
12
Ini seperti perang. Genderang sudah ditabuh. Begitu keras menderu di hati Lukman. Ia duduk tertunduk berusaha menyembunyikan rasa takut.
Awalnya Wulan merencanakan hanya bertemu Mamanya saja, tetapi Lukman berubah pikiran. Tentu tidak gentle jika menggunakan cara sebelumnya. Ia akan datang disaat Papa Wulan, kunci dari hubungan mereka, ada di rumah.
Kini Lukman harus berjuang menguasai dirinya sendiri. Ibarat kancil di sarang singa. Nyalinya mendadak ciut berhadapan dengan orang kaya. Ia teringat akan beberapa tahun lalu lamarannya ditolak mentah-mentah di tempat ini, di kursi yang sedang didudukinya. Dengan posisi yang sama dan mungkin pakaian yang sama.
"Bapak dan Ibu tentunya sudah lama mengerti tentang hubungan kami" kata Lukman mengawali.
"Ya,. Hubungan kalian yang diam-diam" Pak Handi mengskak, membuat Lukman semakin ciut. Naun ia berusaha menguasai keadaan.
"Karena itu, saya kembali untuk meminta restu agar hubungan kami menjadi lebih baik dan lebih berkah" Lukman berhati-hati sekali.
"Kamu sudah dapat kerja???dimana???" Tanya Pak Handi kalem tetapi dengan nada menusuk.
"Saya sekarang supervisor divisi produksi Pak, di perusahaan minyak goreng milik Pak Gustaman, mungkin bapak kenal"
Ups, Lukman melakukan kesalahan. Tidak seharusnya dia mengatakan dinana ia bekerja sekarang karena pasti akan didatangi untuk kembali menghancurkan karirnya.
"Oh di situ... Supervisor saja sombongnya gak karuan" pak Handi mengangkat kakinya.
"Alhamdulillah saya baru saja menerima beasiswa kuliah di Jepang Pak, akan saya jalani bulan februari depan Pak"
"Hahahaha...... Kuliah? Jepang? Mbok ya kalau ngarang itu yang masuk akal dikit, apa ya mungkin pegawai biasa seperti kamu kuliah di Jepang. Rugi dong perusahaanmu, trus itu mobil pinjam darimana? Nyewa? "
Lukman diam takut salah lagi dalam bicara. Sepertinya tidak ada gunanya lagi berbicara. Apapun pasti salah.
"Begini lo, sampai kapanpun kamu itu ndak bakalan tak restui. Kalian itu beda. Wulan dari kalangan apa, kamu dari kalangan apa mbok ya mikir. Kamu gak bakalan bisa menghidupi anak saya. Apa kata orang kalau menantuku kere seperti ini"
Masih banyak yang dikatakan tetapi Lukman sudah tidak mendengar. Dia menulikan telinganya. Terlalu sakit untuk didengar.
Wulan menguping di balik pintu ruang tengah. Air matanya mengalir deras. Bukan karena sakitnya tak direstui, melainkan tak tega jika orang yang dicintainya diumpat sedemikian rupa. Jika saja ia punya kuasa, ingin rasanya ia mendorong kekasihnya untuk pergi meninggalkan ruangan panas itu. Ingin rasanya ia menyuruh kekasihnya pergi agar tak mendengar lagi ocehan yang menyakitkan itu.
Begitulah. Dua kali tertolak. Supervisor kurang mapan bagi Pak Handi. Harus menjadi General Manager untuk bisa dikatakan layak. Bukan, dia pernah menjabat posisi itu tetapi dipecat karena akal-akalan Pak Handi. Mungkin harus menjadi pemegang saham barulah bisa diterima.
Masih ada alasan lain. Masa lalu di panti asuhan dinilai aib olehnya. Orangtua yang sudah tiada dan bukan kehendak Lukman turut menjadi aib.
Aaakh....
Lukman stress. Susah payah jatuh bangun ia lakoni untuk dapat dinilai pantas, nyatanya hati Pak Handi sidha benar benar buta. Ia hanya mau calon menantu yang terlahir kaya. Bukan yang mapan karena usahanya sendiri.
Wulan tak kalah stressnya. Ia mengunci diri di dalam kamar, memeluk boneka pinky bear hadiah pertama dari Lukman semasa SMA, ia menangis dibawah bantal sejadi jadinya. Ia mengerang seperti anak kecil yang bonekanya rusak. Ia menangis hingga seluruh tubuhnya bergetar. Ia menangis hingga tertidur.
