Rembulan Dini Hari

Rembulan Dini Hari
Surprise


__ADS_3

Lukman melangkah di tengah keramaian. Semua orang berdandan rapi. Yang perempuan mempercantik diri dengan make up maksimal. Para laki -laki muda mengenakan jas hitam. Tampak kebahagiaan tengah menyelimuti mereka semua.


Hari ini adalah hari yang spesial bagi mereka. Hari ini mereka akan menerima gelar yang akan dibubuhkan pada nama lengkapnya. Hari ini adalah hari yang belum pernah Lukman rasakan. Wulan ada diantara mereka. Ia akan mendapatkan gelar magister bersama puluhan teman sejawatnya. Hari ini Wulan wisuda.


Hari ini Lukman menghadiri Wisuda Wulan. Dia membayangkan betapa mengharu birunya suasana saat nama kekasihnya dipanggil. Radmila Wulandari, M.Ak. Dia membayangkan berdiri di depan Wulan memberikan senyuman terindah memegang tangannya dengan hangat dan mengucapkan selamat dengan hati yang bergetar. Lalu berfoto bersama dengan orang tuanya, jika tak mungkin minimal berfoto berdua.


Wisuda S2 selalu dipanggil lebih dulu ketimbang S1. Lukman bersiap - siap mendekati panggung mencari tempat yang paling memungkinkan. Ia siapkan hapenya untuk merekam detik-detik Wulan mendapatkan pengukuhan.


Lukman mencari celah di antara pengunjung yang berjubel. Berhasil. Ia mendapat tempat yang strategis dan cukup jelas untuk melihat panggung.


Seperti yang direncanakan. Ia dapat merekam prosesi wisuda kekasihnya. Begitu Wulan turun, lukman berbalik arah. Ia berlari agar cukup waktunya untuk sampai pada posisi yang terlihat oleh Wulan. Untuk sampai pada posisi itu ia harus memutar jauh, karena itu ia berlari agar cepat sampai.


Wulan keluar ruangan setelah puluhan wisudawan magister selesai dipanggil. Mereka berfoto bersama. Lukman melihat dari kejauhan. Rencananya selesai sesi foto, Lukman akan menghampiri kekasihnya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas keberhasilan orang yang sangat dicintainya itu.


Sesi foto selesai. Puluhan wasudawan magister buyar tetapi masih berada di tempat untuk sekedar selfie atau berfoto bersama sahabat atau kekasih. Lukman hendak mendekat namun ia mundur lagi. Ia melihat dua orang menghampiri Wulan. Mereka berpelukan dengan begitu sangat bahagianya. Lukman melihatnya. Lukman bahagia.


Ingin rasanya Lukman mendekat lalu membaur bersama mereka. Tetapi bayangan yang menakutkan seringkali menghantui pikirannya. Dua orang itu adalah orangtua Wulan.


Bagaimanapun jika ia mendekat tetapi justru merusak suasana keluarga yang ingin privasi. Bagaimana jika Papanya yang begitu membencinya memarahinya di depan umum. Bukankah itu akan membuat Wulan malu.


Lukman sedih meskipun juga bahagia. Hatinya remuk redam. Nelangsa. Segala kegundahan berkecamuk di hatinya. Layaknya seseorang yang gagal menyelamatkan nyawa orang lain. Seperti rasa bersalah, rasa tersingkir atau apalah namanya hingga Lukman sendiri tak tahu apa yang ia rasakan.


Lukman berbalik arah. Menyiapkan hapenya. Lalu selfi dengan menampakkan sosok Wulan yang jauh dibelakangnya yang sedang bahagia berfoto dengan orang tuanya.


Lukman keluar, ia melangkah dengan lunglai. Biarlah. Biarkan semua berlalu.


***


Malam yang dingin, Lukman tak bisa tidur. Ia hanya kelisikan di kasur. Sesekali ia lihat hapenya. Chat sedari sore tak dibuka oleh Wulan. Sudah pasti ia kesal karena merasa Lukman tak datang di acara wisuda tadi siang. Lukman lalu bangkit dari tidurnya. Waktu menunjukkan pukul satu malam.


Lukman mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunnah. Sekembalinya dari sholat, hapenya menyala. Segara Lukman membukanya. Wulan membalas pesannya.


*Maaf Man aku kecapekan baru bangun


Iya... kamu gak papa kan


Tadinya pusing. Migrainku kambuh


Sudah mendingan*?


