Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Diskusi Panjang


__ADS_3

Dua hari sudah Winda tidak ke kantor, ada yang bilang ia sedang sakit, mungkinkah karena kejadian malam itu. Semoga saja segera berlalu.


"Pak Lukman, Pak Gustaman meminta Anda ke ruangannya" kata seorang OB membuyarkan lamunannya.


Ada apa kira-kira? Kenapa sampai ia dipanggil oleh Pak Dirut? Sudah pasti tentang Winda. Bisa jadi Winda tidak terima dengan malam itu lalu meminta Papanya untuk memecatnya, atau bisa juga masalah proposal yang dibuat Winda tempo hari yang siap dipresentasikan sementara Winda sudah dua hari tidak masuk kerja. Jantung Lukman berdegup saat membuka pintu ruangan pemilik perusahaan ini.


"Selamat pagi Pak" sapa Lukman dengan hormat.


"Oh sodara Lukman, silahkan duduk"


Jantung Lukman berdegup lebih kencang lagi menanti kira-kira apa yang akan dikatakan atasannya.


"Begini sodara, tentang Winda, mungkin sodara tahu sesuatu tentang dia"


Lukman terbelalak. Ia bingung harus menjawab bagaimana.


"Oh tidak tidak.... Ini bukan sesuatu yang buruk, tapi tidak bisa juga dibilang sesuatu yang bagus. Ehm, Winda mendadak jadi aneh"


Dahi Lukman mengkerut tanda sedikit bingung.


"Begini, pembantu saya bilang, Winda dua hari ini mengurung diri di kamar, makan di kamar ngapa-ngapain di kamar, dan ini baru pertama kali pembantu saya lihat...dia ..pakai mukena" jelas Pak Gustaman.


"Maksud Bapak, Winda sholat?"


"Iya, bukan sesuatu yang buruk kan, tetapi rasanya aneh saja"


"Bapak tidak melihat sendiri?"


"Ah tidak, pembantu saya melaporkan hal ini"


"Kenapa Bapak tidak mencoba membuktikannya?"


"Ehm ..ya nanti lah saya akan coba lihat ke kamarnya"


"Apa dia kelihatan seperti...maaf... stress?"


"Oh tidak.... Dia...biasa saja cuma dua hari ini rajin sholat. Setiap kali ke kamarnya pembantu saya lihat dia mau sholat atau habis sholat. Mungkin sodara Lukman tahu apa yang sudah terjadi dengan anak saya"


Lukman berpikir sebentar, ia harus hati-hati dalam menjawab.


"Ehm maaf, apa Bapak tahu, Winda kemarin sempat mabuk" Lukman mengawali.


"Mabuk? Saya pikir dia sudah tidak mabuk lagi, yaa dulu memang ya biasa lah Winda sering liburan ke luar negeri, pergaulannya yaa lumayan bebas lah, minuman yang dia konsumsi juga yang cukup mahal, jadi tidak terlalu bahaya lah buat dia, tapi sudah sekitar tiga tahunan ini dia tidak pernah mabuk lagi, kalau sekarang tiba-tiba mabuk, bisa jadi ada masalah. Bukan begitu sodara?"


"Bapak begitu cepat dalam menganalisa. Maaf bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Bapak?"


"Silahkan"


"Apakah Winda pernah curhat atau ngobrol-ngobrol ringan ke Bapak, mungkin sekedar bercengkerama"


Pak Gustaman tampak mengingat-ingat.


"Gimana ya, Winda itu tertutup anaknya" jawab Pak Gustaman.


"Bukan tertutup Pak, dia hanya tidak punya tempat untuk berbagi"


"Sodara Lukman, saya sangat menyayangi Winda, apa saja yang ia mau pasti akan sekuat tenaga saya usahakan, tapi... Yah, saya memang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan jadi...."


"Sibuk dalam bekerja tidak masalah, sering bepergian hingga jarang ketemu pun saya rasa tak jadi soal, jika menyempatkan waktu sedikit saja untuk ngobrol"


Pak Gustaman tampak manggut-manggut.


"Apa Bapak juga tahu kalau Winda menyukai saya?" Tanya Lukman.


Pak Gustaman terbelalak.


"Jadi begitu? Itu sebabnya dia selalu bantu sodara? Sodara Lukman sendiri bagaimana? Apa kalian memiliki perasaan yang sama satu sama lain?"


Lukman menunduk. Ia bingung apakah harus menjawab pertanyaan itu, tidak apa-apa kah jika pak Gustaman tahu yang sebenarnya?


"Hmm, saya sudah bertunangan Pak, tapi saya sangat berharap kami masih bisa berhubungan baik sebagai teman seperti sebelumnya"


"Jadi karena itu?"


