Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Positif!


__ADS_3

"Maksud mu, Anne?". Tanya Moehe mengerutkan dahinya


"Menurut saya, gejala yang dialami nona mirip dengan tanda-tanda awal kehamilan". Ujar Anne santai


"Hamil?". Tanya Moehe kaget


Anne mengangguk


"Hei! Kau jangan mengada-ngada, omong kosong seperti apa itu? Pendidikan mu belum selesai kan? Ada baiknya kau selesaikan dulu pendidikan mu sana". Ucap Moehe tergelak


Apa salah ku? Kenapa wajah tuan muda seperti tak yakin begitu ya? Lihatlah wajah nona bahkan semakin pucat sekarang. Batin Anne


Apa benar aku hamil? Bagaimana ini? Aku sama sekali tak bisa mengingat detail kapan terakhir kali tamu bulanan itu datang. Batin Syedza


"Anne! Apa kau bisa membuktikan ucapanmu itu? Kau harus menerima tantangan ku ini". Ujar Moehe dengan nada bicara yang tak beraturan


"Tantangan? Maksudnya tuan muda?". Tanya Anne bingung.


"Iya tantangan. Jika ucapanmu benar, kau boleh menggunakan separuh waktu untuk melanjutkan pendidikan mu, tapi jika ucapanmu tadi salah, maka kau harus bekerja lebih keras lagi di rumah ini". Moehe menjelaskan tantangannya.


Aduuhh.. Kenapa nasibku sangat tidak beruntung? Ada saja hal kecil yang membuat aku jadi celaka. Batin Anne


"Bagaimana Anne kau bisa membuktikannya kan?" Tanya Moehe sambil meneliti Syedza


"Tidak!". Teriak Syedza spontan


Moehe langsung memandang Syedza sinis


"Kenapa? Kenapa kau begitu gugup?" Ucap Moehe datar


"Apa kau mencurigai ku?". Sarkas Syedza menantang mata Moehe


"Ohh.. No! Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu". Ujar Moehe


"Kau membuat tantangan dengan Anne, apa kau kira aku ini barang taruhan?" Nada Syedza meninggi


"Maksud ku bukan begitu, apa salahnya kan kita buktikan dari pada Anne menerka-nerka hal yang tak jelas tentang mu". Jelas Moehe tenang


"Bukti apa yang kau inginkan ini? Haah? Bukti yang bagaimana?". Ujar Syedza dengan nada yang masih tinggi


Aku hanya takut jika apa yang dikatakan Anne itu benar. Batin Syedza


"Aku tak berharap apapun, kau tenanglah. Ini hanya pembuktian agar Anne tak sembarangan berbicara seperti yang ia tuduhkan pada mu tadi". Ujar Moehe


Anne hanya menunduk, merasa bersalah.


"Tuan muda, Nona, maafkan aku telah menjadi biang kekacauan di sini. Sungguh aku tak berniat apapun untuk membuat kalian berdua bertengkar". Ujar Anne terisak.


Aku tak berniat apapun, ini adalah cara ku untuk membiarkan Anne tetap melanjutkan sekolahnya. Sepertinya ia sangat berbakat. Batin Moehe


"Tantangan tetap akan dilanjutkan, apapun itu, lakukanlah rencanamu, Anne". Titah Moehe


Anne mengangguk


"Maaf nona, sebaiknya kita lakukan tes kehamilan dahulu untuk menjawab teka-teki ini". Jelas Anne


"Baiklah!". Ujar Moehe. "Dan kau sayang, kau tak perlu khawatir, ini hanya tes urin. Kau tak usah takut, tak ada alat medis apapun yang akan masuk ke tubuhmu". Jelas Moehe pada Syedza


Wajah Syedza sangat gugup


Apa yang akan terjadi selanjutnya, jika tes kehamilan itu benar-benar menunjukkan hasil yang tak ku harapkan?. Batin Syedza

__ADS_1


"Aku sungguh tak mengerti dengan sikapmu ini! Bisa-bisanya kau berprasangka buruk terhadap ku!". Seru Syedza tidak setuju dengan cara yang diajukan Moehe


"Maafkan aku nona". Sela Anne tak enak hati


Moehe berkali-kali mengusap mukanya, seperti menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Entah alasan apa yang membuat Moehe setuju dengan pendapat Anne, mungkin sudah firasatnya.


