Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Sakit dan Bahagia


__ADS_3

14


Senja mulai memamerkan keindahannya di ufuk barat. Adzan maghrib berkumandang saat Lukman membuka pagar rumahnya. Langit begitu cepat gelap padahal mobil belum sempat terparkir dengan rapi. Lukman segera menunaikan kewajibannya kepada sang pencipta.


Seperti biasa selepas sholat ia membuka laptopnya menyicil tugasnya. Ia tahu sebentar lagi mungkin akan melepas kuloahnya di dalam negeri, tapi dia masih belum benar-benar yakin akan melepasnya. Dia belum memutuskan meski Pak Dirut sudah meminta kejelasan. Paling tidak tugas-tugas selama di UNTAG dapat diselesaikan,. Ya kalau jadi berangkat ke Jepang, kalau tofak tentu ia harus mengulang mata kuliah yang ia tinggalkan. Dan ia tak mau itu terjadi.


Brak...brak...brak...


Pintu rumah diketuk. Tidak hanya di ketuk tetapi di gebrak beberapa kali. Siapa orang yang bertamu dengan cara yang tidak sopan begitu. Lukman segera membuka pintu.


Dug....doss...jleb..jleb....plak..plak...


Begitu pintu dibuka Lukman dipukuli oleh dua orang preman tanpa bicara sepatah kata pun.


"Ini....ini ada apa...siapa kalian?" Lukman takut. Seumur-umur baru kali ini berurusan dengan preman.


Bukan jawaban yang diterima Lukman tetapi justru pukulan berkali-kali. Akibatnya hidungnya berdarah, matanya lebam, ulu hatinya nyeri, ujung bibirnya terluka.


Tak berapa lama seseorang masuk ke dala rumah. Seseorang yang familiar.


"Dimana anak saya??!!!" Tanya laki-laki yang baru masuk, itu bukanlah bertanya tetapi membentak.


"Pak..... Pak Handi .. ini sebenernya ada apa?saya...saya tidak mengerti" jawab Lukman sambil menahan sakit di ulu hatinya.


"Kamu sembunyikan dimana Wulan!!!!"


Wulan? Sembunyi?


Belum juga dijawab oleh Lukman, preman yang pastinya bayaran itu kembali memukuli Lukman beberapa kali.


"Geledah rumah ini!!!" Perintah Pak Handi pada kedua premannya.


Serta merta keduanya memasuki ruang demi ruang di dalam rumah itu. Tak berapa lama mereka kembali dan tidak menemukan apapun


"Tidak ada Pak" salah satu melapor.


"Katakan dimana anak sayaaaaa!!!!" Pak Handi kembali membentak. Dalam bentakannya tampak ketakutan yang luar biasa. Juga kesedihan uang tiada tara.


"Awas kalau sampai anak saya kenapa napa!!!" Selesai mengancam Pak Handi keluar rumah.


Tinggallah Lukman di dalam rumah meringis kesakitan seorang diri. Beberapa tetangga tampak mengintip dari balik pagar tetapi tidak berani mendekat. Mungkin mereka takut atau mungkin tidak ingin terlibat. Malu pasti, tapi mau bagaimana lagi


Tulalit...tulalit...


Telepon berdering. Gembul menelepon. Lukamn baru daja ingin menelepon bseseorang tetapi Gembul menelepon lebih dulu.


"Halo...Mbul. .untung kamu telepon Mbul... tolongin aku Mbul"


Lukman menceritakan sedikit yang dialaminya hari ini. Hampir dua puluh menit sebuah mobil berhenti di depan rumah Lukman.


Dari mobil itu keluarlah Gembul dan Winda. Mereka tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Didapatinya Lukman sedang menyeka lukanya dengan air hangat.


"Win...kamu.." Lukman terkejut ternyata Winda ikut serta.


"Maaf Mas, habis saya bingung, kebetulan Mbak Bos ada ya sudah saya ajak Mabk Bos saja"


"Tafi aku yang nyuruh Gembul telpon kamu, dompet kamu ketinggalan padahal ada KTP, SIM, STNK"


Lukman memahami.


