
Sepucuk surat duduk manis di meja kerja Lukman. Itu bukan surat resmi dunia perkantoran. Itu surat pribadi. Segera Lukman membukanya.
*Dear Lukman.
Aku pamit, sorry terlalu singkat waktuku untuk prepare sampai gak bisa ketemu langsung. Aku memutuskan berangkat ke Tokyo, aku tahu sudah terlambat tapi gak apa gak dapet beasiswa, aku bisa memulainya nanti di sana. Aku belajar darimu, menjauh sementara mungkin bisa menjadi solusi untuk move on. Sesuai doamu semoga aku bertemu cowok Jepang yang jauh jauh jauh lebih segalanya, kuamini doamu itu.
Thanks,
Winda*
Winda berangkat ke Tokyo, Jepang, tepat di saat Lukman akan menyerahkan pengunduran dirinya dari perusahaan ini. Kenangan di sini terlalu banyak. Lukman akan menanggung rasa malu jika tetap di sini. Faktanya, jabatan dan posisinya selalu mudah didapatkan berkat Winda, meski ia juga berbakat namun ia tak ingin image itu melekat pada dirinya.
Dan anehnya, tak ada satupun petinggi yang menolak surat pengunduran dirinya itu. Semua berjalan begitu lancar. Mereka memperbolehkan begitu saja permintaan Lukman untuk mundur, terkecuali, Pak Arif yang membawanya ke perusahaan ini dengan rekomendasi Mbak Dini.
"Kamu serius? Menjadi wirausahawan itu butuh banyak modal lho" kata Pak Arif.
"Insyaallah Pak, doakan saja" jawab Lukman.
"Ya..ya..yaa memang sulit untuk tetap tinggal di sini dengan bayang-bayang putri direktur yang cantik itu" ledek Pak Arif.
Apapaun itu, Pak Arif memahami situasi yang kini ia hadapi.
Sementara itu, di rumah Lukman, keluarga dari Kediri telah berkumpul. Paklik, Bulik dan anak-anaknya tengah mempersiapkan acara besok pagi. Ya, Lukman akan melaksanakan Ijab qobul dengan gadis yang ia cintai selama sembilan tahun lebih. Awalnya Bulik kecewa karena calonnya tidak jadi Widya, padahal beliau begitu berharap mendapat menantu seorang dosen. Namun setelah dibicarakan cukup panjang antara Lukman dan kedua orang tua asuhnya itu, akhirnya Bulik merestui.
Masjid Al Akbar menjadi pilihan untuk lokasi akad nikah. Pak Handi tidak mengundang banyak orang mengingat kondisi Wulan yang masih di atas kursi roda. Bukan karena malu, tetapi khawatir jika kondisi Wulan menjadi perbincangan publik. Keluarga Wulan juga tidak menggelar resepsi. Akad nikah saja sudah cukup.
Selain keluarga Bulik, ada beberapa tetangga yang turut hadir menyusul langsung di lokasi. Lukman yang telah berpakaian rapi tiba di halaman masjid yang luas. Meski hanya akad nikah nuansa elegan tampak di sekitar masjid. Mulai dari penjagaan yang cukup rapi, karpet merah tergelar di sepanjang pintu masuk, dekorasi janur kuning dan bunga mawar putih yang disusun indah, juga para penerima tamu yang mengenakan kostum senada, semua tampak sederhana namun elegan.
__ADS_1
Tak berapa lama Wulan tampak dari kejauhan diatas kursi rodanya dengan balutan gaun kebaya eropa yang cantik. Karena dari keluarga kaya raya tentu saja gaun yang dikenakan sudah terlihat mahal, riasan yang tidak terlalu ribet, simpel tetapi anggun. Tampak begitu berkelas.
Bulik tidak begitu senang melihatnya karena calon pengantun perempuan tidak berhijab, tetapi Nurul yang sudah mulai dewasa menenangkan ibunya dengan pendapatnya yang memgunci pemikiran Bulik.
"Sudahlah Bu, Mas Lukman kan imamnya, Mbak Wulan pasti dibimbingnya menjadi lebih baik" itu yang dikatakan Nurul.
Didampingi kedua orang tuanya Wulan berhadapan dengan Lukman. Lukman berjongkok agar bisa memandang calon istrinya yang cantik.
"Kamu rias dimana, lukanya ketutup sempurna? Jadi cantik deh"
"Enak aja, aku memang cantik kok"
Lukman tersenyum.
