
"Selamat pagi Pak Supervisor" ucap Wulan di seberang.
" Hahaha, selamat pagi tuan puteri" jawab Lukman.
" Eh salah, panggil aku new miss akuntan"
"Wuisy..."
" Ini hari pertamaku Man kerja di kantor Papa"
"Oh ya? Hari sabtu gini? Selamat ya! "
"Ya masih adaptasi dulu masih ikut ikutan aja dulu belajar sama yang senior. Senin baru masuk beneran. Doain lancar ya, doain aku gak ngecewain Papa"
"Semoga sukses, lancar, Amin"
"Amin... Kamu lagi dimana?"
"Ini nunggu bis di halte mau ngampus"
" Kok naik bis? Motor kamu mana?"
" Dipinjam Gembul, katanya pacarnya dirawat di rumah sakit, dia butuh motor untuk kesana kemari, motornya lagi mogok dibengkel"
"Gembul punya pacar??? Hahaha... Ya udah salam buat Gembul. Penasaran banget aku sama tuh orang. Kapan - kapan ajakin jalan bareng donk!" Pinta Wulan
" Hehehe double date kayaknya asik tuh"
" Iya hehehe"
Lukman dan Wulan memang selalu cerita tentang apapun. Tak ada yang dirahasiakan. Kecuali perihal orang yang membuat Lukman dipecat beberapa kali. Sampai kapanpun akan tetap menjadi rahasia. Ada alasan yang kuat dibalik itu. Biarlah tetap seperti itu. Itu jauh lebih baik. Itu bukan kebohongan tapi kebijakan.
Lukman masih menunggu bus datang di halte. Tiba-tiba seorang gadis berambut pendek menghampirinya.
"Mas, numpang tanya, bengkel mobil sekitar sini mana ya?" Tanya gadis itu.
"Wah masih jauh mbak sekiloan lagi baru ada bengkel, kalo jalan kaki ya gempor mbak" jawab Lukman
"Waduh gimana dong, ya udah deh mas makasih ya!"
Gadis itu kembali ke mobilnya. Tampak ia sedang menelepon seseorang berkali kali. Kemudian mondar mandir di sekitar kobil putihnya. Lukman yang merasa kasihan kemudian mendekatinya.
" Gimana mbak, sudah ada pertolongan?" Tanya Lukman.
"Belom Mas, sopir gue diteleponin dari tadi kagak ngangkat, sial banget dah gua" gerutu gadis itu.
" Tadi mogoknya gimana?" Tanya Lukman sambil melihat lihat kondisi mobil
"Tadi pas jalan tiba-tiba berhenti gitu aja. Bagian mesin depan itu panas banget tadi" jelas gafis berambut pendek.
"Bolah saya cek Mbak?"
Gadis itu mengangguk senang.
Lukman membuka pelan - pelan mobil itu tampak sedikit asap keluar dari mesin. Lukman membiarkannya sebentar. Lalu mengutak atik mesin mobil.
" Mobilnya baru dipakek perjalanan jauh ya Mbak?" Tanya Lukman sambil mengutak atik mesin.
" Iya bener semalam perjalanan dari Jogja. Kok tahu?"
"Air radiatornya habis mbak. Besok lagi sehabis perjalanan sebaiknya mobil di cek dulu mbak. Ini kehabisan air radiator. Sebenarnya nggak papa sih. Cuma kalo keseringan bisa ngerusak mesin" jelas Lukman.
Lukma kemudian membeli air mineral di toko terdekat
"Mobilnya bisa dinyalain Mbak sambil kuisi radiatornya"
" Oh iya"
Gadis itu masuk ke mobil lalu menyalakan mesinnya. Selang sepuluh menit mobil sudah normal kembali.
" Wah makasih ya Mas"
"Sama-sama" kata Lukman sambil mengelap kedua tangannya.
" Ini Mas sedikit rasa terima kasih" gadis itu menyodorkan selembar uang seratus ribuan. Enyah kapan ia mengambilnya.
" Oh nggak Mbak , maaf saya gak seperti itu. Saya cuma nolongin. Saya ikhlas Mbak maaf" tolak Lukman.
"Gak papa Mas saya juga iklhas pleas Mas diterima ya!"
" Maaf Mbak saya gak bisa. Sudah Mbak mari..." Lukman buru - buru meninggalkan tempat.
Tak lama kemudian mobil putih yang mogok tadi tiba di depannya.
__ADS_1
" Ya udah deh Mas kalo gak mau terima. Mas mau kemana?" Tanya gadis itu dari dalam mobil.
" Ke kampus Mbak" jawab Lukman setengah berteriak.
" Iya kampusnya mana?"
