Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Meminta Perhitungan


__ADS_3

Akhir pekan ini, infotaiment kembali menanyangkan berita tentang Seihan dan Syedza, Syedza yang dari tadi menonton tv sambil sarapan langsung mengalihkan chanel tvnya.


"Ah.. Semua menyiarkan itu, apa tidak ada tayangan yang lebih penting?" ucap Syedza ketus.


Syedza mengganti ke chanel berikutnya, tayangan masih sama, berita tentang malam itu sepertinya sedang booming-boomingnya.


"Huuuufff," Syedza mendengus kasar.


Syedza berusaha menenangkan dirinya, mengendalikan emosi yang sudah memuncak.


"Aaahhhhh! Kita harus pindah dari sini, tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kita," ucap Syedza histeris.


"Nona! Nona, dengarkan aku, tenanglah! Tenanglah," ucap Noza memeluk Syedza.


"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Wajahku ada dimana-mana, rasanya aku ingin hilang saja dari bumi ini!" ucap Syedza terisak.


"Semua ada solusinya, nona," Noza berusaha menenangkan Syedza.


"Aku harus ketemu Seihan secepatnya, setelah itu kita harus pindah dari tempat ini," ucap Syedza terburu-buru.


"Tapi kita akan pindah kemana?"


"Nanti aku pikirkan, aku tinggal dulu!" ujar Syedza hilang di balik pintu.


Syedza keluar dengan buru-buru dan penuh emosi, ia tak sadar ia keluar dengan pakaian seadanya, sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


Setelah sampai di parkiran apartemen ia baru menyadari ada yang aneh dengan dirinya, tatapan orang-orang di sekitar seolah-olah menyorot tajam pada dirinya.


"Oh ya ampun, mereka melihatku seperti ingin menerkam saja, kejadian malam itu memang membuatku menjadi sorotan semua orang," gumam Syedza.


Syedza masih berjalan menuju mobil yang akan ia kendarai.


"Hai Nona Efril!" sapa seorang laki-laki dari arah belakang.


Syedza spontan membalikkan badannya.


Deg!

__ADS_1


"Eh iya, aku lupa memakai topi itu? Ahh ya ampun, apa yang aku pikirkan? Sehingga aku keluar dengan pakaian seperti ini?" batin Syedza mengutuk dirinya.


"Nona Efril! Syedza Efril Fajuri!" ucap laki-laki itu dengan jelas.


Syedza hanya tertunduk saat melihat orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Moehe.


"Apa kabar?" tanya Moehe datar.


"Kabarku? Seperti yang kau lihat saat ini, aku baik-baik saja," ucap Syedza berusaha tersenyum.


"Baik-baik saja?"


Syedza mengangguk, "dirimu sendiri bagaimana?" Syedza bertanya kembali.


Moehe menggeleng, "ada banyak hal yang telah terjadi, kita harus bicara sekarang, ada banyak hal yang ingin ku katakan," ucap Moehe lirih.


"Aku rasa aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus pergi sekarang," ucap syedza berusaha ingin pergi.


"Tunggu!" Moehe menggenggam tangan Syedza, "aku mohon," pinta Moehe berkaca-kaca.


"Aku rasa diantara kita semuanya sudah cukup, tak ada lagi yang harus dibahas, kita dipertemukan disini bukan untuk mengenang yang telah usai," ucap Syedza melepas genggaman Moehe di lengan kanannya.


***


Syedza mendatangi kediaman Seihan untuk meminta perhitungan atas sikap Seihan padanya. Syedza menunggu cukup lama untuk bertemu Seihan, karena kebetulan pagi itu sedang tidak berada di rumah.


Selang beberapa menit Seihan datang dengan pakaian mengenakan kaos oblong, celana training, sepatu olahraga dan memakai topi di kepala. Seihan terlihat sangat tampan dengan berpenampilan seperti ini, berbeda dengan hari-harinya yang selalu berpenampilan formal.


"Kau disini?" tanya Seihan.


Syedza terbelalak melihat kedatangan Seihan berpenampilan seperti ini di depannya.


"Uuppps! Maafkan aku, aku melupakan janjiku untuk pergi berkuda bersamamu hari ini," pinta Syedza memelas.


"Sudahlah, tidak apa-apa," jawab Seihan seadanya.


