
34
Belum ada jam delapan Lukman sudah ada di parkiran karyawan. Bukan karena ia berniat berangkat lebih pagi, tapi karena jalanan pagi ini tidak sepadat biasanya. Di depan sana satpam gemuk yang hidupnya selalu terlihat bahagia tengah membersihkan pos nya dengan kemoceng sambil nyanyi-nyanyi lagu campursari. Memang benar, bahagia itu sederhana. Kekayaan tak menjamin bahagia. Satpam yang gajinya jauh di bawah seorang manager seperti Lukman, nampaknya hidupnya bebas dari masalah. Tapi lihatlah Lukman, dengan posisinya yang bagus ia hampir tidao bisa menikmati harinya dengan santai. Pekerjaannya kian padat dari sebelumnya.
"Mbul" panggil Lukman sedikit teriak sehingga Gembul pun terkejut.
"Ya ampun Maaaas ngagetin aja" komentar Gembul.
"Ntar malem ngopi yuk, sekitar sini aja" ajak Lukman.
"Wah mesti kangen ini Mas Lukman ini" Gembul mulai berlagak.
Lukman menunggu jawaban dengan membelalakkan bola matanya.
"Wah gak bisa janji eg Mas, tergantung Mbak Bos pulangnya jam berapa"
"Siapa? Winda?"
"Ya iya to Mas, Mbak Wi da akhir-akhir ini pulangnya malam, masak mau tak tinggal gitu aja"
Pulang malam? Apa dia sedang lembur? Untuk proyek apa? Bagaimana bisa Lukman tidak tahu padahal mereka berada pada divisi yang sama.
Sebelum masuk ke lift untuk naik ke lantai atas, seorang resepsionis menghentikan langkah Lukman.
"Pak Lukman diminta ambil berkas di ruangan Bu Winda untuk didiskusikan denga manager lainnya, hari ini Bu Winda tidak enak badan, bisa jadi datang agak telat atau jjistru tidak masuk kantor" kata si resepsionis.
Lukman penampilan program apa yang sedang dia kerjakan. Demga berkas yang akan ia ambil itu, dia berharap mengetahui sesuatu. Paling tidak ia bisa bersiap-siap jika suatu ketika dimintai pendapat dalam meeting nantinya.
Benar saja, berkas proposal kemasan produk baru tertata di atas meja. Melihat ruangan Winda, sepertinya tak ada yang berubah mana perabot kaca uang dibawa Gembul yang merupakan pesanan Winda itu. Jika itu bukan perabot di kantor, mungkinkah perabot untuk di rumah?
Saat lukman memgangkat berkas itu, tak sengaja ia menjatuhkan bolpoin yang yadinya tepat di samping berkas proposal itu. Betapa terkejutnya Lukman saat berjongkok mengambil bolpoin yang jatuh, ada benda dengan jumlah cukup banyak di bawah meja. Botol minuman dengan bahan beling. Itu bukan minuman ringan, bukan pula minuman bersoda. Itu minuman keras yang cukup berkelas di negeri tercinta. Semuanya dalam keadaan kosong. Karud uang diyempati botol-botol itu, adalah kardus yang dibawa Gembul saat itu. Jadi kardus itu isinya miniman keras. Siapa yang memesan ini? Winda? Rasanya tidak mungkin. Gadis itu sepertinya bukan tipe yang suka hal beginian. Lalu siapa?
Krek. Pintu berderit. Lukman segera berdiri. Ia kembali dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Winda berdiri di tenga pintu. Ekspresinya sama terkejutnya dengan Lukman.
"Lukman? Ngapain kamu di ruangan saya?" Tanya Winda agak curiga.
" Loh bukannya tadi kamu yang pesen ke resepsionis kalau aku sirih ambil berkas ini?" Lukman balik bertanya.
