
Terjadi lagi. Hari ini terjadi lagi. Sosok itu terlihat lagi. Ia sedang menyeberang di depan sana. Sosok yang sembilan tahun menduduki hatinya dengan leluasa. Ia berbeda, tak seperti yang dilihat Lukman tempo hari. Ia tak behijab, Wulan menjadi seperti yang dulu ia kenal. Rambut sebahu yang terurai lembut, riasan wajah yang tipis, langka yang anggun, jari-jarinya juga masih selentik dulu. Ia tengah berdiri di trotoar setelah sebelumnya menyeberang jalan. Wulan tampak sedang berbicara di telepon. Mungkin ia menelepon kekasihnya atau bahkan orang itu sudah menjadi suaminya.
Batinnya semakin berkecamuk ditambah lagi ia mulai tak nyaman dengan Widya karena permintaan untuk kuliah lagi. Bukan masalah kuliahnya, tetapi sikap itu yang menunjukkan bahwa Widya tidak benar-benar menerima Lukman apa adanya. Gadis itu masih menyimpan rasa malu jika pasangannya tak berpendidikan tinggi.
Winda, sejak peristiwa malam itu, ia jarang terlihat di lantai empat tempat ruangan Lukman berada. Terakhir Lukman melihatnya di parkiran bersama Papanya. Ia tampak begitu bahagia. Sejak peristiwa itu, mereka kini selalu berangkat bersama. Syukurlah, akan lebih baik begitu. Winda bisa saja menambah berkecamuknya hati Lukman jika masih berada di sekitarnya. Mungkin saja.
Ia menunduk di lokasi yang sama,di posisi yang sama tetapi dengan niat yang berbeda. Kali ini ia mengerti kunci dari permasalahannya saat ini. Karena itulah ia akan mengakhirinya di sini. Malam ini.
Tepat di barat makam Kanjeng Sunan Ampel, ia menundukkan kepalanya. Ia mengingat semua masa lalunya. Bapaknya, Ibunya, bahkan Mbah Kakungnya muncul dalam ingatannya.
Dua hari sebelumnya, Lukman bermimpi bertemu Bapaknya. Beliau sangat jarang muncul di dalam mimpinya. Tidak seperti Ibunya yang sering menemuinya dalam mimpi, Bapak justru hadir saat tertentu saja. Bapaknya memarahi habis-habisan, sama seperti saat beliau masih hidup. Beliau sering memarahi Lukman bahkan juga menghukumnya atas kesalahannya. Kali ini pun demikian. Sang Bapak memintanya berlutut sambil istighfar.
"Kowe polah, Bapakmu sing kepradah Le" begitu kata beliau dengan geramnya. Yang artinya, kami berulah Bapakmu yang kena susah.
"Salahmu mung siji, naleni barang sing ora oleh ditaleni" lanjut Bapak dalam marahnya, yang artinya, salahmu hanya satu, mengikat sesuatu yang tidak boleh diikat.
Lalu Bapak memukul Lukman dengan kayu batang ubi sampai kayu itu patah, seperti saat Lukman masih remaja. Jika ia tidak bisa menghafal nadhom yang ditentukan ia akan memperoleh pukulan tapi tidak sampai separah ketika di mimpi.
Dua hari ini Lukman nyaris tidak tidur. Ia takut Bapak datang lagi dan memarahinya seperti sebelumnya. Tidak ada yang lebih menakutkan selain kemarahan Bapak. Jika Bapak yang hadir, maka mimpi itu bukanlah bunga tidur. Mimpi itu begitu nyata. Ia melihat betapa tajamnya tatapan Bapak. Meski ratusan bahkan ribuan fatihah ia kirimkan untuk kedua orang tuanya, tetapi belum mampu membuat pikirannya tenang.
Lukman tertunduk di hadapan Kanjeng Sunan, ia membaca segala hal yang ia bisa hingga larut malam.
