
11
Tidak seperti biasanya jalan pagi ini begitu ramai. Macet tak dapat dihindari. Masih pukul 6 pagi tetapi udara sudah mampu membakar tubuh.
Kemacetan terjadi karena sekitar 700 meter di depan sana sedang ada perbaikan jalan. Kalau tahu begini Lukman tentu lebih memilih naik motor saja.
Hari ini ia mencoba mobil barunya. Bukan baru sih, ia membelinya dari Pak Aji, Asisten Manajer yang merekomendasikannya naik jabatan. Pak Aji yang sudah kelewat baik pada Lukman memberi kelonggaran untuk mencicil semampunya. Pak Aji mengerti bahwa Lukman harus membagi keuangannya untuk kuliah juga. Mobil itu sudah berumur puluhan tahun tetapi mesinnya masih bagus. Tinggal dipoles sedikit bagian tubuhnya agar lebih kinclong seperti baru. Itu gampang. Yang penting punya dulu.
Lukman ngoyo untuk punya mobil karena dalam waktu dekat ia akan melamar kekasihnya untuk kedua kalinya setelah sebelumnya ditolak mentah-mentah karena ehm kurang kaya. Kali ini ia akan mengusahakan sekiat tenaga dan pikirannya agar dapat memenuhi syarat Pak Handi. Mapan, berpangkat, berpendidikan. Kali ini harus berhasil.
Ditengah kemacetan itu hape Lukman berbunyi. Pak Aji menelepon.
"Halo..Man kamu dimana? Masuk kan hari ini?" Tanya Pak Aji dengan sedikit nada khawatir.
"Iya Pak ini dijalan, macet pak, ada perbaikan jalan di dekat gedung Siola" jawab Lukman.
"Waduh kenapa lewat situ, dari dua hari lalu di sana sering macet"
"Saya baru tahu hari ini Pak, maaf"
"Ya sudah usahakan segera sampai ya, mau ada tamu di kantor"
Setalh hampir dua puluh menit akhirnya mobil lukman bisa bergerak maju meski pelan-pelan dan seharusnya ia berterima kasih kepada para bapak pengatur jalan yang bukan berasal dari petugas berwajib.
Wgak terlambat Lukman sampai di kantor. Tapi jabatannya menyelamatkannya. Segera ia menuju ke ruangannya dengan langkah yang semakin dipercepat. Ketika hampir sampai di ruangan, Gembul melintas di depannya. Menyadari kehadiran Lukman, Gembul berhenti dan menghentikan langkah Lukman.
"Telat Mas?" Tanya Gembul.
"Macet Mbul...Eh Mbul...Mbul... Tamunya sudah datang?"
"Sudah Mas, di ruang meeting atas Mas, cepetan Mas semua sudah berkumpul di sana"
Lukman semakin cepat bergerak. Ia meletakkan tasnya di meja di ruangannya lalu segera menuju ruang atas melalui tangga. Terlalu lama jika menunggu lift.
Sampai di ruang meeting, Lukman duduk di deretan paling belakang dengan mengendap endap. Pak Dirut sedang berbicara di depan. Jangan sampai melihat Lukman yang terlambat datang
" Baiklah para mitra yang saya banggakan. Saya persilahkan anak saya untuk memperkenalkan diri" begitu kata Pak Dirut.
Seorang perempuan muda di samping Pak Dirut berdiri dan meberikan salam hormat kepada yang hadir di situ.
Mata Lukman terbelalak melihat apa yang ada di depan sana. Lukman mengucek matanya memastikan ia tidak sedang bermimpi berhalusinasi atau mayanya yang mulai rabun. Ia memicingkan mata berkali kali. Yang oa lohat di depan sana adalah sosok yang familiar.
"Selamat pagi para mitra yang saya hormati. Perkenalkan saya Malwinda Patricia Nasution, bapak ibu bisa memanggil saya Winda. Saya disini ingin belajar bersama bapak ibu, sembari saya melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi saya. Saya berharap bapak ibu bersedia membagi ilmunya untuk saya. Di sini porsi saya sudah bukan anak dari bapak direktur tetapi sudah sebagai pegawai magang. Karena itu Bapak ibu saya mohon untuk bersedia sharing bersama demi peningkatan diri saya khususnya dan umumnya untuk kemajuan perusahaan ini. Terima kasih"
Selesia perkenalan disambut dengan tepuk tangan dari para pegawai. Winda adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Ya sudah diduga bahwa Winda adalah anak orang uang punya usaha besar tetapi siapa sangka kalau usahanya berada di sini, ditempat Lukman bekerja.