Lukman hampir saja menabrak jembatan jika tidak segera menguasai setir. Pikirannya kalut. Bertahun tahun ia menantikan hari ini tetapi hasilnya sia-sia seperti dulu. Jika dulu dia masih karyawan rendahan dengan akad kontrak, masih bisa dimaklumi. Tapi hari ini, dengan jabatan yang lumayan, dengan kepemilikan yang lumayan dan tingkat kemapanan yang baik. Namun tetap gagal. Jika saja imannya tak kuat dia pasti sudah minum sampai mabuk.
Lukman menghentikan mobilnya di depan rumah kontrakannya. Seorang perempuan berjilbab mondar mandir di depan pagar. Lukman keluar fari mobilnya.
"Maaf Mbak cari siapa ya?" Tanya Lukman.
Perempuan itu menoleh. Lukman seperti mengenai perempuan itu. Ia pernah bertemu dengannya beberapa kali
"Ini bukannya Mbak...aduh siapa ya"
"Widya Mas, anaknya Pak Ferdi" sahut perempuan itu.
"Oh iya,. Silhkan masuk. Ada apa Mbak tumben" kata lukma sambil membuka pagar.
" Ini disuruh Bapak antar nasi kotak untuk Mas Lukman" kata Widya sambil menyodorkan nasi kotak.
Mereka kemudian duduk di teras.
__ADS_1
"Tadi saya sempat ragu bener gak ini alamatnya habis tak panggil - panggil gak ada jawaban, hehe"
"Oh iya tadi keluar sebentar. Eh ada acara apa kok pakai anter nasi kotak" tanya Lukman.
"Acara tujuh harian Ibu Mas" jawab Widya.
Tampak kesedihan menyelimuti wajahnya.
" Ibu?" Lukman masih belum percaya.
"Iya Mas, Ibu sudah meninggal, sakit liver Mas, mohon doanya"
"Innalilahi wa Inna ilaihi raaji'uun" sahut Lukman.
" Ya sudah Mas, saya permisi dulu, kalau ada waktu longgar, Bapak sangat mengharapkan Mas Lukman main ke rumah" kata Widya lalu keluar pagar dan masuk ke mobilnya. Tak lama ia menghilang.
Bu Ferdi meninggal sudah tujuh hari yang lalu, bagaimana bisa Lukman tidak tahu padahal ia membina hubungan baik dengan Pak Ferdi. Mungkin terlalu sibuk dengan kuliahnya sehingga sulit dihubungi.
Lukman tidak sendiri, malam ini di luar sana masih ada yang bersedih. Masih ada yang kehilangan. Kehilangan orang yang dicintainya. Widya, Pak Ferdi, dia sendiri, tentu juga Wulan.
Hampir jam 2 dini hari, Lukman belum bisa tidur. Pikirannya masih bergejolak. Dadanya panas jika mengingat kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Handi. Ada yang palibg dikhawatirkan. Wulan. Bagaimana keadaannya sekarang. Perempuan tak sekuat laki-laki dalam menahan diri. Pasti tangisnya pecah, atau jangan-jangan mereka ribut di rumah.
Dari tadi malam hingga dini hari tak satupun pesan Lukman yang dibalas. Ada apa dengan Wulan. Sakit? Menangis? Jangan sampai dia mencoba mengakhiri hidup. Dia pasti sama terlukanya dengan Lukman.
Almarhum Bapaknya pernah bilang, jika sulit tidur, ambil air wudhu. Ia pun bergegas memgukuti wejangan dari bapaknya. Selesai wudhu ia menggelar sajadahnya, rasanya rugi jika hanya wudhu saja. Lukman kemudian melaksanakan sholat sunah.
Selepas sholat Sunnah ia kembali mencoba menelpon Wulan, barangkali ia sama tak bisa tidur sepertinya. Jika tidak diangkat itu hal wajar, jam 2 bukan waktu yang pas untuk terjaga.
"Halo Man...."ternyata Wulan juga belum tidur, suaranya serak tetapi jelas bukan karena batuk.
"Lan, belum tidur?" Tanya Lukman pelan.
"Kebangun Man" jawab Wulan lirih, semakin jelas suara kesedihan darinya.
"Maafin aku Man"
"Kenapa?"
"Semua karena aku yang kurang sabar" Wulan mulai sesenggukan.