"Ya Allah ya Robb, hamba sekarang mengerti kesalahan yang menjadi penyebab keadaan hamba saat ini. Hamba mohon ampun terlambat menyadari semuanya. Allah, engkau telah memggenggamku dengan sangat erat tetapi hamba tidak menyadari. Sesuatu yang tidak seharusnya diikat, hamba tahu itu. Tidak seharusnya hamba menduakanmu dengan seorang perempuan. Tidak seharusnya ia kutinggikan melebihi Engkau. Kesalahanku berawal bukan dari cintaku, tetapi caraku mencintai. Seharusnya aku memintanya padaMu. Dia milikmu bukan?"
Sudah hampir jam satu malam. Angin mulai menghembuskan hawa dingin.
"Gusti, hamba pasrah. Sudah cukup atas usaha hamba mengukir nasib hamba sendiri. Hamba serahkan kepadaMu, pilihkanlah aku jalan yang Engkau sukai. Entah dia, entah Widya entah Winda atau bahkan gadis lain atau tidak sama sekali untuk saat ini. Engkau yang lebih tahu. Bukankah hamba hanya wayang sedang Engkau dalangnya, bukan hamba hanya pemain sedang Engkau sutradaranya. Gusti... Gustiiiiiiiiiii"
Lukman diam membisu. Ia hanya tertunduk dengan mata terpejam. Sudah hampir jam dua malam, Lukman tidak sempat ke makam Mbak Soleh fan Mbah Bolong. Ia harus mencari seseorang. Seseorang yang ia yakini adalah juru kunci makam.
"Permisi Pak, saya mencari juru kunci makam apakah ada?" Tanya Lukman kepada salah satu penjaga.
"Oh, saya juru kunci" jawabnya
"Maaf Pak, yang lainnya" kata Lukman.
Penjaga yang mengaku juru kunci itu kemudian menunjuk ke arah pos jaga di sebelah tempat istirahat tamu. Katanya, para juru kunci biasa berkumpul di sana. Lukman menuju pos yang dimaksud.
"Saya juru kunci Mas" kata seorang di dalam pos, tetapi bukan orang itu pula yang dia cari.
"Yang sudah tua Pak, punya tahi lalat di pipi sebelah kanan, rambutnya sudah putih merata"
Para penjaga di pos itu saling pandang. Sepertinya mereka kurang paham yang dimaksud Lukman.
"Mungkin juru kunci kami yang sudah lama meninggal" jawab salah satu dari mereka.
"Oh bukan Pak, beliau masih ada, seminggu yang lalu saya bertemu beliau di masjid" kata Lukman kemudian dijawab tidak tahu oleh mereka.
Sepertinya lelaki tua itu bukanlah juru kunci makam, tetapi mengapa ia seolah tahu siapa saja yang biasa hadir di makam itu. Entahlah. Intinya Lukman malam ini gagal bertemu lelaki tua kharismatik itu.
Seperti sebelumnya, perlu waktu hampir satu jam untuk menembus para pengunjung yang memadati gang-gang jalan menuju makam meski sudah dini hari begini.
Sampai di ujung gang, sebelum Lukman menemukan mobilnya diantara mobil-mobil yang berjajar, ia melihat banyak orang berkerumun dengan pandangan kasihan. Ada juga yang sedang khasak khusuk. Sepertinya telah terjadi sesuatu.
Lukman berjalan mendekati kerumunan itu. Tetapi ternyata di sana sini banyak yang berkerumun juga. Lalu yang paling terlihat adalah garis polisi. Di depan sana beberapa polisi tengan mengatur jalannya lalu lintas yang sempat macet karena suatu hal. Lalu di sana ada dua mobil melintang di jalan raya. Mobil satu sedang berhendi tepat di tengah jalan, mobil uang satunya lagi berada di pinggir jalan dalam keadaan ringsek bagian depan. Rupanya telah terjadi kecelakaan mobil.
