
Fajar menyongsong di sebelah timur. Ayam jago tetangga berkokok dengan gagahnya. Ada sinar mentari memancar tipis. Bulan sabit masih terlihat samar. Lukman memasukkan koper-koper besar ke dalam mobilnya. Semua barang sudah ia kemas. Pakaian, laptop, buku-buku, alat makan, alat mandi hingga benda-benda atribut. Masih ada beberapa perabot uang tak bisa dimasukkan mobil seperti meja kecil, wareless, lampu kamar dan masih banyak lagi. Nanti lah akan ia urus setelah semua beres. Toh dia masih punya sisa waktu satu bulan ke depan sesuai kontraknya yang sudah ia lunasi.
Sebelum berangkat ia menyerahkan kunci pada pemilik kontrakan yang tak jauh dari rumahnya. Salam perpisahan sudah ia lakukan dua hari yang lalu dengan para tetangga. Mereka menyayangkan keputusan yang mendadak padahal sebelumnya tidak ada kabar apa-apa tentang pindahnya Lukman. Tapi masyarakat kota tak seakrab di desa. Kalau di desa tentu sudah ada tradisi jagong sebelum pergi keluar desa. Sebuah tradisi kumpul-kumpul ngobrol-ngobrol plus makan-makan ringan.
Ada satu yang terlupa. Lukman baru ingat ia belum berpamitan dengan Pak Ferdi. Supervisor lama yang membuatnya menduduki posisi itu hingga kini. Untung saja rumah Pak Ferdi searah dengan jalur yang dilalui. Ia pun menyempatkan diri mampir ke rumah beliau.
"Terlalu lama di perantauan rasanya tidak enak juga Pak" Kata Lukman ketika diberikan pertanyaan yang sedang menghujaninya akhir-akhir ini.
"Apa ndak bisa tinggal di Surabaya seminggu atau dua minggu sekali pulang ke Kediri begitu. Banyak kan yang seperti itu?" Tanya Pak Ferdi lagi
Sebelum Lukman menjawab, Widya datang dengan beberapa makanan. Ada nasi goreng, telur dadar, sop ayam dan dua grlas teh panas.
"Wah untung tadi saya belum sarapan hehehe" timpal Lukman.
"Ayok sarapan dulu" ajak Pak Ferdi.
Sudah hampir jam tujuh pagi. Widya muncul dengan dandanan yang rapi. Ia akan bertugas sebagai dosen di UNESA. Tipikal muslimah modern.
"Saya berangkat dulu Pak, Mas..." Kata Widya.
Sebelum gadis itu keluar dari pintu rumah, ia sempat menatap Lukman beberapa detik. Ada sesuatu yang berbeda dengan pandangan biasa. Entah apa. Itu bukan tatapan kebencian, bukan pula tatapan tersipu malu dan bukan pula tatapan mesra. Entahlah, sulit diterjemahkan.
Setengah delapan lebih Lukman baru keluar dari rumah Pak Ferdi. Ia melajukan mobilnya ke arah selatan menuju Mojokerto, jalur yang biasa ia lewati ketika mudik.
Memasuki kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto situasi sedikit macet meskipun tidak semacet beberapa waktu lalu saat ia melewati wilayah ini. Pasalnya di wilayah ini akan membentang jalur tol yang menghubungkan Jombang - Mojokerto. Sebagian jalan ditutup untuk pembangunan tol tersebut. Tol itu nantinya akan menghubungankan Jombang-Mojokerto, Mojokerto- Kertosono dan Kertosono-Solo. Pembangunan sudah terlihat hampir selesai. Situasi tak srpadat dulu yetapi tetap tidak bisa memperlancar perjalanan Lukman.
Di tengah kemacetan itu bayangan Kota Surabaya bermunculan dipikirkannya. Akankah ia meninggalkan Surabaya selamanya? Apakah ada kemungkinan kembali ke sana? Tetapi untuk apa? Selepas putusnya dengan Wulan seolah Surabaya menjad kota mati baginya. Cita-cita da masa Depa tak ada alagi di sana.Teringat wejangan Pak Aji kemarin.
"Tak seharusnya perempuan menjadi penyebab hancurnya seseorang".
__ADS_1
Lukman merenung. Apakah keputusan ini karena perempuan? Hanya karen aputus dengan Wulan? Bukankah memalukan? Masak hanya karena putus dengan seorang gadis ia rela meninggalkan kuliahnya? Melepas kesempatan mencari pengalaman di Jepang? Apakah seburuk itu dia? Apakah selemah itu dia?
