
Syedza, Moehe dan Fram sama-sama sedang mengendalikan emosinya, apa yang Moehe cari selama ini sekarang ada di depan matanya, dan apa yang Syedza hindari selama ini juga ada di depan matanya, sepertinya takdir memang benar-benar ingin mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun terpisahkan.
"Dunia ini memang tak seluas daun kelor," batin Syedza.
"Takdir memang merestui kami untuk bertemu lagi, tapi dengan keadaan yang berbeda," batin Moehe.
"Mungkin ini yang dinamakan kebetulan," batin Fram.
Acara malam ini ditutup dengan makan malam bersama, masing-masing tamu undangan sudah memilih tempat duduknya sendiri, Seihan memilih meja paling depan sudut kanan agar tidak terlalu ramai.
"Kita makan malam bersama disana saja," Seihan menunjuk meja itu.
"Sepertinya kami disini saja, kami tidak mau mengganggu acara makan malam kalian berdua," ujar Moehe.
"Tidak ada yang mengganggu, ayolah," Seihan mengajak Moehe dan Fram lagi.
Mereka berempat sudah duduk satu meja, Syedza duduk di samping Seihan, Fram berhadapan dengan Seihan dan Moehe tepat di kursi yang berhadapan dengan Syedza, sehingga tatapan diantaranya tidak bisa dielakkan lagi.
"Sepertinya setelah ini aku harus memberikan banyak perhitungan kepada Seihan, ia sungguh keterlaluan, tiba-tiba ia bisa membuat jantungku berdegup kencang, namun terkadang ia bisa membuat jantungku berhenti berdetak," batin Syedza.
"Kenapa?" tanya Seihan melihat Syedza gelisah.
"Aku tidak nyaman disini," bisik Syedza pelan di telinga Seihan.
"Fram, apa penglihatan aku ini mengalami gangguan? Kenapa tiba-tiba wajah Syedza ada di depanku saat ini? Katakan apa kau melihat wajah yang sama dengan yang ku lihat?" bisik Moehe di telinga Fram.
Belum sempat Fram menjawab mereka sudah dikagetkan dengan suara Seihan yang tiba-tiba menyeletuk.
"Hei kalian! Apa yang kalian bisik-bisikan? Apa kalian berdua sedang membicarakanku? Haaah?" ucap Seihan tergelak.
"Tidak tuan Seihan, kami hanya memuji kecantikan Nona saja," ucap Fram mengalihkan perhatian.
"Iya! ia memang benar-benar cantik, aku sangat beruntung bisa memilikinya," ujar Seihan memuji Syedza.
__ADS_1
"Memiliki? Apa aku sudah menjadi miliknya sekarang? Aahh.. Laki-laki satu ini sering mengada-ada," batin Syedza sedikit kesal.
Mendengar hal itu, hati Moehe rasanya seperti di tusuk oleh duri yang tajam, perih. Entah kenapa saat ini perasaan Moehe lebih sensitif, setelah menerima kenyataan wanita yang ia cari selama ini, sekarang ia temukan bersama sahabatnya sendiri.
"Oh iya, kita sudah terlalu banyak bicara, sampai lupa kalau kita belum sempat berkenalan, hai Nona! Perkenalkan aku Moehe," ujar Moehe mengulurkan tangannya di depan Syedza.
Syedza hanya diam sesaat, tanpa berniat ingin membalas uluran tangan dari Moehe. Syedza melirik ke arah Seihan seperti ingin meminta pertolongan.
"Tidak apa-apa, Moehe ini adalah sahabatku," ujar Seihan menengahkan.
Selang beberapa saat Syedza menjabatkan tangannya dengan tangan Moehe, ia tidak punya pilihan, ia juga tidak ingin Seihan curiga dengan gerak-geriknya terlihat salah tingkah di depan Moehe.
"Aku Efril!" ucap Syedza singkat.
"Efril?" Batin Fram dan Moehe serentak.
"Oh jadi selama ini ia mengenali dirinya sebagai Efril? Seihan pasti tidak mengenali dia dan latar belakangnya, karena saat pernikahanku dulu Seihan sedang melanjutkan studinya di luar negeri dan aku yakin Seihan juga tidak pernah menggali-gali pribadi siapapun, Seihan bukan tipe orang yang kepo seperti itu," batin Moehe.
