
Lantai 7. Tempat berkumpulnya orang-orang berpangkat. Para manager beserta asistennya ada di ruangan ini. Sebagian dewan direksi juga ada di ruangan ini. Winda pun ada di ruangan ini. Fasilitas yang ada di ruangan ini tentu berbeda dengan ruagan di bawahnya yang hanya di isi oleh supervisor dan staf-staf yang setara.
Lukman memasuki salah satu ruangan di lantai 7 denhan membawa map warna merah. Ia menuju ruangan Pak Arif, staf HRD tertinggi. Beliaulah yang membawa Lukman ke perusahaan ini atas rekomendasi Mbak Dini, atasannya di tempat kerja sebelumnya.
Saat membuka pintu, Winda ada di ruangan itu. Mereka sedang bercengkerama dengan asyiknya entah apa yang dibahas. Sesekali terdengar suara tawa cekikikan dari keduanya.
"Eh Lukman, mari masuk. Silahkan" kata Pak Arif begitu Lukman membuka pintu.
Lukman mengangguk kemudian duduk di hadapan Pak Arif tepat di samping Winda. Winda kemudian bergeser ke loker, ia tampak sibuk melihat beberapa dokumen.
"Ada yang bisa saya bantu Man?" Tanya Pak Arif santai.
"Ehm...saya...ini Pak" Lukman tidak tahu harus memulai dengan kalimat bagaimana, akhirnya ia sodorkan map yang ia bawa.
"Apa ini Man?" Pak Arif mengambil kacamata lalu membaca dengan seksama isi lembaran kertas di dalam map itu.
Lukman menanti reaksi apa yag akan ia terima pagi ini.
"Apa ini Man... kamu mengundurkan diri?!!" Pak Arif terkejut bukan main. Anak buah terbaiknya mengundurkan diri padahal setahu beliau selama ini tidak ada masalah apapun.
Winda yang pura-pura sibuk dengan berbagai dokumen tak kalah terkejutnya. Baru saja kemarin ia merasa bersalah dengan berakhirnya hubungan Lukman dengan Wulan, sekarang perasaan itu muncul atas keinginan berhentinya Lukman dari perusahaan. Ia merasa alasan Lukman adalah Winda. Mungkin Lukman canggung bekerja dengan orang yang terang terangan menyukainya.
"Benar Pak, saya mengundurkan diri mulai awal bulan depan, dari sekarang sekitar empat hari lagi" kata Lukman
"Ada masalah apa?" Tanya Pak Arif dengan nada yang lembut seperti seorang ayah bertanya pada anaknya.
"Tidak Pak, saya berencana pindah ke Kediri"
"Ah Kediri Surabaya itu dekat. Sabtu Minggu kan bisa pulang" dalih Pak Arif.
Lukman tersenyum sebagai tanda tak ada negosiasi atas keputusannya.
"Saya ingin menetap di Kediri Pak, berkeluarga dan menghabiskan masa tua di kampung halaman" terang Lukman.
"Hmmm...kamu tidak eman sama karir kamu yang sudah bagus ini? Bakan Pak Aji berencana pilih kamu untuk menggantikan beliau kalau nanti beliau sudah tidak produktif lagi"
"Heheh saya tidak mungkin terus menunggu orang lain lengser untuk saya tempati Pak, saya berencana untuk memulai usaha mandiri"
"Ya......bagus sih..tapi apa nggak eman karir yang sudah lumayan dilepas begitu saja. Trus kuliahmu bagaimana, rencana ikut program di Jepang?"
"Sudah saya ikhlaskan Pak, di situ juga sudah saya lampirkan rekomendasi staf pengganti saya ke Jepang"
__ADS_1
Pak Arif mengolak alik kembali map merah yang disodorkan Lukman.
"Pikirkanlah dulu Man, sebelim saya ajukan ke direksi" usul Pak Arif.
"Insyaallah saya sudah mantap Pak"
Winda mendengarkan pembicaraan itu namun tetap berpura-pura sibuk dengan dokumen-dokumen di rak. Lukman tahu Winda pasti mendengarkan mereka tetapi Lukman tidak mempedulikan terlalu jauh perihal itu. Biarlah dia mendengar.
