
Sejak kejadian malam itu Moehe seperti kehilangan nafsu makannya. Fram yang sedari tadi makan di depannya, menyadari perubahan yang terjadi pada tuan mudanya itu.
"Fram, apa kau sudah menemukan alamat wanita itu?" tanya Moehe.
"Lantai 5 nomor 13, tuan muda," ucap Fram jelas.
"Baiklah!" ujar Moehe meninggalkan makanan yang belum sempat disentuhnya itu.
Dalam hitungan detik Moehe sudah hilang dibalik pintu, entah apa yang akan ia lakukan, ia tidak mengatakan apa-apa pada Fram.
***
Teeettt.. teeettt... bell berbunyi.
"Biar aku buka pintunya," ujar Noza.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini? Mungkin saja itu adalah Seihan, tapi ia tidak mengatakan ia akan ke sini malam ini," batin Syedza.
"Aku saja," ucap Syedza meraih ganggang pintu.
Deg!
Syedza terkejut saat melihat siapa yang ada di depan pintu saat ini.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Moehe datar.
Syedza hanya menggeleng, "Tempat ini benar-benar tidak nyaman lagi," batin Syedza.
"Aku ingin bicara, hanya sebentar," pinta Moehe memohon.
"Sudah aku katakan, tidak ada hal yang perlu untuk kita bicarakan lagi!" teriak Syedza.
Noza menyadari apa yang sedang terjadi, ia berusaha menenangkan Nafin untuk masuk ke kamar, agar tidak mendengar pertengkaran antara ibunya dan tuan Moehe.
"Aunty, ada apa? Kenapa ibu marah-marah?" tanya Nafin.
"Tidak apa-apa, ibu hanya sedang mengusir orang gila yang bermain di depan pintu kita," ucap Noza mencari alasan.
Perdebatan-perdebatan kecil terdengar antara Moehe dan Syedza, Moehe masih bersikeras ingin berbicara dengan Syedza.
"Baiklah, masuklah, bicara yang perlu saja, aku ingin istirahat lebih lama malam ini," ucap Syedza mengizinkan Moehe untuk berbicara dengannya setelah beberapa kali bertengkar kecil.
__ADS_1
Moehe memulai pembicaraan dengan suara lirih, terdengar serak seperti menahan tangis dari dadanya. Syedza berusaha mengalihkan pandangannya ke samping untuk menghindari tatapan dari mata Moehe. Suasana yang tadinya penuh dengan amarah, tiba-tiba berubah menjadi canggung.
"Kau tahu alamatku disini?" tanya Syedza setelah beberapa saat sama-sama terdiam.
"Iya, aku sudah lama mencari mu, dan aku menemukan mu disini," ucap Moehe dengan nada yang sangat lembut.
"Kau mencari ku?"
Moehe mengangguk.
"Untuk apa?"
"Ada banyak hal yang harus aku perbaiki," ucap Moehe lirih.
"Benarkah?"
"Aku sangat menyesali semua tindakan dan keputusanku itu," ucap Moehe menunduk.
"Kau tak perlu menyesali apapun,"
"Aku sangat berdosa padamu, sekarang aku sudah di depan mu, kau bisa menghukum ku saat ini juga," ucap Moehe dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Jika pun aku harus menghukum mu, itu hanya pekerjaan yang sia-sia saja, sekarang apa kita harus membahas ini terus? Jika pembahasan kita hanya minta maaf, penyesalan dan hukuman, aku rasa perbincangan kita cukup sampai disini," seru Syedza.
"Saat ini sedang tidak baik, dan dirimu sendiri sejak kapan ada di kota ini?" Syedza berbalik tanya.
"Sudah hampir sebulan aku di sini, aku menemukan jejakmu di minggu pertama aku kesini, aku semakin penasaran hingga aku memilih untuk tetap disini, sampai aku benar-benar menemukan mu malam itu," ucap Moehe serius.
"Kota A apa kabar? Fajuri Grup apa kabar?" Syedza bertanya.
"Aku tidak tahu bagaimana keadaan perusahaan setelah kejadian itu," ungkap Moehe.
"Maksudnya?" tanya Syedza menyerngitkan dahinya.
"Aku sudah tidak bergabung di Fajuri grup lagi, sudah hampir 6 tahun ini, aku tidak tahu lagi kondisi perusahaan setelah itu, aku mendapat kabar tuan Fajuri meninggal karena stroke, dan perusahaan diambil alih oleh kak Fajar," ujar Moehe berkaca-kaca.
"A-ayah," ucap Syedza menagis.