"Aku tak takut apapun, aku merasa dilecehkan, dihina dan dianggap rendah. Bisa-bisanya suamiku memperlakukan hal yang membuat aku jatuh-sejatuhnya seperti ini". Ungkap Syedza terisak


"Sayang... Sayang... Dengarkan aku...". Rayu Moehe lembut.


Syedza mengalihkan tubuhnya membelakangi Moehe, air matanya mengalir deras. Kalimat Moehe terpotong saat Syedza mengangkat tangannya seperti memberi isyarat tak mau mendengar apapun lagi.


Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa nona sangat tidak setuju dengan tes kehamilan ini? Bukannya ini akan menjadi kabar baik jika hasil tesnya nanti positif? Apa yang salah? Mereka juga sudah hampir sebulan menikah kan? Bukankah ini yang dinantikan setiap pasangan? Atau tuan muda tidak mau tergesa-gesa memiliki keturunan?. Batin Anne dengan penuh tanda tanya.


Seribu tanda tanya tumbuh dibenak Anne, ia yang tadinya berharap akan ada kebahagiaan dari kamar ini saat mengajukan pendapatnya tadi, berubah drastis menjadi kekacauan dan kebingungan.


Moehe ingin memeluk Syedza, tapi dengan cepat Syedza menampisnya.


"Jangan sentuh-sentuh!". Ucap Syedza kesal


Moehe berkali-kali mengusap mukanya, memijit pelipisnya, dan mengepalkan tangannya kuat.


Huweeekkk.. Syedza mual lagi, setelah beberapa saat terdiam


Dengan sigap Anne menemani Syedza ke kamar mandi, mengelus-ngelus punggung Syedza dan memberikannya minyak hangat.


Moehe terlihat beberapa kali menghela napas panjang, mengontrol emosinya yang sudah mendidih ke ubun-ubun saat ini.


Ia sangat menolak tes kehamilan itu. Sebenarnya apa yang ia takutkan?. Batin Moehe


"Anne! Minyak hangatnya habis". Ujar Syedza cegukan


"Saya akan membelinya nanti nona". Jawab Anne datar


"Apa sudah baikan?". Tanya Moehe santai


"Hmmmmm". Jawab Syedza seperti tak ingin menjawab apapun


"Baiklah, aku sudah pikirkan baik-baik, kita akan batalkan tes urin itu". Ucap Moehe serius


"Serius!?". Sorak Syedza sumringah


"Iya". Moehe mengangguk


Raut wajah Syedza berubah drastis menjadi ceria, seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Mood Syedza memang tak beraturan, naik turun seperti Roller coster.


"Kamu sedang tidak bercanda kan?". Tanya Syedza masih ceria


"Tapi dengan satu syarat". Moehe mengacungkan telunjuknya ke atas menunjukkan angga satu


Syarat? Syarat apa?. Batin Syedza


"Jika kau tidak mual lagi setelah ini, maka kita tak akan melakukan apapun". Jawab Moehe meneliti Syedza


"Lalu?". Tanya Syedza penasaran


"Jika kau mual sekali saja, maka konsekuensinya adalah kita harus memilih satu diantara dua pilihan. Tes kehamilan? atau dokter?". Jelas Moehe mengajukan pilihan


Dokter? Tes kehamilan? Sungguh, aku sama-sama tidak siap dengan keduanya. Batin Syedza


"Bagaimana?". Moehe mengajukan pertanyaan

__ADS_1


"Baiklah!". Jawab Syedza cepat


Baiklah, apapun yang terjadi kedepannya itulah konsekuensinya. Batin Syedza


Menurut Moehe keputusan yang ia ambil ini sudah tepat dengan pilihan seperti ini cukup membuat Syedza tenang.