"Kasihan banget sampek gak bisa dikenali wajahnya, hiiii" komentar salah seorang warga.
"Ada apa ya Bu?" Iseng-iseng Lukman bertanya.
"Kecelakaan Mas, kayaknya yang satunya meninggal deh, soalnya badannya penuh darah apalagi wajahnya sampek gak bisa dikenali" jawabnya.
Jalan yang sedang digaris polisi itu adalah jalan yang dilalui Lukman tadi. Karena ditutup, ia harus berputar arah lebih jauh lagi. Padahal ini sudah jam setengah tiga pagi dan esok hari ia harus kembali bekerja.
Sampai di rumah tepat adzan subuh berkumandang. Fix, hari ini tidak tidur lagi. Selesai sholat subuh ia membuat kopi hitam yang tidak terlalu manis agar matanya tetap melek.
Sampai di kantor masih sepi. Jam tujuh ia sudah ada di ruangannya. Ia sempatkan diri untuk tidur sebentar sebelum karyawan yang lain datang.
Lukman bermimpi lagi. Kali iniibunya yang datang. Ia begitu sumringah bertemu Ibunya. Dahulu saat beloau masih ada, beliau yahg selalu menenangkan Lukman jika baru saja kena marah sang Bapak. Ibu akan mengatakan semua akan baik saja lalu membawakan sepiring gorengan dan segelas teh hangat untuk memulihkan kondisi Lukman sedang marah bercampur sedih.
Sang Ibu mengelus rambut Lukman dengan senyumnya yang khas. Betapa bahagianya Lukman dalam minpinya. Sang ibu berkata "sabar, sabar, sabar, yang seharusnya jadi milikmu akan menjadi milikmu, cuma butuh sabar tok. Waktunya telah tiba, sabar"
Perlahan sang ibu menjauh. Lukman menggenggam erat tangan ibunya agar tidak pergi. Terlalu singkat pertemuan itu. Lukman mencegah ibunya pergi, tetapi ibunya tetap menjauh. Sampai akhirnya ia dibangunkan oleh Pak Arif, manager personalia.
"Kenapa? Kurang tidur? Loyo sekali" komentar Pak Arif
Lukman melihat arlojinya, sudah jam setengah sepuluh. Kantor sudah ramai.
"Masya Allah sudah jam segini" gerutu Lukman uang sedikit kesal karena tak ada yang membangunkan.
"Tadi Gembul mau bangunin tapi saya cegah, kayaknya pekerjaanmu berat sekali makanya sampek kurang tidur" kata Pak Arif.
"Yah akhir-akhir ini memang sedikit ada kendala, tapi masih baik-baik saja Pak"
Selang beberapa menit office boy datang dengan dua cangkir kopi.
"Man, di hapeku kok ada panggilan tak terjawab dari Winda banyak sekali tadi pagi. Kenapa ya?" Kata Pak Arif sambil menikmati kopi.
Winda? Ada apa. Tumben sekali dia menelepon Pak Arif. Lukman teringat hapenya. Ia segera membuka hapenya dan sama persis dengan Pak Arif seperti dugaannya. Winda juga meneleponnya berkali-kali. Mungkin saat Lukman tidur tadi.
"Dia juga telepon saya Pak" kata Lukman.
__ADS_1
"Coba, hubungin balik" usul Pak Arif.
Lukman menurut. Dihubungilah nomer Winda. Sayang sekali. Tak bisa dihubungi. Nomernya tidak aktif baik WhatsApp maupun telepon manual.
" Coba kita tanyakan ke Pak Gustaman" usul Lukman.
"Ah, kamu lupa, Pak Gustaman ke Singapore urusan bisnis"
Benar, Pak Gustaman beserta istri sedang berkunjung ke Singapore. Lalu bagaimana ini. Ada apa dengan Winda. Jangan-jangan dia mabuk lagi. Ah.