" UNTAG"
" Ayok barengan. Aku juga mahasiswa UNTAG"
Kebetulan sekali. Sedari tadi tidak ada angkutan umum yang leeat dan serta merta ada tumpangan gratis. Lukman pun menerima tawara. Gadis itu. Ia takut terlambat datang.
" Semester berapa Mas ?"
"Semester 2 Mbak, Mbak sendiri?"
" Jangan panggil Mbak ah, canggung. Aku Winda, semester 8"
"Oh saya Lukman"
" Jurusan apa Luk....eh gimna nih biasanya manggilnya..."
" Hahaha....Man aja Mbak"
" Ntar dikira Paiman"
" Hahaha....gak lucu "
" Gak lucu kok ketawa"
"Hahaha...saya jurusan manajemen"
" Pas banget, kita sama loh. Aku juga jurusan manajemen."
" Lumayan nih bisa pinjam tugas tugasnya dong" celutuk Lukman.
" Enak aja mikir sendiri"
"Hahaha"
Sepanjang perjalanan mereka ngobrol seperti telah kenal lama. Winda begitu mudah bergaul dengan orang asing. Tidak banyak gaya, tak banyak basa basi tetapu humoris. Tak henti hentinya Lukman dibuat tertawa dengan celutuknya yang ringan namun lucu.
Sampai di kampus mereka berpisah setelah berterima kasih tentunya. Lukman segera menuju kelasnya berharap tidak terlambat apalagi kelasnya ada di gedung baru di lantai tiga yang belum ada liftnya. Selesai melaksanakan kewajibannya di kelas lukman segera turun. Ia mejuju kantin untuk membeli air mineral. Lalu ia menuju taman yang banyak dikunjungi mahasiswa karena akses wifinya. Hari ini ada tugas yang cukup banyaj untuk seminggu ke depan. Lukman tak ingat n membuang waktu. Sore itu juga ia menyicil tugas.
" Hay..."sapa Winda mengejutkan.
"Baru selesai bimbingan, lagi apa?"
Lukman terlihat serius dengan laptopnya.
"Ngerjain tugas" jawanya singkat.
Winda memanjangkan lehernya mencuri tahu apa uang dikerjakan Lukman.
"Oh tentang itu, aku ada tuh materi itu, statistika ekonomi kan mata kuoiahnya. Aku punya tuh buku-buku statistika ekonomi. Ya di perpus mungkin ada tapi kan harus nyari-nyari dulu. Bekum lagi kalo rebutan sama yang lain kan. Mau?"
"Boleh...boleh... Dibawa?"
"Ya nggak lah ntar aja deh aku anter"
" Iji aja Win...aku pakek seadanya aja lah."
Winda manggut-manggut.
" Hampir Maghrib. Pulang yuk" ajak Winda.
"Duluan aja Win. Aku nunggu maghrib. Sholat dulu kuatir gak keburu sampai rumah"
Winda malu sendiri. Ketahuan sering bolong.
"Oh iya, sampek luoa. Iya deh aku nungguin maghrib juga" winda menutupi malunya.
Selesai sholat Maghrib Winda sudah menunggu di gerbang mushola.
"Win...belum pulang?" Tanya Lukman.
" Nungguin kamu. Kita barengan ya"
"Wah gak usah Win, ngrepotin. Aku naik gojek aja." Tolak Lukman.
"Gak papa kita kan searah"
Rasanya gak enak nolak terus. Apa salahnya, pikir Lukman. Ia pun menyetujui.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Seperti waktu berangkat, selama perjalanan diisi dengan guyonan yang gak penting tapi cukup sebagai hiburan.
" Win, rumahku udah kelewat Win" kata Lukman bingung saat mobil terus berjalan padahal rumah Lukman sudah terlewati.
"Ke rumahku dulu ya Man, ambik buku yang aku hilang tadi
Lukman menurut saja meskipun agak dongkol di hatinya.
Kini mereka sampai di pintu gerbang rumah Winda. Dua orang satpam membuka pintu gerbang yabg megah. Mobil masuk dalam sekali barulah terlihat rumah Winda. Rumah mewah yang super duper megah. Persis seperti istana kepresidenan. Bercat putih dengan gaya yang modern
Winda turun dari mobil diikuti Lukman. Lukman beruenti di depan mobil sedang Winda berlari ke dalam rumah. Tak lama kemudian keluarlah perempuan ibu-ibu dalam rumah. Ia memandang Lukman dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
Tidak berapa lama Winda keluar dengan setumpuk bukunya.
"Man sini Man" panggil Winda.
Lukman mendekat.