"Anne rasanya tugasmu sudah cukup, kau boleh membeli beberapa keperluan yang dibutuhkan. Jangan lupa ajak Fram juga ya, sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua saja". Ujar Moehe mengedipkan matanya pada Anne


Anne meninggalkan kamar majikannya itu, ingin keluar bersama Fram untuk membeli keperluan rumah ini yang telah habis. Sebelum berangkat ke mobil Moehe sempat berbincang serius dengan Moehe. Fram yang mengintip mereka dari kaca spion mobil ikut penasaran.


Apa yang mereka bicarakan? Seserius ini?. Batin Fram


"Anne, apa pendapat mu tentang nona?". Tanya Moehe pada Anne datar


"Keputusan yang tuan muda ambil sudah tepat, keputusan itu sedikit menenangkan nona". Jawab Anne


Moehe mengangguk


"Sebenarnya apa yang terjadi tuan muda?". Tanya Anne sopan


"Sama sekali bukan urusanmu. Kau lihat Fram sudah menunggu mu, kalian terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Pergilah bersama Fram, jangan lupa sekalian beli alat tes kehamilan itu juga ya". Titah Moehe sambil merayu Anne untuk Fram


-----


Huweeekkk. Syedza mual lagi


Moehe meneliti Syedza tersenyum licik sambil mengangkat bahu dan kedua telapak tangannya menggangtung ke udara.


"Tak ada pilihan lain kan?". Ujar Moehe


Syedza hanya tertunduk membuang mukanya


"Kita ke dokter sekarang". Titah Moehe


"Aku memilih tes urin itu". Jawab Syedza lirih


"Tapi aku mohon berjanjilah". Lanjut Syedza lagi


Moehe terdiam


"Apapun yang terjadi nanti, aku mohon jadilah dirimu sendiri". Ucap Syedza lirih


Memangnya apa yang akan terjadi?. Batin Moehe


Syedza menguji tes kehamilan yang diberikan Anne pada nya. Moehe bolak-balik mengitari kamar sambil menunggu Syedza keluar dari kamar mandi. Tak terasa keringat menyucur deras di dahi Moehe yang sesekali ia lap dengan tisue yang ada di nakasnya itu.


Kenapa ia belum juga keluar? Lama sekali?. Batin Moehe


Syedza yang sedari tadi ingin menyelupkan alat uji kehamilan itu di sampel urinnya gagal ia lakukan. Rasa ketakutan dan kekhawatiran yang hebat mengitari benak Syedza saat ini.


Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan terjadi kedepannya? Pilihan ini sungguh sulit. Kenapa ini terjadi saat aku sudah nyaman bersama Moehe? Apa Moehe bisa menerima ku apa adanya setelah yang terjadi hari ini? . Segenap tanda tanya berhasil menguasai benak Syedza


"Sayang! Apa belum selesai?". Teriak Moehe dibalik pintu kamar


Sayang?. Kata-kata ini menyayat hati Syedza


Bagaimana jika aku mengecewakan mu nanti. Batin Syedza lagi


Tidak.. Tidak... Aku harus lakukan ini secepatnya, agar ini tak akan jadi beban bagi Moehe lagi. Batin Syedza lagi


Syedza menguji alat itu dengan hati-hati sambil menutup mata, seolah tak ingin melihat apa yang menjadi kenyataan didepannya sekarang.

__ADS_1


Dengan gemetar ia membuka matanya, kemudian menutup nya lagi. Kemudian membuka lagi matanya, lalu ia tutup lagi. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri melihat apa yang seharusnya ia lihat.


Garis dua, positif!


__ADS_2