
Beberapa hari bolak balik rumah sakit menengok Wulan sampai ia lupa bagaimana dengan kasus Winda. Ia bergegas menuju lantai tujuh.
"Mau kemana Man?" Tanya Pak Arif ketika bertemu Lukman di dalam lift.
"Ke Winda sebentar" Jawab Lukman.
"Dia gak ke kantor, mungkin sedang lapor ke kantor polisi. Dia kan masih wajib lapor"
Benar juga. Lukman bergegas ke kantor polisi padahal masih jam kantor. Ketika Lukman sudah di halaman kantor polisi, Pak Wisnu keluar dari dalam, tetapi Winda tidak bersamanya.
"Bagaimana Pak?" Tanya Lukman begitu bertemu Pak Wisnu.
"Alhamdulillah sudah selesai. Di lokasi kejadian ada kamera cctv jalan, dari sana terlihat jelas kedua mobil tidak bersentuhan. Mobil korban menyalip mobil Winda lalu menabrak pohon besar" jelas Pak Wisnu.
Lukman cukup lega dengan penjelasan itu. Tinggal memastikan kondisi Wulan. Tapi dimana Winda? Dia tidak ikut beserta Pak Wisnu. Ah orang kaya mah bebas.
Sepulang kantor Lukman langsung ke rumah sakit sampai ia lupa dengan Widya. Mungkin saja Widya ke rumahnya beberapa hari ini tetapi dia tidak ada. Di hapenya juga tidak ada pesan atau telepon dari Widya. Entahlah, itu bisa diurus nanti.
Sudah empat hari Wulan dirawat. Ia sudah sadar meski belum sepenuhnya. Ia hanya bisa berkomunikasi dengan isyarat kedipan mata itupun sangat jarang.
"Bagaimana Wulan Bu?" Tanya Lukman pada Bu Handi begitu masuk kamar Wulan.
"Sudah banyak perkembangan Nak Lukman. Hari ini sudah membuka mata cuma sebentar"
"Alhamdulillah"
"Nak Lukman, masih...... Cinta anak saya?"
Lukman sudah menduga sebelumnya pasti pertanyaan ini akan muncul mengingat begitu mudahnya mereka membiarkan Lukman menemui Wulan yang dulu dilarang keras.
"Kasihan Wulan, dalam kondisi begini, Edward tunangannya justru memutuskan hubungan mereka, yah siapa sih Nak yang mau sama gadis cacat"
Lukman hanya diam, ia takut salah bicara. Lukman mendekat pada Wulan. matanya masih tertutup. Wajahnya dipenuhi plaster jahitan tetapi ia masih secantik dulu. Tak berubah. Dipegangnya tangan gadis itu. Benar-benar ia lupa segalanya. Widya, Winda, pekerjaan, lupa semuanya.
"Apa kabar...Wulan, lama tak bertemu, kenapa kamu masih tidur? Gak kangen? Aku masih ganteng seperti dulu kok, ayo, bangun, buka sedikit saja plis"
Terjadi pergerakan. Jarinya bergerak, kelopak matanya bergerak lebih9a cepat. Ia sedang berusaha membuka mata. Lukman terus menyemangati.
"Oke sudah sudah, sudah cukup. Nanti lagi. Yang penting kamu dengar suaraku. Kamu harus sembuh, harus. Kamu harus bahagia. Kamu jangan mati dulu, kasihan para bidadari di surga minder kalo kamu datang hehehe"
Wulan bergerak lagi. Bibirnya seperti mau tersenyum.
"Kenapa? Lucu? Ketawa aja terus...awas kalo sembuh ya, lihat aja nyar. Ayo ketawa terus sana"
Wulan bergerak lagi lebih dari sebelumnya. Dan, matanya terbuka.
"Wulan, kamu bisa lihat aku?"
Wulan berkedip.
"Alhamdulillah...Bu....Bu...."
Bu Handi segera mendekat. Ia meyaksikan putrinya membuka mata. Bu Handi tak mampu menahan air matanya. Ia begitu bahagia putrinya melihatnya. Seandainya Pak Handi ada pasti juga demikian bahagianya.
Wulan memandangi Lukman penuh kerinduan. Tatapan itu persis seperti saat ia mencoba kabur ke Sidoarjo. Seperti ada yang ingin ia adukan, mencari perlindungan, meminta dipeluk, meminta ditemani. Semuanya campur aduk.