Lukman bergegas menuju lantai tujuh tempat ruangan Winda berada meskipun ia yakin Winda tak ada di sana. Minimal di ruangan itu bisa jadi ada suatu petunjuk.
Belum sampai di ruangan Winda, Lukman mendapat telepon dari nomer tak dikenal. Tanpa pikir panjang, Lukman mengangkatnya.
"Man...Man tolongin aku Man....Man aku takut Man...tolong Man" suara Winda bergetar.
"Oke..oke... kamu dimana ini... "
"Aku di kantor polisi Man... Tolong Man..."
"Tunggu... tunggu kok bisa di kantor polisi?" Lukman mulai curiga.
"Kamu hubungin Pak Wisnu, ehm....bilang aja ke Pak Arif atau siapa saja yang di kantor pasti paham"
Lukman melaksanakan apa uabg diminta Winda. Rupanya yang namanya Pak Wisnu itu adalah pengacara keluarga Winda. Tetapi butuh sejam menunggu kedatangannya. Lukman tak sabar menunggu, Winda pasti sedang panik sama paniknya dengannya saat ini. Begitu Pak Wisnu datang, mereka bergegas ke kantor polisi yang telah diberitahukan Winda.
Sampai kantor polisi, Lukman melihat Winda duduk sendiri dengan wajah pucat pasi dan tubuhnya gemetaran. Pak Wisnu segera menemui polisi uang menangani kasus Winda, sedang Lukman segera menemuj Winda.
"Man...... Syukurlah kamu datang Man...tolong Man aku takut banget Maan" keluh Winda. Gadis itu memeluk Lukman tanpa permisi.
"Oke..oke ..aku sudah bawa Pak Wisnu, sekarang kamu tenang dulu, pelan-pelan ceritain apa yang terjadi" bujuk Lukman.
Lukman kemudian duduk di samping Winda.
"Man, aku gak salah Man, aku gak mabuk kayak yang dibilang orang-orang sumpah Man"
"Iya oke, tenang dulu, cerita pelan-pelan"
"Aku takut dia mati Man, aku gak salah Man"
Lukman cukup bingung menghadapi Winda yang seperti itu. Belum pernah ia lihat gadis itu sepanik itu.
"Sidah saya urus, dengan azas praduga tak bersalah Winda bisa pulang menunggu hasil penyidikan" kata Pak Wisnu yang baru menemui Winda.
"Sebenarnya apa yang terjadi Pak?" Tanya Lukman penasaran.
"Winda terlibat kecelakaan dengan mobil lain, saksi-saksi bilang Winda sedang mabuk, dan korbannya kritis saat ini" jelas Pak Wisnu.
"Dimana kejadiannya Pak?" Tanya Lukman.
"Di Jl Pertukangan, nanti saya dan tim akan ke sana" jawab Pak Wisnu.
Jalan Pertukangan? Itu jalan sekitar makam Sunan Ampel.
"Kapan itu Pak?"
"Tadi malam sekitar jam sebelas malam"
Berarti kecelakaan malam itu adalah Winda? korbanua luka berat bahkan bisa jadi meninggal. Seorang warga yag melihat kejadian itu mengatakan korban dampai tidak bisa dikenali karena darah yang penuh di wajahnya.
Lukman menuntun Winda ke mobilnya Pak Wisnu. Sebelum sampai di mobil, Winda berhenti, ia duduk di kursi panjang di luar kantor polisi. Mau tak mau Lukman pun mengikutinya.
"Man.... aku takut dia mati Man....Man aku gak nabrak dia Man, aku gak mabuk Man, aku gak salah Man" tetap dengan sikap yang panik.
"Iya iya, aku percaya, kita pulang dulu"
"Man kamu gak marah kan Man, dia gak akan mati kan Man, Wulan baik-baik saja kan Man"
"Wulan??"