Moehe dan Syedza berpegangan tangan cukup lama, mereka saling tatapan dengan ekspresi yang susah ditebak, sehingga Fram mengambil alih untuk memperbaiki keadaan.
"Oh iya, saya dan Seihan memang sudah lama bersahabat, kadang rekan kerja dan kadang musuh juga, mungkin untuk kedepannya kami akan lebih sering lagi bermusuhan," ujar Moehe diselingi dengan gelak tawa yang saling menggoda satu sama lainnya.
"Bermusuhan? Apa maksud dari kata-kata Moehe ini? Sepertinya ia sedang tidak bercanda, apa yang akan terjadi setelah ini? Begitu banyak kejutan untukku hari ini," batin Syedza pasrah.
***
Setelah pertemuannya dengan Syedza di acara pertunjukan itu, Moehe lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Sangat disayangkan sekali saat mereka bertemu kembali dalam keadaan yang tidak diharapkan Moehe seperti ini.
"Apa yang akan kita lakukan di kota ini selanjutnya, tuan muda?" Fram bertanya pada Moehe.
"Entahlah, saya tidak tahu, tapi saya ingin berlama-lama di kota ini," ujar Moehe datar.
"Sejujurnya saya juga ingin berlama-lama di kota ini tuan muda, ada hal yang harus diselesaikan disini," batin Fram.
__ADS_1
"Apakah kau memiliki rencana lain?" Moehe bertanya kepada Fram.
"Apapun yang terjadi, kita harus menemui Nona terlebih dahulu sebelum kita pulang dari kota ini," Fram memberi saran kepada Moehe.
"Heemmm, sepertinya aku kehilangan akalku saat ini, aku tidak bisa memikirkan apapun, kau rancanglah semuanya untukku," titah Moehe tidak bersemangat.
"Kau kehilangan hampir separuh hidupmu saat ini, tuan muda, bersemangatlah, akan ada hari esok," ujar Fram membujuk Moehe.
"Heemm," Moehe berdehem tidak berniat untuk membalas ucapan Fram.
"Sebentar, sepertinya Nona tinggal di gedung apartemen ini juga, aku baru teringat sesuatu saat kita memeriksa rekaman CCTV itu, tuan Seihan menjemput wanita yang memakai gaun biru di apartemen ini, gaun itu persis seperti yang dikenakan Nona pada malam itu, aku kira dugaanku kali ini benar, Nona tinggal di gedung ini juga, tuan muda," jelas Fram serius.
"Itulah gunanya aku membayar dirimu, Fram, kau harus bisa berpikir seperti ini, jadi aku uangku tidak sia-sia," ujar Moehe.
Fram hanya tersenyum saat mendengar kalimat Moehe barusan.
"Hmm hmmm, tuan muda! tuan muda, kasian sekali kau sedang berada di titik terendahmu sekarang, sepertinya ini jauh lebih dalam dibandingkan saat perpisahanmu dengan Nona 6 tahun yang lalu," batin Fram mengenang.
"Tapi ada sesuatu yang ganjal bagiku, hampir sebulan aku tinggal di gedung ini, aku belum pernah sekalipun melihat wajah Syedza, aku masih penasaran dengan wanita yang berpakaian misterius itu," ujar Moehe mengingat.
"Wanita itu sudah ku pastikan ia bukanlah Nona, tuan muda," bantah Moehe.
"Saat kejadian topinya terlepas beberapa waktu lalu, sekilas ia memang mirip, dari sanalah kecurigaanku tentang wanita itu dimulai," Moehe bersikeras.
"Apa riasan di wajahnya sama dengan penampilan Nona waktu itu?" tanya Fram mencari alasan agar Moehe tidak akan membahas tentang wanita misterius itu lagi.
"Sangat berbeda!" ujar Moehe.
"Aku sudah memastikan wanita misterius itu bukanlah Nona, aku sudah berbincang banyak dengannya," ujar Fram masih mencari alasan.
"Oh Iya? Sepertinya ada yang ditutupi dari wanita ini, tentunya kau tau alasannya kan?" Moehe menyelidik Fram
Deg!
__ADS_1
"Aku harus bilang apa?" batin Fram.