Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Sekufu


__ADS_3

Sehabis maghrib Lukman duduk manis di depan laptop mencari info lowongan kerja di Surabaya. Banyak info yang didapat tetapi belum menemukan yang pas. Terkadang ia berfikir untuk berwirausaha saja. Jauh lebih independen, tidak terikat dan bisa jadi lebih menjanjikan. Satu mobil mungkin cukup untuk membangun usaha.


Kreek...suara pagar terbuka. Ada yang bertamu sepertinya. Lukman beranjak dari duduknya mencoba mencari tahu siapa yang datang. Perempuan familiar ada di halaman rumah. Lukman membuka pintu rumah.


"Win..." Sapa Lukman.


"Hai.... aku dengar dari Gembul kamu balik ke Surabaya makanya aku coba cek" perempuan itu adalah Winda. Sosok yang berani dan ceplas ceplos.


"Sorry, Nomerku ganti jadi belum bisa hubungi kamu"


"Its okey....nih" Winda menyodorkan amplop putih panjang berlabel perusahaan.


"Posisimu memang sudah digantikan orang lain. Tapi posisi Pak Aji sebentar lagi kosong. Kamu tahu lah, siapa yang Pak Aji gadang-gadang unyuk gantikan posisinya" sambung Winda.


Lukman memandag amplop itu dengan seksama. Sebuah perusahaan minyak goreng yang membesarkan namanya terakhir kali meskipun bukan satu-satunya yang berjasa.


"Tapi Win..."


"Tidak perlu buru-buru, pikirkan aja dulu" seusai menjawab demikian Winda berlalu.


Winda memang seringkali datang menjadi penyelamat disaat Lukman kepepet. Perempuan itu seperti memiliki kamera pengintai sehingga tahu kapan harus datang pada Lukman.


Jujur saja Lukman malu bekerja kembali di perusahaan itu. Dia dulu mengundurkan diri dengan tiba-tiba, menolak program kerjasama di Jepang, dan sekarang mau masuk lagi? Bukankah itu akan mencoreng mukanya sendiri. Bagaimana ia akan menghadapi Pak Aji yang selama ini mengandalkannya. Bagaimana dengan supervisor yang menggantikan posisinya, akankah ia terganggu dengan kehadirannya.


Namun Lukman sangat membutuhkan pekerjaan saat ini. Tabungannya benar-benar terkuras habis untuk melunasi mobilnya. Ada baiknya mobil itu dijual saja untuk modal usaha. Tapi usaha apa yang cocok. Inilah salah satu kelemahan seorang pegawai. Ia selalu bergerak atas perintah. Bekerja sesuai bidang masing-masing. Jadi untuk memiliki usaha dan mengembangkannya sendiri akan mengalami kesulitan.


Dua minggu di Surabaya sebagai seorang tunakarya alias pengangguran tentu saja sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Tetapi bukan sesuatu yang buruk bagi seorang Lukman. Berapa kali ia jatuh namun segera bangkit. Berapa kali ia menjadi pengangguran dan mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat. Kali ini pun kemungkinan akan sama. Sebenarnya ia berharap mendapatkan pekerjaan di luar perusahaan Papa Winda. Tetapi saat ini masih itu lowongan yang terbuka dan sembilan puluh persen menerimanya.


Lukman membuka bagasi mobilnya mencari beberapa buku ekonomi yang perlu dibaca. Ada sebuah kotak kecil di sana. Sepertinya ia pernah melihatnya tapi lupa dimana. Dibukanya kotak kecil itu. Sebuah arloji bermerk bentuknya biasa tetapi terlihat elegan. Di bawahnya sebuah kertas kecil tersemat begitu saja. I hope you'll come back.. i sure that. Lukman baru ingat itu hadiah perpisahan dari Winda. Gadis itu masih menyimpan perasaan hingga sekarang. Mungkin ini adalah bagian dari rencananya untuk menariknya kembali ke kantor. Memang tidak ada salahnya, tetapi Lukman takut menyakiti perempuan itu. Hatinya benar-benar belum terbuka dengan Winda. Ada sesuatu yang tidak bisa ia terima yang entah kenapa rasanya mengganjal begitu saja. Ia takut peristiwa Wardah terjadi pada gadis itu. Bisa saja terjadi.


