Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Kejujuran Yang Harus


__ADS_3

33


"Mmm... Enak juga mi gorengnya...pantesan rame banget" kata Winda sambil terus melahap hidangan di depannya.


Dari pertama duduk di kedai ini Lukman terus berfikir, apakah ini termasuk sebuah pengkhianatan karena berdua dengan perempuan lain. Jika ia tidak segera mengatakan yang sejujurnya, Winda akan terus mencari celah untuk bisa bersama. Ini hal yang tidak baik bagi orang yang sudah bertunangan. Kali ini adalah menagih hutang traktir maka siang, esok apa lagi. Bisa saja minta dianter pulang karena mobilnya mogok, atau alih alih Papanya mengundangnya. Tapi bagaimana caranya agar dia paham tanpa menggores sedikitpun di hatinya.


"Mmm. ..kamu masih sama Wulan?" Tanya Winda tiba-tiba.


Sekali disebut namanya tubuh Lukman bergetar layaknya di setrum.


"Ehm. . Nggak... habis putus ya udah aku pulang ke Kediri, dia ganti nomer, aku juga gitu....ya udah" jawab Lukman kemudian dengan berusaha terlihat sesantai mungkin.


"Aiiiiih jomblo dong.....hadudududu kasihaaan" Winda meledek meski terlihat jelas binar di wajahnya.


"Ehm......Win....aku minta doanya...."


"Hmm??"


"Aku....sudah bertunangan, insyaallah tiga bulan lagi aku nikah" ini adalah kesempatan yang tepat buat ngomong mumpung Winda yang membuka percakapan tentang itu.


Winda melongo beberapa saat kemudian kembali mengunyah makanannya.


"Oh.... Oya? Waaah congratulation ya, kok gak ngomong-ngomong sih, cewek manaaa yang sudi nerima kamu hahahahha... Kediri??" Winda terkekeh mengomentari pernyataan Lukman. Meski demikian tampak jelas itu hanyalah topeng untuk menutupi patah hatinya.


"Nggak..... Surabaya sini aja..." Jawab Lukman singkat sambil menyendok mi goreng pesanannya.


"Hmm....gitu deh para cowok baru aja putus udah dapat yang baru....tapi jangan sampek nih yaaa tuh cewek jadi pelarian hahaha...." Kelakar Winda


Kedengarannya lelucon, tetapi cukup membebani pikiran Lukman. Apakah benar Widya hanya sebagai pelarian yang tidak disadarinya. Bagaimana jika benar demikian, akankah dia terluka dengan status itu, ataukah sebaliknya justru Lukmanlah yang terluka jika diteruskan hingga janur kuning. Ah tidak.. tidak, ia memantabkan dirinya. Widya bukan hanya pelarian, ia adalah masa depan.


"Hahaha ya nggak lah, prosesnya cukup panjang untuk sampai sini. Sampai akhirnya aku mutusin berada di sini" kilah Lukman


"Oh jadi kamu balik karena tuh cewek?"


"Ya gak bisa dibilang gitu juga, ada beberapa hal yang mesti aku urus. Aku banyak belajar dari peristiwa yang kemarin-kemarin. Awalnya aku memang pengen pindah ke Kediri, hidup tenang di desa, cari jodoh orang sana. Tapi nyatanya Tuhan membawaku kembali ke sini"


"Jangan bawa-bawa Tuhan woey..... Hahahah"


"Aku harap suatu saat Tuhan akan membawa cowok yang pas buat kamu" kata Lukman lumayan serius.


"Oh...ya..ya..ya... Tapi kalau tiga bulan lagi, kayaknya aku gak bisa hadir deh"


"Hm?" Dahi Lukman mengernyit mencari jawaban selanjutnya.


"Kayaknya aku dah di Jepang" lanjut Winda.


"Oh iya aku mau tanya itu tadi sampek lupa..kamu kapan ke Jepang? Harusnya ka bulan ini?"

__ADS_1


Winda menggeleng sambil meneguk es jeruk yang dipesannya.


"Belum jadi, diundur bulan April karena masih ada kendala dikit" jawab Winda kemudian.


