
23
"Ini surat pengantar dari perusahaan, jika sewaktu-waktu kau melamar kerja, surat ini bisa digunakan sebagai pertimbangan" kata Pak Arif menyodorkan amplop cokelat.
"Terima kasih Pak" jawab Lukman. Ia senang menerima surat itu meskipun entah ia akan berkerja pada perusahaan lagi atau tidak.
"Ini pesangon kamu, mohon maaf karena kamu mengundurkan diri sebelum kontrak habis, sebetulnya kamu tidak berhak atas pesangon. Tetapi dengan berbagai pertimbangan dan melihat jasamu juga prestasimu, anggaplah ini sebagai bonus" lanjut Pak Arif.
Lukman tak menyangka masih menerima pesangon padahal ia telah mengundurkan diri dari program ke Jepang yang tentunya mengecewakan dewan direksi. Sudah dapat diduga. Pasti ada campur tangan Winda. Gadis itu memang unik.
Hari ini hari terakhirnya di kantor. Dia bukanlah petinggi yang perpisahannya dirayakan dengan pesta-pesta alih alih pisah kenang. Tetapi kabar pengunduran dirinya sudah menyebar hingga kalangan para pekerja kasar. Memang berat meninggalkan tempat kerja yang sebagian besar waktunya dihabiskan di sana. Hampir dua tahun lamanya. Hampir setahun mengenal Winda. Sembilan tahun lebih bersama Wulan. Kota Surabaya tidak akan mudah dilupakan.
"Mas Lukman....Mas.....Mas....." Gembul tergopoh-gopoh menghampiri Lukman yang melintas di lobi.
"Ada apa Mbul"
"Mas Lukman beneran mengundurkan diri? Kenapa Mas?"
Lukman menghentikan langkahnya. Ia tersenyum dan menepuk pundak kawannya.
"Aku harus pulang kampung Mbul, kapan-kapan mampir ke Kediri ya" begitu selesai menjawab ia segera berlalu meninggalkan Gembul yang masih diliputi berbagai pertanyaan.
Baru selesai dengan Gembul, Lukman dihentikan lagi oleh seseorang yang kharismatik di kantor, seseorag yang telah memberikan banyak sekali pengetahuan dan pengalaman, Pak Aji.
"Man ayo ikut saya" kata beliau tiba-tiba dengan menggelandang lengan Lukman.
"Tapi kita mau kemana Pak ini kan masih jam kerja Pak?"
"Bisa saya atur"
Pak Aji membawa Lukman menuju mobilnya lalu mobil dijalankan menuju suatu tempat yang agak jauh dari kantor. Mobil berhenti di sebuah kedai kopi china.
Lukman paham apa yang akan dibahas oleh mereka kali ini. Lukman sudah punya jawaban atas kemungkinan pertanyaan yang diajukan.
"Apa karena Winda, anak Pak Dirut?" Tebak Pak Aji. Dahinya melipat.
"Hehe...kok Winda sih Pak?" Lukman tertawa ringan merasa lucu dengan tebakan beliau.
"Kamu mundur dengan tiba-tiba, tanpa ada masalah, seluruh kantor membicarakan tentang itu, mereka menduga ada sesuatu antara kau dengan Winda" jelas Pak Aji.
Lukman tidak menyadari akan hal itu. Ia pun tak menyangka akan menjadi buah bibir seluruh kantor. Desas - desus seperti itu belum pernah ia dengar, Gembul yang biasa ngablak ngomongnya juga tidak membahas hal itu sama sekali. Bisa jadi karena pembelaan di meeting intern kala itu. Syukurlah keputusannya keluar tampaknya adalah keputusan yang tepat.
"Apa Winda sudah nembak kamu?" Tebak Pak Aji lagi.
Lukman tersenyum enggan menjawab hal seperti itu.
"He jangan malu begitu, percaya sama bapak" desak Pak Aji.