Winda yang tomboy dan ceplas ceplos itu ternyata mampu berbicara secara formal dihadapan umum. Semakin kentara kualitas Winda yang sebenarnya. Cerdas. Hanya saja jika ia mau berdandan lebih feminim lahi pasti akan tambah sempurna.
Para hadirin meninggalkan ruangan satu persatu setelah memberikan selamat pada Winda. Lukman sengaja agak melambat supaya dapat lebih lama bertemu teman kuliahnya itu.
"Maaaan!!!!!" Benar saja, Winda terkejut kegirangan bertemu Lukman dalam satu ruangan.
Lukman tersenyum lebar sampai ia lupa pimpinannya masih di ruangan itu.
"Pa, ini lo cowok yang aku ceritain, lucu abis Pa" kata Winda.
"Oh ya dari divisi mana?" Tanya Pak Dirut.
"Saya Lukman Pak, supervisor bagian C dari divisi produksi" jawab Lukman dengan sopan.
"Oh bagus itu, Win, kamu bisa belajar sama dia. Kalau sama-sama muda kan pasti bisa nyambung" kata pak Dirut.
Untungnya Pak Direktur tidak memandang Lukman sebagai bawahan yang tidak pantas berteman dengan putri direktur.
__ADS_1
Mendengar itu tentu saja Winda menyambut gembira. Dengan seijin Papanya, Winda berkeliling kantor hingga melihat-lihat pabrik ditemani Lukman.
"Kamu kok gak cerita sih Man kalau kamu kerja disini" kata Winda sambil berjalan-jalan.
"Kamu gak nanya"
"Sumpah aku surprise banget loh, tadinya aku sempat ragu apa aku bisa adaptasi di sini. Tapi begitu ada kamu semakin mudahlah urusanku di sini"
Lukman menunjukkan tempat pembuatan produk dan mengenalk Winda kepada para karyawan yang sedang bekerja. Serta merta mereka menyambut hormat. Winda tampak puas dengan sikap mereka.
Mereka kemudian duduk suatu tempat dekat tempat produksi untuk sekedar melepas lelah.
"Gimana Wulan?" Tanya Winda tiba-tiba.
"Baik"
"Wulan pasti adalah perempuan yang paling bahagia, mendapatkan cinta dari cowok seperti kamu, pekerja keras, lucu lagi"
"Hahaha...."
"Kapan diresmikan?"
Pertanyaan yang menyiksa. Sama tersiksanya seorang jomblo yang ditanya kapan nikah. Jauh lebih tersiksa lagi ketika lama berpacaran belum juga nikah. Lukman mengulum senyumnya berusaha santai.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan "sebentar lagi, tunggu aja"
Pukul 4 sore. Lukman keluar dari dalam lift. Rambutnya masih basah oleh air wudhu. Di ujung lobi terlihat Winda tengah berbincang dengan asyiknya bersama Gembul.
"Wah ..... Asyik nih. Ngobrolin apa?" Sela Lukman.
"Ini lo mas, potret pimpinan uang patut diacungi jempol....cantik pinter gak sombong lo" puji Gembul.
Winda hanya tertawa ringan.
"Eit...tapi saya sudah punya pacar lo Mbak bos"
Mendengar itu Winda dan Lukman tertawa lebar.
"Man, pulang bareng aku yuk!" Ajak Winda.
"Oh aku bawa kendaraan Win" jawab Lukman.
"Mobilnya Mas Lukman ini baru Mbak Bos," sela Gembul.
"Oh ya, wah selamat ya" Winda sebenarnya kecewa karena gagal pulang bareng tapi ia paksakan untuk tersenyum.
Seakan tak kurang akal, Winda masih punya segudang trik lagi. Esok hari pagi sekali Winda menelepon katanya mobilnya mogok lagi dan dia minta dijemput Lukman. Jika dipikir pikir mobilnya kan banyak dia bisa ganti dengan mobil yang lain atau yang paling masuk akal dia bisa bareng Papa nya. Hitung - hitung sebagai balas budi, Lukman pun menuruti.
Sampai di depan kantor, Gembul menyambut dengan senyuman khasnya.
"Selamat pagi Mbak Bos" katanya
Winda menjawab dengan senyum ramahnya lalu bergegas masuk ke dalam. Sedang Lukman masih harus memarkir mobilnya.
"He Mas Lukman, cuuuocok lo Mas" kata Gembul yang membuntuti Lukman ke parkiran.
"Apanya Mbul?"
