Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Supervisor


__ADS_3

Sejak peristiwa minyak pekat dan jernih itu, Lukman semakin akrab dengan Pak Aji. Mereka kerap kali bertemu tanpa sengaja di parkiran, mushola kadang juga di kantin. Meskipun seorang Asisten Manajer tetapi beliau bukan orang yang sombong. Beliau tidak membatasi diri dengan para bawahannya, termasuk Lukman.


Tak jarang Pak Aji mengajak Lukman ngopi di kafe dekat pabrik untuk sekedar sharing. Apa saja. Masalah politik, pasalah pabrik, kegiatan sosial yang mungkin bisa diselenggarakan di perusahaan hingga masalah yang rumit berkaitan peningkatan omset perusahaan. Pak Aji tak segan meminta saran Lukman. Dan seringkali berhasil.


Dari sering ngobrol itulah Pak Aji tahu bagaimana latar belakang Lukman di tempat kerjanya sebelum - sebelumnya. Pantas saja berbeda dengan karyawan yang lain. Rupanya pemuda di depannya itu pernah menjadi general manager divisi purchasing meskipun akhirnya menelan pil pahit.


Suatu sore, Pak Aji memanggil Lukman. Ketika Lukman masuk ruangan, di dalam sudah ada Pak Arif, Pak Aji dan dua orang lainnya.bergetar hati Lukman. Ada apa gerangan sampai dihadapkan denga empat orag pejabat di perusahaan. Apakah ada kesalahan? Apakah ada masalah yang lalai dari pengawasan Lukman?


"Man, tadi pagi kami rapat intern. Setelah menimbang, mempertimbangkan banyak hal. Kami memutuskan....seperti ini" kata Pak Arif sambul menyodorkan sebuah map.


Luiman membuka dan membacanya dengan teliti.


Ditugaskan sebagai Supervisor Divisi Produksi bagian C. Itu yqng Lukman baca.


" Maaf Pak, saya..."


" Kami mempromosikan saudara untuk menduduki posisi itu dan diterima oleh jajaran petinggi" terang Pak Aji.


"Supervisor yang lama sudah berhenti. Kami harap saudara bersedia dengan menandatangani kontrak ini. Saudara bisa membacanya dengan teliti" sambung yang lainnya.


"Ini bukan hanya sekedar cap cip cup. Untuk memutuskan hal sebesar ini kami telah mempertimbangkan matang-matang. Kami melihat kinerja anda selama dua bulan terakhir ini barulah kami memberikan promosi" terang yang lainnya lagi.


Sepuluh bulan bukan waktu yang lama. Progres karir Lukman melejit seperti roket. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi ada yang mengganjal di hati Lukman. Supervisor yang lama. Mengapa ia berhenti. Lukman menduga ia diberhentikan karena dianggap lalai dalam tugasnya. Jika benar demikian bagaimana bisa Lukman bahagia di atas penderitaan orang lain. Lukman tidak tahu harus girang atau sedih.


Tanpa pikir panjang, Lukman mencari data supervisor lama, ia menemukan alamatnya. Sehabis maghrib ia mengegas motornya menuju perumahan Permata Hijau, tempat tinggal supervisor lama.


Stelah tanya sana sini akhirnya Lukman menemukannya.


"Assalamualaikum!!" Sapa Lukman.


Tak berapa lama muncul perempuan ibu - ibu.


" Cari siapa ya?" Tanya perempuan itu.


" Ini rumahnya Pak Ferdi Bu?"


" Betul, saya istrinya. Ada apa ya?"


" Beliau ada Bu?"


Kemudian muncullah Pak Ferdi dari balik pintu.


" Oh mari, silahkan" kata Pak Ferdi


Pak Ferdi mengajak Lukman duduk berdampingan du teras dibatasi pelh meja kecil.


" Mas nya ini ..."


" Lukman Pak, saya leader divisi produksi bagian C."


"Oh iya lupa lupa ingat saya hahhahah"


Lelaki itu sudah cukup tua. Rambutnya sudah beruban meski hanya sebagian.


" Bagaimana, ada apa samapai saudara kemari?"


" Pertama saya ingin menyambung tali silaturahmi Pak"


Pak Ferdi manggut-manggut. Peringainya sangat teduh.

__ADS_1


"Kedua, saya....ingin konfirmasi ke bapak tentang berhentinya Bapak dari kantor"


"Oh..hehehe itu...ya saya memang mengajukan berhenti"


"Maksud Bapak... Bapak tidak dipecat?"