"Oh iya, ehm jadi kamu sudah tahu tentang proposal itu? Baguslah kita bisa meeting secepatnya, sini biar aku sendiri yang bawa ke general manager"
"Katanya kamu sakit Win,. Sakit apa?" Tanya Lukman berusaha membuat basa-basi.
"Mabuk" jawab Winda singkat.
Lukman sejenak terkejut, kemudian Winda mempertegas jawabannya tadi.
"Mabuk drakor hahaha mabuk cinta sama akang Lee Minho gila cakep banget, jadi semalam aku nonton drakor sampai larut makanya pagi tadi lemes banget nih badan" jawab Winda sambil merebut berkas di tangan Lukman.
Kejadian pagi ini cukup mengganggu pikiran Lukman. Bagaimana bisa gadis yang selama ini ia kenal baik, cerdas dan berpendidikan, menyimpan banyak botol minuman keras. Bagaimana bisa ia tidak tahu hal itu. Ataukah ada seseorang yang sedang mencoba menjebaknya? Rasanya aneh, siapa dan untuk apa dijebak? Ia seperti sedang sakit dikhianati oleh seorang teman. Kecewa kenapa dia melakukan itu, rasanya seperti tak percaya. Atau, ada seseorang yang minum bersamanya? Ataukah seseorang yang menyimpan itu? Kenapa di ruangan Winda? Ah. Ratusan pertanyaan kini bersarang di otaknya. Sejak pagi hingga sore Lukman seperti tidak fokus dengan pekerjaannya hari ini.
"Mas, ntar malam jadi ngopi ndak? Aman Mas, Mbak Bos sudah pulang" kata Gembul begitu masuk ke ruangan Lukman.
Winda sudah pulang pun Lukman sampai tidak tahu. Pikirannya benar-benar tidak fokus hari ini. Lukman mengangguk menjawab pertanyaan Gembul, lalu Gembul keluar ruangan.
Entahlah kenapa Winda menjadi sosok yang misterius sekarang ini. Dulu dia begitu baik dan seperti dewi penolong, tiba-tiba berubah cuek sesaat setelah mengatakan perasaannya. Lalu datang lagi menolongnya disaat ia butuh pekerjaan dan sekarang kembali menjauh.
Dua cangkir kopi hitam, seikat kedelai rebus dan beberapa iris jagung manis rebus tersedia masih panas di meja.
"Monggo Mas, sudah lama nggak ngemil ginian" kata Gembul.
Sesuai rencana Lukman dan Gembul ngopi sekitar kantor setelah terlebih dahulu memberi kabar pada Widya via whatsapp. Awalnya Lukman hanya ingin ngobrol melepas penat. Dalam hal guyonan Gembul memang ahlinya. Tetapi kemudian ada tambahan niat lagi, Lukman ingin mengorek informasi dari Gembul. Tentu saja tentang Winda.
"Mbul, ingat gak waktu kita ketemu di parkiran, kau bawa kardus segini - sambil membentangkan kedua lengannya-, kamu tahu itu isinya apa?" Tanya Lukman mengawali.
Gembul tampak mengingat-ingat.
"Oh itu, ehm gimana ya Mas, aku sebentar pengen cerita itu sudah lama Mas, tapi mau ngomong kayak gak enak gitu lo"
Lukman menantikan jawaban berikutnya.
"Mbak Bos Winda itu Mas, sering pulang malam dari kantor, bukan nglembur Mas, Mbak Bos sering mabuk Mas" jawab Gembul kemudian.
"Mabuk?"
"Iyo eg Mas, kalau sudah mabuk mana mungkin saya tinggal pulang, ya saya yang ngantar jadinya"
"Jadi benar kardus yang kamu bawa itu isinya minuman keras?"
Gembul mengangguk.
"Kau yang belikan?"
"Walah ya enggak to Mas, Mbak Bos biasanya pesen online trus diantar sampek pos, baru saya yang antar ke atas. Aku sempat baca notanya mas, wuih mahal bisa buat cicilan motor Mas"
Lukman tampak berfikir.