Ada pendar kegelisahan di hati Winda. Tak disangka Lukman mengambil keputusan seperti itu. Apa yang menjadi penyebab utamanya? Karena putus dari Wulan ataukah karena tidak respect dengan orang sekantornya yang dalam hal ini adalah Winda sendiri. Tapi apakah hanya karena itu seorang karyawan berbakat meninggalkan masa depannya?
Hari ini tidak ada sesuatu yang mendesak untuk dilembur, sebagian besar karyawan pulang lebih awal. Apalagi menginjak akhir tahun perusahaan akan memberikan dispensasi bagi para pekerja untuk menikmati masa pergantian tahun. Suasana jelang akhir tahun semakin dekat. Dan bulan ini lebih sering pulang awal.
Di parkiran, Lukman hendak masuk ke mobilnya, tiba-tiba dirinya dipanggil oleh seorang perempuan. Seseorang yang selama sebulan lebih ini tidak berkomentar dengannya. Perempuan itu adalah Winda.
"Eh Win" jawab Lukman
Winda mendekat. Ia mengajak makan bareng di kedai dekat kantor. Sudah lama mereka tidak makan bareng. Hitung-hitung sebagai salam perpisahan, boleh lah. Lukman pun menyetujui.
"Aku...kaget loh kamu.. memutuskan untuk berhenti kerja" kata Winda dibuat sesantai mungkin walaupun ia menahan sesak di dadanya.
"Sudah saatnya aku memikirkan masa depan, aku sudah lama meninggalkan kampung halaman, sekarang saatnya aku kembali" jawab Lukman sambil menikmati makanan di depannya.
"Wulan?" Winda bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Sudah sebulan aku putus" Lukman menjawab dengan hati yang kacau.
"Jadi itu masalah utamanya?" Winda menebak.
Tidak dipungkiri, Winda memang jago dalam menebak. Karir yang ia daki hingga mencapai posisi ini hanyalah untuk meraih Wulan. Bukan karena Wulan gadis yang matre, karena syarat yang diminta orangtuanya adalah kekayaan, maka ia harus memperjuangkan itu. Tetapi ketika cita-citanya sudah tak mungkin digapai, untuk apa ia teruskan pekerjaan yang menguras pikiran itu.
"Mungkin akan lebih mudah bangkit kalau aku hengkang dari Surabaya" jawab Lukman.
Winda mengangguk berusaha untuk memahami apa yang sedang dialami Lukman.
"Sorry soal waktu itu, gue ngaco soal perasaan gue" kata Winda tiba-tiba.
"Hmf ....kamu....cewek yang berani, aku suka itu"
"Aku cewek berani yang bakalan kamu rindukan" kilah Winda
"Hahahahah..... Jangan lupa kirim foto dari Jepang"
__ADS_1
Surabaya - Kediri masih bisa dijangkau. Kediri - Jepang? Entah apakah Winda akan bisa menikmati programnya di Jepang tanpa kehadiran Lukman. Rasanya ingin berhenti juga seperti Lukman. Tapi itu tentu akan sangat mengecewakan Papanya.
Mereka berpisah dengan senyuman. Senyuman yang sama sebelum renggangnya hubungan mereka. Winda tersenyum mengahadapi kenyataan dalam empat hari lagi lelaki itu akan pergi. Winda tersenyum, namun senyuman itu hanya ada di tempat itu. Sangat berbeda ketika dia sampai di rumah.
Bruk....brak...braaakkk.......
Winda menghancurkan semua barang-barang yang ada di hadapannya. Buku-buku berserakan, vas bunga dari keramik pecah berhamburan, Make up di depan meja rias berjatuhan, hiasan-hiasan di meja diobrak abrik. Terdengarlah suara gaduh hingga dua orang satpam rumah megah itu beserta keempat asisten rumah tangga keluar dari kamarnya masing-masing memeriksa apakah yang sedang terjadi.
Mereka menyaksikan nona mudanya tengah ngamuk. Tak satupun yang berani berkomentar ataupun bertanya apa yang menyebabkan kemarahan sang puteri. Mereka hanya melihat dan mengawasi jangan sampai nona mudanya kenapa-kenapa. Seperti telah menjadi kebiasaan, para pekerja di rumah itu tahu bagaimana harus bersikap.
