
"Menurutku Mbak wardah ini gregetan sama sampean Mas" kata Nurul sambil melipat sirat yang baru ia baca.
"Gregetan gimana Rul"
"Sikap sampean ini membingungkan Mas, Mbak Wardah gregetan sampean gak cepet nglamar dia. Kan dianya jadi bingung. Yen iyo yo ndang yen ora yo ngomong. Bukannya cuma lirak lirik ya kan?"
Dulu Lukman memang menolak karena merasa belum siap. Ada satu kalimat yang mungkin membuat pihak Wardah bingung. 'entah nanti'. Lukman sempat mengucapkan itu saat memutuskan kembali ke Surabaya demi Wulan.
"Menurutmu bagaimana?" Lukmam meminta pendapat.
"Ada nomer hapenya di situ. Hubungi lah dia. Tapi hati-hati lo Mas, perempuan gampang salah paham"
Apakah ia harus menghubungi nomer itu? Pikirannya campur aduk antara seneng, bingung, takut. Apa yang akan dikatakan bila tersambung. Bolehkah mendekatinya dengan cara seperti itu? Tidakkah terulang kesalahan saat bersama Wulan. Bukankah Al Majnun sudah memberi pelajaran begitu dalam bahwa jangan mencintai orang melalui pintu belakang. Sebaliknya, ketuklah pintu depan pelan-pelan.
Sudah tiga hari nomer itu dibiarkan tak tersentuh. Lukman harus hati-hati dalam melangkah. Ia takut Pak Haji Saman akan murka jika tahu mereka berhubungan di luar ijinnya. Sebaiknya ia menunggu Wardah menguhubungi lebih dulu. Tetapi apakah perempuan berani menghubungi lelaki duluan? Nanti lah ditunggu dulu beberapa saat lagi.
Pukul sepuluh malam saat semua penghuni rumah sedang tertidur lelap. Hanya radio kuni yang terus menyala menemani Paklik yang sudah tidur. Lukman memutuskan untuk menghubungi Wardah. Anggap saja ini ikhtiar. Salah jika Lukman membiarkan nomer itu begitu saja. Wardah menuliskan nomer itu di suratnya berarti ia sedang membuka pintu agar Lukman masuk ke dalamnya. Tak mungkin kesempatan itu disia-siakan.
Tuut....tuut... nyambung. Lukman menunggu dengan berdebar-debar. Setelah cukup lama berdering akhirnya terjawab.
"Assalamualaikum..." Salam dari seberang.
Suara itu sepertinya bukan suara Wardah. Suaranya seperti lebih tua dari usia Wardah. Bagaimana bisa?
"Wa.... wa'alaikum....salam" jawab Lukman terbata-bata.
"Ini siapa ya?" Tanya dari seberang.
Suara itu tak asing bagi Lukman.
"Saya...Lukman Bu Haji, Mbak Wardah ada?" Lukman paham itu suara Bu Haji Saman, ibu Wardah.
"Oh, Wardah sudah tidur Nak Lukman, ada pesan? Nanti saya sampaikan" kata Bu Haji Saman.
"Oh tidak Bu Haji, besok saja saya hubungi lagi"
Rasanya seperti meledak. Bagaimana bisa Wardah memberikan nomer ibunya padanya. Apa maksudnya. Apakah ini jebakan atau memang ada maksud tertentu. Apakah mungkin Wardah menghendaki Lukman ngomong langsung sama ibunya? Tapi apa yang harus diomongkan. Semua menjadi serba membingungkan. Malu apalagi. Lukman serasa remaja yang sedang ketahuan. Malu semalu-malunya.
***
"Le, Bulik ke pasar dulu sama Nurul, nanti pulangnya mau langsung nyambangi Fatma sama Fitri di pondok, kalau mau makan, di dapur sudah siap ya Le," kata Bulik.