"Pas saya antar Mbak Bos pulang nih Mas, kata pembantunya dia memang dulunya sering minum kalo lagi sumpek"
Apakah mungkin karena mendengar berita pertunangan Lukman? Jika benar berarti waktu dia tahu Lukman sudah punya pacarpun demikian?
__ADS_1
"Mbul, tolong ya Mbul masalah ini jangan diceritakan ke siapa-siapa, bagaimanapun juga dia atasanmu, lagipula dia kan baik banget sama kamu"
Gembul mengangguk kuat. Jagung manis dan kedelai rebus menghiasi hangatnya malam ini. Surabaya tidak akan dingin sebelum jam dua belas malam. Dua cangkir kopi hitam turut mengalir merembes di dada dengan hangatnya. Sambil menikmati gedung-gedung yang gemerlapan, Lukman dan kawan kocaknya, Gembul bercengkrama hingga lebih dari jam sepuluh malam. Bukan waktu yang terlampau malam bagi para lelaki. Bukan pula waktu yang tabu bagi warga Surabaya. Karena Surabaya tidak pernah tidur.
***
Lukman:
Nanti aku pulang agak telat ada keperluan mendesak, insyaallah aku makan di kantor
Widya:
Oh iya Mas, jangan lupa makan
Lukman:
Oke
Widya:
Aku bawain cemilan tadi tak taruh teras
Lukman:
Sip, teman nglembur. Makasih yaa
Widya:
Iya, jangan larut malem tidurnya
Lukman:
Hmm kamu juga ingat kesehatan
Widya:
Matur suwun
Lukman:
Jiahhh belajar dari mana
Widya:
Mbah google banyak
Lukman:
Widya:
Injih apaan
Lukman:
Hahaha belajar lagi sana
Widya:
Hmmm udah sana kerja
Lukman:
Iyaa
Begini rasanya chat dengan calon istri, memang tidak sebegitu getarnya dibanding saat sms-an dengan Wulan. Namun lebih lega, lebih aman, sangat minim dengan kekhawatiran. Entahlah memang tidak segreget ketika menerima pesan dari Wulan. Apakah hatinya belum benar-benar beralih, ataukah masih ada celah kecil untuk Wulan yang belakangan ini muncul tiba-tiba. Atau inikah yang disebut gidaan pra nikah. Lukman berharap alasan ketigalah yang sedang ia hadapi kini.
Selesai menjawab serentetan whatsapp dari Widya, Lukman bergegas membereakan barang pribadinya. Sudah senja, ia ingin memastikan apakah Winda aidha pulang ataukah seperti yang dikatakan Gembul, pulang lebuh malam.
Lukman menuju parkiran, dilihatnya mobil Winda masih di sana. Ia kenbali lagi masuk lift menuju lantai tujuh tempat ruangan Winda berada. Lantai tujuh masih menyala. Winda tak sendirian. Ada beberapa staf yang masih lalu lalang di sana padahal sudah adzan Maghrib. Lukman membuka pintu ruangan Winda dengan sigap seperti sedang menyergap pencuri. Dilihatnya Winda tengah mengetik di laptopnya. Tentu saja tidak bos muda itu terkejut melihat kehadiran Lukman yang tiba-tiba. Winda melepaskan kacamatanya sejenak. Dahinya mengkerut menuntut jawaban dari Lukman.
"Eh, sorry, cuma mau nanya, kok belum pulang? Lagi ngerjain apa?" Kata Lukman belepotan.
"Aku pikir kamu sudah baca berkas aku waktu itu"
Lukman tampak mengingat-ingat.
"Oh tentang kemasan produk baru?" Tanya Lukman memastikan.
"Yah, dalam waktu dekat aku akan presentasi" jawab Winda sambil kembali mengenakan kacamatanya.