" Hahaha ya enggak. Bapak ini sudah tua. Enan puluh tahun lebih lo. Sudah saatnya istirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga, anak cucu. Lha kalau bapak masih kerja. Apalagi supervisor itu tangguangannya gedhe cek sana cek sini periksa laporan. Sudah nggak sanggup bapak"


Dari balik pintu muncullah perempuan belia membawa baki berisi dua cangkir kopi dan dua tiples cemilan.


Sesaat Lukman menatap gadis itu. Cantik. Bulu matanya lentik. Wajahnya natural tanpa polesan make up yang glamor. Semakin anggun dengan balutan jilbab yang modis.


"Silahakn Mas" ucap gadis itu.


Lukman tertunduk malu.


" Ayo silahkan, sambil ngobrol, yang tadi itu anak ragil saya, namanya Widya. Lulus S1 dapat beasiswa kuliah S2 di UNESA. Merangkap asisten dosen di sana. Kakak - kakaknya sudah nikah"


Pak Ferdi menyeruput kopi lalu kembali becerita tentang keluarganya yang harmonis yang begitu ia utamakan. Anak - anaknya yang begitu ia banggakan. Ada yang jadi dosen, dokter, bahkan mendirikan usaha kerajinan tangan. Anak - anaknya sudah cukup mampu menopang masa tuanya. Inilah kiranya alasan beliau untuk resign.


Jadi jelaslah bahwa bukan karena dirinya Pak Ferdi berhenti. Semoga saja memang demikian. Bukan mengada ada atau karena menjaga perasaan orang lain.


Posisi bagi Lukman sangat penting. Bukan karena seberapa besar gajinya tetapi karena sebuah prestice. Kedudukan seseorang menandakan kualitas dan keberadaan seseorang. Salah kaprah memang. Tapi begitulah masyarakat kita. Orang yang memiliki jabatan akan lebih di hormati daripada pegawai rendahan sekalipun lebih tua. Namun bukan itu misi utama Lukman untuk menaikkan posisinya. Posisi adalah syarat utama untuk mendapatkan masa depannya. Wulan.


Lukman kini bisa bernafas lega dengan penuturan Pak Ferdi. Tidak ada yang merasa tertindas dengan naiknya jabatannya. Tidak ada lagi tertawa diatas tangis orang. Tidak ada lagi menindih hak orang lain. Dan mulai saat itu, Lukman menjalin hubungan yang akrab dengan beliau., Eks supervisor.


***


Langit terlukis begitu indah. Gurat orange dengan semburat merah tergores rapi di atas sana. Gedung -gedung megah yang berjajar rapi sebagian telah menyalakan lampu - lampu cahtiknya. Lukman berdiri mematung di belakang jendela ruangannya. Ia memandqng jauh ke depan. Ada sesuatu yang kembali mengganjal di hatinya.


Ibarat pohon semakin tinggi semakin kencabg angin menerpa. Begitu tampaknya ungkapan yang pas untuk kondisi Lukman saat ini. Kenaikan posisinya yang meroket tidak aerta merta mulus. Dahulu di posisi supervisor inilah ia jatuh dan harus mengawali karirnya kembali dari bawah. Bayangan itu seakan menghantui langkah Lukman.


Lukman menoleh lalu menganggukkan kepala tanda penghormatan.


" Ayo sholat. Sudah Maghrib" ajak Pak Aji.


Lukman menurut.


Selepas sholat maghrib mereka tidak lantas berpisah. Pak Aji mengajak Lukman ngopi bareng di kedai yang sedang promo. Lukman tidak punya pilihan lain selain menurut apalagi setelah Pak Aji mengatakan ada hal penting yabg ingin dibicarakan. Seperti sebelumnya Pak Aji sering meminta saran Lukman. Mungkin kali ini pun sama.


Tit...tit...


Satu chat masuk. Wulan.


Nanti jam berapa?


Huft. Lukman lupa malam ini ada janji dengan Wulan karena merayakan kelulusan tesisnya. Sesaat lukman bingung menjawab. Namun kemudian dia lebih memilih jujur.


Lan, aku sama Pak Aji. Ingat kan? Ada yang penting. Nanti aku telp.