***


Ini masih terlalu pagi untuk gerimis menyapa bumi. Tak biasanya ia jatuh sepagi ini. Mungkin kantungnya sudah tak mampu menahan gumpalan kristal yang bertengger. Atau mungkin langit sedang begitu sedihnya hingga menangis siang malam. Kenapa mendadak langit begitu egois? Tak tahukah ia anak-anak yang berseragam iyu bisa telat jika ia tak berhenti menumpahkan tangis. Bagaimana dengan para pedagang keliling itu jika tak ada kesempatan berjalan, siapakah yang akan membeli dagangannya? Kenapa mendadak langit berpihak pada orang-orang mumpuni yang bisa kemana saja dengan roda empatnya. Tak kasihankah dengan mereka yang mengayuh roda duanya? Tak tahukah ia lelaki yang kini pengangguran itu juga perlu bepergian mencari pekerjaan. Ah langit, kau begitu egois.


Setelah beberapa lama langit yang terus menitikkan hujan, Lukman perlu berterima kasih padanya karena menahannya hari ini untuk tetap di rumah. Pasalnya, seseorang datang padanya membawa perubahan dalam perjalanan hidupnya.


"Maaf saya tidak bisa keluar rumah untuk sekadar mencari cemilan, monggo tehnya" kata Lukman sambil menyuguhkan tiga gelas teh hangat.


"Nggak Papa Man, dingin-dingin begini paling enak minun teh hangat" ujar salah seorang tamunya.


"Mohon maaf Mas Lukman, kedatangan kami mungkin membikin kaget" kata seorang lagi.


Lukman tersenyum ramah.


"Kami ingin menindak lanjuti soal hubungan Mas Lukman dengan adik saya, Widya" tamu itu adalah Mbak Andari beserta ayahandanya, Pak Ferdi.


"Maksud kami, peristiwa kemarin mingkin karena adik saya begitu merindukan Mas Lukman sehingga jatuh sakit" lanjut Mbak Andari.

__ADS_1


"Nah kedatangan kami ingin mengikat hubungan kalian menjadi lebih serius" sambung Pak Ferdi.


Tak disangka akan secepat ini. Lukman sudah menduga jika suatu ketika akan dilamar untuk Widya atau sebaliknya Lukman lah yang akan melamar Widya tetapi siapa sangka akan secepat ini. Lukman cukup kaget pagi ini. Jujur saja ia belum cukup dalam menyelami pribadi Widya. Mungkin hanya sekian persen yang ia tahu tentang dosen muda itu


"Tapi...maaf Pak Ferdi pasti tahu saya saat ini masih belum punya pekerjaan, apakah Pak Ferdi dan Mbak Andari yakin?" Lukman ragu-ragu dalam bicara.


"Oh...kami tidak begitu mementingkan itu, yang penting adalah kepribadian karena itu adalah pondasi dari segala hal. Sekali lagi kepribadian" jawab Pak Ferdi.


"Mas Lukman, materi bisa dibangun bersama-sama, toh Widya juga sudha bekerja, saya yakin dengan latar belakang Mas Lukman akan mudah dalam mengatur ekonomi" sambung Mbak Andari


Ah, seandainya keluarga Wulan memiliki pemikiran seluas Mbak Andari. Wulan, nama itu selalu muncul tiba-tiba setiap kali Lukman memikirkan membuka lembaran baru. Seolah nama itu mencegah Lukman melakukannya. Gadis itu pastilah sudah bahagia.


"Kami tentu saja akan memberikan waktu agar Mas Lukman bermusyawarah dengan keluarga terlebih dahulu, kami akan menunggu dengan sabar, tetapi ingat Mas, kami butuh kepastian" kata Mbak Andari mengakhiri.


Untung saja hujan pagi ini cukup membisingkan telinga sehingga debar jantung Lukman tertutup olehnya. Lukman tidak tahu perasaan apa yang sedang menyelimutinya kini. Antara senang dan takut. Antara penat dan gugup. Semua datang tiba-tiba sejak Widya di rumah sakit. Semua begitu berbeda sekarang.


"Alhamdulillah Bulik ikut seneng, bagaimana wajahnya? Ayu ora? Kirimi fotonya dong" komentar Bulik saat Lukman menelepon memberitahukan perihal lamaran dari pihak Widya.


