Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Mulai curiga


__ADS_3

"Aku harus berterimakasih kepada Seihan," ucap Moehe tanpa memandang Syedza.


"Aku merasa bersalah pada laki-laki itu, karena akan bertambah satu lagi orang yang menjadi korban atas kelakuanku," ratap Syedza.


"Aku tidak pernah merasa aku yang menjadi korban," imbuh Moehe.


"Bagaimana dengan ibu? Apakah ibu baik-baik saja?"


"Aku tidak mendengar kabar apapun tentang Nyonya Ralin, terakhir aku bertemu beliau saat pesta pernikahan Syedzi dan Rizwan," ucap Moehe.


"Ezi dan Rizwan?" tanya Syedza kaget.


"Iya, mereka melanjutkan anak cabang Fajuri Grup di kota B," jelas Moehe.


"Kota B? bukankah itu adalah cabang perusahaan yang kamu rintis sendiri semenjak awal?"


Moehe mengangguk.


"Apa yang terjadi?" tanya Syedza lagi.


#Flashback on


Moehe mengabarkan kepada tuan Fajuri bahwa sudah terjadi konflik besar antaranya dan Syedza tiga hari yang lalu, tuan Fajuri marah besar mendengar kabar itu.


"Maafkan aku ayah" pinta Moehe bersimpuh di hadapan tuan Fajuri.


"Tidak! tidak akan ku maafkan, anakku tetaplah anakku apapun yang terjadi! dan kau bukanlah siapa-siapa setelah ini!" emosi tuan Fajuri meledak.


#Flashback off


"Ayah mengatakan seperti itu?" tanya Syedza.


"Iya," Moehe mengangguk, "Tuan Fajuri sangat terpukul mendengar berita itu, dan semenjak itu pula aku tidak berhak untuk ikut campur apapun lagi tentang keluarga Fajuri," ucap Moehe berkaca-kaca.


"Maafkan aku," pinta Syedza parau.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyesali hal itu, aku anggap ini sebagai hukuman atas tindakanku yang lalai terhadap dirimu," ucap Moehe datar.


"Lalu untuk apa kau datang lagi? untuk apa kau mencari aku lagi, Moehe?" tanya Syedza geram.


"Untuk menebus kesalahanku," ucap Moehe datar.


"Untuk apa? perjuanganku selama ini sia-sia, selama 6 tahun berusaha dengan susah payah menghindar dari semuanya untuk menghukum diriku sendiri, namun semua itu sia-sia saat kau datang kembali. Kenapa kau lakukan ini padaku, Moehe? kenapa? Kau tahu? dengan kau datang lagi seperti ini akan menambah beban masalah untuk dirimu sendiri," gerutu Syedza menangis histeris.


"Tenanglah! tenanglah Syedza," ucap Moehe menenangkan Syedza.


"Aku rasa kita sudah selesai bicaranya, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk berbicara, sekarang saatnya kau untuk memenuhi permintaanku pula," ucap Syedza berusaha mengendalikan dirinya.


"Jangan bilang kau akan melarangku untuk menemui mu lagi!" seru Moehe.


"Aku mohon," pinta Syedza lembut.


"Tidak akan, aku berusaha menemui mu, ada banyak hal yang belum usai, aku akan memastikan dirimu baik-baik saja," tegas Moehe.


"Kau sudah menemukan yang kau cari kan? aku memiliki rencana indah kedepannya, dan kau juga harus seperti itu, kita tidak bisa dihantui masa lalu terus-menerus, kita sudahi sampai disini ya? kamu bisa pergi sekarang," seru Syedza mengusir Moehe secara lembut.


"Moehe, A-ku ___" kalimat Syedza terputus.


Moehe memeluk Syedza dengan erat hingga tangis Moehe pecah di pelukan Syedza. Kali ini Moehe berada di titik terendahnya.


"Aku hanya pernah melihat Moehe serapuh ini pada saat ia kehilangan kedua orang tuanya pada kecelakaan pesawat waktu itu, dan ini kali kedua aku lihat Moehe lemah begini. Moehe adalah orang baik yang berada di tempat yang salah, sama seperti Seihan, ia orang baik terjebak di pelukan orang yang salah," batin Syedza membiarkan Moehe meluapkan kesedihan di pundaknya.


***


#POV Seihan


Dua hari yang lalu, aku sudah berjanji untuk mengajak Efril ikut latihan berkuda untuk mengisi waktu luang diakhir pekan ini. Aku belum mendapat kabar dari Syedza sejak pertemuan terakhir kami kemarin, aku coba menghubunginya via chat tapi tidak ada jawaban, sepertinya ia sedang tidak aktif, aku coba menghubunginya via telpon, masih tidak ada jawaban.