"Yang di mobil itu Wulan, aku gak nabrak dia Man sumpah. Dia nabrak pohon pas aku di depannya sumpah"
Tanpa banyak bertanya Lukman berlari meninggalkan Winda yang masih belum stabil. Ia segera masuk mobil dan melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Wulan ditangani. Tak peduli dengan Winda yang berteriak sambil menangis memanggil Lukman.
Sementara itu.
Pak Handi duduk terpekur di luar ruang ICCU menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Sedang Bu Handi tak henti-hentinya menangis di pelukan Mbak Yuyun, sang asisten rumah tangga.
Begitu dokter keluar dari ruang ICCU berikut para perawat, Pak Handi beserta istri segera mendekati mereka.
"Bagaimana Dok?" Tanya Pak Handi.
"Operasinya lancar, mohon maaf agak lama karena banyak yang harus dibenahi. Mari kita bicara di ruangan saya" kata dokter.
Sebelum Pak Handi dan istrinya meninggalkan tempat, Edward dan Papanya berlari menuju mereka.
"Gimana Pak Handi kondisi Wulan?" Tanya Pak Damadi serius.
"Masih belum sadar Pak, kami diminta ke ruangan dokter" jawab Pak Handi.
"Kami ikut saja" kata Pak Damadi.
__ADS_1
Jadilah di ruangan itu empat orang yabg ikut mendengarkan penjelasan dokter. Pak Handi beserta istri, Pak Damadi dan Edward.
"Kondisi Saudari Wulan masih belum bisa dipastikan. Antara baik dan buruk. Jadi Saudari Wulan ini mengalami cedera di bagian kepala depan, karena membentur bagian depan mobil, paha kiri patah, betis kanan patah, tangan kanan retak atau bagian atas. Semua sudah kami tangani dan berjalan lancar. Tetapi dia masih dalam keadaan koma. Tinggal menunggu keajaiban. Sepengetahuan saya, jika pasien seperti itu, hmmmm kecil kemungkinan untuk selamat. Yaa berdoa saja"
Hancur hati Bu Handi. Anak semata wayang yang kemungkinan tidak bisa bertahan hidup. Bagaimana ia akan menjalani hidup tanpa buah hatinya. Jika saja keselamatan itu bisa dibeli berapapun pasti akan ia keluarkan untuk menyelamatkan gadisnya yang hendak menikah.
Selesai dari ruang dokter, Pak Damadi dan Edward menengok Wulan di ruang ICCU dengan atribut yang ditentukan pihak rumah sakit. Miris sekali kondisi Wulan. Ada jahitan di pipi dan dagu. Sedang bagian kening dibalut perban. Kedua kaki yang masih dipasang gip dan tangan kanan pun demikian. Benar benar mengenaskan.
Sementara itu, Lukman memasuki halaman rumah sakit tempat dirawatnya Wulan dan pasien korban kecelakaan lainnya. Ia berlari terburu-buru mencari keberadaan Wulan. Karena panik otaknya tak mampu berpikir jernih. Ia lupa cara tercepat mencari pasien. Saat berada di tangga akan naik ke lantai atas ia baru sadar ia harus bertanya ke resepsionis untuk mengetahui dimana Wulan di rawat.
Keluar ruangan ICCU Edward dan Papanya pamit pulang setelah terlebih dahulu mendoakan kebaikan bagi Wulan.
"Saya ke toilet dulu, Yun temani Nyonya" perintah Pak Handi pada asisten rumah tangga
Toilet di sekitar itu sedang antri, Pak Handi turun ke bawah mencari toilet yang lain. Sebelum sampai dj toilet ia mendengar suara orang yang familiar.
"Sabar dulu Ed, kita bisa kirim dia ke Singapore atau ke Jepang yang lebih bagus" begitu terdengar kalimatnya.
"Pa, kalaupun dia bisa selamat fiay bakal jadi cewek cacat, kalau yang patah cuma satu kaki masih mungkin bisa jalan lah ini keduanya Pa, lalu lihat wajahnya, haduh penuh jahitan, butuh waktu yang lama untuk bisa mulus lagi" bantah seorang pemuda yang bersamanya.
