
Di atas panggung pesta Syedza dan Moehe terlihat sibuk melayani tamu undangan yang lalu lalang memberi ucapan selamat atas pernikahan mereka. Dari kejauhan tuan Fajuri mengamati ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh Rizwan. Tuan Fajuri paham betul bagaimana perasaan Rizwan saat ini.
Anak itu, pasti hatinya sedang terluka saat ini. Batin tuan Fajuri.
Iya, sebenarnya Rizwan tidak mempunyai masalah dengan keluarga Fajuri, Hubungannya dengan Syedza pun tidak pernah mendapatkan pertentangan sebelumnya. 2 tahun menjalin asmara dengan Syedza mengalir begitu saja. Rizwan dikenal di keluarga Fajuri sebagai anak yang baik, antusias, dan mandiri, tanpa diketahui sisi lain dari Rizwan sendiri, kecuali Syedza. Syedza lebih menutupi apa saja hal negatif yang terjadi dalam hubungan mereka dari keluarganya.
Tuan Fajuri melangkah menuju meja yang diduduki oleh Rizwan dan Ezi.
"Selamat siang nak Rizwan". Sapa tuan Fajuri hangat.
"Siang tuan Fajuri". Rizwan menengadah kaget, menjabat tangan tuan Fajuri.
"Terima kasih atas kehadiran CEO Gemilang Grup di pesta ini. Apapun yang terjadi Fajuri-Gemilang harus tetap jaga komunikasi". Tegas tuan Fajuri sambil menepuk bahu Rizwan.
"Oh tentu saja tuan, walau tak bisa dipungkiri akan ada sedikit perubahan ke depannya". Rizwan mengangguk pelan.
Rizwan paham sekali kemana arah pembicaraan pemilik perusahaan Fajuri tersebut. Ia mengerti apapun yang terjadi antara dirinya dengan Syedza tidak boleh dikaitkan dengan kerjasama bisnisnya. Masalahnya tetap masalah pribadi, bisnis tetaplah bisnis.
"Baiklah kau yang tabah anak muda, saya tinggal dulu ya". Tuan Fajuri melangkah membelakangi Rizwan.
Rizwan hanya menunduk sopan mempersilakan tuan Fajuri pergi meninggalkan tempat dimana ia berdiri saat itu.
Rizwan berusaha tegar di depan calon mertuanya yang tak jadi ini.
Bersabarlah Rizwan, akan ada kejutan indah yang telah tuhan rencanakan untukmu setelah ini. Batin Rizwan menguatkan diri.
Ia terlihat seperti orang yang benar-benar tegar, walaupun tak bisa dipungkiri ketegarannya kali ini ialah pura-pura.
Entah kenapa tiba-tiba pikiran Rizwan tak karuan lagi setelah berbicara dengan tuan Fajuri barusan. Ia mengepalkan tangannya kuat, mengatup rahangnya geram dan menjatuhkan badannya ke atas kursi tamu secara kasar.
"Huuuufffttt". Erang Rizwan membuang nafas kasar.
Cringciingg... Crinnngcinnng..
Seperti ada benda yang jatuh.
Ezi yang dari tadi duduk berseberangan dengannya hanya bisa mengamati lekat-lekat tanpa ada komentar. Entah berapa piring makanan yang dihabiskan Ezi dari tadi. Ia sibuk dengan makanan yang ada di mejanya. Sesekali melirik Rizwan tetapi masih belum berani untuk mengajaknya untuk berbicara terlebih dahulu.
Kruukk kruuukkk
__ADS_1
Krukuuuukk...
Suara apa itu?. Batin Ezi.
"Apa itu enak?". Tanya Rizwan setelah beberapa saat tak bersuara.
Ternyata berpura-pura tegar menghabiskan tenaga juga. Batin Rizwan.
"Eehh enak. Coba saja sendiri". Jawab ezi sambil menyodorkan piring makanannya pada Rizwan.
Untuk saat ini yang dicari Rizwan bukan lagi masalah rasa, Kepekaan di lidahnya mungkin telah lenyap sejak beberapa hari belakangan. Yang terpenting saat ini ialah bagaimana mengusir lapar.
Ezi berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pembicaraandengan Rizwan. Ia paham apa yang dirasakan Rizwan saat ini, baginya paling tidak dengan mengajaknya berbicara bisa mengurangi sedikit kesedihan dari Rizwan.