Jadi ato gak


Kayaknya gak dulu


Hmmmmmmmf


Malam minggu kuganti non, jangan kuatir


Yoi

__ADS_1


Lukman merasa berat sebenarnya tidak memenuhi undangan Wulan. Malam ini hari spesialnya. Lulus tesis tidaklah mudah. Semakin miris hati Lukman ketika Wulan menerima begitu saja pembatalan dari Lukman. Ia justru lebih senang kekasihnya marah marah gak karuan sebagai hukuman ketidaktepatan janji.


"Man, saya dengar dari karyawan, ada gonjang ganjing di antara karyawan. Benar begitu?" Tanya Pak Aji


" Tentang apa pak?"


" Kamu " jawab Pak Aji sambil menyeruput kopi.


" Oh, biasa Pak"


" Jadi itu yang membuat kamu mrengut dari pagi? Hahaha?"


Lukman tersenyum tipis.ia menyadari, posisinya yang sekarang membuat banyak karyawan mencibir. Lulusan SMA tetapi mendapatkan promosi jabatan supervisor. Bukankah itu tak adil bagi yang lain. Bukankah itu mencoreng keberadaan para sarjana yang masih menjadi operator.


Para karyawan mulai menggosip. Ada yang menyangka kong kalikong, suap hingga dugaan main dukun. Awalnya Lukman tak menghiraukan namun semakin lama semakin mengganggu perasaannya.


"Saya sudah mikir Man, pasti banyak karyawan yang tidak senang atas promosimu. Anak baru langsung naik jabatan ini ada apa. Oleh karena itu ya punya ide Man"


Lukman mendengar dengan seksama.


" Kamu harus kuliah"


Ide model apa itu. Bagaimana bisa kuliah, bukankah kerjanya full. Kapan bisa belajar di bangku kuliah. Jika Lukman kuliah bagaimana dengan biaya hidup yang bergantung gaji kantor. Jika kuliah maka harus berhenti sementara dari kerja. Lalu jabatannya sekarang akan dipegang oleh siapa ? Apakah pemegang jabatan mau melepas kembali jika Lukman sudah lulus. Ada - ada saja. Lukman tertawa kecil.


" Loh jangan tertawa ini serius" sahut Pak Aji.


" Pak ..saya"


" Gini lo Man, saya ini sudah tua. Saya ingin mengikuti jejaknya Pak Ferdi"


Lukman terperanjat. Artinya Pak Aji akan mengundurkan diri?


" Tapi masih lama. Nah saya mau orang yang menggantikan saya haruslah yang berkompeten sekaligus berakhlak"


Lukman masih belum mengerti.


" Saya mau kamu yang menempatinya kelak. Karena itu kamu harus siap dengan itu. Jika kamu masih berijazah SMA . Sulit bagi saya menarikmu naik. Oleh karena itu. Kamu harus kuliah."


Lukman masih terdiam dengan sejuta ketidak mengertian di benaknya.


" Jika kamu masih lulusan SMA, pasti bayak yang menentang. Posisimu yang sekarang ini adalah hasil perdebatan panjang banyak pihak. Saya tidak tahu lagi apakah masih bisa mengangkatmu ke level yang setingkat lebih tinggi jika kamu masih seperti ini."


Lukman menyeruput kopi hitamnya.


"Itulah sebabnya kamu harus kuliah. Besok akan kuberikan pilihan perguruan tinggi. Pilihlah yang cocok dan kualifit."


"Tapi Pak, bagaimana dengan pembagian waktu Pak, kan saya......"


" Nah ..nah.. itu..itu sudah saya pikirkan. Ambil kuliah Sabtu dan Minggu"


"Apakah ada Pak?"


"Oh ada. Memang lebih mahal. Lebih menguras tenaga. Jangan kuatirkan masalah biaya. Separuh gajimu cukup."


Dari sini Lukman baru memahami. Boleh juga, pikirnya. Kenapa tak terpikirkan demikian dari dulu. Benar juga apa yang dikatakan Pak Aji.


Begitu dimudahkannya jalannya setelah beberapa kali jatuh bangun kini ia seperti yakin bahwa ini kali terakhir ia pindah kerja. Selanjutnya ia tak akan jatuh lagi. Jika ijazah menjadi senjata utama, maka tak akan ada yang berani menggesernya tanpa kesalahan seperti sebelumnya.


Tuhan telah memberikan jalan dengan lantaran Pak Aji. Lukman tinggal menyambut dengan antusias yang setimpal.

__ADS_1


__ADS_2