Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Menjodohkan Moehe


__ADS_3

Setelah Sejam lebih Seihan menunggu di luar, Moehe belum juga keluar dari kamar nomor 13 itu.


"Ada apa sebenarnya yang terjadi antara Moehe dan Efril? Apa Moehe lah masa lalu Efril? Aku hanya tahu Moehe pernah menikah saat aku masih di luar negeri, tapi pernikahannya hanya bertahan sangat singkat. Aku tidak pernah tahu siapa mantan istri Moehe, wanita itu tidak mungkin Efril, mana mungkin Moehe setega itu meninggalkan istrinya yang sedang hamil, aku paham Moehe, ia tidak mungkin melakukan itu," batin Seihan.


Bruuukk.. pintu nomor 13 itu terbuka.


Seihan bersembunyi dibalik pilar gedung itu. Ia melihat Moehe keluar melangkah jauh dari arahnya. Setelah jejak Moehe hilang, Seihan langsung memencet bell nomor 13 itu lagi.


Teettt teeeerttt...


"Ada apa lagi!" seru Syedza membuka pintu.


"Ehhh, maaf aku kira tadi __," jawab Syedza kikuk.


"Siapa? kau kira siapa?" ujar Seihan pura-pura tidak tahu.


"Eehh eh, tidak, aku kira orang lain, hmmm kau kesini?" tanya Syedza mengalihkan pembicaraan.


"Iya," jawab Seihan datar.


"Ada apa? malam-malam begini?"


"Apa tidak boleh?" tanya Seihan lagi.


"Bukan begitu maksudku, tidak biasanya kau kesini jam segini dan tidak memberi tahu terlebih dahulu," jelas Syedza berusaha terlihat tenang.


"Sepertinya kau tidak tenang, ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Seihan meneliti Syedza.


"Eh-ehhh tidak," jawab Syedza ragu.


"Efril ayolah, aku tahu siapa dirimu, kau tidak bisa berbohong padaku," ujar Seihan memeluk Syedza.


Syedza hanya menggeleng pasrah, "kau lihatlah, aku baik-baik saja, benar-benar baik-baik saja," Syedza menyakinkan Seihan.


"Apapun yang terjadi, aku tidak mau kehilangan dirimu," bisik Seihan di telinga Syedza.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa?" batin Syedza.

__ADS_1


"Mungkin kau tidak bisa menceritakan apa yang sedang kau pikir saat ini kepada ku, aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap untuk membaginya," ujar Seihan menatap mata Syedza dengan jelas.


"Berjanjilah padaku, kau tidak akan meninggalkan ku," ucap Seihan sambil memeluk Syedza.


"Katakan, katakan kau tidak akan pernah meninggalkan aku," tegas Seihan lagi, "Ayo katakan."


"Iya, aku berjanji," ucap Syedza gemetar.


***


Siang itu Seihan menemui Moehe saat makan siang, Seihan tahu apa yang ia lihat di apartemen Syedza malam itu bukanlah suatu kebetulan, Syedza tidak mungkin bisa seakrab itu dengan orang lain, apalagi dengan orang yang baru ia kenal, kecurigaan Seihan kian hari kian bertambah.


"Aku baru ingat, Moehe disini sudah hampir sebulan, tidak mungkin tidak ada sesuatu, hingga Moehe betah untuk berlama-lama disini," batin Seihan.


"Kau terlalu sibuk, Seihan," sapa Moehe membuka pembicaraan.


"Ah tidak juga! Bagaimana dengan mu? apa perusahaanmu tidak merasa kehilangan saat ditinggal bosnya terlalu lama begini?" sindir Seihan.


"Hemm.. Apa maksudmu ini? Secara tidak langsung kau mengusir ku, Seihan, sindirannya sangat halus bro!" ucap Moehe tergelak.


"Kau sedang bercanda, Seihan? Benar kata orang, orang yang sedang jatuh cinta dua kali lebih banyak tertawa dibandingkan orang biasa," ujar Moehe.


"Jadi maksudmu aku luar biasa gitu? Hahaha, Move on lah, Moehe! kau akan lebih banyak tertawa jika memiliki teman hidup," ucap Seihan menggoda Moehe.


Moehe tidak menanggapi ucapan Seihan kepadanya, ia menyibukan diri dengan melahap makan siang yang disediakan di depannya agar Seihan tidak bisa membaca ekspresinya saat ini.


