rapat ini" Winda menjelaskan.
"Dan perlu bapak ibu ketahui, perusahaan kami bekerjasama dengan negara Jepang, dan kami mendapatkan kehormatan untuk mengikuti pendidikan di perguruan tinggi di Jepang untuk 4 orang. Dalam hal ini, Lukman terpilih sebagai satu diantara 4 orang untuk menjalankan misi tersebut" sambung Winda
"Apakah perlu saya beberkan siapa dia sebenarnya?"
__ADS_1
Winda kali ini terdiam masih dengan posisinya yang berdiri.
"Pemuda ini, sudah membawa kabur seorang gadis. Coba bapak ibu pikirkan, apakah itu hal yang baik?"
Winda memandang Lukman yang tetap tertunduk. Winda puj mengerti, laki-laki habg sedang marah itu pastilah Papa Wulan. Pantas saja begitu bencinya dengan Lukman.
"Maaf Pak Handi, bolehkah kami tahu, anak gadis siapa yang dibawa kabur oleh Lukman?"
Pak Handi terdiam. Bagaimana ia harus menjawab. Apakah ia akan mengatakan sejujurnya bahwa anaknya lah yang menurutnya dibawa kabur, bukankah itu hal yang memalukan. Tanpa sadar ia terjebak oleh ucapannya sendiri.
"Selama bukan anak gadis Bapak, mengapa Bapak yang bingung?"
"Winda... Winda... sudah duduklah...."pinta Pak Gustaman tetapi Winda tetap berdiri.
"Anak kawan saya, kalau dia mau, dia bisa saja lapor polisi atas tuduhan penculikan" sambung Pak Handi.
"Jika Lukman mau, dia bisa saja lpor polisi atas tuduhan penganiayaan, kami punya bukti punya hasil visum dan juga kamera cctv di gang rumahnya Lukman"
Mendadak wajah Pak Handi pucat pasi. Sedikit keringat keluar di dahinya.
"Baik jika perusahaan ini tidak memberhentikan laki-laki ini saya mengundurkan diri atas kerjasama kami. Terima kasih"
Pak Handi dan beberapa stafnya meninggalkan ruangan. Sontak seluruh ruangan jadi riuh. Para hadirin mengobrol sendiri-sendiri dengan topik yang sama.
Pak Gustaman mengejar pak Handibtetapi sepertinya tidak berhasil. Pak Gustaman kemudoan kembali ke ruangan dan meminta maaf pada kolega yang lainnya. Untunglah mereka memahami dan mungkin juga mulai mengerti sifat asli Pak Handi yabg turut membawa masalah pribadi pada bisnis.
"Wonda... ikut ke ruangan Papa..._ perintah pak Gustaman setelah para tamu pamit pulang.
Di ruangan Pak Gustaman.
Winda duduk dengan tenang di hadapan ayah sekaligus atasannya.
"Winda, bagaimana bisa kamu belain karyawan rendahan dan mengabaikan tender yang besar" pak gustaman marah-marah.
"Saya melakukan yang benar Pa, perusahaan kita harus memberikan perlindungan pada seluruh karyawan yang dilecehkan, katanya slogannya kita keluarga, giliran aak buah di caci maki Papa diam saja" winda balik marah.
"Tapi sayang, ini tender besar. Hilang sudahbaduuuh"
"Jadi Papa mau nurutin perintah orang itu? Mai memecat Lukman?"
"Kalau perlu begitu. Kita lepas ikan teri untuk dapat ikan lele sayang"
"Nggak gitu sayang...begini lo..."
"Oke .kalau Papa mau pecat Lukman, Winda batal ke Jepang"
"Wah jangan sayang itu kan untuk masa depan kamu"
"Biarin"
" Oke semua sudah terlanjur.ya sudahlah, jawab pertanyaan Papa dengan jujur. Kenapa kamu begitu membela Lukman?"
Winda diam sesaat kemudian menjawab
"Lukman pantas mendapatkan itu Pa, dia karyawan yabg baik, prestasi yang cemerlang, bayangkan saja dalam waktu kurang dari setahun dia suda mendapatkan jabatan supervisor. Bukankah itu luar biasa, Papa tahu, semua ide-ide brilian yang datang dari divisi produksi itu dari Pak Aji, dan Pak Aji dapat dari Lukman"
Pak Gustaman tampak berpikir.
"Apa jangan-jangan kamu suka sama Lukman"
Pertanyaan menohok. Winda bibgung mesti jawab ap. Apakah akan secepat itu ngomong ke Papanya? Si ayah pasti akan menuruti tapi apa tidak terlalu terburu-buru.
"Nggak lah Pa, kami berteman sudah cukup lama, Lukman pantas dipertahankan untuk perusahaan ini"
Tanpa sadar Lukman mengintip dari balik pintu. Ia ingin tahu apakah dirinya akan dipecat atau tidak. Tetapi justru mendapatkan pembelaan yang begitu besar dari seorang kawan. Dia berhutang budi pada gadis itu. Dia benar-benar berada di garis depan untuk melindunginya. Lukman merasa tidak enak belakangan ini menolak mengantar dia pulang karena ada acara lain. Juga karena meuruti Pak Aji untuk menjauhinya.