Winda membuka pintu kulkas, mengambil sebotol whiskey dan meneguknya cepat-cepat. Minuman keras yang tinggal separuh itu diteguknya habis. Winda kemudian membuka-buka pintu lemari di dapur, lalu juga lemari - lenari penyimpanan bahan makanan. Ia tak menemukan yang dicarinya. Kemudian ia mengambil tas kecilnya dan beranjak hendak keluar rumah tetapi salah seorang asisten rumah tangga mencegahnya.
"Non...non mau kemana non" katanya setengah berlari mengejar majikannya.
"Apa sih.....mau beli minum" jawab Winda agak marah.
"Non...jangan non...biar dibelikan Pak Rusli non...." Kata si asisten
Winda berhenti lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Lebih baik begitu daripada Winda keluar menuju club malam lalu pulang sempoyongan karena mabuk itu malah lebih berbahaya. bisa saja ia diantar oleh orang yang pura-pura membantu tetapi justru merampok isi dompet dan barang-barang berharga lainnya, itu masih lumayan, bagaimana jika miliknya yang berharga yang direnggut orang lain yang memanfaatkan kesempatan mabuknya.
"Ya udah cepetan...merk yang biasanya" kata Winda.
Sekonyong-konyong satpam yang namanya Pak Rusli segera menerima uang itu dan segera mengegas motornya. Lelaki paruh baya itu tahu dimana harus mendapatkan barang itu. Minuman keras tidak dijual bebas di pasaran. Kalaupun ada di warung remang-remang itu adalah jenis yang murahan atau justru oplosan. Orang sekelas Winda tidak menyukainya. Untuk mendapatkan minuman keras bermerk, ia punya langganan sendiri.
Rupanya kebiasaan minum itu ia lakukan semenjak masih SMA, bila ada masalah tak jarang ia melampiaskan pada minuman. Jika ketahuan orang tuanya, ia akan kena hukuman, dan berimbas pada para pekerja di rumahnya. Mereka harus menjaga ketat nona mudanya agar tidak keluar rumah sesuai aturan tuan besar, mereka juga harus rela mendapat marah dari nona muda jika menolak diperintah. Mereka menjadi serba salah.
Semenjak mengenal Lukman hampir setahun ini, Winda tidak lagi minum atau mengunjungi club malam dan pulang dalam keadaan mabuk lagi. Tetapi malam ini kebiasaan itu muncul lagi. Mungkin ia stress karena lelaki idamannya sebentar lagi akan pergi menjauh. Atau karena gagal memenuhi ambisinya.
Lima belas menit lamanya Pak Rusli baru datang. Bukan waktu yang lama untuk kota Surabaya. Enam botol minuman keras ukuran sedang didapat. Winda segera merebut botol-botol itu dari tangan Pak Rusli kemudian menenggaknya tanpa henti. Dalam sekajap habis satu botol.
"Es batu dong" pinta Winda
Salah satu asisten rumah tangga segera menuju kulkas untuk menyediakan apa yang majikannya minta.
Setengah jam lamanya hanya tersisa setengah botol minuman keras. Gadis cantik berambut pendek itu pun sempoyongan menuju kamar. Dia hendak membereskan botol-botol itu tetapi keempat asisten rumah tangga segera mencegah. Jika tidak botol-botol itu akan jatuh berantakan. Ujung-ujungnya mereka juga yang repot.
Dalam kondisi setengah sadar Winda berbicara ngaco. Sesekali ia tertawa. Dua asisten rumah tangga membanyu Winda masuk ke kamarnya, melepas sandalnya dan menatakan tempat tidurnya. Sementara dua yang lain membereskan benda-benda yang berserakan.
Untung saja kedua orang tua Winda sedang berkunjung ke Lumajang dan menginap di sana. Mereka tidak harus menyaksikan pemandangan malam ini.
Widya tertidur dengan lelapnya dengan bau alkohol yang menyengat. Biarlah demikian, tidak mungkin dibersihkan sekarang karena pasti dia ngamuk lagi. Esok hari seperti sebelum-sebelumnya saat ia tersadar ia akan membersihkan dirinya dan berusaha menyembunyikan dari siapapun meskipun itu sudah bukan rahasia di keluarga ini.
__ADS_1
***