"Iya Ed, Papa paham, tapi Pak Handi itu kan sahabat Papa, gak enak lah kalau mau mutusin"
"Gak bisa Pa, apa kata orang kalau lihat istri Edward cacat, wajahnya penuh luka, ah sumpah Pa Edward jijik Pa..."
Lalu keduanya berjalan sambil terus berdebat dan sepertinya menuju arah keluar.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Pak Handi lemas tak berdaya mendengar percakapan calon menantu dan besannya yang menyakitkan. Sekalipun mereka benar, sudah pasti siapapun yang hendak menikahi putrinya pasti merasa malu dengan kondisinya yang demikian. Itu hal yang wajar. Siapapun pasti menginginkan pasangan yang sempurna. Mereka berhak untuk meneruskan atau memutus. Kini siapa yang mau menikah dengan putrinya yang penuh kekurangan. Sampai kapan putrinya akan menanggung derita itu. Jika demikian lebih baik putrinya mati saja.
Pak Handi kembali ke ruangan putrinya dengan langkah yang gontai. Seandainya semua hartanya bisa membeli nasib, seandainya jabatananya bisa mengatur kehidupan.
Ketika sampai di depan ICCU, Pak Handi dikejutkan dengan seseorang yang tengah berdiri di depan pintu. Dari punggungnya Pak Handi seperti pernah melihatnya. Perlahan didekatinya orang itu. Disentuhnya pundaknya. Orang itu menolah. Benar, dia yang pernah dikenalnya. Laki-laki yang sangat dibencinya. Laki-laki yatim piatu yang menurutnya kurang ajar. Keduanya saling pandang. Sesaat suasana hening tanpa ada sepatah kata pun dari keduanya.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Pak Handi dengan sedikit geram.
Lukman hanya diam menunduk. Pak Handi kemudian pergi ke suatu tempat sebentar lalu kembali dengan sebuah atribut.
"Masuk......!!" Begitu kata Pak Handi sambil menyodorkan atribut rumah sakit.
Lukman masih terdiam dalam kebingungannya.
"Masuk...saya bilang Masuk!!!!!!"
Lukman terperangah. Benarkah yang ia dengar? Pak Handi menyuruhnya masuk?
"Kenapa? Kamu tidak mau? Ha? Masuk.....Sadarkan anak saya, sembuhkan dia!!!! Buat anak saya bangun lagi" Pak Handi sedikit memohon.
Tanpa menjawab apapun Lukman mengenakan pakaian yang digunakan masuk ke ruang ICCU lalu segara masuk melihat kondisi Wulan.
Gadis itu tergolek lemah. Matanya terpejam. Tubuhnya dipenuhi alat pengontrol. Kepalanya diperban, kedua kakinya dipasang gip, beberapa plaster ada di wajahnya. Betapa parah kecelakaan yang ia alami. Lukman mendekatinya pelan-pelan. Satu hal yang ia lihat. Pakaian yang dia kenakan, adalah yang ia lihat saat dijalan malam itu. jadi malam itu setelah ia melihatnya, gadis itu mengemudikan nobil lalu terlibat tabrakan dengan mobil Winda. Hatinya remuk melihat gadis yang ia cintai sedang berjuang melawan kematian.
"Wulan....kenapa bisa seperti ini?" Katanya lirih.
Suara detektor berbunyi dengan teratur. Hanya itu satu-satunya tanda kehidupannya. Lukman duduk di samping Wulan yang masih belum sadarkan diri.
Berjam-jam Lukman di samping Wulan dengan terus memanggil lirih namanya. Sedang Pak Handi beserta istri menunggu dengan sabat di luar. Dengan kedatangan Lukman, Bu Handi sedikit mendapat harapan.