Setelah Bulik dan Nurul berangkat rumah menjadi sepi. Fatma dan Fitri yang biasa membuat ramai suasana sudah kembali ke pondok. Sekolah Formalnya memang sudah libur semester ganjil, tetapi diniyahnya tidak libur. Itulah kenapa Fitri merengek-rengek minta dijemput saat pergantian tahun baru agar bisa naik mobil keliling kota Kediri.
Saat itu Lukman tengah mencoba menanam terong di halaman rumah. Sudah lama ia tak bercocok tanam. Kegiatan seperti itu yang seharusnya lestari. Para lelaki harus bisa bercocok tanam. Dunia sudah semakin parah. Suatu ketika manusia akan mengalami sulit bahan alam sehingga yang mampu bercocok tanam akan mampu bertahan.
Telepon berdering saat Lukman baru saja duduk setelah bergumul dengan tanaman terong. Sebuah nomer baru.
"Assalamu'alaikum" sapa Lukman.
"Wa'alaikum salam. nak Lukman ada waktu hari ini?" Suara peremouan. Suara yang sama saat tempo hari Lukman menelepon Wardah. Suara Bu Haji Saman.
"Ada Bu Haji,. Ada dawuh (perintah) ?"
"Saya ingin bertemu bisa?"
"Oh, inggih, jam berapa gih Bu?"
"Setengah jam lagi, di rumah Pakdhe Murtaji Almarhum, saya dengar Nak Lukman ingin menyewa rumah itu"
" Oh inggih Bu, saget (bisa)"
__ADS_1
Mungkin Bu Haji Saman akan membahas kontrak rumah. Pakdhe Murtaji masih famili dari Bu Haji Saman. Ibunya Bu Haji adalah sepupu dari Pakdhe Murtaji. Jadi sangat wajar jika kontrak diurus oleh Bu Haji Saman. Lukman lega, sebentar lagi ia bisa tinggal di rumah sendiri.
Lukman segera bersih diri dan mengendarai mobilnya meuju rumah Pakdhe Murtaji. Sebenarnya kurang pantas jika mengendarai mobil untuk jarak yang lumayan dekat. Terkesan sombong. Tapi mau bagaimana lagi, motor dipakai Bulik ke pasar.
Sampai di rumah Pakdhe Murtaji, suasana tampak sepi. Bu Haji belum muncul. Rumah itu jika diperhatikan seksama memang agak angker. Ada lukisan Nyi Roro Kidul yang usdah usang di teras. Ada patung macan di bagian samping. Ada relief ular di tembok sebelah kiri. Rumah itu bergaya joglo modern. Terletak di ujung jalan tepat di tikungan. Jika berada di rumah itu bisa melihat jalan ke barat dan ke selatan sekaligus. Kanan kiri adalah area persawahan. Jadi wajar jika udara di sini cukup sejuk di siang hari dan dingin di malam hari.
Tak berapa lama Bu Haji Saman datang. Ia melihat mobil Lukman sebentar lalu lanjut berjalan masuk ke halaman rumah.
"Mobilnya baru Nak Lukman?" Tanya beliau begitu berada di depan Lukman.
"Sudah lama Bu Haji" Lukman tersenyum. Ia sebenarnya malu, khawatir jika dianggap pamer.
"Duduk Nak Lukman" ajak Bu Haji.
Mereka kemudian duduk di teras. Ada dua kursi dan satu meja di sana. Mereka duduk berdampingan.
"Sebenarnya saya tidak pantas bersikap seperti ini. Tapi ini harus saya lakukan demi kehormatan keluarga kami" kata Bu Haji mengawali.
Kehormatan keluarga. Apa hubungannya dengan Lukman. Apa pula hubungannya dengan kontrak di rumah ini.
"Nak Lukman sudah mendapat undangan bukan?" Tanya Bu Haji lagi
"Undangan apa gih Bu?" Lukman benar-benar tidak tahu.
"Oh berarti belum sampai" desah Bu Haji.
Sampai detik ini Lukman masih belum paham kemana arah pembicaraan ini akan dibawa.
