Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Pertemuan


__ADS_3

"Pagi Pak..."


"Selamat pagi Pak..."


"Pagi Pak...."


Para karyawan tingkat bawah memberi sapaan hormat saat Lukman mendatangi pabrik untuk pemeriksaan rutin. Dulu sapaan seperti itu adalah suatu kehormatan yang luar biasa. Begitu bangga Lukman dengan hal demikian. Menduduki posisi Supervisor bisa dikatakan titik awal seseorang untuk menaikkan prestis. Dengan posisi ini akan semakin mudah mendapatkan promosi untuk naik jabatan yang lebih tinggi. Ibarat naik tangga, ia berada di titik aman.


Tetapi sekarang, sapaan itu tak lebih hanya sebagai basa-basi. Apa yang bisa dibanggakan dari posisinya sekarang. Selain gaji yang lebih besar apa yang menguntungkan bagi Lukman? Semua mulai menjenuhkan. Dia seperti tak punya impian lagi. Tak ada cita-cita yang perlu digapai. Saat ini pendapatannya tak lebih dari sekedar bertahan hidup. Seperti jam dinding tanpa baterei, hape tanpa pulsa, motor tanpa bensin, kompor tanpa gas. Semua ada namun tak berfungsi. Semua tampak namun tak berguna.


Tubuhnya bergetar bagai disengat listrik saat membaca sebuah oeaan dari nomer baru.


Bisa keluar sebentar? Aku di luar. Wulan


Wulan? Dia di luar? Untuk apa? Apakah untuk mengabarkan berita baik? Bahwa dia berubah pikiran, atau justru memberikan undangan pernikahan? Tega sekali.


Lukman melangkah ragu. Dadanya seperti bedug maghrib di waktu puasa, berderu kencang dengan kuatnya. Ia harus menumpang karyawan yang sedang mengendarai motor karena jaraknya lumayan buat kaki gempor. Lukman sedang berada di pabrik sementara Wulan di depan kantor. Dua gedung yang berbeda.


Sampai di depan kantor, wulan tampak sedang duduk sendiri di kursi besi. Lukman menghampirinya tak seperti biasane. Ia justru berjalan pelan dan sedikit gugup. Ia takut dengan apa yang akan ia terima sebentar lagi.


"Wulan.."panggil Lukman.


Wulan menoleh dan tersenyum.


"Ganggu?" Tanya wulan.


Lukman menggeleng lalu duduk di sampingnya.


"Untuk makan siang" wulan menyodorkan sekotak bekal. Untuk apa ia lakukan itu? Ini yanh sering dia laiukan selama pacaran. Apakah itu artinya, balikan?


"Thanks" jawab Lukman.


"Man, tolong jangan membenciku, mingkin setelah ini kita jangan berhubungan entah dalam bentuk apapun. Bukan karena aku ingin menjauh, tapi .... Aku butuh eaktu untuk bisa move on" kata Wulan.


Lukman memgangguk. Ia tampak lebih tegar dari sebelumnya. Diliriknya jari kiri gadis itu. Ada cincin melingkar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Kamu....sudah tunangan?" Berat untuk menanyakan itu.


Wulan melihat jarinya uang berkalung cincin.


"Iya...doakan aku" katanya lirih.


"Semoga bahagia"

__ADS_1


"Kamu juga semoga bahagia"


"Aku sedang belajar Lan, belajar ikhlas, belajar menghadapi hidup, inilah hidup inilah kenyataan inilah takdir sesuatu yang tak bisa kita tentukan dengan tangan kita sendiri. Tapi aku masih harus banyak belajar lagi aju masih sering down" jelas Lukman.


"Semua hanya soal waktu. Aku yakin kita bisa melewati ini dan siatu hari nanti kita akan bertemu dengan keluarga masing-masing"


Terdengar manis di telinga. Tapi mampukah menemukan pengganti bagi Lukman, yang setara atau paling tidak mendekati Wulan. Mencari pengganti mungkin mudah, ada Winda yabg siap menerima dia kapan saja dalam kondisi apa saja. Mungkin juga Wardah yang menantinya bertahun-tahun. Tapi apakah hatinya bisa menerima dengan mudah?


"Mulai besok WhatsApp ku tidak aktif. Aku harus katakan ini agar kamu gak dibebani rasa khawatir" kata Wulan.


Lukman mengangguk. Ia telah memahami bagaimana mantan pacarnya itu berusaha menjalani hidup normal dengan restu orangtuanya. Dia sedang bergelut dengan hatinya. Dia semakin dewasa.


"Terimakasih Man sembilan tahun ini aku sangat bahagia. Kamu hadir dengan segala warna dihidupku"


Lukman mengangguk lagi. Ia tidak menjawab apa-apa. Ia sendiri tidak punya persiapan untuk kalimat-kalimat terakhir.


Wulan berpamitan. Ia melangkahkan kaki dengan lunglai. Dari punggungnya terlihat jelas betapa ia sedang membangun kekuatan dalam dirinya. Ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Lukman sedikit lega karena kisah mereka berakhir damai meski juga bukan di pelaminan. Banyak remaja yang bermusuhan setelah berpisah. Ia bersyukur hal itu tak terjadi pada hubungan mereka.


Winda menghela nafas panjang menyaksikan adegan itu dari kejauhan, dari jendela kantornya. Meskipun tampak kecil karena dilihat dari lantai 7, ia bisa merasakan keduanya tidak sedang baik-baik saja. Sejak mengungkapkan perasaannya pada Lukman, ia menjadi renggang hingga tidak bisa mengikuti perkembangan hubungan Lukman dengan Wulan. Pasti sesuatu terjadi diantara mereka.