"Apa kau bisa berbagi denganku?". Ucap Ezi membuka pembicaraan setelah beberapa saat terhening
"Kau mau ini?". Rizwan menyodorkan satu tusuk sate yang tersisa dari makanan di piringnya.
Ezi menggeleng, "Tidak, tidak. Bukan itu maksudku. Apa kak Rizwan berbagi sedikit kegundahanmu saat ini?". Jelas Ezi
Rizwan sedikit terkejut dengan kalimat yang keluar dari bibir Ezi barusan.
Anak ini? Aku tak yakin kalu yang berbicara di depan ku saat ini adalah Ezi. Batin Rizwan heran
Apa ia benar-benar Ezi? Atau kah ia Syedza? Apa mungkin ia berpura-pura menjadi Ezi? Padalah sesungguhnya ia adalah Syedza, Ia hanya ingin membohongiku? Kejutan semacam apa ini Syedza?. Batin Rizwan berseteru di hadapan Ezi.
"Kita bisa saja berencana kak, tapi yang maha kuasa berhak menentukannya". Ujar Ezi menghibur Rizwan
Lihatlah! Bahkan sekarang ia berani untuk menggurui ku. Apa yang sebenarnya terjadi ini?. Gumam Rizwan masih tak percaya.
Rizwan rak percaya bahwa yang berbicara di depannya ini adalah Ezi, tak mungkin Ezi bisa seberani itu menasehati dirinya. Ezi yang ia tahu hanya seorang yang pendiam, pemalu dan jarang sekali bisa nyambung saat diajak berbicara.
"Jika kak Rizwan tak berkenan juga tak apa". Ujar Ezi menyerah
"Siapa kau ini? Apa kau Syedza?". Tanya Rizwan menyelidiki
Ezi menggeleng cepat, "Tidak! Tidak kak". Ujar Ezi lantang
"Lalu?". Selidik Rizwan lagi dengan tatapan mata yang serius
__ADS_1
"Aku Syedzi..". Jawab Ezi sedikit gemetar melihat kemarahan di mata Rizwan.
"Hmmmm.. Apa pedulinya kau pada ku!". Celetuk Rizwan di susul dengan suara Celuuutuuuk.
Rizwan melemparkan sendok dengan kasar ke atas piring makanannya.
"Maaf!". Gumam Ezi gugup.
Pesta sudah selesai, beberapa tamu sudah meninggalkan tempat itu, sebagiannya lagi ada yang masih menikmati pemandangan halaman belakang rumah sang pemilik perusahaan megah tersebut. Syedza dan Moehe berjalan meninggalkan meja pesta kemudian berlalu menuju ke rumah utama.
"Aku harus pergi sekarang". Seru Rizwan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. "Selamat sore" Ucapan salam perpisahan dari Rizwan.
"Tapi kak, maka..nan nya..". Tegur ezi terbata-bata.
"Kau habiskan sendiri sampai kau puas". Jawab Rizwan ketus.
"Aahh katanya lapar, mau makan. Tapi... Ah! Sudahlah emang apa pedulinya aku pada nya". Gumam Ezi.
Syedza melihat jelas bagaimana ekspresi Rizwan membuang muka dan melangkah pergi saat Syedza berjalan mendekati meja tamu tempat Rizwan duduk barusan. Tapi apa hendak dikata, mau mencegah Rizwan untuk tetap di sini pun juga tak bisa.
Sial! Aku harus melihat wajah wanita itu lagi! Batin Rizwan.
Ahh sudahlah, biarkan saja dia pergi. Aku tidak mau cari mati. Lagian dia tetap disini juga aku mau apa? Batin Syedza sambil tetap melemparkan senyum manisnya di depan para tamu undangan yang masih tersisa.
Ia terlihat enteng sekali, seperti tak ada beban saat berjalan di samping laki-laki itu. Aku bisa apa?. Batin Rizwan berseteru kembali dengan dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=
Syedzi, kembaran syedza. di beberapa slide kedepan, nama Syedzi hanya di tulis Ezi.
Karena :
Memang itu panggilan sehari-harinya sang tokoh.
Untuk memudahkan para Readers memahami setiap part yang menceritakan sang tokoh.
__ADS_1
Mungkin sebagian orang susah memahami alur cerita dengan nama yang mirip, jadi disini author singkat saja nama Syedzi menjadi ezi.
Ada beberapa tokoh yang masih tersirat dan akan terungkap seiring berkembangnya alur cerita kedepannyan. Trims 😊