"Sampean sama Mbak Bos Winda, jan ngeten (begini)" jawab Gembul sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
"Hahaha..."
"Sama yang sering telepon itu sudah putus to Mas?"
__ADS_1
Lukman paham yang dimaksud adalah Wulan.
"Mulai lagi kamu Mbul ah" jawab Lukman sambil lalu.
"Loh Mas jawab sek to Mas... Woey Mas. Ojo isin lah Mas..(jangan malu lah Mas)."
Lukman tetap berlalu sambil tertawa geli.
***
Hari ini Winda tidak masuk kantor, rumor yang beredar Winda akan mengurus kuliahnya di luar negeri. Saat para karyawan sedang sibuk bekerja, Lukman dipanggil Pak Dirut.
Ia melangkah dengan sedikit ragu. Baru kali ini ia dipanggil oleh pemilik perusahaan. Biasanya jika pegawai biasa dipanggil oleh pimpinan itu pertanda yang kurang baik. Bisa jadi dipecat atau mendapat teguran keras.
Dipecat? Bukanlah hal baru. Ia akan siap jika saja tidak ada janji akan melamar Wulan dalam waktu dekat. Jika hal itu terjadi maka semua kembali sia-sia. Syarat utama tidak didapatkan, itu artinya gagal lagi, ditolak lagi.
Lukman menyangka mungkin ada hubungannya dengan Winda. Bisa jadi Pak Dirut tidak suka Lukman terlalu dekat dengan Winda. Bisa dimaklumi. Tetapi jika memang karena itu, Lukman sudah siap jawaban. Soal tebengan tempo hari, Winda yang meminta, soal ruangan yang bergeser dekat dengan ruang Lukman, itu juga Winda yang minta. Begitu juga cuti setengah hari untuk mengantar Winda menyelesaikan skripsinya itu juga permintaan Winda. Tinggal apakah Pak Dirut memahami atau tidak.
"Silahkan duduk saudara Lukman" begitu kata Pak Dirut begitu Lukman masuk ruangan.
Kini dia tepat di depan pemilik perusahaan. Ia bisa melihat jelas wajah sang direktur yang baru beberapa kali ia lihat secara langsung.
"Saudara Lukman, beberapa hari lalu perusahaan kita mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan negara lain, ada empat beasiswa untuk karyawan kita yang masih lulusan SMA atay masih lulusan S1. Yang lulusan SMA akan kuliah S1, sedangkan lulusa S1 akan kuliah S2 di Jepang. Ini brosurnya, baca baik-baik persyaratan dan kontraknya"
"Tapi Pak, saya sudah kuliah di Surabaya dan sudah fua semester Pak"
"Oh iya, saya sudah bahas itu dengan beberapa petinggi. Mumpung masih dua semester, cabut saja"
Lukman mengangguk pelan.
Persyaratanya tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mengikat. Empat tahun beasiswa untuk S1, hanya terikat kontrak untuk siap bekerja di Jepang selama setahun setelah lulus, kemudian boleh mengajukan pindah ke Indonesia.
"Empat orang yang kami pilih dengan betul-betul adalah anak saya sendiri, Winda, kamu, Satriya dari divisi engineering dan Miranti dari bidang akuntansi.
"Silahkan dipertimbangkan baik-baik, kami tunggu konfirmasi saudara besok senin" kata Pak Dirut mengakhiri.
Kuliah di Jepang. Artinya dua semester yang telah dijalani hangus begitu saja. Lajang lajang lajang, ia mencari kata not married yet dalam brosur. Tidak ditemukannya. Artinya boleh dengan status berkeluarga. Lukman baru ingat, Mbak Miranti sudah berkeluarga tetapi belum punya anak, Satriya sudah menikah dan punya anak kecil. Nah artinya status perkawinan bukan jadi soal. Itu artinya Lukman bisa menikah dulu dengan Wulan, atau minimal tunangan dulu lah, baru kuliah. Bukankah itu ide yang amazing? Lagipula Pak Handi pasti terkesan.
Tulalit...tulalit....
Winda menelepon.
"Hay Win!"
"Hay... tadi sudah dikasih tahu belum sama Papa"
"Soal apa? Oh beasiswa? Sudah sudah...."
"Gimana mau kan?"
"Bagus sih, tapi ya aku pertimbangkan dulu"
"Okey..."
Tiba-tiba Lukman menyadari sesuatu.
"Win....jangan bilang ini atas usul kamu"
"Hahaha...kamu layak kok Man"
"Ya nggak gitu.... Win..."
Telepon ditutup.
__ADS_1
***