Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Aku datang (Syedza)


__ADS_3

"Apaaaa!" Teriak Syedza terkejut sambil menutup mulutnya


Craaakkkk.... Bunyi benturan keras memenuhi ruangan, hingga terdengar ke arah dapur


"Nona!" Teriak Anne melihat ke arah Syedza


"Tuan Maiher! Nyonya Anita!". Syedza sudah ambruk di atas lantai


Anne spontan membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai ruang tv itu.


Darah. Batin Anne


"Nona lihatlah, kakimu terluka!". Teriak Anne menyadarkan Syedza


"Anne kenapa kau tak memberi tahuku terlebih dulu perihal Tuan dan Nyonya Maiher ini?". Protes Syedza tanpa memperdulikan luka di kakinya


"Maaf nona, luka pecahan beling di kaki nona harus dibersihkan dahulu, ini lebih penting dari itu semua nona". Anne berdalih mencari alasan


"Heiii... Anne dengarkan aku, kenapa kau begitu lancang!". Syedza protes setengah berteriak


Anne tak menggubris perkataan Syedza sama sekali


"Heeemmm... Menyebalkan". Syedza memajukan bibirnya


------


"Telpon Moehe sekarang! Cari tahu dia ada dimana" Titah Syedza sedikit terburu-buru saat keluar dari bandara menuju ke sebuah mobil


"Nona, apa tindakan kita ini tidak berlebihan? Aku takut tuan Moehe akan marah jika tahu nona menyusulnya kesini". Ucap Anne khawatir


"Memangnya apa yang kau takutkan, kepala penjaga rumah istana penjara itu sudah mengizinkan kita kesini"


"Tapi nona"


"Sudahlah, aku sudah memenangkan pertarungan catur pagi ini dengannya, apa yang harus aku takutkan? Masalah Moehe itu tanggung jawab kepala penjaga sialan itu, mengapa bisa ia membuat kesepakatan yang menarik seperti ini". Jawab Syedza


"Tapi nona"


"Cukup Anne, jangan menyusahkan diri. Percayalah padaku, kau aman"

__ADS_1


"Tapi nona"


"Tapi.. Tapi.. Hidupmu penuh dengan tapi-tapi Anne, pantas saja kau tak pernah maju-maju".


"Nona!" Jawab Anne lembut ingin membantah ucapan Syedza


Syedza mengangkat tangan kanan nya ke atas "Berbicara lagi, atau aku lempar kau keluar mobil ini". Ancam Syedza membentak Anne


Anne hanya bisa terdiam memegang handel pintu mobil kuat-kuat, menatap ke arah jendela dengan wajah pias, pikiran Anne jauh melayang ntah kemana, antara takut akan bayang-bayang kemarahan Moehe yang menghantuinya dan senang akhirnya ia bisa menatap langit lebih lama, karena semenjak bekerja pada Moehe ia hampir tidak pernah lagi jalan-jalan melihat dunia luar.


Langit yang cerah, aku ingin lebih lama lagi menatap mu. Batin Anne


Tampaknya Anne sangat menikmati perjalanan ini, baginya ini cukup untuk melepaskan rindunya pada dunia luar. Anne tak banyak bicara lagi, sehingga menimbulkan rasa bersalah pada Syedza.


"Anne!" Ucap Syedza setengah berteriak


Anne hanya mengangkat dagunya


"Kau kenapa diam? Kau tak mau bercerita sesuatu dengan ku?" Ucap Syedza kembali untuk memastikan Anne baik-baik saja


Bercerita? Sejak kapan aku bercerita dengan mu nona?. Batin Anne tergelak


"Anne ayo lah, kau kenapa diam? Apa kau marah dengan ku". Ucap Syedza berusaha membujuk Anne


Anne hanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan kemudian kembali menatap keluar jendela.


"Aku mohon Anne maafkan aku Anne. Siapa lagi yang mau mendengarkan ku selain kau Anne. Ayolah, berbicara". Ucap Syedza merengek


"Saya tidak marah nona"


"Katakan kau mau apa, katakan saja".