"Bukan, semua karena aku yang gak nurut apa kata kamu, aku terlalu pede untuk ketemu Papa kamu langsung"
"Kamu pasti sakit hati banget sama Papa"
"Enggak"
"Jangan bohong"
"Aku akan bersabar...demi kamu"
"Bagaimana kamu bisa sekuat itu?"
"He, aku tak sekuat yang kamu pikirkan, akupun lemah. Sama seperti kamu. Aku bahkan gak tahu lagi bagaimana caranya meluluhkan hati orang tua kamu...segala cara sudah aku lakukan, aku mati matian kerja supaya mendapat posisi yang lumayan, aku nabung hingga bisa beli mobil, aku ngoyo untuk membuat Papa kamu terkesan, tapi.,.." Lukman. Menghela nafas panjang.
"Maaaan.... hiks...hiks..." Wulan semakin terisak.
"Sudah...sudah...aku gak mau bikin kamu nangis lagi, kita harus tenang....ya!"
"Sekarang apa yang mesti kita lakukan Man?"
"Kuncinya ada di kamu. Besok bangun pagi jangan sampai kamu kelihatan habis nangis. Biasa saja. Buatlah Papa kamu semakin bangga denganmu. Ajaklah beliau sharing dari hati ke hati. Jangan berantem. Semua harus pelan-pelan"
__ADS_1
"Iya... hiks"
"Aku ingin mendapatkanmu dengan cara yang baik, aku yakin suatu hari nanti Papa kamu pasti luluh. Kita harus sabar....ya!"
"Hm...yang kamu bilang tadi, soal kuliah di Jepang, itu beneran?"
"Kapan aku pernah main-main soal kamu?"
"Kamu ambil?"
"Tadinya aku ambil, rencanaku nikahin kamu dulu trus ke Jepang, kamu kubawa serta...tapi ternyata..."
"Ambil aja Man, demi masa depan kamu"
"Masa depan?? Masa depanku ada di balik telepon ini"
Wulan tersenyum untuk kali pertama malam ini.
"Jangan bersedih, kamu adalah kekuatanku, jika kamu putus asa maka aku tidak akan mampu untuk berjuang lagi"
"He em..."ada l
Lukman berdiri mendekat ke arah jendela.
"Wulan coba lihat ke luar lewat jendela"
wulan beranjak dari tidurnya menuju jendela seperti yang diminta Lukman.
"Coba lihat, bulan purnama, berarti ini tanggal 15 dalam hitungan kalender jawa"
"Trus?"
"Kamu lupa? Kita jadian tepat bulan purnama, bulannya aku lupa,. Tapi aku ingat betul saat kamu malu-malu, waktu itu sedang bulan purnama"
"Aduh Man jangan diingat-ingat dong. Malu maluin duuh"
"Waktu itu kamu manja banget"
"Haha udah Man ah"
"Bulan purnama sedang menyaksikan kita, dia yang turut menyertai perjalanan kita, hampir sembilan tahun Lan"
"Rembulan itu tidak boleh menangis Man, dia seolah bilang ke aku, kamu bisa ayoo kami bisa, masak gitu aja nyerah" sambung Wulan
"Rembulan itu yang menyadarkan kita saat lagi marahan, yang menyatukan kita kembali.ingat?"
"Rembulan itu pula yang membuat kita bertahan meskipun banyak sekali yang harus dihadapi"
"Aku senang dengernya"
Suasana hening. Hanya terdengar detik jarum jam yang terus berjalan tanpa lelah.
"Kamu sholat dulu gih, biar tenang" kata Lukman.
"Aku lagi halangan"
"Ya sudah segera tidur, biar matanya gak sembab dikompres dulu pakek air hangat, cepat tidur, jaga kesehatan, i love you"
"I..... hiks......i love you too"
Syukurlah, Lukman lega setelah memastikan kondisi Wulan. Tidak dipungkiri siapa yang tidak bersedih dengan kondisi seperti ini. Tetapi paling tidak semua masih bisa terkendali.
__ADS_1
Malam ini, banyak sekali orang yang bersedih bahkan mungkin juga menangis. Lukman dengan kegagalannya, Wulan dengan rasa bersalahnya, Apk Ferdi atas wafatnya istrinya, Widya atas kehilangan Ibunya, tetangga rumah yang katanya habis kemalingan. Malam ini, adalah malam kesedihan. Rembulan sedang menyaksikan kesedihan para pengagumnya. Rembulan yang selalu tersenyum turut menemani hati yang sedang gundah. Malam ini, benar-benar malam kesedihan.
***