
Moehe melangkah ke kamar untuk mengecek kembali keadaan Syedza.
"Sepertinya ia tertidur pulas. Apa ia sudah baikan? Rasanya tak tega ku bangunkan dia sekarang". Ucap Moehe meluruskan tubuh Syedza yang terbaring acak di atas kasurnya
Ia sangat lelah. Posisi tidurnya pun tak rapi begini. Batin Moehe mengangkat kepala Syedza ke atas bantal
Moehe ikut membaringkan tubuhnya di samping Syedza di atas ranjang yang sama.
"Hmmm... Sepertinya ia sudah baikan, aku tak melihatnya bolak-balik ke kamar mandi lagi". Gumam Moehe memperhatikan Syedza sambil berbaring
"Aku juga sangat lelah. Aku istirahat disini saja". Lanjut Moehe menyelimuti tubuhnya juga.
Dua jam berlalu, Moehe telah larut dalam mimpi indahnya, sementara Syedza masih belum beranjak sedikit pun dari posisinya sejak tadi. Suara ketukan pintu menyebabkan Moehe terbangun dari tidurnya.
tokkk... tokk..
"Iya!". Teriak Moehe kesal
"Maaf tuan muda, apa nona membutuhkan sesuatu? Nona melewatkan makan siangnya". Ucap Anne di balik pintu kamar di luar sana.
"Kau ini mengangguku saja Anne!" Teriak Moehe
"Maaf tuan muda, Ini sudah sore". Jawab Anne gugup
Fram melirik jam di atas nakas di sampingnya.
Iya ini sudah sore. Batin Moehe
Kemudian pandangan Moehe beralih ke Syedza, istrinya itu
Apa ia tidak bangun dari tadi? Posisinya masih sama seperti itu. Batin Moehe
Moehe spontan membangunkan Syedza dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Tak sedikit pun Syedza menggubris nya.
Apa dia pingsan?. Batin Moehe
"Hei anak manja! Bangunlah! Bangunlah! Jangan membuat ku takut begini". Ucap Syedza membangunkan Syedza
Sama sekali tak ada reaksi apapun dari Syedza. Spontan Moehe mengambil minyak hangat yang ia gunakan tadi. Kemudian ia membuka tutupnya, lalu menaruhnya di hidung Syedza.
"Bangunlah sayang! Bangunlah". Moehe memijit pelan pelipis Syedza.
Selang beberapa lama kemudian Syedza membuka matanya dengan wajah yang pucat pasi, bibir yang kering dan mata yang sayu.
"Kau sudah bangun, sayang? Syukurlah". Sapa Moehe memegang pipi Syedza
"Aaa.. Aaair... Aku mau air". Ucap Syedza terputus-putus
Moehe dengan sigap mengambil teko dan menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas nakas
"Ohh ya ampun airnya habis. Bagaimana bisa Anne tak melakukan tugasnya dengan baik". Umpat Moehe
"Anne!". Teriak Moehe
__ADS_1
"Aaa iya tuan muda". Jawab Anne gelagapan
Anne dengan cepat berlari ke kamar tuan mudanya itu.
"Kau tadi membawa nampan kan? Kemana nampan mu itu? Istriku hampir dehigrasi gara-garamu". Ucap Moehe kesal
Anne dengan cepat mengambil nampannya lagi, kemudian kembali ke kamar Moehe lagi.
Anne dengan cepat menuangkan air ke gelas Syedza kemudian memberinya
"Ini tuan muda". Anne menunduk sopan mengulurkan gelas pada Moehe
"Bagaimana bisa kau tak mengerjakan tugas mu dengan baik seperti ini". Sindir Moehe pada Anne
"Maaf tuan muda, kau tadi tidak mengizinkan aku masuk". Bantah Moehe
"Kau harusnya mencari pasangan Anne, jangan menguntit kamar orang lain terus begini". Ucap Moehe tersenyum licik
"Aaa.. Aku haus..." . Suara Syedza mengagetkan orang-orang yang ada di kamarnya itu
"Oh ya ampun.. Ini minumnya sayang". Moehe menyodorkan gelas di bibir Syedza.
"Maafkan aku sayang, Anne mengajak ku berbicara terus". Ucap Moehe mengejek Anne
Anne hanya terdiam di tempat ia berdiri sejak tadi
"Aahh.. Anne apa lagi yang kau lakukan di sana?" Ucap Moehe
"Siapkan makan siang untuk istriku sekarang, dan bawalah makanannya ke sini". Titah Moehe pada Anne.