"Winda adalah gadis yang kuat Pak, dia hanya membutuhkan dukungan. Saya minta maaf, jika Winda menginginkan saya mundur, akan saya lakukan. Saya tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi"


"Saya rasa Winda tidak akan melakukan itu. Kalaupun anda mengundurkan diri saya harap tidak ada hubungannya dengan Winda. Dan saya harap jika Winda membantu anda, bantuannya tidak sia-sia"

__ADS_1


Pak Gustaman memang berbeda jauh dengan Pak Handi, lebih bijak dan santai dalam menanggapi suatu soal. Mungkin keluarga Winda tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaan minum sepanjang minuman keras yang diteguknya bukan miras oplosan. Tetapi tentang sesuatu yang dibutuhkan, dirasakan dan diinginkan putrinya, Beliau rasanya perlu mempertimbangkan lebih dalam lagi. Beliau berfikir selama ini telah memberikan segalanya untuk putri bungsunya, namun ternyata salah. Hari ini ia belajar tentang putrinya dari seorang asisten manajer yang kedudukannya jauh dibawahnya.


***


"Mbul, bisa nyetir kan? Ikut aku yuk" ajak Lukman.


"Siap Mas, sebentar Mas aku persiapan dulu" jawab Gembul.


Satpam berbadan subur itu menyerahkan kunci pada kawannya lalu masuk ke mobil Lukman bersama-bersama.


"Mau kemana kita Mas?" Tanya Gembul sebelum menyalakan mesin.


"Ke rumahku Mbul, maaf kepalaku agak pusing, jadi aku minta tolong kamu yang nyetir" kata Lukman dengan kepala tersandar pada jok.


"Hmm bilang aja minta dianterin" celutuk Gembul.


Beberapa hari ini banyak hal yang membebani pikiran Lukman. Terlebih hari ini, ia membeberkan tentang Winda pada Papanya. Akankah Winda kecewa akan hal itu? Akankah ia dipecat karena itu? Atau Winda akan menjauh lagi seperti yang sudah-sudah?


Sampai di rumah Lukman masih jam lima sore. Masih ada waktu untuk mandi dan cari makan. Di depan rumah sudah ada motor matic. Lukman sangat tahu itu motor siapa.


"Wid...sudah lama?" Tanya Lukman begitu turun dari mobil.


"Baru saja Mas, tadinya mau aku taruh gitu aja di teras kayak biasanya, eh Mas Lukman sudah pulang, ya bagus lah" Jawab Widya.


Widya memang sering membawakan makanan atau sekedar cemilan.


"Ehm..ehm.."Gembul berdehem meminta pengakuan atas keberadaannya.


Lukman dan Widya yahg mendengar itu langsung memahaminya.


"Oh, ini temanku, Wawan tapi biasa dipanggil Gembul, satpam di kantorku" kata Lukman mengenalkan.


"Salam kenal Mbak...hmmmm".


"Widya Mas..." Sela Widya.


"Oh injih, Mbak Widya"


"Mbul, ini...calon istriku" kata Lukman lagi.


Widya malu-malu mendapatkan pengakuan di depan orang lain.


"Insyaallah tiga bulanan lagi, doain aja" jawab Lukman.


"Weisy.. aku disalip ini Mas.... selamat ya Mas...Mbak...siapa tadi ...oh iya Mbak Widya. Selamat ya Mbak"


Widya mengangguk dengan anggunnya.


"Mas, aku pamit dulu, di rumah gak ada orang, Bapak ke Malang dengan Mbak Andari, biasa, kangen cucu"


Lukman lalu mengantar Widya hingga ke motornya, berbincang sebentar lalu Widya memacu motornya.


Adzan maghrib berkumandang, Lukman dan Gembul melaksanakan kewajiban sehari-hari. Selesai shalat maghrib, sesuai janji ketika di jalan tadi, Lukman membuatkan kopi hitam panas untuk ngobrol sekedar melepas penat. Dua cangkir kopi hitam, gorengan dan martabak yang dibawakan Widya tersedia di meja teras.


"Mas, Mbak Widya itu bukannya yang..." kata Gembul mengawali.


"Iya betul, yang pas ketemu kamu di taman waktu aku baru balik ke Surabaya" sahut Lukman.


"Oh pantesan kayak pernah lihat tapi dimana"


Gembul menyeruput kopi hitamnya.


"Mas, Mbak Bos sudah dua hari ini gak masuk kantor" kata Gembul.


"Iya Mbul, aku tahu. Bahkan tadi aku dipanggil Pak Gustaman"


"Ha? Trus Mas? Sampean?di..di.."


"Nggak, Pak Gustaman orangnya baik, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan Winda. Dua hari ini dia berubah"


"Berubah gimana Mas?"


Lukman mengunyah martabak di mulutnya.


"Dia mendadak jadi rajin sholat"


Gembul keselek mendengar ucapan Lukman.

__ADS_1


"Sebentar Mas, waktu saya anterin pulang dulu, sepanjang jalan dia melihat ke jendela terus dan menangis. Sebenarnya apa yang terjadi Mas"


Lukman berfikir sejenak, apakah ia harus menjawab pertanyaan itu.


"Mbul, sepertinya Winda adalah orang yang tidak pernah gagal dalam segala hal. Jadi ketika sekali dia gagal, dia akan frustasi"


"Piye maksude Mas?"