"Aku di kota ini sekitar dua minggu lagi, hal penting yang harus aku selesaikan," imbuh Moehe.


"Oh, tidak masalah, aku hanya khawatir dengan perusahaanmu saja," ucap Seihan tergelak.


"Itu tidak apa-apa, ada hal lain yang lebih penting dari itu," ucap Moehe.


"Oh ya? Apa itu tentang wanita?" tanya Seihan sekenanya.


Moehe terkejut mendengar pertanyaan Seihan ini, "E-ehh, tidak, tidak begitu," ucap Moehe gugup.


"Haha, jangan panik begitu, aku cuma bertanya, tuan Moehe," ucap Seihan tergelak.

__ADS_1


"Kau sepertinya sangat senang mengejek ku ya!" seru Moehe.


"Hehehe, jangan tersinggung, benar kata orang-orang, kalau orang yang kesepian itu dua kali lebih mudah tersinggung dari orang normal lainnya," ungkap Seihan tersenyum licik.


"Kau membalikkan kata-katakku Seihan!"


"Apa kau sudah menemukan kenalan wanita selama di kantorku ini?" tanya Seihan lagi.


"Pertanyaan semacam apa ini?"


"Hahaha, Sudah ku duga, aku kenal siapa kau, tuan Moehe, wanita dinomor sekiankan bagimu, jika kau mau aku ingin memperkenalkan mu dengan seorang wanita cantik, baik, salah satu karyawanku ini, namanya Noza, ia asisten pribadi wanitaku," ungkap Seihan.


"Noza? sepertinya aku tidak asing dengan nama itu, tapi siapa ia? Ahhhh.. sial sekali aku tidak bisa mengingatnya," batin Moehe.


"Aku akan mengenalkan mu dengan Noza, tidak ada salahnya kau mencoba kan? Hitung-hitung selain sebagai entreupener aku juga sebagai biro jodoh, Hahaha," ucap Seihan tergelak.


"Tidak perlu!" seru Moehe.


"Kau tak perlu khawatir, aku yakin Noza orang baik-baik, kita mulai pelan-pelan. Aku akan mengajak Efril dan Noza makan malam malam ini, dan kau juga harus ikut, kita bahas masalah bisnis saja, nanti aku bisa mengaturnya, kau tenang saja," ujar Seihan mengedipkan mata sebelahnya.


"Makan malam? bersama Syedza? tidak ada salahnya aku ikut, aku bisa makan semeja lagi dengan Syedza, selain itu agar terlihat tidak ada apa-apa antara aku dan Syedza di depan mata Seihan" batin Moehe.


"Ahh, katakan saja kalau kau ingin memamerkan kemesraan dengan wanita itu di depan ku kan?" ucap Moehe.


"Moehe.. Moehe.. Kau masih saja ingin berprasangka buruk kepada ku, aku hanya ingin melihat sahabatku ini bahagia, biar kita sama-sama bahagia," ucap Seihan.


"Bahagia? Sepertinya aku susah mendiskripsikan apa itu bahagia, setelah semuanya rumit begini," batin Moehe.


"Bersiaplah untuk malam nanti, aku akan atur semuanya, semoga kali ini jodohmu," ungkap Seihan.


"Seihan terlalu bersemangat untuk mempertemukan aku dengan wanita itu, asal ia tahu aku hanya menginginkan Syedza, bukan yang lain. Tapi bagaimana jika Seihan tahu hubunganku dengan Syedza, pasti ini akan lebih rumit lagi, bukan hanya hubungan ia dan Syedza yang akan terancam, hubungan persahabatanku dengan nya juga akan kena imbasnya. Mengingat itu semua aku harus lebih hati-hati lagi dalam bertindak, aku tidak mau Seihan mengetahui ini semua, agar semuanya baik-baik saja," batin Moehe.


"Apa yang kau pikirkan, Moehe? Sepertinya kau sangat gelisah, apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya Seihan menyelidiki gerak-gerik Moehe.


"Aku akan datang makan malam nanti," ujar Moehe mengalihkan perhatian Seihan.


"Hahaha, baiklah, persiapkan gombalan-gombalan asmaramu," ucap Seihan mengedipkan mata sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2