
"Ada masalah keluarga, sehingga dia harus menyingkir dari kotanya dan ia harus menyembunyikan identitasnya," jelas Fram.
"Oh iya? Sepertinya kisah wanita itu sama dengan kisah yang dialami Syedza," ujar Moehe.
Fram hanya menunduk, Moehe mengamati tingkah laku aneh pada Fram, ia terlihat murung, tak biasanya Fram menunjukan ekspresi wajah sedih begini.
"Apa kau mengenali wanita itu, Fram?" tanya Moehe tungkas.
Fram hanya menggeleng.
"Tak biasanya kau seperti ini, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Moehe lagi.
Fram masih menggeleng.
"Lalu?" Tegas Moehe.
"Aku hanya kasihan dengan cerita wanita itu, aku merasa empati padanya, hanya itu," jawab Fram berbohong.
"Ternyata kau masih memiliki hati nurani juga, Fram. Saat aku dan Syedza bertengkar waktu itu, hati nuraniku sedang lenyap, itulah yang aku sesali saat ini, andai waktu itu aku bisa menahan amarahku, pasti semua akan baik-baik saja sampai sekarang, ini semua sudah terlambat, aku sudah kehilangan semuanya," ungkap Moehe berkaca-kaca.
"Tidak ada yang terlambat tuan muda, semua ada solusinya, kita bisa memulai semangat itu dari sekarang," Fram kembali menyemangati Moehe.
"Entahlah, aku merasa sangat rapuh, antara kekalahan, kekesalan dan penyesalan, yang lebih menyakitkan lagi ialah, mengapa harus Seihan? Sepertinya mereka sudah lama saling mengenal, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hubungan persahabatanku dengan Seihan setelah ini?" Moehe menjelaskan kegundahannya.
"Aku akan coba cari jalan keluarnya dengan caraku sendiri," ucap Fram.
Moehe terdiam dengan tatapan kosong dan ekspresi yang susah ditebak.
***
Sejak Syedza pergi ke acara itu, Noza mengajak Nafin bermain di ruang tengah sambil menonton televisi, sambil menunggu Nafin tertidur dengan sendirinya jika sudah capek bermain.
Selang beberapa jam Nafin sudah tertidur dengan nyenyak, sampai akhirnya Syedza pulang, ia langsung menuju kamar mandi tanpa menyapa Noza terlebih dahulu.
Noza masih menikmati tayangan televisi saat ini sambil menyuapkan beberapa camilan ke mulutnya, tiba-tiba Noza dikagetkan dengan tayangan infotaimen terhangat saat ini.
"Tuan Seihan Sailendra, seorang pengusaha sukses dan kaya raya pemilik perusahaan Sailendra Group dikabarkan sudah melamar seorang wanita. Wanita yang belum diketahui namanya ini dilamar oleh tuan Seihan saat acara pertunjukan seni malam ini, wanita yang tinggi semampai dengan dibaluti gaun megah bewarna biru terlihat bagaikan Princess dari khayangan," ucap pembawa berita di salah satu acara televisi itu.
__ADS_1
"Apa? dilamar? Jadi Nona sudah dilamar tuan Seihan? Sungguh, aku bahagia sekali!" sorak Noza tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Syedza merendam tubuhnya di waterbath kamar mandi, ia menuangkan bodywash cukup banyak, sehingga busanya menggelembung hingga ke lantai. Ia sengaja berlama-lama merendam dirinya diantara gelembung-gelembung busa itu, kemudian ia memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Noza menyadari Nonanya itu belum keluar dari kamar mandi sudah hampir satu jam, ia berusaha memanggil Syedza, tapi tidak ada jawaban. Selang beberapa menit ia berteriak lagi memanggil Syedza, masih belum juga ada jawaban.
Noza merasa ada hal yang tidak beres dari Syedza setelah pulang dari acara malam itu, Noza paham sekali tingkah Syedza, ia bukan hanya sekadar asisten pribadi, ataupun rekan kerja, bahkan ia seperti sahabatnya Syedza, karena semenjak Syedza pindah ke kota ini, dia lah satu-satunya orang yang akrab dengan Syedza sampai saat ini.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" batin Noza.
Noza mencari cara lain untuk membuka pintu kamar mandi itu, ia teringat ada kunci cadangan yang ia simpan saat awal ia pindah ke apartemen ini.