"Anterin ke klinik dong Win...kepalaku sakit banget" kata Lukman.


"Oh oke..."


Saat Lukman berdiri, sesuatu menetes dari kepalanya.


"Man....kepalamu berdarah Man.." Winda panik.


Segera mereka bertiga masuk ke mobil menuju klinik terdekat. Untunglah kepalanya tidak parah, hanya sedikit sobek tetapi tidak perlu dijahit. Yang paling dikuatirkan sebenarnya justru lebam di matanya. Jika sakit berlanjut bisa menyebabkan kebutaan. Apalagi di bola matanya tampak memerah seperti darah beku.


Selesai berobat, Winda mengantar Lukman pulang.


"Sekarang ceritakan, bagaimana bisa kamu punya musuh?" Winda mengintrogasi.


"Wulan....Wulan minggat"


"MINGGAT????" Gembul dan Winda berteriak hampir bersamaan.


"Man ...dari awal aku sudah gak suka sama tuh cewek. Ngapain coba pakek minggat segala. Apa dia gak mikir pasti kamu yang jadi korbannya" Winda bersuara agak tinggi. Tampak sekali kemarahan di wajahnya.


"Aku harus cari dia" kata Lukman lirih.


"Gila kamu Man, kamu masih terluka kayak gini. Nanti aja kalo sudah mendingan aku temenin kamu. Kita cari sama-sama."


Lukman mengangguk ia sedang tak ingin berdebat. Tapi ia tahu apa yang harus ia perbuat.


Begitu Winda dan Gembul pulang, Lukman mengemudikan mobilnya entah kemana.


Pertama kali yang didatangi adalah rumah Dita, sahabatnya. Wulan tidak ada disana. Kemudian ia ke kafe biasa dia suka nongkrong, tak ada juga. Hapenya pun tidak bisa dihubungi. Lukman mulai panik.

__ADS_1


Ia mulai memeriksa sosial media. Instagramnya terakhir aktif hari kemarin. Facebooknya hanya berisi gambar rembulan yang dilihat saat tempo hari lanaran Lukman ditolak. Ia kirim email siapa tahu Wulan membukanya.


Lukman menghentikan mobilnya saat hapenya menyala. Nomor baru.


"Halo ..." Lukman mengangkat teleponnya.


"Man..."


"Wulan.......kamu dimana wulan"


"Kamu sudah tau kalau...."


"Iya.. Papamu tafi nyamperin aku. Kamu dimana Lan" Lukman panik sekaligus lega.


"Janji dulu kamu gak bakalan pulangin aku"


Bagaimana harus menjawab, jika tidak memulangkannya lalu harus bagaimana?


"Iya iya .. gampang itu...kasih tahu dulu kamu dimana?"


"Janji dulu!!"


Tak ada pilihan selain menjawab iya. Wulan membagikan lokasinya saat ini. Ternyata sudah sangat jauh hampir Sidoarjo.


Lukman memacu mobilnya lebih cepat lagi. Untunglah jalanan tidak terlalu ramai. Di tengah perjalanan turunlah hujan. Lukman kembali panik. Ia tidak memikirkan kondisinya saat ini. Justru ia mimikirkan bagaimana Wulan dengan hujan yang begini derasnya. Dia di luar atau di dalam bangunan? Kehujanan atau tidak? Migrainnya? Kambuh tidak?


Setelah hampir sejam berputar putar akhirnya ia menemukannya. Wulan sedang duduk di halte yang tampaknya sudah lama tak beroperasi. Seingat Lukman memang ada pengalihan jalur angkutan di situ sehingga halte itu sudah tidak dipakai lagi.


"Wulan!!"


Tanpa pikir panjang Lukman berlari meraih tubuh Wulan yang kedinginan oleh hujan meskipun dipayungi oleh bangunan halte tetapi percikannya cukup membasahi.