"Ehm.....begini Pak"
__ADS_1
Mau tak mau Lukman akhirnya menceritakan perihal bagaimana ia bermasalah dengan Pak Handi yang selama ini tidak ia ceritakan secara gamblang dengan siapapun, tentang bagaimana hubungannya dengan Wulan, juga bagaimana rencana yang akan ia ambil selanjutnya.
"Lalu Winda?" Tenya Pak Aji tiba-tiba.
"Tidak ada hubungannya dengan ini Pak"
Pak Aji menyeruput kopi hitamnya.
"Jika kau mau, bagaimana jika kukenalkan dengan keponakanku, siapa tahu cocok"
"Uhuk... uhuk..."Lukman terperanjat hingga tersedak kopi yang ia minum. Yang benar saja, bagaimana ia bisa mendekati perempuan lain sementara hatinya masih belum sembuh benar.
Lukman tersenyum sungkan.
Setelah perbincangan panjang Pak Aji memahami apa yang telah ia alami selama ini. Kembali ke kampung halaman bisa jadi solusi yang terbaik. Sayang sekali, dua tahun lagi Pak Aji pensiun, beliau berharap Lukman menggantikan posisinya. Kini ia harus teliti mengamati satu persatu supervisor di berbagai divisi yang pas untuk posisinya kelak.
***
Esok hari kakinya bukan lagi di kota pahlawan. Esok hari ia tak kan lagi menikmati suasana air mancur taman Mundu. Esok hari ia tak lagi bertemu orang-orang berpengaruh dalam hidupnya. Esok hari semua akan berubah.
Malam sebelum hari H, rasanya tidak pantas jika tidak berpamitan dengan wilayah yang membesarkan dirinya. Hampir sebelas tahun Lukman bergelut dengan hiruk pikuknya kota pahlaman nan menawan. Tidak mudah untuk meninggalkan begitu saja. Perlu pertimbangan berminggu-minggu untuk memutuskan stay or leave.
Lukman berjalan menyusuri trotoar ditengah sejuknya malam Surabaya. Ia tidak sendiri. Seseorang yang bakal mencairkan kegundahannya hadir menemani saat terakhirnya, Gembul. Entah kenapa selepas maghrib tadi Gembul muncul di luar pagar rumah Lukman sambil memanjangkan lehernya berharap seseorag membukakan pagar untuknya.
Awalnya kedatangan Gembul hanya untuk menikmati malan perpisahan sambil ngopi bareng dan ngobrol ngalor ngidul, buktinya ia sudah membawa sekantong cemilan untuk melekan. Tetapi kurang mantab rasanya jika malam ini dihabiskan hanya di teras rumah. Lukman oun mengajak Gembul jalan-jalan menyusuri kota Surabaya mencari kuliner jalanan yang murah meriah namun sedap di lidah.
Sepuluh tahun lalu Lukman yang polos datang ke gedung ini bersama sejumlah temannya dari panti asuhan tak jauh dari gedung ini. Mereka mendapat beasiswa pendidikan untuk menimba ilmu di trmpat ini. SMA TRISAKTI. Sekolah swasta yang tergolong maju dan pernah menjadi sekolah RSBI. Ia beruntung mendapatkan kesempatan bersekolah di tempat ini. Sekolah yang disiplin, maju, dan meluliskan banyak sekali siswa berprestasi. Ada keuntungan lain berada di sekolah di ini, Wulan.
Kelas dua SMA banyak dikaitkan dengan kenakalan remaja. Tapi bagi SMA TRISAKTI justru kesempatan mengeksplore potensi para siswa. Banyak sekali kegiatan uang melibatkan anak kelas dua. Karena kelas dua dinilai paling relevan dengan segudang prestasi. Anak kelas satu masih malu-malu dan masih tahap pencarian bakat. Saat kelas dua bakat itu akan diasah semaksimal mungkin karena nanti jika sudah kelas tiga mereka akan fokus pada Ujian Nasional. Sekolah ini memiliki sistem konseling yang runtut sehingga meminimalkan aksi negatif para siswa termasuk tawuran yang saat itu menjadi tren.