"Cowok Jepang kayaknya ganteng-ganteng" komentar Lukman


"Hahaha gua mau cari cowok Jepang yang sering dipecat sama perusahaan hahahha"


Winda terlihat baik-baik saja mendengar sesuatu yang disampaikan Lukman. Semoga saja demikian. Semoga gadis itu tidak terluka, jika tidak tentu Lukman akan merasa terbebani. Seandainya ada pilihan lain untuk membalas budi baik Winda.


***


Seiring dengan naiknya posisi Lukman yang seperti meloncat drastis, -dari seorang supervisor menjadi asisten manager menggantikan pak Aji atas permintaannya- Lukman semakin harus bekerja lebih keras lagi. Ia tidak bisa seenaknya pulang lebih awal kecuali dalam urusan kantor meskipun sebenarnya ia lebih memiliki kebebasan dibanding bawahannya. Tetapi saat ini ia sedang mendalami posisinya lebih teliti. Selang beberapa bulan dari pengunduran dirinya ia harus beradaptasi lagi dengan dunia bisnis. Terlebih ia ingin membuktikan pada para pejabat perusahaan bahwa ia layak berada pada posisinya.


" Mbul, pulang dulu" sapa Lukman saat berpapasan dengan Gembul.


"Oke Mas"


Lukman hendak berlalu tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya karena melihat Gembul membawa sebuah kardus


"Apa itu Mbul?" Tanya Lukman penasaran.


"Oh ini pesenan Mbak Bos Winda Mas"


"Oh"


Kardus itu bersuara gemerincing saat bergerak. Sepertinya isinya barang pecah belah. Mungkin Winda hendak mendekorasi ruangannya.


Ada peristiwa mengejutkan saat Lukman keluar dari masjid bersama mobilnya, yang mungkin akan sulit dilupakannya dan mengoyak batinnya. Di depan sana sekitar seratus meter dari mobilnya, Ia melihat seseorang yang sangat ia kenal dan mungkin sedikit ia rindukan. Seorang perempuan yang parasnya tak berubah sejak SMA, Wulan. Tetapi kali ini berbeda, ia berpenampilan sangat berbeda. Ia berhijab. Ia mengenakan tunik warna peach dengan motif abstrak dan bawahan plisket warna putih serta kerudung pasmina abu-abu. Sungguh ia cantik sekali. Tetapi benarkah itu Wulan? Mengapa berpakaian seperti itu? Mungkin ia sedang ada acara keagamaan.


Perempuan yang disangka Wulan itu masuk ke dalam mobil dan menghilang, sedang Lukman masih berhenti dalam mobil sampai beberapa mobil belakangnya membunyikan klakson kuat-kuat beberapa kali. Benar-benar menyita pikirannya. Setelah sekian bulan tak bertemu, ia melihat wajah mantan kekasihnya dari kejauhan. Hatinya tak hentinya berdegup. Wulan melintas saat Lukman sudah bertunangan. Kenapa? Takdir seakan sedang mempermainkan hatinya. Disaat ia sudah membuka hatinya untuk gadis lain, tiba-tiba saja orang lama muncul dan membawa bekas di hatinya.


Saat sampai di rumah, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Ia tahu siapa yang sedang menunggunya di rumah. Benar saja, Widya berdiri menyambut kepulangan Lukman.


"Oh, Wid ... sudah lama?" Tanya Lukman sedikit terkejut dengan kehadiran Widya.


"Baru saja Mas"


Mereka kemudian duduk berdampingan.


"Aku bawain makan Mas, tapi mandi dulu ya" kata Widya


"Oke"


Sehabis mandi Lukman menuku teras dimana Widya sedang duduk di sana. Ia menggosok rambutnya yang masih basah. Wajahnya yang bersih oleh siraman air wudhu, semakin menambah daya tariknya. Jujur saja Widya terpana dengan pemandangan di depannya sebelum disadarkan oleh suara kursi yang berderit karena ditarik oleh Lukman.