"Gak punya Bulik, ada sih di profil, gampang lah, menurut Bulik gimana?" Tanya Lukman meminta nasehat.


"Bulik sih setuju kalau benar dia itu sholatnya rajin, berjilbab, dosen lagi, top pokok e Le" Bulik terdengar girang.


Lukman juga sepakat dengan Bulik tentang Widya. Gadis itu memang top.


"Ini Paklikmu baru pulang" Bulik lalu menyerahkan telepon pada Paklik.


Lukman sudah menduga Bulik akan sangat senang dengan sosok Widya. Cantik soleha dosen pula. Begitulah perempuan dengan emosinya yan yang meletup-letup. Tetapi jawaban Paklik yang paling bijak. Sejak orang tua Lukman meninggal Paklik yang memberikan keputusan paling banyak dan paling bijak dalam perjalanan hidup Lukman. Kali ini pun tentu demikian.


"Jodoh, pati rizki adalah ketentuan Allah tetapi bukan berarti kita menunggu, kita pun harus berusaha menemukan sendiri Allah yang menuntun" begitu kata Paklik beberapa hari setelah telepon Lukman tentang lamaran itu.


" Memilih jodoh itu ada aturannya. Yang pertama harus memperhatikan bagaimana agamanya, pilihlah yang seagama agar mudah dalam mengarungi hidup bersama. Pilihlah yang menjalankan perintah agama dengan baik karena seorang istri adalah wadah berkembangnya calon keturunanmu kelak, kedua lihatlah nasabnya, dari keluarga seperti apa dia. Hati-hati dengan keluarga yang sering melakukan dosa, keluarga yang jauh dari agama, karena jika keluarganya demikian, anaknya kemungkinan juga demikian meskipun tidak bisa dipukul rata. Ketiga, lihatlah bagaimana fisiknya. Kamu berhak mempertimbangkan kecantikannya, bagaimanapun itu akan mempengaruhi keturunanmu kelak, bukan cuma itu, paras cantik istrimu akan membuat hubungan rumah tangga menjadi harmonis, tifak dipungkiri semua laki-laki pasti maunya istri yang cantik. Tetapi juga jangan lupa pilihlah perempuan yang bisa menjaga fisiknya dengan baik, penampilannya pantes, kemolekan tubuhnya tidak diumbar, pandai merawat diri. Nah yang keempat lihatlah hartanya. Jangan dimaknai harta benda berupa uang dan kekayaan yang dimiliki semata. Tapi lihatlah pekerjaannya, kualitas dirinya, potensinya, prestasinya, kemampuannya"


Luiman mendengarkan dengan seksama. Pelajaran itu sudah pernah ia dapat semasa MTs dulu. Meski demikian di saat seperti ini, wejangan itu sangat berguna.


"Satu hal yang paling penting. Pilihlah yang sekufu. Ini sangat penting. Sekufu artinya sejajar. Calon suami istri, keluarganya, nasabnya haruslah sejajar, jika tidak akan mengkhawatirkan masa depan rumah tangganya"


Kemudian Paklik menceritakan kisah Nabi Ismail As. Suatu ketika jauh setelah peristiwa Qurban, saat Nabi Ismail sudah dewasa, beliau menikah dengan seorang perempuan dan tinggal di dekat sebuah sumber. Suatu ketika sang ayahanda -Nabi Ibrahim As- datang berkunjung, tetapi sang istri tidak mengenalinya bahkan sang istri sempat menganggapnya sebagai pengemis. Bertanyalah sang ayah pada istri Nabi Ismail As.


"Dimana suamimu?" Tanya Nabi Ibrahim.


"Dia sedang mencari nafkah untuk kami" jawab sang istri.


"Bagaimana kehidupan kalian?"


Sang istri mendesah berat.


"Nahnu bisyarrin, wa nahnu bidhoiqin wa syiddatin. Bagaimana kami harus mengatakan padamu pak tua, kehidupan kami sangat sulit, suamiku hanya mampu memberikan kami daging dan air saja. Hidup kami sempit dan penuh kesulitan" jawab sang istri

__ADS_1


Mendengar jawaban demikian, Nabi Ibrahim As pun berpesan.