"Sudah siap?" Tanya Lukman.
Akad nikah berlangsung hikmat. Suasana riuh saat para saksi mengucap 'sah'. Bulik yang tadinya tidak begitu bergairah kini memeluk Wulan dengan lembutnya. Dipandanginya wajah gadis itu. Ia pasrah atas pilihan keponakannya sembari berdoa dalam hati semoga Nurul benar, istri Lukman mampu dan mau dibimbing.
Suasana mendadak meriah saat kedua mempelai keluar ruangan dengan ditaburi rontokan bunga mawar merah oleh para pemudi. Lukman mendorong kursi roda pelan-pelan sambil sesekali keduanya saling pandang. Saat menuruni tangga teras, kursi roda tak mungkin dijalankan. Lukman membopong pengantinnya diikuti oleh riuhnya para hadirin yang bertepuk tangan.
Hampir seluruh hadirin menitikkan air mata bahagianya. Mereka terharu dengan kondisi Wulan yang tak lagi sempurna. Juga dengan keteguhan Lukman yang bersedia menikahi gadis yang kini terlihat cacat. Tetapi Lukman yakin, itu tak akan lama, dalam beberapa bulan Wulan akan kembali normal. Lukman bertekad mengembalikan istrinya seperti semula. Tak lama lagi.
***
"Selimutnya gak usah, jaket aja dibanyakin ya, trus baju yang tadi dirapiin ya biar muat nanti di koper. O iya kopi susu dong kalo habis beliin ya khawatir di sana gak ada merk yang aku suka" perintah Wulan pada Mbak Yuyun, si asisten rumah tangga.
"Ckckck segitunya bawa barang, sampek kopi susu juga bawa" ledek Lukman yang baru masuk ke kamar.
__ADS_1
Malam ini pengantin baru sedang prepare. Ada kado istimewa dari Pak Handi beserta istri, tiket liburan ke Singapore. Sebenarnya niat awalnya adalah terapi pengobatan untuk Wulan. Alat yang lebih canggih diharapkan mampu mempercepat penyembuhan kaki Wulan. Apalagi di sana ada salah satu dokter yang dulu merawat Bu Handi saat sakit. Dokter itulah yang akan mencarikan pengobatan untuk Wulan. Sembari berobat sembari berbulan madu. .
"Harus lah, favorit banget sama merk iniiiiih" jawab Wulan.
Lukman melihat sesuatu di koper yang sedang dirapikan Mbak Yuyun. Sebuah album foto.
"Yang ini juga dibawa sayang?" Tanya Lukman.
Wulan menoleh dan memperhatikan benda yang dibawa Lukman.
"Oh itu, iya lah kalo tempatnya masih muat. Biar kemana-mana aku selalu bawa itu, supaya aku selalu ingat sama keluargaku"
Ide yang brilian. Sekarang saja Lukman hampir lupa bagaimana wajah kedua orang tuanya. Seharusnya dulu Lukman seperti cara Wulan, membawa kemanapun foto keluarga. Tapi sekarang sudah tak mungkin, Lukman tak memiliki satupun foto Bapak Ibunya. Entah kemana foto-foto lama itu.
Dibukanya album foto itu. Ada foto seorang anak perempuan uang menggemaskan. Lukman tersenyum.nitu pasti foto Wulan waktu kecil. Dari kecil saja dia sudah sangat cantik. Dibukanya lagi pelan-pelan lembar demi lembar. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Seorang laki-laki berpakaian jawa kuno lengkap dengan keris dan blankon. Pakaiannya tidak begitu membuat Lukman tertarik, tetapi wajahnya yang familiar.
"Sayang, ini siapa?" Tanya Lukman.
"Oh, itu.....gimana ya nyebutnya, itu kakek buyutnya Papa"
Lukman pernah melihatnya laki-laki yang mirip dengan foto itu. Laki-laki yang memiliki tahu lalat di pipinya.
"Kenapa sayang?" Tanya Wulan
"Aku seperti pernah melihatnya" jawab Lukman lirih.
Setelah diamati, benar sangat mirip. Foto itu sangat mirip dengan kakek tua yang ditemuinya di Masjid Ampel yang ia yakini adalah juru kunci makam. Jadi leluhur Wulan menemuinya? Atau hanya mirip saja.
__ADS_1
***