Dipeluknya tubuh gadis itu erat-erat. Hampir saja ia kehilangan seseorang yang diperjuangkan hampir sembilan tahun itu. Air mata keduanya menyatu dengan tetesan hujan yang dibawa oleh rambut Lukman. Degup jantung yang berderu kencang membuat tubuh Lukman bergerak naik turun.


Dilihatnya wajah gadis itu yang sembab, tatapannya hampa, bibirnya bergetar karena hawa dingin. apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu menatapnya lekat seakan meronta meminta pertolongan. Untunglah migrainnya tidak kambuh. Jika itu terjadi tentu gadia itu lemas tak beedaya menahan sakitnya kepala pusing.


Lukman melepas jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Wulan. Adegan seperti itu ternyata tidak hanya ada di film india. Siapapun yang mengalami hal yang sama tentu akan bertindak sama.


"Ayo..." Ajak Lukman setelah hampir sepuluh menit hanya berdiri mematung


"Kemana? Aku tidak mau pulang" tolak Wulan.


"Tidak Lan, kita bicara di mobil"


Wulan menurut. Ia menumpahkan seluruh kekuatan yang dipunya untuk memeras tangisnya kuat-kuat. Ia sesenggukan sampai badannya bergoyang-goyang. Lukman membiarkannya demikian agar berkurang bebankan. Dalam istilah psikologi disebut katarsis. Penumpahan segala beban di hati.


Suasana hening. Lukman terdiam mencari kalimat yang pas untuk mengawali. suara isak tangis Wulan masih terdengar meski lirih.


"Sekarang ceritakan, kenapa bisa kamu kabur seperti ini, aku sampek kaget lo" pelan sekali Lukman bertanya.


"Man sumpah aku gak pernah berantem sebelumnya sama Papa, aku ikutin semua saran kamu Man"


"Iya..iya... Trus?"


"Untuk pertama kalinya aku berani melawan Papa, sekali ngelawan hebat banget, kita berantem sampek aku ngancem bunuh diri dan Papa gak peduli sama sekali, aku ngerasa kayak robot. Selama ini selalu ikutin semua perintah Papa. Lihat kayak gitu ni aku jadi mikir kayaknya aku ini cuma boneka....cuma alat....alat untuk dapetin besan yang kaya raya"


Lukman mengangguk.


"Kedua soal perjodohan. Dulu-dulu aku santai saja dijodohin. Tapi yang ini gak tahu kenapa rasanya aku harus kabur aja"


Lukman masih diam untuk mendengarkan kalimat berikutnya.


"Aku pikir dengan aku kabur kayak gini Papa jari nyadar, dia aka ngerasa kehilangan anaknya akibat terlalu memaksakan kehendaknya"


"Ya kamu berhasil kok, Papamu kelihatan takut banget, kelihatan panik banget"


Suasana kembali hening saat Wulan menghela nafas panjang.


"Man...kita harus bertindak Man" usul Wulan.


Dahi Lukman mengernyit tanda tak mengerti.


"Kita kawin lari"


Jantung Lukman seperti berlarian mendengar kalimat itu. Kawin lari. Sesuatu yang tak pernah dipikirkan olehnya. Apakah tak ada jalan lain selain itu? Haruskah lakukan itu? Jika itu solusi yang tepat bukankah seharusnya diambil dari dulu. Apakah berani melakukan itu saat ini. Apa yang akan terjadi kemudian hari?


"Kenapa?...kamu ragu? Ya suda biar aju berjuang sendiri" Wulan hendak mehuka pintu mobil tetaou dicegah oleh Lukman. Tangannya ditarik oleh Lukman


"Oke...oke.... Tenang dulu"


Lukman menarik nafas panjang barulah berbicara.


"Lan...jujur awalnya aku kecewa banget, kabur bukan solusi yang tepat untuk masalah apapun. Juga bukan cara yang dewasa. Tapi aku pikir-pikir sesekali Papa kamu memang perlu disadarkan"


Wulan mendesah dengan seksama, iq berharap pada akhirnya Lukma mnyetujui usulnya.