***
Tidak seperti biasanya, setengah empat kantor sudah sepi hanya beberapa orag yang sedang beres-beres. Dari jendqla kantornya, Lukman melihat Winda tengah duduk di taman depan kantor. Saat sore hari suasana du taman itu memang begitu asri. Hawa hangat menambah damainya suasana.
Lukman segera turun dan menemui Winda yang sedang sendirian.
"Win..."sapa Lukman.
"Hay..."Winda menoleh.
"Belum pulang? Mau aku anter?"
__ADS_1
"Hahaha....enggak Man aku bawa mobil sendiri"
Tidak seperti biasanya yang ceplas ceplos, Winda kali ini agak kurang bergairah.
"Kau lagi mikir apa?" Tanya Lukman menyadari keanehan sikap Winda hari ini.
"Aku tadi sempat berdebat sama Papa, aku nyesel juga sampek gontok-gontokan gitu sama Papa" kata Winda memelas.
Lukman semakin tidak enak atas peristiwa hari ini.
"Win....maaf ya... tadi pagi, seharusnya tidak perlu belain segitunya, aku sudah biasa pindah-pindah kerja"
"Aku yang gak biasa ditinggal pindah" jawab Winda singkat.
"Terima kasih. Aku gak nyangka lo, kamu berani"
"Kalau saja aku ketemu preman yang nonjokin kamu, makin seru. Aku kan preman juga"
Lukman tertawa dengan jawaban kocak gadis berambut pendek di sampingnya.
"Kamu hutang sama gua Man"
"Iya beres non, mau ku traktir apa?"
"Gak mau, aku punya duit kalo cuma makan"
"Lah trus?"
"Cariin gue jodoh"
"Ha?" Sesaat Lukman terdiam serasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Hahahhahah enggak lah aku bercanda doang. Aku lagi susah Man"
Lukman bersiap mendengarkan.
" Aku takut ketemu Papa nanti di rumah, Papa gak mungkin nyakitin aku, justru sebaliknya dia bakal nurutin senua yang aku mau, ada sejarahnya"
"Oh ya?"
"Hmm, dulu waktu masih bayi, aku mengalami keracunan kehamilan, setelah lahir aku harus diinkubasi dalam waktu yang relatif lama, satu setengah bulan masih dalam perawatan. Dokter bilang paru-paruku sudah terkena kotoran yang kumakan sendiri. Jantungku berdebar kencang kala merespon rangsangan Mama, harapan hidupku hanya sekitar tiga puluh persen, dan saat itu Papaku berjanji jika nanti aku selamat ia akan memenuhi semua yang aku inginkan..."
Winda menyeka air matanya
"Tapi aku bukan cewek manja yang memanfaatkan keadaan Man, aku gak akan minta macem-macem"
Lukman manggut-manggut.
"Tadi oas berdebat antusias banget, begitu selesai ya gini, aku ngrasa bersalah sama Papa, orang tua gue gontokin begitu"
Lukman mengagumi sosok Winda yang berani namun masih sangat menghormati orang tuanya. Tangan lukman merangkul pundak Winda dengan maksud untuk menenangkan. Telapak tangannya mengelus kuat lengan Winda. Winda yang sedang gelisah tanoa sadar membenamkan keoalanya di dada Lukman. Sebuah sandaran lelaki mufa yng belum pernah ia rasakan. Winda mulai merasakan kenyamanan di sana. Hangatnya yubuh Lukman dan degupan janyungnya turut menjadi bumbu. Rasanya tidak ingin buru-buru dilepaskan.
Tak berapa lama rangkulan itu berhenti. Dari arah kanan berjarak belasan meter, seseorang berdiri memaku.
Menyadari ada sosok yang berdiri, Lukman menoleh. Bagai petir di siang bolong. Bagaimana bisa Wulan berdiri di sana, sejak kapan?
Setelah sekitar dua puluh detik saling pandang, Wulan berbalik arah dan melangkahkan dengan cepat.
"Wulan....wulan...tunggu Wulan...." kejar Lukman
Seberapa cepat langkah Wulan tetap terbury oleh Lukman. Segera ia tarik tangan Wulan dan memutar tubuhnyabhingga kini mereka benar-benar berhadapan wajah dengan wajah.
"Aku bisa jelasin Lan, kamu salah paham" bujuk Wulan.
"Apa yang akan kalian lakukan kalau aku gak datang kesini dan gak mergokin kalian.ha?!" Wulan marah
"Nggak ada nggak akan ngelakuin apa-apa" bantah Lukman.
"Oh ya? Man, kamu cowok, dia cewek kalian berduaan di sini, siapa orang yang gak akan memandang negatif?"
Lukman menunduk, kali ini benar bersalah, dan benar merasa bersalah.
"Mungkin kamu gak niat untuk selingkuh Man, tapi setan itu pinter banget ngrayu manusia, kalian bisa saja melakukan lebih dari itu apaagi kalian sekantor"
Winda meluncur pergi dan Lukman sudah tak kuasa menahan kepergian Wulan. Biarlah dia tenang dahulu besok bisa dibicarakan lagi.
Ia kembali ke tempat Winda berada dengan maksud meminta Wonda menjelaskan apa yang telah terjadi hari ini pada Wulan. Tetapi winda sudah tidak di tempat.
__ADS_1
***