***


Pukil 10.00 WIB.


Winda menantikan kehadiran seseorang. Sebagai anak pemegang saham di perusahaannya, ia bebas untuk masuk atau tidak masuk kerja. Selama tugas-tugasnya bisa selesai tepat waktu. Hari ini bukan hari sabtu qtau minggu. Seharusnya ia bekerja bersama karyawan yang lain. Namun sekali lagi, orang kaya mah bebas.


Selang setengah jam yang ditunggu akhirnya datang. Ini adalah pertemuan ketiga kalinya. Ditempat yang sama dan di kursi yang sama. Namun dengan tujuan berbeda. Seseorag yang dinanti sejak setengah jam yang lalu adalah Wulan, rivalnya.


"Hay," sapa Wulan.


"Hay gak sedang sibuk kan di kantor?" Kata Winda


Mereka kemudian duduk berhadapan. Winda memberi kode pelayan dan tak lama pelayan datang dengan senampan makanan dan minunan yang telah dipesan sebelumnya.


"Ini menu baru di sini, cobain deh kamu pasti suka" kata Winda dengan senyuman tipis.


Wulan diam saja. Terus terang ia agak cabggung dengan orang yang menyukai mantannya itu.


"Hahhaha tenang lah Lan, aku gak naruh racun kok di makanan ini..hahahha kamu pikir aku sekejam... itu, kopi vietnam kali"


Wulan tak enak dengan kalimat itu, ia pun menyedot jus buah di depannya dan mencicipi cemilan yang dihidangkan.


"Aku ... Mau tanya sesuatu... kamu sama Lukman...hmmm" Winda memulai inti.

__ADS_1


"Ya.. Lukman pasti sudah cerita. Kita sudah putus sudah sekitar tiga mingguan ini" kata Wulan datar.


Winda manggut-manggut. Ia bingung bagaimana harus berkomentar.


"Sorry...aku turut prihatin" kata Winda kemudian.


"Harusnya kamu seneng, jalanku udah tertutup sama Lukman. Kamu bisa dapetin dia sekarang. Tolong jaga dia ya"


Winda tersenyum kecut. Kalimat seperti ini bukan menyenangkan. Tapi justru membuat hati Winda tak enak.


"Sorry, harusnya aku gak bilang semuanya waktu itu" kata Winda sendu.


"Yang di car free day? Sebenarnya nggak sepenuh karena itu kok...tapi dengan apa yang kamu bilang waktu itu, semakin mantep untuk putus"


Suasana hening sejenak.


"Jika waktu itu kamu nggak bilang, aku gak bakalan tahu bahwa selama ini orang yang selalu menghalangi karir Lukman, yang selalu aku sumpahin, selalu aku benci bahkan aku penasaran banget pengen aku labrak orangnya, ternyata adalah orang tuaku sendiri"


Winda melipat kedua tangannya di atas meja.


"Aku sayang Lukman, sembilan tahun kami bersama, pada akhirnya aku nyadar, aku turut menyumbang kesengsaraan untuk dia, jika dia lepas dari aku, dia bisa hidup lebih tenang, bener kan?" kata Wulan. Pandangannya menerawang jauh ke luar.


"Aku pikir aku bakal seneng mendengar berita putusnya kalian, nyatanya gak ada bedanya. Lukman justru semakin jauh...."kata Winda


Winda menyendok makanan di depannya.


"Sumpah aku ikutan sedih atas putusnya kalian. Diakui atau nggak, sedikit atau banyak, aku punya andil atas keputusanmu"


Wulan tersenyum tipis.


"Nggak juga. By the way aku makasih atas infonya. Itu jadi penentu langkahku selanjutnya"


Winda mengangguk lemah.


"Aku cabut Win, mau balik kantor, thanks traktirannya, menunya enak, good luck ya " Wulan pamitan. Winda mengangguk.


Dilihatnya sosok Wulan yang tengah berjalan menjauh keluar dari kafe. Gadis itu istimewa. Pantas saja Lukman tidak mampu berpaling darinya. Cara bicaranya, suara lembutnya, anggun parasnya memang sangat menarik. Yang paling menarik adalah pemikirannya yang jauh dari dugaan. Awalnya Winda mengira akan ada perdebatan sengit hari ini. Nyatanya justru sebaliknya. Rasa kagum, kasihan, dan rasa lainnya yang entah apa namanya berkecamuk dipikirannya.


Wulan, ada rasa bersalah yang begitu dalam di benak Winda. Mendadak ia merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas apa uang terjadi.


Pagi itu di car free day ia tak sengaja melihat Wulan dari kejauhan. Ia pun mengambil kesempatan ini, ia temui gadis itu. Ia meminta waktu untuk berbicara. Dan sesuatu yang dibicarakan inilah yang kemudian membuat Wulan mantap berpisah.


Ia katakan pada Wulan bahwa Papanya telah meghambat karir Lukman selama ini, ia selalu meminta pada perusahaan yang terikat kerjasama dengannya untuk memecat Lukman. Winda juga mengatakan tentang kaburnya Wulan waktu itu, juga preman yang nyantroni rumah Lukman dan memukulnya hingga babak belur tetapi Lukman enggan melaporkan hal ini pada polisi.

__ADS_1


Apakah Wulan terpaksa mengambil keputusan karena apa yang dulu ia katakan saat bertemu di car free day, atau memang sudah direncanakan untuk putus dari Lukman. Percuma Winda menang dari Wulan. Itu toh tidak merubah hubungannya dengan Lukman. Sejak saat itu mereka tidak berkomunikasi dengan cara apapun.


***


__ADS_2