
Tok...tok...tok
"Non....non...diminta nyonya turun untuk makan non" suara Mbak Yuyun sang asisten rumah tabgga dari luar pintu.
Wulan membuka pintu kamarnya.
"Mbak, tolong ya makannya anter kesini bisa nggak? Kalo Mama nanya bilang aku lagi banyak kerjaan" pinta Wulan
"Oh injih non bisa" jawab Mbak Yuyun.
Wulan masih mengurung diri dibkanar sejak pilang dari kantor sore tadi. Ia masih ingin sendiri. Ia belum ingin menceritakan apa yang dialaminya pada diapapun. Apalagi jika orangtuanya justru akan menggunakan ini sebagai alasn utama meolak Lukman, bahkan bisa jadi mereka justru menyarankan agar putus saja.
Wulan memandang jauh ke arah langit. Hari ini bukan tanggal 15 dalam hitungan jawa, rembulan tak seperti waktu itu. Malam ini ia tidak muncul. Mungiin dia malu karena tuannya telah berkhianat. Atau mungin ia pun sedang mengurung diri di tempatnya.
Jika malam ini rembulan muncul, Wulan akan mengadu tentang apa yang dilakukan oleh tuannya hari ini. Ia ingin meminta keadilan, ia ingin rembulan itu menyampaikan pada tuannya bahwa ia sangat kecewa. Mengapa tuannay begitu tega menghancurkan cibta yang selama sembilan tahun dipupuk sedemikian rupa.
Tak lama, Mbak Yuyun masuk menghantarkan makanan di nampan. Hanya sebentar lalu keluar lagi.
Wulan mencoba menyuap makanan ke dalam mulutnya tetapibterhenti hanya di tenggorokan. Ia pakdakan intuk masuk ke dalam mulut dan berhasil. Kemudian mual menyerangnya. Ia tak ingin makan lagi. Perutnya berbunyi berkali-kali tapi ia tak selera lagi untuk makan.
Dadanya sakit, seperti sesam ketika bernafas. Lehernya tercekat, ulu hatinya nyeri. Ia tahu ini bukan suatu penyakit. Ini adalah perasaan yang tersakiti, dalam istilah medis dan psikologi disebut psikosomatik.
Ia belum pernah merasakan sakit sesakit ini. Bahkan ketika ia harus menangis tersedu-sedu karena lamaran Lukman ditolak, ia masih bisa menghibur dirinya karena sejatinya ada yang menguatkan. Tetapi jika kekuatannya kini justru menyerangnya, tentu saja ia tak mampu bertahan lagi.
Pemandangan yang ia lihat sore tadi di depan kantor Lukman selalu terbayang dalam benak Wulan. Dan setiap bayangan itu muncul, dadanya sesak serta lehernya tercekat. Selama ini ia begitu percaya, peristiwa serupa tidak pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang disebut cemburu itu belum pernah muncul sedalam ini. Meskipun dahulu saat masih duduk di banhku SMA banyak sekali cewek-cewek hijaber yang mendekati Lukman, tapi tak membuatnya setakut ini.
Saingannya kali ini begitu berat. Winda sudah terang terangan menyatakan ketertarikannya pada Lukman. Gadis itu bukan hanya cantik tetapi juga berkualitas. Bukan hanya teman kuliah maupun rekan sekantor tapi mampu menjadi sahabat dalam waktu yang sesingkat itu.
Apakah begini rasanya putus cinta, pantas saja banyak remaja bunuh diri karena cinta. Pantas saja Romeo minum racun karena merasa tak bisa memiliki Juliet lagi. Pantas saja Qays jadi gila karena tak mampu meminang Layla sampai-sampai mendapat julukan Al Majnun.
Malam ini terasa gelap, segelap hati yang dirundung nestapa. Tak ada setitik cahaya pun yang menyapa. Hanya angin yang sesekali mampir dari luar jendela.
Wulan berbaring memeluk guling. Ia singkirkan setiap benda yang berhubungan dengan Lukman. Sedikit pusing ketika menatap langit-langit, ia memilih memiringkan badan. Tak disangka sembilan tahun buyar dalam satu menit. Bagaikan balon yang melambung, meletus hanya karena benda sekecil jarum.
Krek... pintu terbuka. Sorot cahaya masuk seketika dari celah pintu. Tampak bayangan, ada seseorang yang masuk. Wulan memejamkan mata agar disangka tidur pulas.
"Kenapa anak ini, saking kerja keras sampai lupa makan" itu suara Mama.
Wulan benar-benar menahan agar suara isakannya tak terdengar oleh Mama. Syukurlah tidak curiga sama sekali. Jika tidak, tentu malam ini akan semakin runyam. Di rumah ini, tembok pun bisa mengadu. Jadi harus benar-benar rapat menyimpan rahasia.