***
Lukman hendak berangkat ke rumah sakit yang kini menjadi rutinitasnya setiap hari. Tetapi langkahnya terhenti melihat Widya duduk di teras rumahnya.
"Mau kemana Mas?" Tanya Widya heran melihat Lukman berpakaian rapi padahal pulang kerja.
Bagaimana ia harus menjawab. Akankah Widya menerima alasannya.
"Adakah waktu sebentar? Saya ingin bicara sebentar saja" pinta Widya.
Lukman mengangguk. Mereka duduk berdampingan seperti biasanya.
"Mas Lukman mau menengok dia?" Tanya Widya.
"Hm?"
"Saya ketemu yang namanya Winda"
Lukman terperanjat. Darimana Widya tahu kalau itu Winda.
"Saya ke kantor Mas Lukman tempo hari. Saya kesini, beberapa hari tutup makanya saya nyusul ke kantor. Awalnya saya ketemu teman Mas yang satpam itu, lalu Winda datang"
Lukman mulai merasa tidak enak. Sepertinya Widya mengetahui sesuatu dari Winda.
"Apa.......Mas Lukman masih....."
__ADS_1
"Wid, bukankah kita sudah sepakat untuk saling percaya?"
"Iya Mas. Orang yang namanya Winda itu bercerita tentang kecelakaan malam itu"
"Wulan koma Wid, kecelakaannya parah"
"Iya, saya tahu"
"Hm?"
"Aku .... udah lihat"
"Apa?"
"Beberapa hari ini aku berpikir keras Mas, aku tidak bisa menikah dengan orang yang masih menyimpan cinta lamanya"
Terjadilah hal yang ditakutkan Lukman. Apa lagi ini?
"Wid..."
"Kita bisa menikah kapan saja Mas, tapi kapan hatimu akan sepenuhnya untukku?"
"Wid, kasih aku waktu untuk jelasin... Aku....hufft memang sulit untuk melupakan orang yang sudah sembilan tahun bersama. Tapi aku ......sudah memilih kamu ke jenjang yang lebih serius dan lebih suci, jadi tolong jangan salah paham. Aku hanya menolong dia"
"Seperti yang Mas lakukan kepadaku dulu?"
Lukman hanya diam tertunduk.
"Kalaupun Mas Lukman menikahi saya, apakah mungkin hidup Mas akan tenang? Apakah mungkin aku bisa tenang? Atau hidupku akan terus dihantui rasa curiga karena takut suamiku masih mengingat perempuan lain?"
"Wid, tolong...."
"Jangan merayuku Mas, aku melihat malam itu. Aku melihat.... Bagaimana tunanganku begitu setia menunggunya yang entah hidup atau tidak. Aku cemburu jujur saja"
Lukman semakin merasa tidak enak. Namun ia pasrah jika Widya akan mengatainya dengan kalimat yang menyakitkan. Atau akan menghukumnya. Ia sadar dialah yang bersalah.
"Aku melihat cinta yang begitu besar. Mulanya aku tidak percaya apa yang dibilang Winda itu. Tapi aku melihatnya sendiri. Apakah yang seperti itu bisa dipisahkan?"
"Aku salah, aku minta maaf" kata Lukman.
Widya mengangguk pelan.
"Aku.....ijinkan aku menyerah"
"Wid..."
Widya mengusap ringan air mata yang keluar darinya.
"Kita sudahi Mas"
"Wid, tolong jangan begitu. Aku memang salah. Tidak seharusnya aku berhubungan kembali dengan mantan, meskipun kondisinya berbeda, memang seharusnya aku tidak memberi perhatian lebih. Iya aku salah. Akan aku hentikan itu. Tapi tolong sesuatu yang sudah kita ikat dengan restu orang tua tolong jangan diputus"
"Jika ikatan kita masih tetap berlanjut, akankah hati Mas Lukman juga bisa diikat seperti ikatan kita?"
Lukman kembali terdiam. Apa lagi yang bisa ia ucapkan.
"Mari Mas...kita sudahi..jangan khawatir yang berlebihan, aku seorang dosen. Kelemahanku yang dulu tak akan terulang lagi"
"Wid, kamu sudah mengalami hal yang buruk dulu, kamu sudah pernah gagal nikah, kamu mau gagal kedua kali?"
"Beda Mas, kita masih sangat dini untuk berubah pikiran. Pertunangan kita masih kemarin sore, tidak seperti Mas Agus yang memutuskan secara mendadak sampai alu tidak tahu lagi bagaimana cara mencancel semua yang sudah kami pesan"
"Wid.... Aku tidak ingin kamu seperti dulu lagi, aku sangat menghormati Bapak kamu, aku tidak mau nanti.."