Kelas dua SMA menjadi momen yang begitu mengesankan bagi Lukman. Seseorang hadir mewarnai hidupnya yang dulu polos. Saat itu ia ingat betul saat 14 Agustus semua siswa yang tergabung dalam Pramuka merayakan hari ulang tahun Pramuka. Panitia mengadakan kegiatan kemah di bumi perkemahan wilayah Pacet Mojokerto. Pada saat pembagian kelompok, Lukman digabungkan dengan gadis anggun itu, Wulan. Seolah takdir mempertemukan mereka karena kelompok dipilih secara acak melalui kertas undian. Kebetulan atau campur tangan Tuhankah.
Jelajah malam adalah salah satu kegiatan yang paling difavoritkan. Ada tantangan tersendiri di dalamnya. Tidak seperti jelajah yang hanya menyusuri hutan mengikuti jejak lalu kembali ke finish. Jurit malam saat itu adalah untuk menempuh satu tingkatan dalam kepramukaan. Peserta di sebar di suatu wilayah untuk menemukan bet tanda khusus yang besarnya hanya 5x7 cm. Jika ia berhasil maka akan dikukuhkan untuk tingkatan tersebut di bawah bendera merah putih, tetapi jika gagal akan mengulang pada event berikutnya.
Lukman ongat betul momen itu. Saat Wulan hampir terperosok ke kali kecil. Setelah berhasil diselamatkan oleh kawan-kawannya Wulan mengeluh sakit di sekitar pergelangan kakinya. Mungkin keseleo. Akibatnya ia tak bisa berjalan normal. Ia harus menggantung salah satu kakinya agar tidak sakit Di tengah hutan seperti itu bagaimana bisa mendapatkan bantuan. Sebagai ketua kelompok Lukman bertanggung jawab atas keselamatan para anggotanya. Tak tanggung-tanggung, Lukman menggendong Wulan saat melewati kali kecil yang penuh batu besar dan airnya masih mengalir kecil. Jika jalanan tidak terlalu terjal, Wulan digandeng oleh dua teman perempuan, tetapi jika sebaliknya,. Lukman turun tangan.
Jika mengingat peristiwa itu, Lukman tak menyangka itulah awal kisah yang terjalin hingga sembilan tahun lamanya. Terkadang ia berfikir, mengapa Tuhan membiarkan hubungan itu berlangsung lama bertahun-tahun jika akhirnya dipisahkan. Kenapa tidak dari dulu saja diputus.
Tak berhenti sampai di situ, selesai kemah di Pacet, sekolah menyelenggarakan Hari Pramuka di halaman sekolah. Otomatis semua siswa harus mengenakan seragam Pramuka. Lalu bagaimana dengan peserta kemah kemarin? Bagaimana mereka bisa memakai seragam yang sama sedangkan baju itu masih kotor karena lumpur dan tanah Pacet. Wulan memaksa Lukman untuk melepas bajunya dan menggantinya dengan kaos saat perjalanan pulang. Seragam itu dibawanya pulang dan dicucinya di rumah. Entah apa yang Wulan lakukan, baju itu bisa kering esok hari.
Sungguh indah saat itu dimana para remaja tak perlu memikirkan masa depan secepat itu. Mereka hanya perlu belajar dan menikmati dunia yang berwarna warni.
"So sweet yo Mas" komentar Gembul kala mendengarkan kisah Lukman kala dulu.
Lukman tersenyum tipis. Kisah indah dulu sekarang harus dibuang jauh.
"Cari nasi tumpang yuk" ajak Lukman
Gembul mengangguk kuat. Perutnya yang segede gentong itu tak cukup hanya diisi dengan cemilan atau cilok. Mereka berjalan menuju utara melewati trotoar jalan. Sekitar 600 kilometer mereka berjalan sampailah mereka pada warung kecil bertuliskan 'sedia nasi tumpang dan kopi hitam'.
__ADS_1
Gembul masuk ke dalam warung sementara Lukman berdiri mematung di luar. Menyadari kawannya masih di luar, Gembul pun kembali keluar untuk memeriksa apa yang terjadi. Kawannya itu berdiri menghadap timur. Pandangannya jauh ke depan.