Iya


Sebenarnya Lukman hendak menjelaskan perihal tadi siang, tetapi ia urungkan. Kurang pas jika menjelaskan lewat WhatsApp.


Besok ada acara? Jalan yuk!!


Ntar gak jadi lagi


Jadi...


Bener???


*Dandan yang cantik


Aku baru dandan kalau kamu dah siap berangkat. Daripada PHP


Hahahaha


jangan ketawa

__ADS_1


Iya nona*


Hari yang ditentukan tiba. Lukman mengabari Wulan pas saat akan berangkat seperti yang Wulan minta. Seperti biasa Lukman tidak menjemput di rumahnya seperti para muda mudi pada umumnya. Menjemput di rumah sama halnya dengan menyerahkan nyawa. Mereka janjian di sebuah restoran.


Lukman tiba lebih dulu. Hari ini ia berdandan rapi. Mengenakan jaz abu abu dan berdasi persis artis korea Choi Jin Hyuk.


Beberapa lama kemudian Wulan datang. Malam ini ia begitu anggun. Dengan dress panjangnya di bawah lutut sedikit namun tidak terlalu ketat. Warnanya merah jambu terang ada semburat keunguan. Rambutnya dibiarkan terurai namun rapi.


Lukman memandang penuh kagum. Ia menyambut dengan senyum. Begitupun Wulan. Lukman mempersilahkan duduk. Kursi tempat mereka duduk sudah dipesan sebelumnya. Lokasinya sangat strategis. Brada di lantai dua di ruangan terbuka. Di tempat itu mereka bisa melihat kerlap kerlip kota Surabaya. Pemandangan di bawah ada kolam renang dengan lampu lampu yang menghiasi. Sungguh indah.


" Man tumben kamu bawa aku kesini. Ini kan mahal Man" gerutu Wulan.


"Sudah tenang aja tabunganku masih cukup kok. Ini kan hari spesial. Kamu gak seneng?"


"Ya seneng tapi kan ... Pemborosan"


"Sudah sudah gak usah mikirin itu... sekarang kita nikmati malam ini. Lihat deh view nya suka gak?"


Wulan melihat sekeliling lalu manggut-manggut.


"Suka Man... Suka banget" kata Wulan.


"Aku ngajak kamu kesini dengan biaya yang gak murah... Aku mau minta maaf, atas wisudamu tadi siang" kata Lukman pelan.


Wulan menunduk. Muncullah gurat kekecewaan di wajahnya. Lukman menyodorkan hapenya. Ia menunjukkan foto selfinya dengan penampakan Wulan yang jauh di belakangnya yang sedang berfoto dengan orang tuanya.


"Man, jadi .. tadi...."


"Iya Lan, aku datang di wisudamu tapi aku gak berani mendekat. Aku ... Aku gak enak sama Papa Mamamu. Kamu tahu sendiri kan Papamu gak suka kehadiranku"


"Man harusnya itu tadi jadi momen penting. Papa gak mungkin akan marah - marah di depan umum, malu lah... Harusnya tadi kalian bisa ketemu" Wulan kembali kesal.


"Makanya aku minta maaf. Aku belum cukup berani untuk itu. Sebagai gantinya kita rayakan malam ini. Semoga dengan ini kamu bisa maafin aku" bujuk Lukman.


"Man, kamu tahu kalau aku marah gak bakal lama, Gak perlu keluar duit mahal mahal kayak gini"


"Iya, sudah jangan dibahas lagi. Aku mau kasih hadiah spesial untuk kamu"


Lukman memberikan sebuah amplop panjang warna coklat. Wulan membukanya pelan - pelan. Ada surat di dalamnya. Wulan membaca dengan teliti. Matanya berjalan kanan dan kiri menelusuri kalimat - kalimat dalam surat itu.


"Supervisor? Man...kamu naik jabatan lagi Man?" Wulan terkejut sekaligus senang.


"Sebenarnya sudah dua bulan ini, tapi aku sedang cari waktu yang pas untuk kasih tahu kamu. Memang sengaja aku bikin kejutan pas dihari kamu diwisuda" jelas Lukman.


Wulan menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Selamat ya Man, aku bahagia banget. Itu artinya....."