Lukman menganggukkan kepala, ia lega temannya tidak seperti yang ia pikirkan hari ini. Namun sebenarnya ia masih belum yakin, pasalnya puluhan botol minum itu ada di bawah meja kerjanya. Dalam hatinya ia berharap barang itu milik orang lain meskipun mustahil.
Lukman turun ke parkiran lalu belok kanan menuju mushola untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sholatnya tidak begitu khusuk hari ini. Ia masih penasaran dengan apa yang dilihatnya di ruangan Winda tempo hari. Dan hari ini ia ingin menanyakan langsung.
Di parkiran mobil Winda masih ada, artinya dia belum pulang. Lukman bergegas masuk kantor.
"Mas, mau kemana?" Cegah Gembul di depan pintu masuk belakang
"Mbul, kamu tunggu sini ya jangan kemana-mana" kata Lukman.
__ADS_1
Gembul mengangguk tanpa sempat bertanya kenapa dan untuk apa. Lukman setengah berlari menuju lantai tujuh. Lantai tujuh sepi seperti lantai lainnya hanya ada satu ruangan yang menyala dan berpenghuni. Ruangan Winda yang hanya disekat dengan kaca buram. Lukmam berfikir dua kali, mereka hanya berdua, apakah tidak bahaya berdua laki-laki dan perempuan begini. Bagaimana jika ada yang tahu dan menyebarkan gosip?
Lukman hendak kembali turun kemudian langkahnya terhenti ketika mendengar dentingan suara kaca bersentuhan. Ia memberanikan diri membuka ruangan Winda. Semua jawaban ada di depannya kini. Winda terkejut dengan kedatangan Lukman secara tiba-tiba. Lebih terkejut dari sebelumnya. Mungkin ia berfikir Lukman sudah pulang. Lukman tak kalah terkejutnya. Di depan Winda benda haram itu terpampang jelas di atas meja lengkap dengan gelasnya yang sudah terisi sebagian. Lukman bergerak mendekati Winda.
"Jadi ini minuman berkelas yang harganya mahal sampai bisa buat bayar cicilan motor?" Kata Lukman mengawali.
"Jadi kamu udah tahu? Baguslah. Mau nyoba?" Kilah Winda dengan berani.
"Aku tidak mampu bayar, aku takut ketagihan, gajiku tak akan cukup untuk beli lagi"
"Hm ...ngledek"
"Sejak kapan kamu minum? Kenapa?" Lukman berada di posisi yang lebih dekat dengan dari sebelumnya.
"Ini duniaku, kamu gak berhak nanya kayak gitu, kenapa? Setelah tahu aku minum, kamu gak mau deket aku lagi? Fine, pergi sana" kata Winda setengah berbisik. Tampaknya ia mulai terpengaruh alkohol. Antara sadar dan tidak.
"Apa minuman itu akan menyelesaikan masalahmu?" Lukman bertanya dengan lirih.
Brakk!!!!!! Winda menggebrak meja kerjanya.
"Aku bilang kamu pergi !! PERGIIII!!!!!!! kamu......gak berhak ikut campur urusan gue.... Kamuuuuu..... Ikut andil dengan kehancuranku saat ini. Jadi jangan sok jadi pendekar di sini. Ngerti????"
Lukman mundur beberapa langkah saat Winda mendorongnya. Ia tida menjawab apa-apa. Ia ingin mendengar yang sesungguhnya.
"Hiks ... Hiks..... Kamu, benar-benar tidak tahu diri. Aku yang nolongin kamu untuk dapat posisi yang bagus. Aku yang belain kamu waktu kamu dipermalukan di depan umum, aku yang narik kamu lagi ke kantor ini padahal kamu sudah mengundurkan diri dan orang yang mengundurkan diri akan sulit masuk lagi, kamu..... benar-benar buta. Kamu gak bisa lihat perasaanku"
Winda menunduk dan terdengarlah isakan ringan. Dan Lukman masih terdiam.