"Jangan khawatir, aku cemburu, aku iri tapi entah kenapa aku tidak sakit hati, benar, aku tidak merasa dikhianati atau ditikung atau apalah namanya. Entah kenapa aku juga tidak tahu Mas"
"Wid.... aku...aku..."
"Terimakasih Mas, pertama untuk membangunkanku dari tidur panjang, kedua atas kerelaanmu membangun mimpiku, ketiga atas apa yang membuatku yakin bahwa lelaki di dunia ini nggak cuma satu. Hilang Mas Agus hadir Mas Lukman, nanti pasti akan datang lagi yang lain"
Widya berdiri, mengalungkan tasnya, melepas cincin di jarinya dan meletakkan pelan di meja. Itu artinya ikatan itu benar-benar diputus. Lukman membiarkan Widya pergi begitu saja. Ia malu pada dirinya sendiri. Jika orang lain tahu dan menilainya ia pasti dinilai sebagai pria yang tak punya pendirian. Tiga gadis mendekatinya dan semuanya ia rangkul. Bukankah itu tidak punya pendirian. Sudah tunangan masih dekat denga Winda bahkan masih menggenggam tangan Wulan. Pria macam apa itu.
Malam itu ia tidak jadi ke rumah sakit. Pasti Bu Handi menunggu kedatangannya. Biarlah. Otaknya tak mampu berpikir ataupun merencanakan sesuatu. Widya, gadis itu berkata benar. Jika mereka menikah belum tentu Lukman bisa menyerahkan hatinya sepenuhnya pada Widya. Dia pasti akan tersiksa. Tapi bukankah menjadi tanggung jawab seorang suami untuk bisa menjaga perasaan istrinya. Bukankah kewajiban suami untuk memberi nafkah batin. Suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta, selayaknya suami istri menjalankan perannya masing-masing, barulah rumah tangga berjalan lancar. Cinta bukanlah syarat utama untuk menikah. Berapa lamakah usia pernikahan di dunia, tiga puluh? Lima puluh? Yakinkah sampai seratus tahun? Kenapa tidak dijalani saja.
Lukman teringat akan doanya malam itu. Ia sempat berdoa ingin memutuskan pertunangan. Tuhan memberikan jalan, Widya memutuskan ikatan itu. Tapi kini dia justru bingung. Tak disangka widya berani memutuskan ikatan dengan satu alasan saja. Dia merasa seperti seorang pecundang, mempermainkan banyak wanita, berprilaku bejat. Betapa kotornya ia. Ahh....
***
Dua hari berlalu. Lukman tak datang ke rumah sakit menengok Wulan sekalipun ia sangat ingin memastikan kondisinya. Ia memilih ke rumah Pak Ferdi. Seandainya hubungannya tidak bisa diselamatkan paling tidak ia ingin mengakhirinya dengan baik. Pak Ferdi sudah seperti ayahnya sendiri di kota besar ini. Ia begitu menghormati Pak Ferdi berikut segala pemikirannya. Beliau adalah teman, orang tua, sekaligus gurunya.
Lukman duduk terpekur di teras rumah Pak Ferdi. Menunggu beliau keluar. Secangkir teh panas tersedia di meja, seorang asisten rumah tangga yang mengantarkannya. Cukup lama Lukman menunggu akhirnya Pak Ferdi keluar menemuinya.
__ADS_1
"Maaf Nak Lukman lama nunggu, baru mandi" kata Pak Ferdi dengan senyumnya yang ramah.
"Ini Nak.... Widya ada acara di kampus" kata Pak Ferdi lagi terapi Lukman tahu itu bohong. Hari libur rasanya tidak mungkin Widya ke kampus. Ia pasti ada di kamarnya tapi tidak mau menemuinya.
Pelan-pelan Lukman bertanya tentang keputusan Widya malam itu. Ia tidak yain dengan keputusan itu. Mungkin saja keputusan itu hanyalah emosi sesaat.
"Nah itu Nak Lukman. Saya juga bingung bagaimana saya bilang ke Nak Lukman, Widya itu sudah agak lama bilang ragu-ragu begitu Nak Lukman, tapi bagaimana, saya gak enak ngomongnya ke Nak Lukman, wong sudah tunangan kok minta putus"
"Sejak kapan Pak?"
"Sudah sebulan apa ya ah Bapak lupa..."