Lukman membuka rantang yang dibawa oleh Widya dan mulai memakannya. Caranyae mengunyah makanan, caranya menggigit lauk, juga saat menyendok makanan, semuanya menarik. Jantung Widya tak hentinya bergetar. Sudah beberapa kali ia melihat pemandangan ini sebelumnya tetapi tetap saja membuatnya seperti pertama kali bertemu. Gugup.

__ADS_1


"Ehm, Mas, ini aku bawa beberapa brosur gedung, dekorasi sama wedding organizer, Mas mau pilih yang mana?" Widya mengeluarkan banyak brosur dari tas tentengnya.


Lukman tampak melihat-lihat.


"Wah aku kurang ngerti masalah seperti ini, kamu aja deh yang milih" jawab Lukman.


"Ya aku memang punya pilihan diantara ini tetapi aku pengen dengar pendapat dulu dari Mas Lukman, kan kita sepakat acara nikahan kita cukup diadakan di sini, di Kediri gak perlu di rayain kan, jadi ya lebih baik jika ini adalah piliha kita bersama" jelas Widya


Lukman mengangguk-angguk kemudian kembali memilih dengan cermat, lalu menyodorkan dua gambar.


"Ini bagus elegan, modern, kalau yang ini lebih ke tradisional gitu" komentar Lukman


"Jadi...?."


"Ehm.... Ini aja deh" Lukman menunjuk salah satu gambar.


"Sip, aku juga tertarik dengan itu sih kemarin, biayanya juga gak begitu mahal, cukup sih"


"Ada ide lagi Mas?" Tanya Widya sambil memasukkan brosur-brosur yang berserakan di meja.


"Itu, nanti aku minta acaranya jangan sekedar makan, salaman, pulang, aku pengen ada acara ceremonial, ada semacam .... Serah terima ada doa dari kyai, ada pesan-pesan dari sesepuh di keluarga kita yaaa seperti itulah"


Widya tampak memahami, lalu dia tersenyum mengiyakan. Saat gadis itu tersenyum, terlintas wajah Wulan di sana. Ah, bukankah itu cukup menyiksa. Lukman sudah bertunangan, tetapi terganggu oleh gadis lain, namun gadis lain itu tak bersalah sama sekali, karena hanya bayangannya yang muncul sesuka hati. Siapa yang patut disalahkan. Ah.


"Ehm Wid...." Panggil Lukman


"Hm?"


"Ada sesuatu yang harus aku jelasin, aku pengen kamu tahunya dari aku langsung, lebih baik begitu daripada kamu dengar dari orang lain"


Widya mengangguk.


"Dulu, aku sempat pacaran dengan orang Surabaya sini saja, yah cukup lama sih....hampir sembilan tahun. Tapi kita sudah putus, sudah gak ada kontak sama sekali. Jadi nanti tolong jangan salah paham jika ada yang cerita ini"


Widya terdiam sebentar lalu tersenyum.


"Boleh aku tahu namanya?" Tanya Widya kemudian.


"Ehm.... Wulan" ada sedikit getar saat Lukman menjawab demikian.


Widya tersenyum tipis.


"Ada lagi, kamu tahu kan aku kerja di perusahaan , yang dulu Bapak kamu tempati juga, nah putrinya direktur kami pernah mengungkapkan cinta ke aku, ya mungkin sampai sekarang masih punya perasaan yang sama, tapi percaya deh, tidak ada sedikitpun perasaanku ke dia, dia hanyalah partner kerja, tak lebih"


"Namanya?"


"Winda"

__ADS_1


Widya manggut-manggut. Setelah menceritakan ini Lukman lebih lega dari sebelumnya. Ia berharap bisa menetapkan hatinya untuk calon istrinya yang kini ada di hadapannya. Entahlah apakah Widya bisa menerima ini atau tidak tetapi kejujuran itu harus sepanjang tidak sebuah rahasia yang memalukan yang harus dipendam. Bulik pernah memberi wejangan ini sebelum pulang ke Kediri. Akan jauh lebih baik jika si istri tahu yang sejatinya dari calon suaminya ketimbang mendengar berita dari orang lain yang bisa saja dilebih-lebihkan. Lukman masih berusaha untuk mantab. Masih berusaha untuk teguh dengan keputusannya.


***


__ADS_2