"Apa yang terjadi pada wanita itu?" gumamku dalam hati.


Aku sangat khawatir akan keadaan Syedza, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia tidak menjawab telponku? Apa ia masih marah dengan ku tentang malam itu? Aku sangat khawatir pada nya, aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi.

__ADS_1


Aku melajukan mobilku ke apartemennya untuk mengecek langsung keadaan wanita itu, saat aku sampai di area parkir apartemen, aku mendengar suara Moehe tidak jauh dari mobilku, sepertinya ia sedang berdebat dengan seorang wanita.


"Nona Efril! Nona Syedza Efril Fajuri!" ucap Moehe waktu itu.


Aku cukup terkejut mendengar suara yang keluar dari bibir Moehe barusan, ternyata ia sedang berdebat dengan Efril, aku tidak tahu apa yang sedang mereka permasalahkan, tapi aku heran kenapa Moehe tahu nama lengkap Efril. Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya? Entahlah aku tidak tahu, aku harus menyelediki keganjalan ini.


Aku mendengar dengan jelas pertengkaran mereka waktu itu, aku juga mendengar dengan jelas Moehe menyebut nama Efril dengan lengkap. Efril juga terlihat kesal dan ingin buru-buru pergi dari hadapan Moehe.


Aku berinisiatif untuk mengikuti arah mobil Efril, aku penasaran ia mau kemana, aku ikuti terus, sepertinya ia menuju ke arah rumahku, tapi ia tidak mengabari aku kalau ia akan ke rumah.


"Kau kesini?" aku mengajukan sebuah pertanyaan pada Efril.


Ia tampak ketakutan menjawab pertanyaanku, sepertinya ia tersadar kalau ia sudah melanggar janjinya pada ku hari ini.


"Kemana ponselmu? Dari kemarin kau tak mengabari ku, aku sangat khawatir," ungkapku.


"Ponselnya mati, aku lupa mengisi ulang dayanya, maafkan aku," pinta Efril.


Aku tidak mempersalahkan janji itu, aku hanya menunggu kejujuran dari nya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


***


Malam itu, aku mengunjungi apartemen Efril, perasaanku selalu tidak tenang setelah kejadian akhir pekan kemarin. Aku mengunjungi Efril hanya untuk berbincang-bincang kecil saja, sekalian untuk memperbaiki hubungan kami yang sempat tegang semenjak di galeri beberapa waktu yang lalu.


Saat aku keluar dari lift lantai 5 aku melihat Moehe berjalan di lorong depanku, aku membuntuti Moehe dari belakang, sepertinya ia menuju ke nomor 13, firasatku semakin tidak enak, bahwa ada sesuatu yang tidak ku ketahui diantara mereka.


Aku menunggu di depan pintu cukup lama, aku tidak bisa mendengar suara apapun dari dalam sana, berkali-kali aku ingin memencet bell nomor 13 itu, tapi hati kecilku berkata jangan, ini terlalu cepat, aku harus mencari cara untuk mengungkapkan dugaanku ini dengan caraku sendiri.


Aku teringat saat awal pertama kalinya aku menerima Efril di perusahaanku ini, saat itu kondisinya sedang hamil muda, tapi aku tidak pernah sama sekali menanyakan kemana suaminya ataupun hal pribadi lainnya. Saat itu ia hanya mengatakan ada kebutuhan finansial yang harus aku penuhi sendiri, dengan kata lain ia sudah sendiri saat itu.


"Kebetulan apartemen sedang penuh, karena ada beberapa kamar yang harus direnovasi, mengingat anda datang kesini sendirian, bagaimana jika anda satu kamar dengan Noza, salah satu karyawan kita yang kebetulan tinggal sendiri juga," aku mengajukan tawaran pada Efril terkait tempat tinggal Fasilitas kantor.


"Tidak masalah, saya bisa berbagi, apalagi saya sedang hamil, saya juga butuh teman," jawab Efril menyetujui permintaanku.


Aku tidak pernah ingin tahu tentang pribadi orang lain, aku membantu Efril tulus karena dia bekerja keras untuk perusahaanku. Aku melihatnya adalah wanita yang tangguh, aku mendampinginya saat melahirkan Nafin, hingga sekarang aku berani mengungkapkan bagaimana perasaanku padanya. Aku tidak pernah menilai wanita seperti ini, tapi tidak dengan Efril, perasaan aku pada nya sangat tulus.

__ADS_1


__ADS_2