"Kenapa Man???? Kenapa kamu gak bisa lihat sedikit saja. Aku tulus Man. Kamu pikir program ke Jepang benar-benar ditunda?? Apa kamu gak bisa lihat kenapa hanya aku yang ditunda dan yang lain tidak? hah?!! Aku mundur dari program itu Man...aku mundur. Apa gunanya aku pergi ke Jepang tanpa kamu...kamu mikir gak sih. Bukankah pengorbananku sangat cukup untuk menunjukkan perasaanku hah??!!"
Widya meminum segelas lagi.
"Aku lakuin semua yang kamu suka. Sholat, bersikap kalem, pakek baju yang gak seksi, sampek kebiasaan mabuk pun gue ilangin. Sejak ketemu kamu aku udah gak mabuk lagi, hanya sesekali pas lagi stress doang, setelah deket sama kamu, aku semangat lagi, kuliah rajin, sekripsi kelar, lanjutin bangun kafe, mau kerja. Tapi semuanya udah hancur Man, semua yang kuawali lagi hancur. Hiks...hiks....kamu...hancurin semuanya...hiks...hiks.... Bukankah itu jahat banget"
Antara tertawa dan menangis, Winda kembali meraih botol minuman dan menciba menuangkannya ke dalam gelas tetapi Lukman mencegahnya. Ia memegang erat lengan Winda.
"Lepasin Man...." Kata Winda.
"Sudah cukup Win...." Jawab Lukman.
"Apanya yang cukup, lepasin Man....lepasin" Winda mencoba melepaskan lengannya dari genggaman Lukman tetapi kalah kuat.
"Kalau kamu kayak gini terus pria mana pun gak akan mau sama cewek pemabuk kayak kamu!!!!" Lukman berteriak.
Widya tersungkur. Ia kini dalam posisi duduk di lantai memeluk kedua lututnya.
"Semua ..yang disekelilingku adalah benda mati. Mobil, rumah, segala macam fasilitas yang aku punya adalah benda mati. Gak ada satupun yang hidup. Gak ada yang bisa mengerti aku...gak ada..." Winda seperti sedang merintih.
Lukman masih tetap diam.
"Tanya ke bokap gue..tanya ke mama... Mereka takut kehilangan gue apa kehilangan tender?? Ha? Tanya!"
Winda menangis. Suara tangisnya begitu dalam. Gadis itu bergelimang harta tapi di dadanya begitu banyak derita. Semua bersumber dari satu kata, 'kesepian'. Gadis itu berharap mendapatkan segalanya dari seorang laki-laki yang menurutnya mampu, Lukman. Tapi nyatanya Lukman tidak mampu memberi harapan walau setitik.
Kedua tangan Lukman meraih kepala Winda yang tertunduk. Secara otomatis kepalanya terangkat. Kesedihan itu tampak bertengger di biji matanya.
"Win.....maaf membuatmu berkorban begitu besar, aku mengagumimu, kamu selalu berpikir dengan cepat, kamu cerdas Win. Aku bahkan di tak bisa menjangkau seujung kuku pun daru kemampuan kamu. Aku jujur, aku gak bohong"
Winda mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia enggan menatap Lukman. Antara malu dan marah pasti.
"Kamu tahu, kamu memberikan warna dalam kehidupan aku. Aku menjadi suka tertawa, guyonan, melakukan hal-hal sepele yang menyenangkan, kantor ini seakan bukan tempat kerja lagi, tapi rumah kedua, itu karena kamu. Saat kamu menjauh karena apa aku gak ngerti, aku seperti kehilangan separuh nyawa. Aku kangen pertolonganmu, aku kangen dibelain, aku kangen diledekin lagi. Kayak dulu Win" ucap Lukman pelan.
Kali ini Winda mulai menatap mata Lukman.