"Katakan pada suamimu jika ia sudah pulang, suruh dia mengubah palang pintu di rumah ini"


Benar saja, setelah Nabi Ismail As pulang, disampaikanlah pesan tadi kepadanya. Lalu beliau berkata.


"Wahai istriku, ketahuilah bahwa pria tua tadi adalah ayahku, dia berpesan demikian, artinya ia memintaku menceraikanmu"


Selang beberapa tahun setelah bercerai dari istrinya, Nabi Ismail menikah lagi dan tinggal di rumah yang sama. Seperti yang terjadi pada istrinya sebelumnya, sang ayahanda -Nabi Ibrahim As- datang berkunjung. Sang istri tidak mengenalinya sama seperti yang terjadi pada mantan istri.


"Dimana suamimu?"


"Suamiku sedang mencari nafkah untuk kami" jawab sang istri.


"Bagaimana kehidupan kalian?" Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


"Nahnu bikhoirin wa sa'atin. Kami selalu dalam keadaan baik dan kecukupan. Suamiku mengurus kami dengan baik" jawab sang istri.


"Apa makananmu?"


"Daging"


"Minumanmu?"


"Air"


Makanan dan minuman yang sama diterima oleh istri sebelumnya.


"Semoga Allah memberkahi kalian dengan daging dan air yang kalian miliki. Sampaikan pada suamimu, jangan mengubah palang pintu rumah ini" kata sang ayahanda.


Setelah Nabi Ismail As pulang, diceritakanlah apa yang telah dialami oleh istrinya padanya, lalu beliau berkata.


"Duhai istriku, ketahuilah bahwa pria tua itu adalah ayahku. Beliau berpesan seperti itu, artinya aku tidak boleh menceraikanmu"


Palang pintu diisyaratkan sebagai penyempurna sebuah rumah. Ketika seseorang memasang palang pintu maka sebuah rumah dianggap sudah sempurna. Apalah arti rumah tanpa palang pintu. Siapapun bisa keluar masuk bahkan pencuri. Sehingga rumah itu tidak aman untuk ditinggali.


Seorang istri adalah penyempurna laki-laki. Ketika telah beristri maka sempurnalah kehidupan seorang laki-laki. Maka jika palang pintu diganti adalah sebuah isyarat agar mengganti seorang istri dengan yang lebih baik.


Itulah gambaran jika suami istri tidak sekufu, tidak sepemikiran. Ketika sang istri menganggap kebahagiaan tergantung dari materi, maka ia akan selalu merasa kekurangan dengan penghasilan suami yang dianggapnya tidak cukup. Begitupun sebaliknya.


Sekufu berarti sepemikiran, sederajat, sepaham, latar belakang yang sejajar, dari keluarga yang sepadan. Tetapi jangan dilihat dari kesepadanan hartanya, lihatlah kesepadanan orientasinya. Pasangan yang sekufu akan lebih mudah dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Sebaliknya, pasangan yang tidak sekufu akan lebih sering cekcok karena perbedaan pendapat. Jika kita melihat pasangan kaya miskin bisa bahagia hingga akhir hayat, bukan berarti mereka tidak sekufu, kesekufuan bisa jadi dari segi pendidikannya, atau nasabnya. Semua itu bisa saja terjadi.


Dalam hal ini mungkin Wulan tidak memenuhi syarat. Latar belakang keluarganya jauh berbeda, orientasi pun berbeda, nasab pun mungkin demikian. Keluarga Widya adalah keluarga terpandang dengan latar belakang jawa modern. Leluhurnya adalah Hamengku Buwono IV entah dari garis keturunan ke berapa dan yang mana. Mereka memandang otoritas sebagai kunci kesuksesan seseorang. Manusia dikatakan sukses bila memiliki otoritas yabg diperhitungkan.


Sementara Widya, keluarganya tidak memiliki garis keturunan ningrat. Saudara-saudaranya berorientasi pada pendidikan dan kepegawaian. Keharmonisan terasa sangat kental di keluarga ini. Guyub rukunnya terasa menjadi kewajiban. Memasyarakat dan membaur menjadi salah satu pengajaran.


Dari segala hal yang dibandingkan, Widya dirasa lebih cocok. Apalagi Wulan sudah lepas dari genggamannya. Widya, dialah gadis yang pantas.

__ADS_1


***


__ADS_2