Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Alkohol


__ADS_3

Malam telah tiba, udara sejuk mengitari kota B malam ini, suasana yang sunyi di sertai dengan rintikan gerimis yang menambah syahdunya suasana khas malam.


Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat ini? Apa yang akan ku katakan saat ia kembali nanti?. Batin Syedza


Syedza bersandar di sudut kamar, menekuk kakinya, menopang dagu dengan kedua lututnya. Pikiran yang entah kemana mengitari benaknya saat ini. Ingatan tentang pertengkaran yang terjadi hari ini, kekecewaan akan masa lalu, dan bayangan akan masa depan yang memenuhi pikirannya saat ini.


Aku terjerat dengan batin dan pikiranku sendiri. Batin Syedza


Ingatan tentang bagaimana kekecewaan di wajah Moehe saat mengetahui hal buruk yang menimpanya itu, selalu terlintas di benak Syedza. Bagaimana raut wajah Moehe saat itu, Bagaimana kemarahan Moehe saat itu, Bagaimana kepalan kuat tangan Moehe meninju tembok, cetukan keras rahang Moehe saat itu semuanya terekam jelas dibenak Syedza.


Tak pernah sedikit pun terlintas dibenakku untuk mengecewakan mu seperti ini. Batin Syedza terisak


"Dia belum kembali ke kamar ini semenjak kejadian tadi, apa yang harus aku lakukan? Pasti saat ini ia sangat kesal, apakah salah jika aku menghubunginya sekarang?". Gumam Syedza mondar-mandir mengelilingi ruangan.


Setelah berseteru dengan batinnya, Syedza memutuskan untuk menghubungi Moehe, walaupun sempat beberapa kali niatnya ia urungkan, tapi akhirnya ia putuskan untuk memberanikan diri menghubungi Moehe duluan.


Triiiiiitttttrrr... triiiiiktttrrrr...


Tiga kali Syedza mencoba menghubungi Moehe tapi tak ada jawaban sekalipun.


Mungkin ia tidak mendengar getar ponselnya, atau ia memang sengaja tak mau menerima telponku, karena tak mau mendengar suaraku lagi. Batin Syedza mengenang yang terjadi tadi siang.


#Flashback on


"Maaf". Ucap Syedza lembut


"Maaf untuk apa? Aku tak bisa hidup dengan orang yang mengandung benih orang lain!". Seru Moehe.


"Aa.. Aku___". Ucap Syedza gelagapan


"Kau! Sudah ku katakan diamlah! Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutmu saat ini!". Seru Moehe lagi


#Flashback off


Kata-kata Moehe itu terngiang-ngiang di telinga Syedza


"Dia tak hanya tak ingin mendengar kata-kata dari mulutku lagi, dia juga tak ingin hidup dengan orang yang seperti aku, orang yang mengandung benih orang lain". Gumam Syedza pada dirinya sendiri.


Akan ku coba menghubunginya sekali lagi, jika ia masih tak mau menerima telponku, sudah seharusnya aku mengambil sikap akan hal ini. Batin Syedza

__ADS_1


Syedza menghubungi Moehe sekali lagi. Masih sama, tak ada jawaban dari Moehe. Syedza semakin frustrasi, menangis sekuat-kuatnya dan menghakimi dirinya sendiri.


Hujan semakin lebat di luar sana, Syedza semakin digeluti rasa bersalah dan mengambil sikap untuk pergi dari kehidupan Moehe, seperti yang Moehe katakan pada hari itu.


"Apa yang ia katakan benar, tak akan bisa orang yang tak bersalah sepertinya mau hidup dengan aku yang penuh noda seperti ini". Gumam Syedza sambil memasukkan pakaiannya ke dalam Koper


Pikirannya tak bisa lepas dari bayangan Moehe


"Hujan deras di luar sana, sepertinya badai telah datang. Iya, badai juga telah datang di kehidupan ku". Gumam Syedza lagi


Syedza mematikan lampu kamarnya, sehingga tak ada cahaya lagi yang masuk kesana, kecuali cahaya pantulan kilat dari luar sana. Sesekali terdengar suara gemuruh yang diikuti dengan kilauan cahaya yang membuat Syedza merasa takut sendiri.


