
"Iya.. Setelah kejadian kemarin aku jadi banyak belajar, aku juga sadar siapa aku, aku juga sudah menyesali masa laluku, sudah saatnya aku menjalani kehidupanku sendiri dan juga untuk anak ini nanti, aku juga tak ingin terikat dengan apapun dan dengan siapapun". Ujar Syedza
"Aku tak meminta kau pergi". Ucap Moehe
"Disini pun aku untuk apa?". Bantah Syedza
"Ini rumahmu, kau berhak untuk tinggal di sini". Ucap Moehe datar
"Tidak". Bantah Syedza datar
"Jika pun ada yang harus pergi, itu aku. Bukan kau". Tegas Moehe
"Aku yang telah mengeluarkan diri ku sendiri dari sini, aku juga yang telah mencoreng nama keluarga ku karena ini". Ujar Syedza berkaca sambil memegang perutnya
"Kau masih tanggung jawabku atas orang tuamu, setidaknya kita bisa sama-sama sampai anak itu lahir. Setelah itu kita akan bicarakan baik-baik". Ujar Moehe menegosiasi Syedza
"Kau tak perlu mengkhawatirkan tentang itu, aku sudah memperhitungkannya". Ucap Syedza membelakangi Moehe
"Apa yang kau perhitungkan?. Syedza tolonglah, dengarkan aku. Maaf kemarin aku kelepasan, emosiku tak bisa dikontrol. Aku akan bertanggung atas ini semua sampai anak itu lahir ke dunia ini". Ujar Moehe lagi
Syedza mengangkat tangannya, menolak tawaran Moehe
"Kau tak perlu membebani dirimu dan hidupmu demi orang lain, dari awal kita sudah tidak sejalan. Bagaimana bisa kita melanjutkan hubungan ini kedepannya? Hubungan yang dibumbui beban dan kebencian ". Ujar Syedza membantah
"Aku tak menganggap ini beban". Elak Moehe
"Kau tak perlu mengatakan itu, aku bisa lihat itu dari sorot matamu. Dan aku paham akan hal itu". Syedza memandang Moehe lekat-lekat
Moehe memijit pelipisnya, bingung akan apa yang harus ia lakukan.
"Aku telah berjanji pada diriku tak akan menyusahkan orang lain, sekalipun itu dirimu". Syedza ingin beranjak menjauhi Moehe
Moehe dengan cepat mencegah langkah Syedza dengan menarik tangan Syedza sehingga mereka bertatapan, jarak antara mereka hanya 1 cm.
"Jangan keras kepala". Ujar Moehe datar
"Perjalananmu masih panjang kedepan, jangan sampai kau berjalan dengan menggandeng noda yang tak kau inginkan di hidupmu". Ujar Syedza
"Tapi". Bantah Moehe
"Aku hanya minta satu hal, tolong rahasiakan ini". Tutup Syedza
"Jika kita terus berdebat, ini semua tak akan ada habisnya. Aku sangat ingin melindungi kamu, agar jabang bayi itu tetap hidup". Ujar Moehe memohon
"Itu pasti". Ujar Syedza
"Kau boleh marah padaku, kau boleh membenciku, kau boleh menghukumku, tapi jangan kau menghukum dirimu sendiri begini". Pinta Moehe
-----
"Hallo! Apa kabar? Apa kalian baik-baik saja?". Suara wanita separuh baya terdengar nyaring dari seberang sana
"Iya bu". Sahut Moehe terbata menjawab telpon ibu mertuanya itu
"Ahhh.. Syukurlah". Sorak Nyonya Ralin yang tak lain ialah ibu mertuanya Moehe
"Ibu, sepertinya kau gembira sekali saat ini. Ada apa?". Tanya Moehe berusaha menetralkan suasana hatinya
__ADS_1
"Ahh kau ini, bagaimana aku tak gembira. Kau tahu betapa senangnya aku saat mendengar kabar bahagia dari rumahmu itu". Ujar nyonya Ralin berseringai
Kabar bahagia?. Batin Syedza yang menguping pembicaraan antara ibunya dan Moehe, yang kebetulan Moehe sengaja menyalakan pengeras suara dari ponselnya
Kabar bahagia?. Batin Moehe dengan kalimat yang sama
"Maksudnya, bu?". Tanya Moehe datar
"Anne yang memberi tahuku tentang calon cucuku". Ujar Nyonya Ralin
"Anne!". Seru Syedza dan Moehe kompak
"Kenapa? Kenapa bukan kalian yang mengatakan kabar baik ini pada ku, aku sedikit kalian pada kalian berdua. Tapi tak apa-apa, mungkin saja kalian akan memberikan kejutan pada kami, kalian ini memang terlalu". Ujar Nyonya Ralin tersenyum-senyum
Rona bahagia tak bisa dipungkiri dari nyonya Ralin, baik dari raut mukanya bahkan tutur katanya.