"Aku betah disamping kamu, aku senang bisa dekat dengan cewek luar biasa seperti kamu. Aku minta maaf jika belum bisa memberi apa yang kamu mau, aku ingin seterusnya menjadi sahabat seperti awal ketemu, aku tidak ingin menodainya dengan hubungan yang tidak pasti. Aku tidak ingin mengulang kembali seperti ketika dengan Wulan. Sudah cukup aku rasakan sakitnya berpisah. Aku tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama. Jadi tetaplah menjadi sahabatku, jangan merubah, karena bisa jadi musibah"
Winda tampak berusaha menyelami meskipun sesekali matanya memicing penuh kebencian.
"Dengarkan aku baik-baik, kamu harus mendapatkan laki-laki yang sepadan. Yang cerdas, cekatan berani dan bertanggung jawab. Satu lagi, kaya. Setidaknya seorang tuan putri harus mendapat pangeran. Jangan jatuh cinta dengan orang yang salah"
Suasana sunyi sejenak.
"Jika benar kamu merubah dirimu, jangan karena aku atau karena siapapun, tapi lakukanlah demi dirimu sendiri. Akan sangat disayangkan jika kesempurnaanmu diobrak abrik oleh botol-botol ini bukan"
Winda mengangkat kepalanya. Ia memandang mata Lukman lekat-lekat mencari kebenaran di sana. Apakah Lukman berkata benar atau hanya menghiburnya. Lukman membalas tatapan itu. Mata mereka beradu. Wajah keduanya hanya berjarak sekitar enam sentimeter saja sekarang.
Dipandanginya wajah Winda yang sendu. Gadis itu tidak begitu cantik tetapi manis. Mungkin tidak bisa dibandingkan dengan Wulan, tapi juga tidak bisa dikatakan standar. Ia lebih dari itu. Inner beauty nya tampak pada setiap ucapannya yang brillian. Gadis itu memang sedap dipandang. Tak heran jika ia dulu adalah primadona di sekolahnya. Seharusnya banyak pria yang mendekatinya, tetapi mungkin banyak yang mengurungkan diri karena merasa terlalu tinggi untuk digapai. Gadis berambut pendek yang istimewa.
Bibir keduanya hampir saja bersentuhan jika saja Lukman tak segera mengingat statusnya kini. Ia hampir saja melakukan kesalahan yang belum pernah ia lakukan bahkan dengan Wulan sekalipun. Ternyata benar, ketika lelaki dan perempuan berada dalam suasana sepi, akan lebih mudah mendapat bisikan syetan. Jika tidak kuat, pasti akan terjadi hal-hal yang sebelumnya dijaga ketat.
Lukman mundur beberapa senti. Ia tersenyum lalu meninggalkan Winda sendirian. Saat akan membuka lift, dari dalamnya keluarlah Gembul.
"Ada apa Mas? Ada yang gawat toh?" Tanya Gembul.
"Kamu datang tepat waktu Mbul, tolong anterin Winda pulang"
"Iya Mas, Mbak Bos mabuk lagi?"
Lukman mengangguk dan segera masuk lift untuk turun. Ia tak ingin menjelaskan secara rinci apa yang ia lihat tadi meskipun sebenarnya itu bukan keputusan yang tepat. Bisa saja Gembul berpikir yang tidak-tidak tentang mereja. Berduaan di kantor yang sepi tentu menimbulkan kecuriy. Tapi entahlah Lukman tak berpikir panjang. Batinnya pun terkoyak. Winda bisa saja menggoyahkan pendiriannya seperti halnya Wulan. Ia terus mengingat bahwa sudah ada Widya yang setengah sah menjadi miliknya. Jika gadis itu tahu betapa terkoyaknya hatinya dan apakahia masih bisa dipercaya setelah ini?
__ADS_1
Mobil melaju, hujan turun serta merta. Langit seperti sedang mewakili tangis batinnya malam ini. Kuat..kuat ...kuat ia harus kuat.
***