Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Syedza hamil?


__ADS_3

"Saladnya sudah jadi nona". Ucap Anne membawa nampan berisi salad kesukaan nona mudanya itu


"Letakkan saja di atas meja, nanti akan ku ambil". Titah Moehe


"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan muda?". Tanya Anne sopan


"Siapkan air panas di waterbath dengan suhu biasanya, sepertinya nona muda mu ini harus menggantikan pakaiannya". Titah Moehe


"Apa!?". Sahut Syedza terkejut. "Kau pikir aku bau ya? Aahhh sangat menyebalkan". Syedza membalikkan badannya membelakangi Moehe


"Sayang, bukan begitu maksudku, aku ingin kau meresa lebih segar saja setelah mandi, mungkin anginnya tak hilang-hilang karena ia betah nempel di baju mu itu". Jelas Moehe membujuk Syedza


Entah kenapa semakin kesini mood Syedza semakin tak baik, sering marah tanpa sebab, pusing, mual-mual, malas dan meminta makanan yang tak biasa ia makan.


"Anne! Lakukan saja yang aku perintah itu". Ucap Moehe pada Anne


"Anne! Aku mau salad ku". Sambar Syedza memotong kalimat Moehe


Anne yang merasa kebingungan dengan tingkat kedua majikannya ini spontan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eehh iya.. Baik tuan muda, baik nona". Ucap Anne gelagapan


"Kau bisa mengambil salad untukku sekarang, kemudian kau bisa pergi". Titah Syedza


"Tapi kau juga harus menyiapkan air panas untuk istriku". Sambar Moehe lagi


Bunuh saja aku tuan muda! Bunuh saja aku nona! Aku harus mengikuti siapa?. Batin Anne menangis


"Tuan muda aku __". Kalimat Anne terputus


"Ada apa Anne?". Tanya Moehe penasaran


Aku mau berhenti saja dari sini, tuan muda. Sungguh aku tak sanggup lagi menghadapi pasangan aneh seperti kalian ini tuan muda. Huhuuhuu. Batin Anne menangis


"Hei Anne? Apa kau baik-baik saja?". Tanya Syedza setelah beberapa saat hening


"Eehh... eeh.. Maksudku, aku ingin menyiapkan salad untuk nona dahulu". Ucap Anne tersadar dengan apa yang dilakukannya barusan.


Aku sudah gila, sepertinya kewarasanku semakin berkurang, bagaimana aku bisa berbicara seperti itu kepada tuan Moehe, apa aku ingin cari mati kalau begitu?. Batin Anne mengiba


Anne memberikan sepiring salad kepada Syedza


"Ini saladnya nona". Anne menunduk sopan


"Kau boleh pergi sekarang". Ucap Syedza datar


"Tapi tuan muda menyuruhku___". Kalimat Anne terpotong


"Kau boleh menyiapkan air panas itu, tapi salad ini akan ku buang". Ancam Syedza menggangtungkan piring salad dengan tangannya di udara.


Anne spontan memandang ke arah Moehe, seakan bertanya apa yang harus ia lakukan.


Moehe hanya mengangguk pelan.


"Kau boleh menyiapkan kebutuhan dapur lainnya Anne". Ucap Moehe datar


Sementara itu Syedza mulai menyuapkan salad ke bibirnya.


"Baiklah tuan muda, saya pamit". Ucap Anne menunduk sopan


"Tunggu Anne!". Sambar Syedza menghentikan Anne

__ADS_1


"Ada apa Nona?". Tanya Anne membalikkan badannya


"Apa ini salad kau buat sesuai resep yang ku ajarkan pada mu?" Tanya Syedza seperti tidak menyukai salad itu


"Iya nona, resep yang nona catat kemarin, bahkan saya menimbang bahannya dengan sangat teliti". Jelas Anne panjang lebar


"Ada apa? Apa yang kurang?". Tanya Moehe sambil menyendokkan salad untuk ia cicipi


Perasaan ini sudah pas. Apa ia mengalami gangguan organ pencicipannya ya? Mungkin ini pengaruh mual tadi. Batin Moehe


"Garamnya tertalu sedikit, Anne". Ujar Syedza


"Baik nona"


"Bawa kesini garamnya, biar aku yang menambahkan". Titah Syedza


Anne dengan sigap mengambil garam di dapur kemudian memberinya pada Syedza. Sementara itu Syedza langsung menaburkan sejumput garam ke dalam piring salad, kemudian diaduknya sesukanya, Lalu mencicipi kembali salad yang ia aduk itu


"Sepertinya belum pas, masih kurang asin". Kemudian Syedza menambahkan lagi garamnya, kemudian ia cicipi lagi


"Masih belum pas juga, aku tambahkan sedikit lagi". Ujar Syedza yang masih sibuk menaburkan garam di piring saladnya itu.


Moehe hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Syedza.


"Naah... Sepertinya ini sudah pas". Ucap Syedza tersenyum


Moehe yang sedari tadi penasaran akan rasa yang bagaimana menurut istrinya itu pas, langsung menyendokkan salad ke bibirnya.


"Aahh... Sangat asin". Ujar Moehe membuang salad yang ada di mulutnya itu ke kamar mandi


Sejak kapan ia menyukai asin?. Batin Moehe


Tingkah nona semakin aneh saja. Batin Anne


Huuuweeekk ... Huuweeekk...