"Jadi begini Nak Lukman, Wardah akan menikah tanggal 10 Januari nanti"
Ya Allah. Runtuh jiwa Lukman. Ia gagal kedua kalinya. Dadanya panas, ia seperti tak bisa bernafas dengan normal. Pertahanannya seperti roboh tetapi ia berusaha kuat dalam fisiknya. Ia tak ingin orang yang di depannya tahu bagaimana kacaunya pikirannya mendengar apa yang baru saja dikatakan.
"Awalnya semua berjalan lancar. Ibu lihat dia juga senang-senang saja akan menikah. Tetapi begitu Nak Lukman pulang. Dia berubah drastis. Dia hendak membatalkan pernikahannya...hiks..." Bu Haji mulai menitikkan air mata.
"Mana mungkin pernikahan yang sudah tinggal menghitung hari dibatalkan begitu saja, apa yang akan kami katakan pada calon besan kami Nak Lukman?" Tangis Bu Haji lebih dari sebelumnya
"Apa.....yang bisa saya bantu Bu?" Lukman berhati-hati dalam bicara
"Ibu pikir kalau Nak Lukman tidak pulang, tidak akan jadi seperti ini"
Lukman berharap mendapatkan kedamaian berada di desa ini. Tetapi nyatanya justru ada masalah baru. Wardah bermaksud membatalkan pernikahannya karena masih menginginkan Lukman, lalu ibunya menghendaki pernikahan tetap dilaksanakan. Astaghfirullah.... Lukman beristighfar dalam hati sebanyak-banyaknya. Belum selesai satu masalah datang lagi yang lainnya. Sebenarnya bisa saja Lukman cuek dengan semua ini toh tidak merugikannya. Ini bukan masalahnya melainkan masalah keluarga Pak Haji Saman. Toh Lukman tidak melakukan apa-apa.
Bulik dan Nurul sudah ada di rumah saat Lukman kembali. Rupanya cukup lama Lukman menemui Bu Haji Saman. Sayur yang dibeli dari pasar pun sudah mulai diolah.
Lukman hendak megambil air wudhu untuk sholat dhuhur saat Bulik memanggilnya.
"Dalem Bulik"
"Gimana kontraknya sudah beres? Tadi Bulik lihat kamu ngobrol sama Bu Haji Saman di rumah Pakdhe Murtaji. Minta berapa setahunnya? Kalau kemahalan nanti Bulik yang nego"
Lukman terdiam. Harus dijawab bagaimana sementara maksud pertemuan tadi tidak membahas itu.
"Belum Bulik, masih mikir"
Lukman rasa Bulik tak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentu ia akan marah besar padanya. Disadari atau tidak pusat masalah ini sebenarnya adalah dirinya. Jika saja dulu ia menerima lamaran Pak Haji Saman, ceritanya tidak akan seperti ini. Mereka akan menikah, Lukman tak perlu lagi patah hati, demikian juga dengan Wardah, tak perlu dirundung dilema.
***
Teeeet...teeeeet......teeeeet....
Anak-anak sudah bayak meniup terompet. Semakin kental suasana pergantian tahun. Beberapa hari lagi sudah tahun baru 2019. Fitri sudah menelpon bahkan mengancam jika tidak dijemput pakai mobil dia akan mutung (marah).
__ADS_1
Jalanan semakin ramai, lebih ramai dari biasanya. Penjual jagung manis mentah, terompet dan aneka pernak pernik lainnya tersebar di berbagai jalan raya. Sebenarnya ini waktu yang cocok untuk mencoba bisnis baru jika saja Lukman tak diliputi masalah.
"Le, kapan jemput Fitri sama Fatma?" Tanya Paklik saat makan malam.
"Insyaallah besok Paklik yang penting waktu malam tahun baru bisa jalan-jalan seperti yang dia mau"
"Paklik malah setuju kalau kamu jemputnya pas malam tahun baru, trus jalan-jalan sebentar paling malam jam 9 sudah balik ke pondok. Biar gak kelamaan di rumah. Diniyyahnya bisa kacau" usul Paklik
Lukman mengangguk.