"Jadi gini, Winda saat ini gagal mendapatkan orang yang dia sukai, sebelumnya ia sangat bersemangat dan sangat yakin kali ini akan mendapatkan sesuai keinginannya. Tetapi ternyata tidak, ditambah lagi dengan kesibukan anggota keluarganya, dia tidak punya tempat untuk curhat, kawanpun tak ada"


"Sebentar Mas, saya mikir dulu" Gembul berpikir sejenak.


"Kira-kira siapa ya yang disukai Mbak Bos? Kan dulu pernah suka sama sampean? Aaah apa jangan-jangan karena sampean sudah tunangan?" Gembul terbelalak


Lukman mengangguk pelan sambil menyeruput kopi hitamnya.


"Hmmm kata cu pat kai (tokoh film) cinta deritanya tiada akhir" Gembul berlagak.


Lukman tampak tidak begitu bergairah malam ini.


"Lha sampean sendiri gimana Mas, sudah move on sama pacar Mas yang dulu siapa?"


"Wulan" mengucapkan nama itu seperti sedang bersumpah serapah. Seluruh tubuhnya bergetar.


"Ya, Wulan, Dia sudah menikah?"


Lukman menggeleng. "Aku tidak tahu"


Gembul mencekut martabak.


"Mbul, kamu percaya dengan istilah 'godaan pra nikah'?" Tanya Lukman tiba-tiba.


"Percaya Mas, tapi ya gak mesti setiap orang mau nikah pasti ada godaannya. Banyak juga kok yang mulus aja"


"Apa mungkin yang aku alami ini godaan pra nikah ya Mbul?"


"Hm?"


"Kamu setuju kan kalau Winda itu gadis yang ....hm... sempurna?"


" Cocok.... Mbak Bos itu, cantik, pinter, lincah, sugih lagi hahahah pantes jadi menteri Mas" komentar Gembul.


Gembul berhenti sejenak kemudian kembali berbicara.


"Sek sek Mas, sampean juga naksir Mbak Bos?" Gembul menatap Lukman tajam-tajam mencari jawaban setengah mengintrogasi.


"Gini Mbul, di saat aku sudah bertunangan, pertama tiba-tiba aku melihat Wulan"


"Ha?, Trus Mbak Wulan ngomong apa?"


"Nggak, kita gak ngobrol, aku cuma lihat dia di kejauhan, saat itu, aku seperti ingin memutuskan pertunanganku"


"Lah saya yakin Mbak Wulan itu sudah nikah lo Mas"


Lukman mengangguk. "Mungkin" katanya kemudian.


"Lah trus apa hubungannya sama Mbak Bos?" Tanya Gembul penasaran.


"Saat dia mabuk kemarin, dia mengungkapkan semua kekecewaannya padaku, dan saat itu aku seperti sedang melepas berlian yang sudah ditanganku, jadi ada dua perempuan yang masuk dalam pikiranku disaat aku sudah bertunangan"


"Ooo jadi begitu, ya benar toh Mas Lukman naksir sama Mbak Bos?"


"Aku gak yakin Mbul, diantara Widya sama Winda, aku lebih nyaman ketika disamping Winda, ketawa lepas, ngobrol enak, aku juga banyak belajar dari dia, sedang Widya, ketika sama dia, aku menjaga diri, tampil sebaik mungkin, canggung, sungkan gitu lo"


"Ah itu karena sampean lebih lama kenal sama Mbak Bos ketimbang sama tunangan Mas"


"Apa gitu ya Mbul? Aku takut melepas Berlian seperti dulu saat aku melepas Wardah"


"Wardah? Sopo maneh kui Mas?"


"Cewek dikampungku, ah sudahlah Mbul gak usah bahas yang itu, ceritanya panjang"


"Sebentar Mas, setelah tak perhatikan, semua cewek yang dekat dengan Mas Lukman ini selalu berinisial W. Jangan-jangan nanti yang jadi jodohnya Mas Lukman ini juga berinisial W, Wiwin, adekku hehehe"


"Haish gundulmu itu Mbul"


Jika dipikir-pikir memang benar. Semua yang dekat dengan Lukman adalah berinisial W, Wardah, Wulan, Winda dan yang terakhir Widya. Dan semuanya masih melintas di benak Lukman meski satu yang telah diikat.

__ADS_1


"Kalau menurut saya sih, itu memang godaan pra nikah Mas, kalau Mas Lukman kurang yakin, ya berdoalah, meminta Gusti Allah menunjukkan dan menyingkirkan semua godaan itu, karena kalau Mas Lukman melepas Mbak Widya, belum tentu akan mendapatkan Mbak Bos atau Wulan kan?"


Gembul itu, ternyata tidaj hanya pandai membuat kelakar lucu, namun juga bisa bijak pada situasi tertentu. Hari ini, Lukman berdiskusi panjang dengan orang yang tepat meskipun dibungkus dengan situasi yang kurang serius, nyatanya, apa yang dikatakan Gembul ada benarnya.


__ADS_2