
Fram menarik Noza dengan kasar ke dalam sebuah ruang kosong di sudut Apartemen, ia mendorong Noza hingga kepala Noza terbentur ke dinding.
"Kau disini rupanya!". Seru Fram pada Noza
Noza tak bisa berkutik, tangan dan dagunya di cengkram kuat oleh Fram.
"Haahh! Kau tak bisa berkutik sekarang?". Bentak Fram dengan penuh kekesalan
Noza menangis hingga tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Bayang-bayangan tentang masalalunya seketika memenuhi isi otaknya sekarang.
Kenapa takdir mempertemukan aku dengan laki-laki ini lagi?. Batin Noza terisak
"Bertahun-tahun kau menghilang, tetapi dengan sangat mudah aku menemukanmu, bahkan dengan cara tidak sengaja seperti ini. Sepertinya keberuntungan memang berpihak padaku". Ujar Fram dengan nada penuh kemenangan
Fram melonggarkan cengkramannya pada dagu Noza, isak tangis wanita malang itu masih terdengar mengisi sudut ruang yang di huni oleh dua manusia yang saling menyimpan dendam ini.
"Aaa... Aku menyerah". Ucap Noza terbata-bata
"Hemmm.. Menyerah? Kita bahkan belum memulai". Ujar Fram Menyindir.
"Hikkss.. Hikss.. Kau yang pernah mengatakan takdirku begitu buruk". Ucap Noza terisak
"Haha, Ekspektasiku itu sesuai realita, buktinya sekarang ini ada di depan mata". Sindir Fram lagi
"Aku mohon lepaskan aku". Pinta Noza mengiba
"Penampilanmu sekarang sungguh menarik, apa begini cara untuk sembunyi dari masalah? Rupanya kau belum begitu lihai ya, justru karena pakaian ini orang-orang akan mencurigai dirimu, bodoh". Bentak Fram lagi.
"Apa kau kesini untuk mencariku?". Tanya Noza setelah mengumpulkan keberaniannya untuk bersuara di depan Fram.
"Kau yang terlalu manja, Apa ada di dunia ini hal yang usai sebelum di mulai?". Sindiran Fram bertubi-tubi
"Aku mohon lepaslah". Pinta Noza lagi
"Aku tidak mudah untuk melepaskanmu. Ingat itu! Sekarang kau ada di cengkramanku". Ujar Fram mengangkat lengannya tinggi, dikepalnya tangan kokoh itu, kemudian dibuangnya perlahan.
Apakah akan ada hal yang lebih baik dari ini kedepannya? Entahlah, aku tidak berharap banyak, untuk bernafas saja akan sesak. Batin Noza mengiba.
Noza merapikan diri ke kamar kecil apartemen, ia mencuci muka untuk menenangkan dirinya. Bertemu dengan Fram hari ini merupakan mimpi yang teramat buruk baginya. Noza bingung antara mau kembali ke apartemen atau melanjutkan perjalanannya ke kantor dengan penampilannya sudah berantarakan begini.
__ADS_1
"Jika aku kembali ke apartemen pasti akan membuat nona lebih ketakutan lagi, tapi jika aku ke kantor dengan penampilan berantakan begini aku bisa disangka orang gila". Batin Noza melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin.
Setelah berlarut-larut dengan batinnya sendiri akhirnya Noza memilih untuk ke kantor setelah merapikan penampilannya dengan alat seadanya yang ia bawa di dalam tasnya.
Noza berjalan dengan cepat menuju ruang kerjanya melewati ruang kerja Seihan. Ia menyadari ada yang mengikutinya dari belakang persis dengan kejadian tadi pagi, sehingga membuatnya bergidik ketakutan.
"Tunggu!". Laki-laki itu berteriak mengejar Noza.
Noza berlari dengan segala kekuatannya, kemudian laki-laki itu berlari mengikutinya dengan cepat pula.
Bruuukkkk!
Noza menabrak pintu ruangannya, kemudian Seihan menarik dan memeluknya.
"Tenanglah! Tenanglah! Tenangkan dirimu dulu! Ini aku, Seihan". Ucap Seihan memeluk Noza
Seihan belum menyadari wanita yang ia peluk ini bukan Syedza, melainkan Noza asisten pribadinya Syedza.