"Baik tuan muda". Sahut Anne menunduk sopan ingin meninggalkan Syedza dan Moehe
"Aaa... Aku tak ingin makan apapun". Sela Syedza mengagetkan
"Ayolah kau harus makan. Anne lakukan saja apa yang ku perintah tadi". Titah Moehe lagi
"Baik tuan muda".
----
Anne membawa sejumlah makanan ke kamarnya Syedza. Moehe menuangkan makanan itu ke piringnya, kemudian kembali ke ranjang untuk menyuapi Syedza.
"Ayo makanlah, biar ku suapkan ya". Ujar Moehe menyodorkan makanan yang sudah disendoknya di depan bibir Syedza.
"Tidak! Aku tak ingin makan apapun". Ucap Syedza menolaknya dengan menghentikan lengan Moehe dengan jarinya
"Ayolah, makanlah agar kau lebih baik, kau bahkan belum makan apapun seharian ini". Ucap Moehe membujuk Syedza
"Kau tak usah khawatir". Ucap Syedza lagi
"Kau__". kalimat Moehe terpotong
"Apa kau sudah makan hari ini?". Syedza berbalik melemparkan pertanyaan yang mengejutkan Moehe
__ADS_1
"Aaa.. Tidak.. Kau yang seharusnya makan dulu, kau tak usah khawatir tentang ku" . Ucap Moehe mengelak
"Bagaimana bisa kau menyuruh ku makan, sedangkan kau tak makan seharian ini?". Ucap Syedza lagi
"Baiklah sayang, kalau begitu aku akan memakan makanan yang lezat ini, tapi kau juga harus ikut menghabisinya ya? ". Ucap Moehe menegosiasi Syedza
Syedza hanya mengangguk.
Akhirnya Moehe berhasil membujuk Syedza untuk makan, Moehe menyuapi Syedza. Mereka makan pada piring yang sama dengan sendok yang sama pula. Anne yang sedari tadi berdiri di hadapan mereka merasa iri dengan kemesraan nona dan tuan mudanya ini.
"Makanannya enak kan?". Tanya Moehe sambil menyuapi Syedza bergantian.
Syedza hanya mengangguk
"Syedza, jika kita terus bermesraan begini, kasian ada yang iri". Ucap Moehe menunjukkan Anne dengan mulutnya
Syedza hanya tersenyum melihat ke arah Anne
"Anne.. Anne.. Sepertinya Fram juga belum makan, pergilah, suapin Moehe juga". Ucap Moehe mengedipkan matanya pada Anne.
Moehe masih terus menyuapi Syedza dan dirinya sendiri bergantian. Entah berapa suap yang sudah dilahap Syedza, tiba-tiba Syedza mual lagi.
Huuuuweeekk
"Kenapa sayang? Kau mual lagi?". Tanya Moehe panik
"Makananya seperti sudah basi". Ucap Syedza spontan
"Anne! Kau memasak makanannya kemarin?" Tanya Moehe kaget
"Tidak tuan aku memasaknya 3 jam yang lalu". Jawab Anne datar
Bagaimana bisa makanan itu basi? Aku memasaknya dengan baik dan bahan-bahan yang masih segar. Batin Anne
Apa iya makanannya basi? Aku bahkan tak merasakan hal aneh apapun dari makanan ini. Batin Moehe
"Apa kau mau makan makanan lain? Katakan kau mau apa? Anne akan menyiapkannya". Ucap Moehe pada Syedza
"Lidahku sungguh tak berselera". Ucap Syedza datar
"Anne! Buatkan salad kesukaan istriku, pakai takaran resep yang sesuai dengan yang biasa ia buat". Titah Moehe
"Baik tuan muda". Ucap Anne menunduk sopan.
"Minyak hangat, Berikan minyak itu padaku, aku masih mual, perutku sungguh tak bisa bersahabat". Ucap Syedza datar
"Kau sepertinya bukan masuk angin biasa, sebaiknya kita konsultasikan ini ke dokter. Aku akan memanggil dokter wanita untuk menangani mu". Ucap Moehe membujuk syedza
"Sudah ku bilang, aku takut jarum, takut disuntik, dan aku tak suka minum obat. Aku tak mau ada dokter-dokter". Ucap Syedza merengek
"Tapi aku tak tega melihat kau lemah begini". Bantah Moehe
"Aku baik-baik saja, percayalah". Syedza berkeras mempertahankan pendapatnya
__ADS_1