"Biarlah aku berada dalam gelap seperti ini, apa yang harus aku takutkan? Nasibku sudah ditakdirkan kelam seperti ruangan ini saat ini". Gumam Syedza lagi


Diliriknya jam di atas nakas di samping ranjangnya, hampir tengah malam. Belum ada tanda-tanda akan kembalinya Moehe. Badai di luar sana pun semakin menjadi-jadi, ketakutan Syedza pun telah lenyap ditelan kegundahan hatinya.


Air mata yang tak henti-hentinya mengalir semenjak siang tadi, sepertinya akan terus begitu entah sampai kapan. Malam semakin larut hingga Syedza lelah sendiri, lalu terlelap bersama kesedihannya.


------


Syedza terbangun saat cahaya yang menyengat menyentuh kulitnya.


"Hmmmm... Silau sekali". Ucap Syedza saat berusaha membuka mata


"Ia tak pulang semalaman ini". Gumam Syedza lagi


Syedza masih meringkuk-ringkuk di atas ranjangnya, kejadian beberapa hari ini cukup menguras tenaganya, sepertinya ia butuh waktu untuk istirahat lebih. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.


"Kau sudah pulang?". Sapa Syedza berlari menghampiri Moehe


"Iya". Jawab Moehe singkat


"Kau kemana semalaman ini? Aku mengkhawatirkan mu". Ujar Syedza spontan memeluk Moehe


"Kau mau apa?". Ucap Moehe dengan aroma khas minuman beralkohol tercium dari mulutnya.


"Kau minum?". Tanya Syedza memandang Moehe


"Bukan urusanmu". Ketus Moehe lagi

__ADS_1


"Kau tak mungkin seperti ini!, ini bukan dirimu!". Ucap Syedza terisak-isak


"Kau Syedza kan?". Tanya Moehe dengan tubuh yang terombang-ambing


"Sadarlah Moehe! Aku mohon sadarlah!". Ucap Syedza panik


"Oh iya, aku lupa menanyakan mu sudah berapa kali pria itu menjamahi mu? Hahahaha". Moehe Ambruk


Sepertinya minuman beralkohol masih mempengaruhinya


---


Epilog


Malam yang begitu mencekam, rintikan hujan mengguyur bumi dengan semangat. Langit di atas sana kelam, tak ada bintang, tak ada bulan yang ada hanya ada kilauan petir yang menyambar.


Sama, hati seorang lelaki yang berjalan sendirian di malam ini juga sama seperti itu. Kelam, seperti hangus telah tersambar petir. Apa yang dipikirannya tenggelam jauh, sepertinya ia kehilangan dirinya sendiri.


"Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, wanita itu telah mengkhianati kepercayaanku pada nya". Ucap Moehe kesal


Moehe menghampiri sebuah bar yang ada di dekat rumahnya.


"Hmmmm! Minuman itu". Ucap Moehe tersenyum melihat pelayan bar menuangkan minuman beralkohol itu ke gelas-gelas para pelanggannya


"Aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya, tapi saat aku dikhianati seperti ini, kenapa tidak sekalian aku yang mengkhianati diri ku sendiri". Ucap Moehe pada dirinya sendiri


Moehe telah memesan minuman beralkohol itu pada pelayan bar, berkali-kali ia ingin mencobanya, tapi ia ragu untuk memasukkan minuman itu ke mulutnya.


Kau sudah kalah Moehe! Kau sudah kalah! Ayolah tunggu apalagi, ayo minumlah!. Bisikan halus terdengar di telinga Moehe


Ttrrretttt... Trreeeettt... Tiba-tiba terdengar suara bergetar dari ponselnya.


Moehe melirik ponsel itu, "Syedza 💟". Kemudian ia me-nonaktifkan suara pada ponselnya sebelum ia letakkan ke atas meja dengan kasar.


Berkali-kali Syedza menelponnya saat itu, tapi kemarahan Moehe lebih menguasai hatinya saat ini. Sehingga ia tak berniat sekalipun untuk menerima panggilan dari Syedza.


"Kenapa ia menelponku sekarang? Apa ia belum puas telah membuatku seperti ini?". Umpat Moehe geram


Ayo minumlah, minumlah! Apa lagi yang kau harapkan? Orang yang kau sayangi sudah pergi dari mu. Suara bisikan halus itu meracuni Moehe lagi

__ADS_1


"Syedza! Wanita itu bernama Syedza! Tak akan ku maafkan wanita pengkhianat itu!". Ujar Moehe tergelak


Malam ini minuman beralkohol telah meracuni nya hingga pagi hari.


__ADS_2