"Betul itu, apalagi nanti awal januari juga ijin pulang lagi" sahut Bulik.
"Kenapa pulang?" Tanya Paklik.
"Lha itu, ada acara mantenan (pernikahan) di rumah Pak Haji Saman, Wardah kan mau nikah awal Januari tanggal.....sepuluh kalau gak salah. Ya namanya yang punya hajat Kyai nya ya seyogyanya pulang ewang - ewang (bantu-bantu)" jawab Bulik.
Nurul tertegun. Ia memandang Lukman mencari tahu apakah Lukman sudah tahu perihal berita ini. Tetapi Lukman hanya menunduk menikmati makan malamnya seolah tak ingin tahu apa yang dibicarakan.
"Man kamu sudah baca undangannya? Ada jamnya soalnya, teman sekolah, warga desa, undangan khusus jamnya beda-beda lo" kata Bulik.
"Oh, saya...belum terima undangan Bulik" jawab Lukman.
"Sudah, itu tak taruh meja kamarmu. Tadi sore ada yang anter"
Selepas makan malam Lukman mencari angin segar di depan rumah. Awalnya ia ingin membuka undangan itu tetapi ia urungkan. Ada sedikit rasa kecewa akan takdir yang dialaminya kini. Tetapi ini tak sesakit saat putus dengan Wulan. Lukman belum benar-benar cinta dengan Wardah. Jadi jika gagal begini sakit memang tapi tak terlalu dalam.
"Mas, st...ssstttt. Mas" panggil Nurul dari teras.
Lukman menoleh dan menghampiri Nurul.
"Di undanganmu ada suratnya" kata Nurul sambil berbisik.
Tanpa pikir panjang Lukman menuju kamarnya meraih undangan warna merah di mejanya.
"Mas...ssst...nanti tak tunggu kabarnya di depan, sudah tak siapin krupuk pecel" bisik Nurul dari luar.
Lukman tak terlalu menanggapi. Ia sedang meneliti surat yang kali ini kertasnya warna hijau.
Assalamualaikum,
Saya pasrah jika surat ini tak terbaca.
Maaf atas waktu itu, Umi mengangkat teleponmu, dan semua menjadi kacau.
Akan ku ceritakan sesuatu.
Setahun lalu setelah Mas Lukman kembali ke Surabaya, Umi mengirimku ke Kudus untuk mengajar di sana. Tetapi ternyata ada tujuan lain, di sana ada putra dari teman Umi uang sudah bertahun-tahun mengajar di sana.
Umi, temannya dan Kyai di sana telah berencana menjodohkan kami sejak awal. Semua telah diatur. Banyak kegiatan yang melibatkan kami berdua. Aku baru menyadari itu setelah pulang dari Kudus. Dia dan keluarganya datang kesini. Alih - alih untuk bersilaturahmi, nyatanya untuk proses sisetan (pertunangan) tanpa bertanya terlebih dahulu padaku apakah aku setuju atau tidak. Menurutmu apakah itu benar Mas?
Aku pernah berbisik dalam hatiku aga kami kembali. Mungkin Allah mendengar bisikanku, kamu benar-benar kembali. Aku ngobrol banyak dengan Nurul saat dia jamaah. Aku tahu kamu masih menginginkanku. Sekali lagi Allah mendengar bisikanku.
Kemarin nasibku di tangan Abah dan Umi, kini aku akan megusahakan nasibku sendiri. Aku tunggu kamu di Gor Jayabaya tepat di depan gedung saat malam pergantian tahun. Kita akan ke Lampung. Ke rumah nenekku. Karena hanya beliau uang bisa membatu kita. Beliau akan ngomong ke Umi dan pasti Umi menurut.
Tentang calon suamiku, akan kuhubungi setelah kita sampai Lampung. Jika kita bergerak cepat, semua bisa dikendalikan.
Aku tunggu saestu (benar) Mas. Semua memang harus diperjuangkan.
Wassalam,
Wardah.
__ADS_1
***