"Ma, ini Lukman teman kuliahku. Tadi dia gak bawa kendaraan makanya aku tebengin. Trus ini tadi dia pinjam buku aku, ni sekarang aku mau anterin dia pulang" terang Winda.
Mamanya menarik lengan Winda lalu bergeser mundur dan berbisik
"kamu ini cewek kok nganterin cowok sih, gak pantes lo Win" pelan sekali namun tetap terdengar oleh Lukman.
"Alah Mama apaan sih cuma nganterin doang"
Tanpa pikir panjang Winda mengajak Lukman kembali ke mobil. Kukman menganggukkan kepala tanda sapaan hormat.
Mobil kembali melaju keluar pintu gerbang. Dalam perjalanan suasana berubah jadi hening. Hanya ada suara musik jazz di mobil.
"Tadinya aku mau ngajakin kamu makan tapi gak enak lah kamu banyak tugas gitu hehehe" kata Winda memecah kesunyian.
Lukman dia saja
"Eh lagunya enak ya, kami suka gak?" Winda kembali mencoba memecah keheningan.
" Win, aku nggak enak tadi sama Mama kamu. Aku ini kan cowok masak cewek nganterin cowok pulang. Harusnya tadi aku naik gojek aja. Atau naik bus " kata Lukman kemudian.
" Alah udah lah Man, Mama emang begitu orangnya. Maklumlah aku ini kan putri bungsu jadi ya kuatirnya berlebihan"
" Ya tapi tetep aja gak enak. Gak pantes lah. Kamu gak lihat tadi ekspresinya Mama kamu ke aku"
"Sudahlah Man nanti sampai rumah aku jelasin ke Mama. Kami gak usah terlalu mikir itu lah. Gak penting"
Sampai di rumah Lukman. Mereka turun dari mobil.
" Ini rumah kamu?" Tanya Winda.
"Bukan. Ini kontrakan. Dulu aku tinggal di rumah kos gitu tapi setelah duit terkumpul aku ngontrak di sini. Lebih enak. Lebih bebas. Lebih bisa ngatur segalanya"
"Lebih bebas bawa cewek" celutuk Winda.
"Hahaha... Apaan kamu ini, makasih ya Win, udah dianterin pulang, udah dipinjemin buku. Pokoknya makasih banget" kata Lukman.
"Okey..."
"Mau masuk dulu atau langsung pulang?"
" Ngusir?"
"Hahaha ya nggak lah. Yuk duduk dulu" ajak Lukman.
"Pengen sih, tapi nggak ah. Situ banyak tugas"
Selalu saja membuat tertawa.
" Besok aku jemput ya" Winda menawari.
" Gak usah lah Win aku bisa berangkat sendiri" tolak Lukman.
Winda menengok ke kanan dan kiri.
"Aku lihat di sini gak ada mobil gak ada motor. Mau ke kampus naik apa?" Katanya kemudian
"Ada gojek ada grab. Gampang lah"
"Ada nona sopir Winda" katanya dengan genitnya. Lukman kembali tertawa.
Winda kembali ke mobil putihnya. Tampaknya gadis itu tertarik pada Lukman. Winda gadis yang cantik. Hidungnya mancung. Rambutnya pendek di bawah telinga. Ada semir cokelat sedikit di rambut sebelah kanan. Gayanya centil namun sedikit tomboy. Ceplas ceplos namun justru terlihat ketulusan dan kepolosannya. Sederhana meskipun anak orang kaya. Tetapi dari perangainya sepertinya ia anak yang manja.
Winda membawa warna baru dalam kehidupan Lukman. Selama ini ia selalu serius apalagi dengan setumpuk tugas dan segudang masalah yang ia hadapi. Selama ini canda tawanya hanyalah ketika ada Wulan. Kini hadir orang lain dengan segudang humor yang enteng.
Di sisi lain. Dalam perjalanan pulang, Winda tak henti hentinya mengingat kejadian hari ini yang luar biasa. Sesekai iabtersenyu sendiri. Siapa sangka ia akan bertemu sesosok pria yang pas sesuai kriterianya. Sederhana, tinggi, gagah, tampan mudah diajak ngobrol dan mudah guyonan. Ditambah lagi taat beribadah. Hanya saja bukan anak para borjuis.
__ADS_1
Winda. Gadis 21 tahun yang sempat menjadi primadona di sekolahnya jatuh cinta hanya pada pria biasa seperti Lukman. Ada sesuatu yang membuat Lukman berbeda dengan teman - teman prianya. Entah apa itu. Winda sendiri sedang mencari apa keistimewaan Lukman sampai mampu menjerat hati tuan putri satu ini.
Winda. Gadis cantik yang dimabuk asmara.