"Dengarkan aku baik-baik, aku ingin memilikimu dengan cara yang baik, cara yang suci, terhormat, bukan dengan kawin lari"


Wulan tampak kecewa. Ia menyandarkan tubuhnya di jok dan memalingkan mukanya ke arah jendela

__ADS_1


"Seorang anak perempuan jika menikah harus di dampingi oleh walinya, ayah, kakek, saudara laki-laki, tanpa itu pernikahan tidak sah, belum lagi ke depannya, orang-orang akan mencemooh, keluargamu orang terpandang, berita seperti ini pasti akan cepat menyebar, pikirkanlah bagaimana malunya Mama kamu,"


Wulan masih memalingkan muka. Dengan kedua tangannya, Lukman membalikkan wajah Wulan.


"Coba lihat baik-baik" kqtanya kemudian.


"Lukman...kamu kenapa lebam lebam begini" tanya Wulan begitu menyadari sesuatu yang berbeda pada wajah Lukman.


Jari-jarinya memeriksa dan meraba setiap luka yang terlihat di wajah Lukman. Saat tangannya menyentuh rambut Lukman, didapatinya kapas bersumpel disana.


"Ini apa? Kepalamu kenapa ini?"


Lukman menyingkirkan tangan wulan dari kepalanya. "Kamu mau jawaban jujur atau bohongan?"


"Jujur lah"


"Oke ... Ya inilah akibatnya, pasti Papa kamu nyangka aku bawa kamu kabur, Papa kamu nyewa preman trus mukulin aku, untung gak oarah cuma memar dikit aja, kepala juga gak ada heating" jawab Lukman. Tersirat kekecewaan pada nada bicaranya.


"Hah!!" Wulan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Man.... Aku gak terpikir sampai situ" Wulan membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Mungkin dia mulai menyesali perbuatannya.


Lukman membelai rambutnya yang masih basah. Ia tidak tahu lagi harus memulai bujukannya dari mana.


"Sudah ..sudah....aku gak papa, cuma luka dikit saja, sekarang kamu nurut ya, kita pulang"


"Aku takut Man"


"Aku lebih takut lagi Lan, Papa kamu mungkin tega mukulin aku sampek babak belur kayak gini, tapibtidak ke kamu. Kamu anaknya dia pasti gak akan tega nyakitin fisik"


Mobil melaju berbalik arah kembali ke Surabaya. Butuh waktu sekitar satu jam setengah untuk sampai di perumahan tempat tinggal Wulan. Bukan karena jaraknya, tetapi jalan yang berputar-putar cukup memakan waktu.


Hampir sampai pusat kota, Lukman melihat Wulan yang tengah tertidur. Belakangan ini gadis itu seperti sedang dikejar oleh sesuatu. Dia seperti berjuang sendirian. Kasihan. Sesekali Lukman membelai rambutnya dan Wulan bergerak risiklh. Pemandangan seperti inilah yang didambakan. Melihat orang yang dicintainya terlelap dalam tidur. Andai pemandangan ini bukan di mobil tapi di kamar tidur, ah...kapankah itu akan terjadi.


Jam sebelas malam.


Mobil berhenti di depan rumah Wulan. Tampak beberapa orang berkerumun di depan rumah. Saat Wulan keluarvdari mobil, orang-orang itu terkejut sekaligus senang. Mereka membukakan pintu gerbang. Salah seorang berlari ke dalam mengabarkan kedatangan Wulan kepada tuannya.


Wulan memegang erat tangan Lukman, ia ingin ditemani masuk ke dalam. Saat mereka sudah hampir sampai teras, dua orang preman yang memukuli Lukman mendekat dan bersiap memberi bogem mentah kembali.


"Berhenti, Pa, suruh orang-orang ini keluar, jika tidak, Wulan tidak jadi pulang" ancam Wulan.