Syedza mual lagi, entah ini kali ke berapa ia bolak-balik ke kamar mandi. Moehe selalu mengikutinya untuk mengelus-elus punggungnya setiap kali ia mual.


Sepertinya ia bukan masuk angin biasa, apa aku harus diam-diam saja menghubungi dokter untuknya?. Batin Moehe


Moehe memikirkan sesuatu yang begitu berat.


Tidak.. Tidak.. Aku tidak akan bersedia jika perang dunia antara aku dan Syedza terjadi. Hubungan ini baru saja hangat, aku belum sanggup jika hubungan ini dingin lagi. Batin Moehe memijit pelipisnya.


Tookkk.. tokk.. Suara ketukan pintu mengagetkan Syedza dan Moehe


"Apa kau menyuruh Fram melakukan sesuatu yang tak aku ingin?". Ujar Syedza mengagetkan


Moehe menggelengkan kepalanya


"Dengan memanggilkan dokter itu?" Lanjut Syedza lagi


"Tidak! Aku tidak melakukan apapun". Jawab Moehe lantang


"Tapi kau menyuruh bawahan mu itu kan?". Tanya Syedza lantang


"Tidak! Aku tidak melakukan apapun". Tegas Moehe


"Sudah aku katakan, kau ini memang keras kepala, Moehe Gila". Ucap Syedza kesal


Ceekkk.. Lampu kamar itu tiba-tiba mati

__ADS_1


Oohhh.. Ya ampun.. Kutukan di kamar ini masih berlaku rupanya. Aku kira setelah lama di tinggalkan kutukan itu sudah hilang. Kata sandi sialan!. Batin Moehe


"Kenapa? kau takut? Sudah ku katakan berbicara yang manis-manislah pada ku". Moehe menyentuh pipi Syedza dalam gelap, dengan cepat Syedza menangkisnya


"Syedza ku!"


Ceeekkk... Lampu menyala kembali


Ohh.. Ya ampun.. Apa-apaan ini? dia bisa menyalakan lampunya hanya dengan menyebut 'Syedza ku'?.. Sungguh luar biasa sekali kau tuan muda. Batin Syedza


Toookk... tookkk... Suara ketukan pintu kembali mengagetkan


"Maaf tuan muda, apa Anne boleh masuk?" Tanya Anne dari balik pintu kamar


Syukurlah. Hanya Anne. Batin Moehe


"Anne apa kau membawa dokter?". Tanya Moehe spontan


"Tidak tuan muda". Jawab Anne lantang


"Kau dengarkan? Dia tidak membawa siapapun". Tegas Moehe


"Masuklah Anne". Ucap Syedza datar


"Maaf Nona, aku hanya mau mengantarkan ini". Ujar Anne mengulurkan nampan


"Apa ini?". Tanya Syedza heran


"Ini minuman hangat dari tumbuh-tumbuhan yang ku buat sesuai dengan resep keluarga kami secara turun temurun. Ramuan ini dipercaya bisa menghangatkan dan menyegarkan tubuh". Jelas Anne


"Berikan pada ku". Titah Syedza


"Aku kurang percaya dengan ramuan itu". Cegah Moehe


"Tenang saja tuan muda, aku membuatnya dari bahan alami, diekstrak dari tumbuh-tumbuhan". Jelas Anne lagi


"Aku menyukai aromanya". Ujar Syedza mencium. aroma minumam itu


"Tumbuhan apa?". Tanya Moehe penasaran


"Jahe, kencur, temulawak dan madu". Jawab Anne lantang


"Aku mulai ragu mempekerjakan mu sebagai asisten istri ku. Jangan-jangan kau ini seorang tabib ya?". Tanya Moehe tergelak


"Tidak tuan muda, aku hanya pernah menempuh pendidikan tentang obat-obatan, tapi aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik". Jawab Anne


"Kau pernah belajar tentang dunia pengobatan? Berarti kau juga paham tentang sakit kan? ". Tanya Moehe lagi


"Tak begitu banyak, kami juga mempelajari tentang psikologi tubuh manusia disana". Jawab Anne


"Jawaban yang menarik. Kalau begitu bagaimana dengan istriku ini? Apa kau bisa membantunya?". Tanya Moehe meneliti Syedza


"Kalau menurut ku ini bukan masuk angin biasa, ada beberapa hal yang biasa menyebabkan mual. Sepertinya akan ada kabar bahagia dari rumah ini". Jelas Anne hati-hati


Syedza masih mencium aroma ramuan meletakkan gelas ramuan itu di depan hidungnya. Sepertinya ia sangat menyukai aroma itu, aroma khas rempah-rempah yang menyengat. Sementara itu Moehe menyimak penjelasan Anne dengan teliti.


"Maaf nona, kapan terakhir kali nona datang bulan?". Tanya Anne santai


Huuukk hukkkk. Syedza terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Anne barusan


Datang bulan kapan aku terakhir datang bulan? Aku sama sekali tak mengingatnya. Batin Syedza bergemuruh

__ADS_1


Syedza menyerngitkan dahinya


Sepertinya benar dugaan ku, nona hamil. Batin Anne


__ADS_2