__ADS_1
Malam sepi, malam sunyi. Hanya ada suara jarum jam yang berjalan tak henti-henti beradu dengan isak tangis lirih namun menyayat hati.
Di sisi lain. Di kamar yang berbeda. Di tempat yang berbeda. Dalam waktu yang sama. Lukman tak kalah gundahnya. Pasalnya baru kali ini Wulan cemburu sebegitunya sampai-sampai tak ada satu pun pesan yang dibalas ataupun telepon yang diangkat.
Seperti biasanya Lukman berharap mendapatkan balasan meskipun sudah dini hari. Namun kali ini, berulang kali Lukman terbangun dari tidurnya, dan dilihatnya hape tanpa balasan satupun, hingga subuh menjelang.
Wulan yang dulu dikenal cuek, sabar dan begitu dewasa entah kenapa kini menjadi pencemburu hebat. Apakah benar-benar sebuah kesalahan mengenai seorang Winda. Tapi bukankah selama ini baik-baik saja. Apakah salah jika menghibur Winda dengan cara seperti tempo hari. Hanya begitu saja mungkinkah membuat seorang Wulan cemburu?
Baiklah, mungkin memang sebuah kesalahan jika terlalu dekat dengan perempuan lain. Tapi setidaknya berilah kesempatan untuk berbicara. Jangan diam seperti ini.
Sudah hampir subuh. Belum juga dapat balasan. Lukman tidak tahu lagi mesti berbuat apa. Semua akan menjadi mudah jika Wulan mau diajak bicara atau paling tidak mau membaca pesannya. Jika seperti ini, bagaimana mendapat kepastian.
***
Pagi yang cerah, dengan langit berwarna biru dan awan putih yang sedang berpose di atas sana. Mereka berkata 'langit masih biru dan awan masih putih, apa yang membuatmu hitam diantara kami'. Burung-burung yang sedang menari dengan riang seolah menyindir kesendirian Lukman. Begitu pula matahari yang sedang bersemangat menunjukkan kekuatan sinarnya, seolah sedang tertawa atas ketidakberdayaan Lukman.
Masalah seperti ini terlihat sepele. Biarkan saja Wulan nanti juga pasti muncul sendiri, berapa lama gadis iyu akan tahan tanpa suaranya, tanpa candaannya, tanpa kabar darinya. Tidak akan lama lagi, semua pasti baik-baik saja.
Hari ini suasana begitu sibuk, staf yang biasaya memutar lagu dangdut koplo sayup-sayup hari ini sedang cuti. Office boy yang biasanya banyol dengan logat Kebumennya yang khas juga tak muncul. Gembul dengan segala kelucuannya juga tak kunjung naik ke atas. Dan Winda yang biasanya muncul tiba-tiba entah kemana. Mungkin juga tidak masuk sama seperti yang lain.
Sejak peristiwa beberapa hari lalu di ruang meeting, para karyawan menjadi senang bergosip. Mereka diliputi rasa penasaran tentang latar belakang Lukman, juga tentang hubungan Lukman dan Winda. Apalagi keduanya terlihat akrab satu sama lain. Keadaan ini menjadi tidak mengenakkan. Seandainya ada Winda, hari ini tidak akan berdampak buruk. Winda akan mampu menangkis bisik-bisik karyawan di belakangnya. Dengan gayanya yang berani dan cuek, juga dengan posisinya sebagai anak pemegang saham terbesar perusahaan ini, tentu setiap orang akan berpikir dua kali untuk menyindir atau bergosip.
Lukman memberanikan diri ke lantai atas, ke ruangan Winda. Ia tahu tentu akan banyak omongan dari para karyawan yang melihat, tapi mau bagaimana lagi, ia harus menemui Winda.
"Win, maaf ganggu, aku boleh masuk?" Tanya Lukman masih memegang gagang pintu.
"Iya Man masuk aja" jawab Winda sambil membereskan beberapa kertas yang berserakan.
"Win.... Aku mau ngomong...ehm...tepatnya mau minta tolong Win" kata Lukman sambil mengambil duduk tepat di depan Winda hanya terhalang meja yang tak sebegitu lebar.
"Soal apa?" Winda masih mengalihkan pandangan ke arah laptop yang menyala
"Kemarin...waktu Wulan ...."
"Oh itu....nanti aja ya Man aku lagi sibuk banget ini"
Tidak biasanya Winda menolak ajakan Lukman. Tidak biasanya pula Winda begitu cuek. Bertambahlah beban di benak Lukman. Kali ini bertambah pertanyaan 'ada apa dengan Winda'. Lukman tahu diri. Ia mengangguk lalu keluar.
Sore hari sekitar jam 4 sore, Lukman sengaja menunggu winda keluar. Ia menunggu lobi bawah menuju parkiran belakang, tempat Winda biasa lewat.