"Aku sempat mencari mu di saat pemakaman tuan Fajuri, sepertinya kau tidak ada disana," lanjut Moehe.
"Aku sudah memblokir semua tentang rumah, perusahaan dan apapun itu tentang masa lalu, aku juga baru tahu dari mu kalau ayah sudah tiada," Syedza terisak.
__ADS_1
"Aku juga tidak sempat bertemu tuan Fajuri untuk yang terakhir kalinya, saat aku sampai di rumah sakit tuan Fajuri sudah tiada," jelas Moehe mengenang.
"Semuanya karena aku, ayah sakit pasti karena aku, semua karena kesalahanku," Syedza menangis histeris.
"Kau tak perlu menyalahkan dirimu seperti ini, andai waktu itu aku tidak mengambil keputusan di saat emosi, pasti ini semua akan baik-baik saja," sesal Moehe.
"Aku sudah melupakan itu semua, keputusan ku untuk pergi ini sudah sangat tepat, agar tak ada lagi yang menjadi korban karena kesalahanku," ujar Syedza datar.
"Aku tak pernah menyangka saat kita bertemu kembali kau ada di samping Seihan, apa selama ini Seihan yang banyak membantu mu?" tanya Moehe.
Syedza menangguk.
"Seihan adalah orang baik yang tak tahu apa-apa tentang masalah itu, ia membantu ku sangat tulus, dan aku tak pernah sedikitpun mengira kalau ia adalah sahabatmu," jelas Syedza dengan menatap lurus ke depan.
"Seihan memanglah orang baik, aku tidak khawatir jika ia yang mendampingimu, kau bahagia?" tanya Moehe lirih.
Syedza mengangguk lagi.
"Aku berhutang budi banyak kepadanya," ungkap Syedza.
#Flashback on
Setelah memilih untuk pisah dengan Moehe kehidupannya berubah 180 derajat, sekarang ia harus mandiri, dengan kata lain ia harus berusaha sendiri untuk melanjutkan hidupnya, apalagi ada jabang bayi di dalam kandungan yang menjadi tanggung jawabnya juga, walaupun sebenarnya Moehe telah berjanji untuk memenuhi segala kebutuhannya hingga bayi itu lahir, tapi Syedza tidak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Syedza mulai mencari lowongan kerja melalui situs internet, beberapa dari poster online itu sesuai dengan kualifikasi yang ia miliki, Syedza mulai mengirim email ke beberapa perusahaan tersebut.
Hingga pada suatu waktu ia mendapat balasan email dari Sailendra Group untuk di wawancara secara online, yang kebetulan perusahaan ini baru merencanakan untuk membuat cabang yang bergerak di bidang kosmetik sehingga ini sangat cocok dengan keahlian yang dimiliki Syedza sebagai seorang formulator, sebelum menyetujui untuk bergabung di Sailendra Group, Syedza mengajukan beberapa persyaratan untuk merahasiakan identitasnya.
"Baiklah Nona, menurut anda, apa yang kira-kira menjadi kendala bagi anda saat bergabung dengan perusahaan kami nanti?" tanya Seihan saat mewawancarai Syedza.
"Saya yakin dengan skill dan keahlian yang saya miliki ini, saya bisa berkerja untuk perusahaan anda, tuan Seihan. Saya berjanji untuk tidak mengecewakan anda, ada satu hal yang harus saya katakan, saat ini saya sedang hamil muda, tapi dengan keadaan saya seperti ini, saya berjanji akan melakukan tugas dan kewajiban saya dengan perusaahan semaksimal mungkin," jelas Syedza.
"Apa yang menjadi alasan anda untuk tetap bekerja di saat sedang hamil begini?" pertanyaan selanjutnya diajukan oleh Seihan.
"Jika saya diberi kesempatan bekerja di perusahaan ini, Saya bekerja untuk memberikan pengabdian terbaik atas nama perusahaan anda dan juga untuk melanjutkan karir saya, selain itu ada kebutuhan finansial yang harus saya penuhi sendiri," jawab Syedza lantang.
"Jika anda diberi kesempatan untuk bergabung di perusahaan kami nanti, apakah ada hal-hal khusus yang harus kami perhatikan, Nona?" tanya Seihan lagi.
"Saya hanya minta perusahaan ini untuk melindungi identitas saya sebagai privasi karena ada beberapa hal yang tidak bisa saya jelaskan disini, cukup rahasiakan apa terkait identitas pribadi saya saja," jawab Syedza.
Pada saat itu Seihan sebagai CEO sempat meragukan tentang persyaratan yang diajukan oleh Syedza, sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima Syedza bergabung di perusahaannya.
__ADS_1
#Flashback off