Sudah tengah malam, hampir jam dua malam, Lukman masih enggan meninggalkan Wulan meski Bu Handi mempersilahkan dia untuk pulang. Lukman bahkan tidak ingin makan atau sekedar keluar mencari angin segar. Sedetik pun ia tak ingin meninggalkan Wulan.
Saat Pak Handi beserta istri terlelap dalam tidur di ranjang yang disediakan di dalam ruangan Wulan -fasilitas VVIP- Lukman justru terjaga di atas sajadahnya.
"Ya Allah yaa Tuhanku, aku pernah meminta Wulan padaMu. Sekarang Engkau memenuhi keinginanku. Tetapi bukan dengan cara seperti ini Ya Robb...jika saja aku tahu beginilah caraMu mengembalikan dia padaku, aku lebih baik tidak memintanya. Biarlah dia bahagia dengan lelaki lain ketimbang berada di sisiku tetapi dalam keadaan tak berdaya seperti ini. Sekali saja Ya Robb, turutilah aku sekali saja. Selamatkan hidupnya. Aku mouon selamatkan hidupnya. Setelah itu aku akan melepasnya. Akan kubiarkan ia bahagia di sisi keluarganya. Dengan pilihan terbaik menurut mereka. Aku tak akan mengganggu kehidupan mereka. Aku berjanji ya Rabb..... selamatkan dia"
Sekali lagi. Lukman benar-benar tidak tidur lagi. Adzan subuh berkumandang dengan lembutnya. Lukman tersadar telah bermunajad begitu lama. Ia mendekati Wulan. Dipandanginya gadis itu. Begitu mirisnya nasibnya. Digenggamnya telapak tangan gadis itu.
Entah Allah sedang memberikan kasih sayangnya atau memang Wulan sudah saatnya kembali, jari telunjuknya bergerak sedikit. Tentu saja Lukman terperangah.
"Wulan....jika benar kamu dengar suaraku, gerakkan lagi tanganmu" pinta Lukman.
Sekali lagi jari itu bergerak. Ditambah lagi bola mata yang bergalerak pelan.
"Suster....dokter.....!!!" Teriak Lukman meminta pertolongan.
Kontan Pak Handi beserta istri terbangun dengan cepat. .mereka menyaksikan sesuatu yang menurutnya hanya ada di sinetron. Wulan tersadar setelah mendengar suara orang yang dicintainya.
Beberapa perawat masuk ke ruangan. Mereka membawa beberapa alat untuk memeriksa kondisi Wulan. Semua pengunjung diminta keluar. Cukup lama mereka di dalam. Sampai alhirnya salah satunya keluar.
"Saudari Wulan sudah melewati masa kritis, tetapi belum sepenuhnya sadar. Oleh karena itu kami akan memindahakannya ke ruang perawatan"
Semua yang ada di situ menghela nafas lega. Terutama Bu Handi yang tak henti-hentinya mengucap hamdalah.
"Sekarang kamu pulang, Wulan sudah melewati masa kritis, terima kasih" kata Pak Handi.
"Tidak Pak, ijinkan saya tetap di sini sampai Wulan benar-benar sadar" kata Lukman
"Dasar bocah, ini jam berapa ha? Ini sudah jam enam. Kami nggak kerja?" Kata Pak Handi sedikit teriak.
"Itu ..bisa saya urus Pak"
"Nggak bisa. Bagaimana kamu bisa kasih makan anak saya kalau kerjanya gak rajin ha? Bukankah kamu berjanji mau bahagiakan anak saya? Ya buktikan. Kerja yang bener, kerja yang rajin baru bisa hidupi anak saya. Ngerti!!"
Lukman mengerti sekarang. Pak Handi melihat kesungguhannya kepada Wulan sehingga ia merestui hubungannya dengan Wulan. Tetapi bagaimana dengan Widya? Bukankah ini tak adil baginya? Bagaimana ini?
__ADS_1
***