Syedza tidak ingat bahwa ia sudah berjanji pada Seihan untuk ikut latihan berkuda akhir pekan ini. Pikirannya yang berkecambuk dengan masalah yang bertubi-tubi membuat semuanya jadi berantakan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Seihan mengendalikan dirinya.


Syedza menceritakan keberatannya pada Seihan tentang apa yang dilakukan Seihan padanya beberapa waktu yang lalu, ia mulai memperhitungkan secara rinci di depan Seihan.


"Salahnya dimana?" tanya Seihan datar.


"Kau yang melanggar janji kita di awal, kau sudah berjanji untuk membantu aku menyembunyikan identitasku, tapi saat ini semua media memberitakanku, hampir setiap waktu ada wajahku di depan layar kaca, jika bukan karena kau yang mengajakku malam itu, ini semua tidak akan terjadi, aku menyesal menyetujui permintaanmu untuk hadir di acara itu," gerutu Syedza.


Seihan berusaha mengendalikan emosinya, wajahnya memerah, berkali-kali ia beristigfar agar amarahnya tidak meluap.


"Jika kau merasa terusik karena perlakuanku malam itu, aku minta maaf," ucap Seihan dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


Seihan berusaha tenang, walaupun sebenarnya di dalam sana ada yang terbakar tapi bukan api.


"Maaf? kamu tidak perlu mengucapkan kata-kata itu, tapi bagaimana dengan wajahku sekarang ada dimana-mana? Nasibku saat ini benar-benar terancam, benar-benar terancam!" gerutu Syedza lagi.


"Efril, mohon maaf sebelumnya, aku tidak pernah berniat untuk mengungkit masalah pribadimu sejak awal kita bertemu, bagiku itu adalah privasi yang tak berhak orang lain tahu, bertemu dengan wanita hebat sepertimu adalah anugrah yang terindah untukku, tapi kali ini aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Berikan aku satu alasan yang singkat perihal identitas itu, agar aku bisa mencari solusi yang tepat akan masalah ini, maaf jika pertanyaanku ini salah," ujar Seihan menepuk-nepuk lembut tangan Syedza.


Mendengar kata-kata yang diucapkan Seihan barusan membuat mood Syedza seketika berubah, tangisnya pecah.


"Maaf kalau tadi aku lancang, aku sadar aku orang yang tidak tahu diri, aku orang yang tidak tahu caranya untuk berterimakasih, aku berhutang banyak budi kepadamu, harusnya aku malu untuk membuat perhitungan kepadamu seperti saat ini," ucap Syedza lirih.


"Aku tidak ingin membahas itu, aku hanya ingin mencari jalan keluar yang terbaik untuk menebus kesalahan yang aku lakukan padamu di galeri seni malam itu," bantah Seihan dengan ekspresi yang sangat susah ditebak.


"Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa saat ini, maafkan aku yang selama ini terlalu banyak merepotkanmu," ujar Syedza terisak.


Seihan berusaha menenangkan Syedza, ia memeluk Syedza, hingga tangis Syedza pecah di bahunya.


"Apa yang aku lakukan padamu selama ini, semuanya tulus, dan yang aku katakan padamu malam itu juga tulus, aku mencintai mu," ucap Seihan berkaca-kaca.


"Aku sadar siapa aku, aku tak mungkin___," kalimat syedza terpotong.


"Ssssttttt! jangan terlalu banyak bicara lagi," Seihan meletakan tanganya di bibir Seihan, kemudian mereka bertatapan cukup lama, hingga mereka tersadar saat tidak ada lagi jarak diantara bibir mereka.


"Maaf, aku harus pergi sekarang!" Syedza melepaskan pelukan Moehe di tubuhnya.


Wajah Syedza seketika merah padam, ia menyembunyikan rasa malunya, karena bibirnya sudah menyentuh bibir Seihan, ia pergi dari rumah Seihan secepat mungkin, agar tak melihat bagaimana ekspresi Seihan saat itu.

__ADS_1


Seihan yang sedari tadi bingung apa yang telah terjadi, hingga Syedza salah tingkah seperti ini. Seihan menyentuh bibirnya, kemudian tersenyum membayangkan ekspresi polos Syedza barusan.


"Apa lipstik wanita itu menempel di bibirku? Rasanya aku tidak ingin mencuci bibir seminggu setelah ini," ucap Seihan tergelak.


__ADS_2