"Ibu.. Ibu, dengarkan aku". Sambar Syedza tergesa-gesa
"Iya.. Iya..". Ujar ibunya Syedza
"Apa lagi yang Anne katakan? Apa Anne mengatakan hal aneh?". Tanya Syedza penasaran
"Hal aneh?". Nyonya Ralin berbalik menanyakan
"Eehh.. eh.. Maksudku, Apa Anne menceritakan lain selain hal ini kepada ibu?". Tanya Syedza penasaran
Sebaiknya aku tak mengatakannya kepada Syedza. Batin Nyonya Ralin
"Tidak, Anne tidak mengatakan apa-apa. Hanya... Hanya itu Saja". Jawab Nyonya Ralin Sedikit gelagapan
"Memangnya kenapa? Apa ada hal lain yang tidak boleh ibu ketahui? Apa ada yang kalian tutup-tutupi dari ibu?". Tanya Nyonya Ralin santai
"Tak ada bu!". Jawab Syedza dan Moehe kompak
Syedza dan Moehe refleks saling memandang, aura tegang terlihat antara keduanya.
"Hahaha.. Kalian berdua memang kompak ya. Kalau jawabannya begini, ibu semakin yakin bahwa kalian baik-baik saja dan tak menyembunyikan apa-apa". Ujar Nyonya Ralin masih tersenyum bahagia
Syukurlah. Batin Moehe
Anne! Kau masih belum selamat Anne, hampir saja jantungku tak berdetak lagi karena mu. Batin Syedza
"Ibu titip cucu ibu ya". Ujar nyonya Ralin menutup telponnya.
---
Syedza melangkah menjauhi Moehe setelah menyelesaikan perbincangan melalui udara dengan ibunya itu.
*Agar jabang bayi itu tetap hidup!
Ibu titip cucu ibu ya!
Agar jabang bayi itu tetap hidup!
Ibu titip cucu ibu ya*!
Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Syedza. Perdebatan antara ego, amarah, batin, dan pikirannya bersatu padu menguasai dirinya.
__ADS_1
"Masih ingin pergi?". Moehe menarik tangan Syedza pelan dan memegangnya kuat, agar Syedza tak melangkah menjauh.
Syedza sama sekali tak berniat untuk menggubris pertanyaan Moehe. Syedza menarik tangannya kuat, hingga terlepas dari genggaman Moehe.
"Jangan paksakan aku". Seru Syedza parau
"Baiklah". Ujar Moehe pasrah
----
*Teruntukmu, Moehe.
Kau adalah orang baik yang pernahku kenal
Aku kagum dengan watak dan kepiawanmu
Mungkin tak akan ada lagi aku temui orang sebaik kamu
Jujur saja, entah dari kapan, sampai saat aku menulis surat ini aku telah memberi ruang untukmu di hatiku
Ruang yang pernah kau minta dulu saat kau menyetujui permohonan ayahku
Ruang yang dulu sengaja aku tutup rapat-rapat, kini aku telah membukanya tanpa sekat
Aku merasa sangat bersalah padamu
bersalah akan kecerobohan ku
telah membawa noda di kehidupanmu
mengotori relung suci yang kau rawat penuh
Maaf..
Sampai saat ini tak sedikit pun aku membenci mu
tak sedikit pun aku merasa marah atau pun kesal padamu
Aku hanya tak ingin membebani dirimu
dari hal yang tak seharusnya ada
Aku ingin memperbaiki diri agar menjadi baik
Aku harap kau juga akan menjalani harimu dengan baik
Semua akan baik-baik saja
Setelah kau tutup surat ini, aku harap kau tutup juga tentang kita
Biarkan semua hilang dengan sendirinya
Aku pun juga begitu, aku akan menghapus perlahan angan indah bersamamu*
Aku pamit,
***Syedza*****.
__ADS_1