__ADS_1
Hampir setengah jam Lukman menunggu, akhirnya yang ditunggu muncul juga. Winda terlihat sedang ngobrol dengan salah seorang staf lalu mereka berpisah. Menyadari keberadaan Lukman, Winda mempercepat langkahnya.
"Win....aku bisa ngomong sebentar?" Tanya Lukman begitu jarak mereka sekitar dua meter.
"Oh iya Man, Soal apa?" Winda masih terus melangkah.
"Yang aku bilang tadi Win, waktu itu kita.... ehm... Wulan sepertinya...ehm...ada sedikit salah paham"
Winda berhenti. Ia pandang lelaki di depannya dengan tatapan tajam.
"Maksud kamu?..... Wulan cemburu?..." Winda kembali melangkah seolah tak ingin mendengar apapun dari Lukman.
"Gak tahu Win... sepertinya begitu" Lukman mengikuti langkah Winda.
"Trus?"
Lukman mengikuti Winda hingga tepat di depan mobilnya. Lalu keduanya berhenti.
"Aku butuh bantuan kamu untuk menjelaskan semua ini ke Wulan"
"Man, sorry aku buru-buru banget, aku harus cepat pulang" Winda menghindari. Ia membuka pintu mobilnya tetapi dicegah oleh Lukman.
"Win aku benar-benar butuh bantuan kamu" pinta Lukman.
Winda yang sudah duduk manis di jok mobilnya, kini keluar lagi.
"Man, tolong jangan libatin aku dalam urusan kalian. Pekerjaanku sudah menumpuk. Kalian selesaikan sendiri saja lah"
"Win.... please"
"Man....kamu minta aku buat ketemu sama dia trus menjelaskan semuanya bahwa kita gak ada perasaan apa-apa selain teman? Man, buka mata kamu Man, kamu sudah buta karena cinta, kamu bahkan gak bisa ngebedain mana yang merugikan mana yang bener-bener tulus sama kamu. Delapan tahun lebih kamu pacaran sama Wulan tapi gak ada hasilnya, orangtuanya masih saja gak ngrestuin hubungan kalian, bahkan gara-gara bokapnya, kamu sering kehilangan pekerjaan, kemarin gara-gara dia kabur juga kamu dipukulin, bekasnya juga masih belum hilang, sekarang apa? Cuma gitu aja sudah cemburu, pikirannya bocah banget, dan kamu minta aku ketemu dia? Gak mungkin Man"
Lukman terperangah. Winda tidak pernah berkomentar seperti ini. Juga tidak pernah segalak ini. Apakah pekerjaan yang menumpuk membuat dia penat hingga meluapkan emosi seperti ini. Lukman jadi salah tingkah. Ia tak tahu harus menyambung obrolan dengan kalimat apa.
"Man, buka mata kamu Man, ada orang yang setia nungguin kamu, yang selalu berada di garda depan untuk belain kamu, yang selalu memikirkan masa depan kamu. Apa aku tidak pantas dipertimbangkan? Buka mata kaku Man, kapan aku pernah celakain kamu, kapan aku bikin kamu sengsara, bandingkan dengan cewek yang selama ini kamu puja-puja. Kamu mikir Man, harus aku yahg kamu perjuangin, bukan cewek itu" selesai berbicara panjang lebar, Winda masuk ke mohilnya dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Lukman membiarkan Winda berlalu begitu saja. Ia paham sekarang. Seorang perempuan melakukan banyak hal untuk laki-laki, tidak ada alasan lain selain cinta. Apalagi kalau bukan itu. Seperti yang dikatakan Pak Aji waktu itu. Winda menyukainya.
Seperti yang dikatakan Winda, ia perempuan yang sangat pantas untuk dipertimbangkan, tak ada cela sedikitpun dari gadis itu. Tetapi selama ini Lukman hanya ingin berteman. Tak ada perasaan apa-apa. Pepatah mengatakan 'tresno jalaran Soko kulino' (cinta berasal dari kebiasaan). Tapi tidak berlaku untuk Lukman. Selama hampir 8 bulan mereka sering bersama, tidak ada istilah cinta lokasi bagi Lukman. Dia hanya berteman. Benar-benar hanya teman. Meski gadis itu sempurna, tapi rasa itu belum ada.
__ADS_1
Setelah ini, apa yang akan ia lakukan esok? Apakah masih sama sikap Winda padanya ataukan ada yang berbeda. Bagaimana ia akan bersikap di depan Winda. Belum lagi bagaimana menghadapi Wulan yang hingga kini belum ada kabar. Makin kesini semua semakin rumit. Tidak tahu mana yang harus diselesaikan lebih dulu. Rumit. Benar-benar rumit.
***