Banyak kisah tentang tokoh yang terjatuh karena perempuan. Qays Al Majnun misalnya, sebenarnya ia tak perlu menyusuri jalanan bersyair bernyanyi dan menjauhi kehidupan normal jika saja ia dengan baik-baik melamar sang pujaan hati. Bukan dengan cara sembunyi dan memujanya di jalan raya. Karena hal itu bagi masyarakat arab adalah sesuatu yang melecehkan.
Ada lagi kisah kerajaan Singosari tokoh Ken Arok dan Ken Dedes semua orang tahu bagaimana pembunuhan terjadi karena berebut wanita. Kisah mula manusia, tentang Nabi Adam As yang turun ke bumi menjalani hukuman karena rayuan sang ibu Hawa dengan memakan buah terlarang. Meskipun bukan semata adalah kesalahan namun takdir Tuhan karena suatu rencana. Tetapi semua kisah masa lalu itu bukankah menjadi pelajaran bagi manusia di masa kini? Haruskah Lukman putar balik ke Surabaya dan menatap masa depannya meski tanpa Wulan?
Tin tiiiiiiin......klakson berbunyi beberapa kali dari mobil di belakang memberitahukan bahwa kalan di depan sudah cukup lenggang untuk bisa dilewati.
Laki-laki bisa sukses karena wanita tetapi juga bisa hancur karenanya. Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga. Pak Aji yang mengucapkannya. Kisah Presiden ** Habibie beserta ibu Ainun sudah cukup menjadi bukti, tetapi kisah Samson yang perkasa juga cukup memberi isyarat bahwa tak seharusnya menggantungkan segala kehidupan pada wanita. Semua orang tahu bagaimana Samson yang perkasa tak terkalahkan dapat ditumbangkan karena rahasia letak kekuatan yang dibocorkan pada wanitanya.
Sampai di Ngoro Jombang sudah pukul sebelas siang. Matahari semakin terik memancar. Kalau saja tidak macet karena pembangunan jalan tol tentu ia sudah sampai Kediri, minimal telah memasuki Pare, Kediri bagian timur.
Kediri bersinar terang. Gapura di jalan raya utara Makodim 521 Brigif 0809 membentang tanda telah memasuki wilayah Kota Kediri. Tepat pukul satu siang. Jalanan ini masih sama tetapi lebih rapi dan bersih. Melewati GOR Brawijaya terlihat beberapa perubahan, ada taman hutan di sebelah timur tepat di pertigaan, ada taman kecil di barat GOR Brawijaya tepat di depan Taman Makam Pahlawan.
Satu jam kemudian Lukman sampai di desanya. Dusun Randu Kuning masih bagian Kediri tetapi jarak satu kilometer ke selatan sudah Kabupaten Tulungagung.
"Mas Lukman..... Buuuuuk. Mas Lukman pulang Buuuuk" gadis remaja itu kegirangan dengan kedatangan Lukman.
Gadis yang tengah menyapu itu adalah Fitri, putri bungsu Bulik, sepupu Lukman. Dia sudah semakin besar dan semakin kembang.
"Wuiiiiih punya mobil sekarang yaaa...... Au dong diajakin jalan-jalan pakek mobil hehhehehhe" komentarnya sambil mengamati mobil Lukman.
Semua pesangonnya dihabiskan untuk melunasi mobil ini. Meskipun Pak Aji si pemilik awalnya memberika tenggang waktu yang begitu panjang, Lukman merasa harus melunasinya agar lebih mudah urusannya. Dengan melunasi cicilan mobil, BPKB sudha ditangan. Rencananya ia akan secepat mungkin menjual mobilnya untuk modal usaha. Sekarang bisa dibilang tabungannya menipis drastis
Tak berapa lama Bulik dengan kedua anaknya yang lain keluar dari rumah.
"Lukman ...mari masuk" ajak Bulik.
"Bentar Bulik, Nurul, Fatma, Fitri tolong bantu Mas ya, bawa barang-barang ini masuk" pinta Lukman sambil membuka bagasi mobil.
__ADS_1
Tampak koper-koper dan tas besar di dalamnya. Bulik mengamatinya. Ketiga anak Bulik segera membantu Lukma memasukkan barang-barang itu ke dalam rumah.