"Iya Lan, aturlah waktunya, aku siap"


Wulan tersenyum bahagia. Ia menyentuh amplop coklat di depannya. Masih ada surat lagi di dalamnya. Wulan membukanya. Ada 3 brosur perguruan tinggi di Surabaya.


" Man, ini kok..."


" itu surprise kedua. Jadi gini Lan, Pak Aji yang sering aku ceritain itu, dia menyarankan aku untuk kuliah supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial di antara para karyawan. Masak lulusan SMA bisa segitu mudahnya jadi Supervisor "


"Trus kerjaan kamu gimana Man"


"Eh emang ada ya kuliah Sabtu Minggu? Soalnya Pak Aji nyaraninnya gitu"

__ADS_1


" Ada, tapi lebih mahal per semester nya,. Plus tugas tugasnya lebih berat lebih full"


" Untuk biayanya dipotong gaji. Trus ada kontrak bahwa selama kuliah aku gak boleh resign dari kantor dengan alasan apapun. Jika itu terjadi ada denda yang besar yang harus aku bayar"


Wulan manggut-manggut.


"Nah sekarang aku percayakan ke kamu. Pilihkan aku yang sesuai"


Wulan membaca dan mengolak alik ketiga brosur tersebut. Cukup lama ia lakukan itu sampai akhirnya ia menetapkan satu brosur yang terpilih.


" Ini. Jurusannya cocok, akreditasinya bagus, agak mahal dih tapi kualitasnya bagus" kaya Wulan.


Lukman melihat sekilas brosur terpilih lalu memasukkan kembali ke dalam amplop.


Seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu pada Lukman lalu pergi lagi l.


"Oke aku percaya... Next surprise ketiga"


" Ada lagi?"


" Hmm yuk" Lukman menyodorkan tangannya disambut dengan jemari Wulan.


Mereka mendekat pada pagar di sisi timur. Lukman mengarahkan telunjuknya ke arah bawah tepat di kolam renang.


Sebuah simbol hati terbuat dari lilin lilin di atas mangkuk. Di dekat kolam renang ada layar besar. Rekaman prosesi wisuda Wulan ditampilkan melalui layar itu. Wulan memandang Lukman dengan penuh kebingungan.


" Tadi siang aku rekam kamu. Maaf ya agak goyang - goyang agak keburu soalnya"


Wulan memandang takjub. Kedua tangannya menyentuh pipinya sendiri.


"Surprise keempat" ujar Lukman.


"Masih ada?"


Lukman menunjuk ke sisi selatan. Di bagian kanan yang awalnya gelap menjadi terang penuh lampu. Di dalamnya sebuah grup band kafe serta merta membawakan lagu favorit Wulan. Dari Rossa. Wulan memang menggandrungi lagu - lagu dari Rossa.


"Selamat menikmati nona, semoga nona suka" goda Lukman.


" Duduk yuk" ajak Wulan.


"Lah, kok duduk sih. Aku udah bayar mahal loh. Lihat ajah berapa banyak lilinnya belum lagi sewa band nya, ngasih tip para pelayan. Malah duduk"


" Hahaha udah kayan drama Korea dah sumpah"


"Romantis kan?"


"Iyaaa..... Tapi aku laper makan yuk, lagian aku malu dilihatin banyak orang"


" Lah,. drama korea kayak gini kan, ngrayu - ngrayu di depan banyaj orang gitu kan?"


" ya sekalian aja kamu lamar aku disini. kaju berlutut bawa kenbang trus bilang will yiu marry me? trus ada yang merekam tuh trus masukin YouTube. viral dah. udah yuk makan "


Giliran Lukman yang tertawa. Kemudian ia meminta beberapa pelayan untuk menggeser tempat duduknya agar tepat di pinggir pagar sehingga bisa menikmati musik dan view kolam renang yang super romantis.


" aku suka kok Man, malam ini hmmmmm surprise banget aku sumpah "


lukman teraenyum senyumnya teduh, lega, damai.


Malam yang indah. Yang selalu mereka impikan. Ini kali pertama mereka makan di restoran mewah. Tentu merogoh kocek bahkan menguras keuangan Lukman. Namun tak sebanyak dengan bahagianya mereka. Urusan besok biarlah menjadi urusan besok. Hari ini adalah sekarang. Yang harus kita nikmati. Entah besok masihkah ada kesempatan seperti ini. Yang jelas malam ini bakal sulit dilupakan.

__ADS_1


***


__ADS_2