"Aku hanya memikirkan tuan muda, bagaimana jikalau nanti tuan muda marah pada ku telah membawa mu kesini nona". Ucap Anne pelan


"Oohhhh soal itu. Kau tidak perlu khawatir, itu semua tanggung jawabku. Tenang saja ya". Ucap Syedza menepuk lembut punggung tangan Anne


"Tapi nona"


"Ssstttt.... Tenang saja". Syedza meletakkan jari telunjuk di bibirnya untuk mengisyaratkan tak perlu lagi bicara tentang itu

__ADS_1


Tanggung jawab? Apa kau kira tuan Moehe akan peduli tentang itu. Habislah aku.. Habislah aku... Batin Anne menangis


Syedza berusaha menghubungi Moehe, tapi ia tak mendapatkan jawaban. Berkali-kali ia mencoba menelpon Moehe lagi, tapi nihil.


"Hmmmmm.... Bagaimana bisa ia tak mengangkat telpon ku. Dimana ia menyimpan ponselnya sampai tak mendengar panggilan masuk beberapa kali seperti ini? Atau dimana ia letak telinganya sehingga tuli seperti ini? Haaahahaha". Gerutu Syedza sedikit kesal dengan membanting ponselnya ke arah kursi di samping Anne, kemudian disambut gelak tawa Syedza yang merasa lucu saat membayangkan telinga Moehe tuli.


Anne hanya terdiam melihat tingkah Syedza.


"Heeiii Anne!"


"Iya nona"


"Apa kau tak bosan bekerja dengan Moehe? Selain dia pengekang, dia juga gila dan sekarang dia juga tuli, Hahahahaha". Syedza tertawa lagi.


Nona... Nona.. Ini menggemaskan. Batin Anne


"Anne, coba kau pikir lagi ya? Kau bisa stres lama-lama bekerja dengan tuan muda mu itu. Hahahahhaa". Syedza berbicara lagi, kemudian tertawa lagi.


Aku bahkan semakin stres saat menghadapimu, nona. Batin Anne lagi


"Ohhh iya... Aku hampir melupakannya, Anne kita harus menghubungi Fram sekarang. Kita sebentar lagi akan tiba di lokasi itu". Titah Syedza


"Taaa.. pi.. Nonaa..". Ucap Anne terbata-bata


"Aaaahhhh.... Sini ponselnya". Syedza merampas ponsel dari tangan Anne.


-----


Sementara itu di posko darurat bencana seorang laki-laki berpakaian rapi menggenggam kuat jari-jemarinya, tertunduk pilu dengan air mata sedikit mengalir di sudut matanya. Tak ada kata-kata yang muncul dari bibir laki-laki ini sejak tadi, tak satu pun orang yang berani menyapanya. Para pengawal tampak mondar-mandir di sekitar laki-laki itu, berjalan kikuk tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun walau hanya untuk sekedar menawarkan makanan kepada bosnya itu, mengingat bosnya itu belum makan sedikitpun seharian ini. Tangannya ditekuk ke bawah dagunya, matanya memandang lurus ke bawah dengan tatapan kosong, keringatnya bercucuran hingga membasahi kemejanya, ia tak peduli siapa pun yang ada di sekitarnya saat ini. Iyaa.. laki-laki itu adalah Moehe.


Moehe seperti kehilangan semangat hidupnya kali ini. Ini merupakan titik terendah bagi Moehe selama hidupnya, bermacam masalah pernah Moehe hadapi dengan keahlian yang ia punya, tapi tidak untuk kali ini, ini merupakan hari terburuk baginya. Mungkin tak ada yang pernah melihat mata Moehe basah, tapi kali ini terpampang nyata ada sungai di arah sana.


Trrrr... trrrrr... trrrttrrrrt...


Berkali-kali suara getaran terdengar dari ponselnya, tapi tak sedikit pun ia berniat untuk menggubrisnya. Jangan pun untuk mengangkat telpon yang masuk dari ponsel itu, untuk meliriknya pun tidak. Fram ingin menyadarkan Moehe tentang hal itu tapi ia urungkan, nyali Fram seakan menciut seketika melihat keadaan Moehe saat ini.


Mungkin kehadiran nona bisa menenangkan tuan muda saat ini. Batin Fram


"Kami berada di Posko darurat bencana, tenda hijau nomor 9 arah sebelah kiri, nona. Tuan muda menunggu mu di sini". Terdengar Fram menjelaskan secara detail pada Syedza tentang posisinya saat ini.

__ADS_1


"Baiklah... Kami sebentar lagi akan sampai"


----


__ADS_2