Lukman melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Di seberang seorang gadia tengah berdiri di butik dress pengantin. Ia sendiri di sana. Tak berapa lama seorang lelaki keluar dari butik lalu keduanya masuk kedalam mobil.
Perempuan yang dilihatnya itu adalah Wulan. Tapi siapa lelaki yang bersamanya. Apakah itu calon suaminya? Mereka keluar dari butik dress pengantin. Itu artinya.... Aaaakh.
"Mas ... Siapa to Mas?" Tanya Gembul yang memergoki kawannya sedang menergoki seseorang di seberang.
Lukman tak menjawab. Raut wajahnya tak seperti sebelumnya.
"Itu to yang namanya Wulan Mas, yang selingkuh itu? Berarti itu cowoknya dong Mas" Tanya Gembul membuat Lukman beralih memandang Gembul.
Lukman berbalik arah ke selatan dengan langkah cepat
"Mas.... kok mbalik Mas, gak jadi makan to?" Tanya Gembul berusaha menghampiri Lukman. Namun Lukman tetap tak menjawab.
Lukman memilih kembali ke parkiran dan mengambil motornya. Gembul tak berani bertanya lagi. Ia hanya bisa menurut saja.
Merekapun pulang ke rumah Lukman karena motor Gembul masih di rumah Lukman. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam satu sama lain. Gembul yakin dengan yang dilihatnya tapi ia tak berani memastikan. Ia paham kawannya sedang tidak ingin menerima pertanyaan.
Sampai di rumah Lukman sebuah mobil terparkir di depan rumah. Itu mobil yang tak asing bagi mereka. Begitu pagar di buka, seorang gadis berambut pendek menyambut.
"Syukurlah kamu cepet balik, kalo nggak aku dah pulang" kata gadis itu.
"Oh Win, tumben ada apa?" Tanya Lukman berusaha menguasai dirinya yang sedang galau.
"Tarinya kupikir kamu udah berangkat..tapi kulihat mobilmu ada ya udah aku tunggu aja. Aku cuma mau ngasih ini" kata Winda menyodorkan sebuah tas kertas.
"Oh, repot aja Win" komentar Lukman
"Kapan berangkat?" Tanya Winda sambil duduk. Lukman pun duduk di dampingnya sementara Gembul mengeluarkan motornya.
"Besok subuh insyaallah" jawab Lukman.
"Thanks" kata Winda tiba-tiba setelah Gembul berpamitan pulang.
Lukman memandang Winda dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Makasih telah hadir dalam hidupku" kata Winda kemudian.
Lukman menunduk. Mendengar hal seperti ini dari mulut Winda bukan membuatnya melayang. Ia justru tidak enak dengan hal seperti ini.
"Sorry kalo aku punya salah, kalo boleh jujur, aku merasa berbeda sekarang. Hidupku lebih bermakna semenjak kenal kamu. Aku ngerasa bener-bener hidup. Gak seperti dulu, kayak mayat hidup. Kayak robot. Sekarang aku merasa ogah mati dulu. Dunia begitu indah untuk ditinggalkan secepat itu"
Penuturan Winda entah benar atau mengada-ada. Yang jelas Lukman bangga mendengar itu. Ia tak melakukan apapun tetapi mampu merubah seseorang. Aneh memang. Cinta bisa membuat orang sama sekali berbeda.Terlepas dari perasaan Winda atas perubahan dirinya, disadari atau tidak ini adalah jalan Tuhan. Tuhan campur tangan atas pertemuan mereka. Winda hadir untuk membantu karir Lukman, sebaliknya Lukman hadir untuk merubah kepribadian Winda meskipun Lukman sendiri tidak tahu bagaimana masa lalu Winda yang katanya seperti mayat hidup itu.
Malam ini terakhir kali melihat langit Surabaya. wajah Wulan, Winda, Gembul, Pak Aji akan terlukis di sana. Dan Lukman akan melihatnya dari langit Kediri
***
__ADS_1