Lukman mengerti. Kesalahannya bukan penyebab utama putusnya hubungan mereka. Widya memang ingin putus sejak lama. Oh Tuhan, jadi begini caraMu menolong hambaMu. Lukman tak ingin menyia-nyiakan waktu. Ia segera ke rumah sakit melihat mantan kekasihnya yang masih merajai hatinya.
Berada di depan ruangan Wulan, Lukman berhenti sejenak, menghela nafas, memejamkan mata sejanak, lalu membuka pintu dengan semangat.
Dilihatnya gadis manis itu sedang dibantu duduk di kursi roda oleh dua orang perawat. Melihat kedatangan Lukman, Wulan tersenyum sumringah.
"Hai....sudah bisa duduk di situ?"
Wulan mengangguk senang.
"Mama kamu?"
"Sedang urus administrasi, aku boleh pulang hari ini"
Lukman berjongkok di depan kursi roda yang kini melayani Wulan, menjadi kakinya untuk sementara waktu.
"Selamat ya" kata Lukman.
Sekali lagi Wulan menjawab dengan senyum.
"Perkembangan yang pesat untuk luka yang serius" kata Lukman lagi.
"Kamu kemana saja beberapa hari ini?" Tanya Wulan.
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan" jawab Lukman.
Perlahan Lukman menggenggam kedua tangan Wulan. Tangan itu masih sehalus dulu meski ada luka memar di sana sini.
"Edward, tunanganku sudah memutuskan hubungan kami" kata Wulan tiba-tiba.
"Iya aku tahu, Mama kamu cerita"
"Laki-laki itu, sudah beberapa kali aku pergoki masuk Gang Dolly"
Lukman terperanjat. Pria sejelas Edward suka 'jajan' di tempat seperti itu. Gang Dolly adalah lokalisasi prostitusi terbesar se Asia Tenggara. Para pekerja **** dijajakan layaknya dagangan. Mereka dipajang di etalase besar sehingga sangat mencolok. Dari pekerja lokak hingga manca negara berkumpul di sini. Sebenarnya lokalisasi ini sudah dibubarkan oleh walikota Surabaya namun sepertinya tetap saja terjadi transaksi gelap berkedok warung nasi. Seorang pria yang sering mengunjungi Gang Dolly, akankah ia punya urusan selain 'jajan'.
"Terakhir aku pergoki dia keluar dari sana, aku kejar dia ngebut, aku ikut ngebut sampai aku tidak ingat lagi, sepertinya itulah penyebab aku seperti ini" jelas Wulan.
"Sudah sudah jangan diingat...." Lukman membelai pelan punggung tangan Wulan.
Suasana hening sejenak.
"Wulan.... Maaf aku tidak persiapan apa-apa soalnya buru-buru. Aku takut terlambat"
Lukman mengambil setangkai bunga di vas bunga di atas meja dekat ranjang Wulan.
"Ini buka cincin emas, bukan pula cincin perak, ini namanya cincin hati karena di buat dari hati yang paling dalam" Lukman menyematkan cincin yang terbentuk dari setangkai bunga itu di jari manis Wulan.
Wulan tersenyum.
"Ini masih simbolis saja nanti kalau sudah ada waktu aku belikan yang asli" kata Lukman.
"Kamu ngelamar aku?"
Lukman mengangguk.
"Tapi Papa...."
"Papa setuju!" Tiba-tiba Pak Handi muncul dari balik pintu. Rupanya beliau sudah melihat dari tadi tetapi tidak berani masuk untuk memberikan kesempatan keduanya berbicara.
"Papa setuju. Kebahagiaan anak Papa sekarang menjadi prioritas utama" jelas Pak Handi.
Memang terdengar aneh. Awalnya begitu menentang sampai tega melakukan tindakan kriminal, tetapi sekarang menyetujui dengan suka rela.
"Tetapi aku seperti ini Man, kamu gak malu nika sama cewek yang gak bisa jalan?" Tanya Wulan memastikan
"Itu hanya sementara, beberapa bulan lagi kamu akan bisa jalan, begitu kata dokter bukan?"
Begitulah seharusnya cinta. Fisik hanyalah pakaian, sebab cinta adalah jiwanya. Kesungguhan seseorang akan jelas terlihat ketika kelemahan yang lainnya menampakkan diri. Sebab roda kehidupan selalu berputar, kesetiaan diuji ketika manusia sedang berada di bawah. Siapa yang bertahan dialah yang menang.
__ADS_1
***