"Katakan ada apa? Kau sudah aman disini bersamaku, Ayo sekarang katakan apa yang terjadi padamu?". Ucap Seihan sambil membuka topi Noza.
"Kau!". Teriak Seihan terkejut
"Maafkan aku tuan Seihan, aku Noza". Ucap Noza menunduk sopan
"Iya tuan muda, beri saya kesempatan untuk menjelaskan ini semua". Ucap Noza memohon pada Seihan
"Baiklah, silakan jelaskan padaku".
"Nona tidak bisa datang ke kantor hari ini".
"Kenapa ia tidak mengatakannya padaku?"
"Ia meminta aku untuk menyamar menjadi dirinya, karena ia merasa ada yang mengikutinya beberapa hari ini".
"Oh iya?". Tanya Seihan heran
"Nona menceritakan begitu padaku".
"Apa ada yang mengikutimu hari ini?"
__ADS_1
"Hmmm .. Tidak ada, tuan Seihan".
"Benarkah?"
Noza mengangguk ragu.
"Iya, benar-benar tidak ada".
"Kenapa kau begitu ketakutan saat aku mengikutimu barusan?". Tanya Seihan meneliti Noza
"Aku hanya takut apa yang dikhawatirkan nona benar-benar terjadi tuan". Ujar Noza berbohong.
Maafkan aku tuan Seihan, aku terpaksa berbohong kali ini bukan hanya identitas Nona yang terancam, identitasku juga akan terbongkar jika aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padaku hari ini tuan Seihan. Batin Noza
***
Malam pertunjukan di seni galeri akan digelar malam ini, Seihan akan menjemput Syedza setengah jam lagi. Syedza sibuk mempersiapkan dirinya di depan cermin. Sebenarnya ia ragu untuk mendampingi Seihan malam ini, terlebih lagi tanpa menggunakan baju khasnya seperti biasa, tetapi ia sudah terlanjur janji pada Seihan akan datang, karena merasa tidak enak pada Seihan jika terus-terusan menolak ajakan Seihan. Ia merasa berhutang banyak budi pada Seihan, selama ini Seihan sudah terlalu baik padanya dan juga banyak membantunya.
Setelah memastikan pada Noza bahwa tidak ada apa-apa tadi pagi menambah kepercayaan diri Syedza untuk datang ke pertunjukan itu malam ini.
"Noza, benar tidak ada apa-apa kan tadi pagi?". Tanya Syedza memastikan
"Tidak ada Nona!". Jawab Noza tegas
Maaf Nona kali ini aku harus berbohong kepadamu. Batin Noza.
"Berarti selama ini hanya pikiran ku saja yang terlalu negatif, buktinya tidak ada apa-apa. Jadi menurutmu bagaimana? Apa aku harus datang ke pertunjukan itu tanpa busana itu?". Syedza meminta pendapat Noza akan penampilannya sambil menunjukkan baju yang sering ia gunakan.
Noza kebingungan mau jawab apa, sehingga ia hanya memilih mengangguk pelan.
Maaf nona, aku ingin sekali untuk mencegahmu untuk pergi ke acara itu, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Batin Noza.
"Noza! Apa kau sedang tidak enak badan?". Ujar Syedza meneliti Noza.
Noza spontan memeluk Syedza dengan erat, tangisnya pecah. "Maafkan aku Nona! Maafkan aku". Ujar Noza terisak.
"Tidak apa-apa, kau istirahat ya? Aku pergi dulu, sepertinya tuan Seihan sudah menunggu, aku titip Nafin ya". Ucap Syedza pamit meninggalkan Noza dan Nafin di kamarnya.
Aku sangat takut sekali, bagaimana jika Fram mantan manager sialan itu akan bertemu dengan Nona di acara pertunjukan galeri itu? Aku yakin Fram dan Tuan Moehe juga akan ke galeri itu malam ini.
__ADS_1
Aku kira aku bisa aman saat tuan Moehe tidak mengenalku, tapi ternyata mantan manager sialan itu juga ada di kota ini. Sungguh malang nasib hidupku, harus bertemu kembali dengan singa kutub itu. Batin Noza terisak
"Semoga Nona baik-baik saja! Semoga Nona baik-baik saja!". Berkali-kali Noza mengatakan itu dengan penuh harap.