"Itu mobile sopo?" Tanya Bulik penasaran.
"Alhamdulillah punya saya Bulik. Bekas, cuma bodinya dipercantik" jawab Lukman
Bulik manggut-manggut. Tampak sekali ia masih bingung mengapa Lukman membawa begitu banyak barang ke Kediri. Ingin bertanya tetapi ditahan-tahan.
Selepas sholat maghrib Bulik, Paklik dan ketiga anak mereka menunggu di meja makan. Lama sekali tak makan bersama seperti ini. Berbagai hidangan sayur dan lauk pauk khas desa tersaji di sana. Ada ikan wader - ikan yang hidup di sungai -, sambal terasi, urap kemangi, tempe bacem, lodeh rebung dan satu yang selalu ada, krupuk rempeyek. Makanan-makanan embuat rindu jaman dahulu, kala orang yua Lukman masih sehat. Nikmatnya luar biasa menikmati hidangan ini. Masakan Bulik persis seperti masakan ibu Lukman.
"Saya telah resign dari kantor dan memutuskan untuk pindah ke Kediri. Saya rasa sudah waktunya saya balik ke kampung halaman". Lukman menjelaskan rencananya pada Paklik dan Bulik setelah maka malam selesai. Mereka duduk bertiga di ruang tamu. Sementara Nurul beserta kedua adiknya mencuci piring di dapur.
"Kok mendadak sekali Le..." Tanya Paklik yang cukup terkejut dengan penuturan Lukman.
"Saya lupa ngabari Paklik tapi sebenarnya rencana ini sudah cukup lama"
Paklik dan Bulik saling pandang, mereka kemudian menunduk. Ada sesuatu yabg tidak enak yang sedang mereka rasakan.
"Paklik dan Bulik jangan khawatir. Saya hanya sementara tinggal di sini saya akan mencari kontrakan sekitar sini, dan memulai usaha. Saya oaham tidak pantas saya tinggal di rumah yang di dalamnya ada gadis-gadis remaja yang bukan mahrom saya sekalipun adalah sepupu saya yang tidak mungkin saya sakiti " kata Lukman seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Paklik dan Bulik.
Rumah itu adalah peninggalan kedua orang tua Lukman. Tetapi selama Lukman belum menikah, rumah itu ditempati oleh Paklik dan Bulik. Sekarang Lukman pulang dengan tiba-tiba tanpa ada kabar sebelumnya, tentu saja Paklik dan Bulik binging bagaimana harus bertindak. Mereka mau tinggal dimana sementara tanah yang akan dibangun rumah mereka masih ditanami sengon dan belum panen karena ukurannya masih kecil, sayang jika ditebang sekarang. Belum lagi biaya yang akan digunakan untuk bangun rumah. Selama ini ekonomi mereka pas pasan. Bisa menyekolahkan anaknya sampai Aliya saja sudah untung. Apalagi Nurul sekarang sudah kuliah. Bertambahlah beban mereka. Kehidupan ekonomi mereka bergantung pada hasil sawah yang panen empat bulan sekali.
"Ya jangan lah Man, kamu sabar ya, kami akan cari kos kosan atau kontrakan. Saya punya sodara di Tulungagung, saya minta dicarikan tempat kos atau kontrakan disana untuk kami tempati" jelas Paklik. Tentulah beliau merasa tidak enak bertahun-tahun lamanya numpang di rumah keponakannya. Jika orang awan melihat ini tentu akan menuduh Paklik dan Bulik memanfaatkan keadaan anak yatim.
"Oh jangan Paklik... Saya tidak bisa berjauhan dengan Paklik dan Bulik. Sudahlah,saya akan cari kontrakan sambil menunggu Paklik dan Bulik sudah siap membangun rumah. Insyaallah saya akan bantu semamou saya. Sudah kewajiban saya. Karena panjenengan berdua yang mengurus saya selepas Bapak dan Ibu sedo (meninggal), hingga sekarang saya sudah cukup mapan, tidak akan saya biarkan panjenengan berdua hidup susah"
Kediri bersinar terang. Seterang hati yang bahagia berkumpul dengan sanak saudara, bahu membahu dengan keluarga, berpegangan erat pada syariat. Beginilah Kediri dengan segala aturan adat yang tak tertulis. Inilah Kediri dengan segala batasan pantas dan tidak pantasnya. Inilah Kediri. Kelahirannya.
***
__ADS_1