
"Kau memeluk ku?" Ucap Moehe lirih saat melihat tiba-tiba Syedza memeluknya dari belakang.
Moehe meneliti ke arah sekitar, disana ada para pengawal rumah dan Anne yang berdiri agak jauh di belakang mereka
Aman. Batin Moehe
Kemudian Moehe menatap Fram agak lama. Fram yang dari tadi berdiri sedikit jauh dari tempat duduk Moehe langsung mendekat, seperti ingin mengatakan kalau ia yang mengizinkan Syedza untuk kesini, Namun Moehe paham dengan hal itu, ia memberi isyarat dengan mengangangkat tangannya lalu mengangguk.
Fram pun paham dengan isyarat yang ditujukan Moehe padanya itu, sehingga ia menghentikan langkahnya kemudian mundur, kembali ke tempat ia berdiri tadi.
Syedza masih memeluk Moehe, sepertinya kerinduannya tertumpah dipelukan Moehe saat ini. Mungkin ini pertama kali dilakukan Syedza pada Moehe, biasanya Syedza selalu menghindar dan tak peduli dengan Moehe.
Iya... Kenapa aku memeluknya ya? Batin Syedza.
Entah apa yang ada dipikiran Syedza saat itu, sehingga bersiasat langsung memeluk Moehe. Bertemu dengan Moehe kali ini baginya merupakan suatu kemenangan dari sebuah perjuangan yang harus dibayar.
Moehe tak bicara lagi seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya tertunduk dengan raut wajah pias. Setahu Syedza selama ia mengenali Moehe, belum pernah ia terlihat seperti ini. Ini merupakan titik terendah bagi Moehe dalam hidupnya.
Tak banyak yang ingin Syedza katakan pada Moehe setelah melihat keadan Moehe saat ini. Ia hanya diam disamping Moehe dan mengusap lembut punggung tangan Moehe untuk memberikan kekuatan bahwa Moehe tidak sendiri menghadapi situasi ini.
"Aku di samping mu, kita berdo'a sama-sama". Ucap Syedza menatap Moehe dengan mata berkaca
Ucapan Syedza kali ini seperti memberi semangat untuk Moehe, bahwa ia tidak sendiri, masih ada orang yang ia harapkan peduli padanya, itu tergambar dari wajah Moehe yang sudah sedikit berubah menjadi lebih beraura.
Setelah terdiam cukup lama, Moehe spontan memeluk Syedza, air matanya tumpah dibahu Syedza, Sehingga bahu Syedza basah dengan guyuran hujan dari pipi Moehe.
Mungkin ini yang Moehe perlukan saat ini, dukungan dari orang-orang terdekatnya. Batin Syedza.
Cukup lama Moehe manangis di pundak Syedza, sehingga Fram, Anne dan para pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menangis juga.
Langkahku kali ini tak salah lagi, memang ini yang diperlukan tuan muda saat ini, kehadiran nona. Batin Fram
__ADS_1
"Jenazah ibu telah ditemukan, sampel Tes DNA kami positif, apa lagi yang bisa ku harapkan?" Ucap Moehe lirih.
Moehe rasa ia perlu membagikan dukanya ini pada orang lain, untuk mengurangi sesak di dadanya semenjak beberapa hari ini menanggungnya sendiri, tanpa mau berbicara dengan siapapun
"Ini semua sudah digariskan tuhan, kita berdo'a untuk ketenangan nyonya anita dan untuk keselamatan Tuan Maiher". Ucap Syedza menenangkan Moehe
"Banyak hal yang belum bisa ku berikan untuk ibu". Moehe menunduk lagi
"Kau sudah tumbuh menjadi anak yang baik dan membanggakan mereka". Syedza mengusap kembali punggung tangan Moehe
"Aku hanya sedang menunggu kepastian tentang hasil DNA ayah, setelah itu akan kembali membawa mereka ke kampung halaman, dan aku ingin tinggal dan hidup di sana di sisa hidupku agar lebih dekat dengan mereka". Ucap Moehe terputus putus
"Baiklah.. Kau harus ingat juga, akan ada aku disamping mu kemanapun sejak saat ini". Ucap Syedza gemetar menatap Moehe dengan terus berkaca-kaca juga
Moehe menggenggam kuat lengan Syedza kemudian berkata, "Terima kasih ya"
Bagi Moehe tak pernah Syedza berlaku selembut ini padanya, perlakuan Syedza saat ini melipat gandakan kekuatan Moehe. Mungkin Syedza dihadirkan untuk menggantikan peran orang-orang yang Moehe sayangi.