"Oh iya, ini kuncinya," Noza membuka pintu kamar mandi itu dengan cepat.
Deg!
Ia menemukan Syedza sedang terbaring di dalam Waterbath dengan gelembung busa kemana-mana. Ia menggoncangkan tubuh Syedza dengan kuat sambil berteriak.
"Nona! Nona! Bangunlah! Bangunlah!" ucap Noza berkali-kali.
Setelah beberapa menit kemudian Syedza terbangun.
"Bangunlah Nona! Ayo bangun!" pinta Noza.
"Aku hanya tertidur sebentar disini," ucap Syedza lagi.
Noza membantu membersihkan tubuh Syedza dari gelembung-gelembung busa itu, kemudian memberikan handuk kepada Syedza.
"Kita harus keluar sekarang," ucap Noza.
"Kau tak perlu menuntunku begitu, aku bisa sendiri," ujar Syedza keluar kamar dan memakaikan baju ke tubuhnya sendiri.
Syedza tak banyak bicara, ia menatap dengan tatapan kosong. Noza menyadari ada sesuatu yang terjadi kepada Nonanya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nona? Harusnya ia bahagia telah dilamar tuan Seihan," batin Noza.
"Maaf Nona, ada apa?" Noza memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
Noza tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Noza, ia tiba-tiba memeluk Noza dengan erat dan tangisannya pecah di bahunya Noza.
Syedza menangis histeris sampai suaranya hilang, tak terdengar lagi. Noza hanya menepuk-nepuk punggungnya Syedza untuk menunjukkan rasa empatinya dan juga memberi ruang pada Syedza untuk menumpahkan kesedihannya.
"Apa sudah sedikit lega?" tanya Noza.
Syedza mengangguk pelan.
"Seandainya Nona berkenan untuk membaginya kepada saya, saya siap untuk mendengarnya," ucap Noza menepuk tangan Syedza pelan.
"Ada banyak hal yang terjadi padaku hari ini," ucap Syedza terisak.
"Tentang lamaran itu?"
"Kau tahu dari mana?"
"Televisi," Noza menunjukan ke arah TV.
"Salah satunya itu," Syedza mengangguk.
"Lalu?"
"Aku harus memberi perhitungan kepada Seihan, ia sudah melewati batasnya! Ia tiba-tiba melamarku di panggung didepan banyak orang, ia tidak mengatakan apapun padaku sebelumnya, itu terjadi tiba-tiba saja, aku bisa sakit jiwa karena itu," jelas Syedza pada Noza.
"Maaf nona, aku rasa itu semua bukan hanya tiba-tiba, dugaanku tuan Seihan sudah mempersiapkan semuanya dari awal."
"Iya, aku tahu, tapi ia tidak membicarakan ini semua padaku sebelumnya," ujar Syedza kesal.
"Nona, jika tuan Seihan memberitahu Nona akan ada hal ino di acara tersebut, pasti Nona tidak akan datang kesana," ucap Noza.
"Ia sangat keterlaluan! Aku tidak tahu harus berbuat apa? Aku juga tidak tahu ia serius atau tidak? Apa ini semua demi konten agar ia disorot media saja? Aku tidak percaya ia bisa senekad itu padaku, ia tak mungkin mencintaiku, aku hanya jadi bagian dari perannya saja," isak tangis Syedza kembali mengguyur di pipinya.
Syedza menceritakan banyak hal pada Noza malam itu, tentang Seihan, tentang pertemuannya dengan Moehe dan tentang awal cerita ia bisa nyasar ke kota ini.
Sedikit banyak, Noza sudah paham dengan cerita Syedza, karena pada kejadian beberapa tahun yang lalu Syedza sempat menjadi perbincangan di Media, tapi Noza heran kenapa Moehe dan Fram bisa berada di gedung apartemen ini juga, ia tahu Seihan adalah sahabat Moehe, sedangkan Syedza
adalah mantan istrinya Moehe .
__ADS_1
"Berarti yang selama ini mengikuti Nona adalah tuan Moehe, ia memang sengaja mencari Nona, apa mungkin tuan Seihan menyembunyikan mantan istri sahabatnya sendiri? Sepertinya ini ada yang ganjal, atau mungkin saja tuan Seihan tidak tahu kalau wanita yang selama ini ia lindungi adalah mantan istri tuan Moehe?" batin Noza menerka, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk mengajukan rasa penasarannya ini kepada Syedza.