Lukman sedikit terkejut, baru kali ini Wulan mengancam seseorang. Kok berani?


Papanya menurut. Setelah preman itu keluar hingga pagar, Mama Wulan berlari meraih putri semata wayangnya.


Pemandangan syahdu pun terjadi. Ibu dan anak berangkulan dan menangis sesenggukan. Lukman seperti sedang menolong korban penculikan.


Plakkk. .!!!!


Papa Wulan menampar pipi Lukman uiang masih penuh lebam.


"Akhirnya kamu kembalikan anak saya, baru kamu ngaku perbuatan kamu. Kamu apakan saja anak saya hah!!!" Begitu bentak Pak Handi.


Tentu saja Wulan dan Mamanya menahan Pak Handi. Lukman menahan emosinya. Ia sudah menyangka pasti akan seperti ini reaksi Pak Handi.


"Ngaku kamu ********!!!!! Saya akan lapor polisi. Awas kamu!!!"


Pemandangan yang tidak enak dilihat. Meski sakit, paling tidak semua yang ada di situ tahu bahwa putrinya adalah salah satu kelemahannya. Tampak sekali betapa Pak Handi dalam hati kecilnya begitu menyayangi putrinya. Begitu khawatir, begitu menjaga, begitu takut kehilangannya.


Lukman tetap berdiri dengan tenang tanpa melawan. Jika mau, bisa saja dia mengumpat balik, dasar tak tahu terimakasih, udah untung anaknya gua balikin tau gitu tak bawa kabur sekalian toh anaknya juga mau. Ia menahan, ia bertahan. Terus bertahan.


Setelah puas dengan cacian berikut makiannya, mereka masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Lukman keluar gerbang dengan gontai. Lelah, letih, sakit, pedih.


Saat Lukman memasuki mobilnya dan telah menyalakan mesin,seseorang mengetuk kaca mobil. Lukman membuka kaca mobil. Buru-buru ia keluar mobil saat tahu beliau adalah Bu Handi.


"Nak Lukman...terima kasih....ibu gak tahu mesti ngomong apa, ibu .. minta maaf ya nak, tolong maafkan Papanya Wulan" begitu kata beliau diselingi suara serak.


Begitu bedanya orangtua Wulan. Yang satu sekeras baja sayunya lagi selembut kapas.


"Ibu...apakah ibu percaya kalau..."


"Iya...ibu percaya nak Lukman todak berbuat apapun pada anak saya, ibu percaya, Wulan kabur atas inisiatif sendiri,ibu percaya nak Lukman" mulai pecah lagi tangis perempuan itu.


Lukman berlutut di hadapan Bu Handi.


Sebagai ungkapan rasa syukur yang begitu dalam. Diantara beberapa orang yang mencurigai, masih ada satu orang yang percaya.


"Terima kasih Bu ...terima kasih" Lukman kemudian berdiri.


"Ibu...ibu percaya kan kalau saya.....sangat menyayangi anak ibu? Saya tidak akan merusak dia Bu...saya.....saya ingin mendapatkan Wulan dengan cara yang baik"


Bi Handi mengangguk-angguk.


"Perjalanan kami sudha hampir sembilan tahun Bu, tentu Ibu paham, waktu selama itu bukanlah waktu yang singkat, bukankah itu sudah membuktikan kesetiaan dan keseriusan kami Bu"


"Iya...sabarlah Nak, ibu akan berusaha membujuk Papa nya Wulan, berodalah banyak-banyak,,"


"Ibu...ibu merestui hubungan kami?"

__ADS_1


Bu Handi mengangguk kuat. Sekali lagi Lukman berlutut di hadapan Bu Handi. Tangisnya meleleh. Betapa bahagianya dia malam ini, meski Bu Handi bukan kunci utama hubungan mereka. Paling tidak ada setitik cahaya terang yang akan menyinari perjalanan mereka. Malam itu, sakit dan bahagia melebur menjadi satu.


__ADS_2