Batinku terasa ringan seperti tak ada beban mengucapkan kata-kata itu padanya, apa ini akan menjadi awal dari hidupku ke depan bersamanya?
Ahhhh.. Tidak Syedza! Kau hanya bersimpati padanya, tidak menaruh rasa yang lebih. Percayalah ini hanya Simpati, bukan yang lain. Batin Syedza
------
Hasil DNA tuan Maiher positif 95% sama dengan DNA Moehe. Jenazah keduanya telah dipulangkan ke kampung halamannya di kota D pagi ini.
Semilir angin dingin mengiringi prosesi pemakaman sepasang insan pagi ini, buliran embun pagi yang masih lembab dengan aroma khas pun ikut mengiringi di tempat pemakaman, begitu pula dengan guyuran air mata dan isak tangis tak henti dari buah hati keduanya.
Terlihat banyak pelayat yang ikut mengikuti proses pemakaman, tak terkecuali Tuan Fajuri dan Nyonya Ralin Fajuri, ayah dan ibu Syedza.
Orang tua Syedza terharu melihat kedekatan antara Syedza dan Moehe, pada saat prosesi pemakaman mereka melihat beberapa kali Moehe memeluk Syedza, kemudian menangis dipundak Syedza cukup lama.
__ADS_1
Mereka mengatakan Moehe berhasil merebut hati Syedza, sehingga putri mereka itu bisa menjadi penguat bagi Moehe saat duka seperti ini.
"Lihatlah mereka begitu akrab" Ucap tuan Fajuri pada istrinya.
"Moehe memang hebat, ia berhasil meluluhkan hati anak kita, aku tak khawatir kalau Syedza bersamanya". Ucap Nyonya Ralin tersenyum
"Putriku juga hebat, ia bisa menjadi tongkat penopang untuk Moehe saat duka seperti ini, aku juga tak khawatir kalau Moehe bersamanya". Ucap Tuan Fajuri bangga.
----
"Ayah! Ibu!". Syedza memeluk orang tuanya bergantian
"Terima kasih telah datang, tuan dan nyonya". Ucap Moehe menunduk sopan
"Kami turut berbela sungkawa, nak. Ini semua sudah menjadi ketentuan-Nya, semoga kita bisa tabah menerima semua ini". Ucap tuan Fajuri menepuk pundak Moehe
"Kepergian bukan untuk kita tangisi nak, tugas kita selanjutnya adalah mendo'akan dan menata hati untuk bangkit kembali dari duka yang mendalam ini dengan ikhlas". Timpal Nyonya Ralin
"Kami tau kau begitu terpukul dengan kehilangan mereka berdua dalam waktu yang bersamaan, kami pun ikut merasakan duka itu, ayah dan ibumu orang yang baik, begitu banyak jasanya pada kami, ia bahkan mengabdikan hidupnya untuk keluarga kami yang sekarang menjadi keluargamu juga". Lanjut tuan Fajuri
"Terima kasih tuan, terima kasih nyonya". Ucap Moehe menunduk sopan
"Heee... Apa-apaan kau ini, sudah ku bilang, jangan panggil aku tuan, aku ini sekarang ayahmu". Ucap tuan Fajuri menepuk lengan Moehe
"Maaf ayah". Ucap Moehe pada tuan Fajuri
"Kami berdua, bangga melihat kedekatan kalian sekarang, aku tak akan khawatir jika kalian saling berdampingan begini". Ucap Nyonya Ralin tersenyum bahagia
"Ahhh... Sudah lah. Jangan terlalu memuji mereka seperti ini lihatlah mereka jadi canggung begini". Timpal tuan Fajuri tertawa mengedipkan matanya pada Moehe dan Syedza
-----
__ADS_1